Suamiku menarik selimutku dengan kasar pada pukul 04.40 pagi dan menyuruhku turun ke bawah untuk membuatkan bubur oatmeal bagi ibunya.

Aku memperbesar tampilan kamera keamanan dengan tangan gemetar.

Dua mobil polisi terparkir di depan rumahku. Lampu merah biru memantul di pagar dan jendela ruang tamu. Seorang polisi berdiri di teras bersama seorang pria berjas abu abu yang tidak kukenal.

Daniel mondar mandir di belakang mereka.

Lorraine berdiri di dekat tangga sambil berteriak.

Aku langsung menelepon Daniel.

Dia menjawab bahkan sebelum dering pertama selesai.

“Akhirnya. Cepat pulang.”

“Apa yang terjadi?”

“Ibu jatuh.”

Aku menatap layar kamera. Lorraine terlihat sehat dan cukup kuat untuk menunjuk nunjuk wajah polisi.

“Dia kelihatannya baik baik saja.”

Daniel terdiam.

“Kamu melihat kamera?”

“Rumah itu milikku. Tentu saja aku bisa melihat kamera.”

Terdengar suara Lorraine dari belakang.

“Bilang padanya polisi mau mengusir kita dari rumah sendiri.”

Pria berjas abu abu mengambil telepon dari tangan Daniel.

“Apakah saya berbicara dengan Maya Pradipta?”

“Ya.”

“Nama saya Adrian Santoso. Saya pengacara dari kantor hukum Santoso dan Rekan. Saya perlu memastikan satu hal. Apakah rumah di Jalan Kemuning nomor delapan belas terdaftar atas nama Anda?”

Jantungku berdetak semakin cepat.

“Benar. Tapi saya tidak menghubungi kantor hukum mana pun.”

“Saya tahu.”

Jawaban itu membuatku diam.

“Lalu siapa yang menghubungi Anda?”

Adrian menarik napas.

“Paman Anda, Pak Surya Pradipta.”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Paman Surya adalah adik mendiang ayahku. Kami tidak terlalu dekat, tetapi setelah bibiku meninggal dan meninggalkan rumah itu kepadaku, dialah yang membantu mengurus dokumen warisan.

“Kenapa Paman Surya ikut campur?”

“Karena tiga hari lalu dia menerima pemberitahuan dari kantor pertanahan mengenai permohonan perubahan data kepemilikan properti.”

Darahku terasa membeku.

“Perubahan kepemilikan?”

“Rumah Anda sedang dicoba dialihkan.”

Aku menatap Daniel di layar kamera.

“Ke siapa?”

Adrian menjawab pelan.

“Ke Daniel.”

Aku tidak langsung pulang.

Aku meminta polisi menunggu sampai aku tiba bersama Adrian.

Empat puluh menit kemudian, taksi berhenti beberapa rumah dari rumahku.

Ketika aku turun, Daniel langsung berlari menghampiriku.

“Maya, dengarkan dulu.”

Aku mundur.

Polisi segera berdiri di antara kami.

Daniel berhenti.

Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ada seseorang yang memaksanya menghormati jarak dariku.

Lorraine muncul dari teras.

“Akhirnya kamu datang juga. Lihat apa yang sudah kamu lakukan.”

“Aku?”

“Kamu membawa polisi ke rumah keluarga sendiri.”

Adrian menyerahkan sebuah map kepada polisi.

“Bu Lorraine, polisi datang karena ditemukan dugaan pemalsuan dokumen.”

Wajah Lorraine berubah.

Daniel segera berkata, “Aku bisa menjelaskan.”

“Bagus,” jawabku. “Jelaskan.”

Adrian mengeluarkan salinan dokumen.

Di sana terdapat tanda tanganku.

Setidaknya seseorang berusaha membuatnya terlihat seperti tanda tanganku.

Dokumen tersebut menyatakan aku menyetujui pemindahan sebagian hak kepemilikan rumah kepada Daniel sebagai bagian dari kesepakatan perkawinan.

Masalahnya, aku tidak pernah menandatangani kesepakatan seperti itu.

“Aku tidak tahu soal ini,” kata Daniel.

Aku hampir percaya.

Hampir.

Sampai Adrian mengeluarkan lembar berikutnya.

“Permohonan ini menggunakan salinan KTP Bu Maya, sertifikat rumah, dan beberapa dokumen warisan asli.”

Aku langsung teringat sesuatu.

Laci bawah di ruang kerjaku.

Map merah kusimpan di sana.

Tetapi sertifikat asli rumah berada di brankas kecil di lemari.

Hanya dua orang yang tahu kode brankas itu.

Aku.

Dan Daniel.

Aku menatapnya.

“Kamu membuka brankasku?”

“Aku suamimu.”

“Itu bukan jawaban.”

Lorraine menyela.

“Memangnya kenapa kalau dia mengambil dokumen? Suami istri tidak seharusnya menyembunyikan harta.”

Adrian menoleh kepadanya.

“Menarik.”

Lorraine mengerutkan kening.

“Apa?”

“Pak Daniel mengatakan tidak tahu bagaimana dokumen itu diperoleh. Tapi Anda baru saja membenarkan bahwa dia mengambilnya.”

Lorraine langsung pucat.

Daniel menatap ibunya dengan marah.

“Bu, diam.”

Aku merasa sesuatu dalam diriku runtuh.

Bukan karena terkejut.

Melainkan karena akhirnya aku melihat semuanya dengan jelas.

Selama bertahun tahun aku menganggap Daniel mudah marah.

Aku menganggap Lorraine hanya ibu mertua yang terlalu membela anaknya.

Ternyata kemarahan itu bukan sekadar kehilangan kendali.

Itu alat.

Setiap bentakan membuatku takut bertanya.

Setiap pukulan membuatku semakin mudah dikendalikan.

Dan ketika aku sibuk bertahan hidup, mereka mulai mengambil apa yang kumiliki.

Polisi meminta Daniel dan Lorraine tetap di ruang tamu sementara rumah diperiksa.

Aku ikut Adrian menuju ruang kerjaku.

Brankas terbuka.

Beberapa dokumen hilang.

Namun sesuatu yang lebih mengejutkan menungguku.

Di meja Daniel terdapat laptop yang belum terkunci.

Seorang polisi memintanya tidak disentuh sampai petugas pemeriksa datang.

Aku berdiri beberapa meter darinya ketika sebuah notifikasi muncul di layar.

Transfer berhasil.

Nominalnya membuat napasku tercekat.

Dua ratus delapan puluh juta rupiah.

Penerimanya sebuah perusahaan bernama LNR Property Management.

Aku mengenal inisial itu.

Lorraine Natalia Rendra.

“Perusahaan siapa itu?” tanyaku.

Daniel langsung berdiri.

“Jangan sentuh laptopku.”

Reaksinya sudah menjawab pertanyaanku.

Pemeriksaan berikutnya membuka sesuatu yang jauh lebih besar daripada rumah.

Selama hampir dua tahun, Daniel memindahkan uang perusahaan konsultan kami melalui berbagai vendor palsu.

Biaya pemasaran.

Jasa perjalanan.

Sewa ruang rapat.

Konsultan eksternal.

Sebagian besar mengalir ke perusahaan yang terhubung dengan Lorraine.

Jumlahnya bukan puluhan juta.

Lebih dari dua miliar rupiah.

Aku merasa mual.

Perusahaan itu memang dijalankan Daniel sehari hari, tetapi aku masih memiliki empat puluh persen saham karena modal awal berasal dari warisanku.

Semua tagihan mencurigakan itu selama ini tersembunyi di antara ratusan transaksi normal.

“Kamu mencuri dari perusahaan?”

Daniel menggeleng cepat.

“Itu bukan mencuri. Aku membangun perusahaan itu.”

“Dengan uangku.”

“Aku yang bekerja.”

“Jadi menurutmu itu memberimu hak mengambil uang sesukamu?”

Wajahnya memerah.

Aku mengenali perubahan itu.

Rahang mengeras.

Mata menyipit.

Tangan mengepal.

Biasanya, pada tahap itu aku akan berhenti bicara.

Kali ini aku tidak bergerak.

Ada dua polisi berdiri beberapa langkah dariku.

Daniel menatap mereka, lalu perlahan membuka kepalan tangannya.

“Aku melakukan semuanya untuk keluarga kita.”

Aku tertawa kecil.

“Keluarga?”

“Untuk masa depan kita.”

Lorraine tiba tiba berdiri.

“Sudah cukup.”

Semua orang menoleh.

Dia menunjuk kepadaku.

“Kalau kamu menjadi istri yang benar, Daniel tidak perlu melakukan semua ini.”

Aku menatap perempuan itu lama sekali.

“Apa hubungan aku menjadi istri yang benar dengan kalian memalsukan tanda tanganku?”

“Rumah ini nantinya juga milik Daniel.”

“Tidak.”

“Dia suamimu.”

“Dan sebentar lagi bukan.”

Ruangan mendadak sunyi.

Daniel menatapku.

“Maksudmu apa?”

“Aku akan mengajukan perceraian.”

Dia berjalan ke arahku.

Polisi langsung menghentikannya.

“Maya, jangan gila. Kita bisa menyelesaikan ini.”

“Enam tahun aku mencoba menyelesaikannya.”

“Aku bisa berubah.”

Aku pernah mendengar kalimat itu setelah tamparan pertama.

Setelah dorongan kedua.

Setelah memar ketiga.

Setelah aku mengunci diri di kamar mandi karena takut.

“Tidak, Daniel. Kamu tidak ingin berubah. Kamu hanya ingin aku kembali takut.”

Wajahnya runtuh.

Namun kali ini air matanya tidak membuatku merasa bersalah.

Daniel dan Lorraine dibawa untuk dimintai keterangan malam itu.

Aku mengganti seluruh kunci rumah.

Mengubah kata sandi.

Memblokir akses Daniel ke kamera keamanan.

Kemudian aku duduk sendirian di lantai ruang tamu ketika matahari mulai terbit.

Rumah itu terasa aneh.

Sepi.

Aku seharusnya lega.

Namun aku justru menangis.

Bukan karena kehilangan Daniel.

Aku menangisi perempuan yang selama enam tahun terus meyakinkan dirinya bahwa bertahan adalah bentuk cinta.

Dua minggu berikutnya menjadi kekacauan.

Pengacara perceraian.

Pemeriksaan rekening.

Audit perusahaan.

Panggilan polisi.

Daniel mengirim puluhan pesan melalui nomor berbeda.

Sebagian memohon.

Sebagian menyalahkanku.

Sebagian mengancam akan menghancurkan reputasiku.

Aku menyimpan semuanya.

Setiap pesan menjadi bukti baru.

Lalu audit menemukan sesuatu yang bahkan tidak diketahui Adrian.

Tiga tahun sebelumnya, Daniel diam diam membeli sebuah apartemen mewah di Jakarta Selatan.

Pembayarannya berasal dari perusahaan.

Aku langsung berpikir tentang perselingkuhan.

Namun kenyataannya lebih aneh.

Apartemen itu terdaftar atas nama Lorraine.

Ketika penyidik memeriksa transaksi lebih jauh, mereka menemukan Lorraine memiliki utang investasi yang sangat besar.

Dia kehilangan hampir seluruh tabungannya dalam bisnis properti gagal.

Daniel selama bertahun tahun menggunakan uang perusahaan untuk menutup utang ibunya.

Lalu mereka membuat rencana.

Memindahkan rumahku ke nama Daniel.

Mengagunkannya ke bank.

Menggunakan pinjaman itu untuk melunasi seluruh kewajiban Lorraine.

Kedatangan Lorraine ke rumahku pagi itu ternyata bukan kebetulan.

Dia tidak berniat tinggal beberapa bulan.

Dia datang karena proses pengajuan pinjaman membutuhkan verifikasi alamat.

Sarapan pukul 04.40 itu hanyalah pemicu pertengkaran.

Mereka sudah yakin aku terlalu takut untuk melawan.

Mereka salah.

Tiga bulan kemudian, aku bertemu Daniel di mediasi perceraian.

Tubuhnya lebih kurus.

Matanya cekung.

Dia tidak lagi terlihat seperti laki laki yang pernah membuatku gemetar hanya dengan meninggikan suara.

Sebelum pertemuan berakhir, dia berkata pelan,

“Maya, boleh aku bertanya satu hal?”

Aku menatap pengacaraku.

Dia mengangguk.

“Apa?”

“Kapan kamu berhenti mencintaiku?”

Aku memikirkan pertanyaan itu.

Anehnya, jawabannya bukan ketika dia menamparku.

Bukan ketika dia mendorongku.

Bukan ketika kutemukan pencurian itu.

“Aku tidak tahu kapan aku berhenti mencintaimu,” kataku.

“Tapi aku tahu kapan aku mulai mencintai diriku sendiri lagi.”

Daniel terdiam.

“Pukul empat lewat empat puluh pagi.”

Aku berdiri dan pergi.

Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.

Kasus pemalsuan dokumen dan penggelapan perusahaan masih berjalan, tetapi aku berhenti membiarkan hidupku ditentukan oleh apa yang akan terjadi pada Daniel.

Aku menjual rumah itu.

Bukan karena takut kembali ke sana.

Aku hanya tidak ingin kenangan buruk menentukan tempat tinggalku.

Dengan sebagian uangnya, aku membeli rumah lebih kecil dengan jendela besar dan halaman belakang yang menghadap pepohonan.

Tidak ada yang membentak di sana.

Tidak ada pintu dibanting.

Tidak ada langkah kaki yang membuat jantungku berdebar ketakutan.

Pada pagi pertama di rumah baru, aku terbangun pukul 04.40.

Tubuhku refleks menegang.

Selama beberapa detik aku menunggu seseorang menarik selimutku.

Tidak ada.

Aku menatap langit langit.

Kemudian aku tertawa.

Aku turun ke dapur.

Membuat oatmeal.

Menambahkan gula, madu, stroberi, dan terlalu banyak kayu manis.

Aku membawanya ke teras dan duduk melihat matahari terbit.

Ponselku berbunyi.

Sebuah pesan dari Adrian.

Polisi akhirnya menemukan siapa yang pertama kali memberi tahu Paman Surya tentang upaya pengalihan rumah.

Bukan kantor pertanahan.

Bukan bank.

Bukan auditor.

Aku membuka lampiran.

Nama pelapor itu membuatku terpaku.

Lorraine.

Ternyata dua hari sebelum polisi datang, Lorraine diam diam menghubungi Paman Surya dari nomor lain.

Dalam pemeriksaan, dia akhirnya mengaku.

Dia tahu Daniel berencana mengagunkan rumahku.

Awalnya dia setuju.

Namun malam setelah aku pergi, Daniel mengatakan sesuatu yang membuatnya ketakutan.

Setelah pinjaman cair, dia berniat mengambil seluruh uangnya dan meninggalkan ibunya menanggung utang seorang diri.

Lorraine sadar putra yang selama bertahun tahun dia bela ternyata akan melakukan kepadanya persis seperti yang telah dia lakukan kepadaku.

Memanfaatkan.

Mengendalikan.

Lalu meninggalkan.

Jadi Lorraine membocorkan rencana itu.

Bukan untuk menyelamatkanku.

Untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Aku menutup pesan Adrian.

Entah kenapa, aku tidak marah.

Aku hanya merasa semuanya menjadi masuk akal.

Selama bertahun tahun Lorraine mengajariku bahwa seorang istri harus takut kepada suaminya.

Bahwa perempuan yang baik harus mengalah.

Bahwa kekerasan Daniel adalah kesalahanku.

Pada akhirnya, orang yang dia besarkan dengan keyakinan bahwa cinta berarti kekuasaan berbalik menggunakan keyakinan itu terhadap dirinya sendiri.

Aku meletakkan ponsel di meja.

Matahari perlahan muncul di balik pepohonan.

Aku menyendok oatmeal dan tersenyum.

Dulu pukul 04.40 adalah waktu ketika seseorang membangunkanku untuk mengingatkan siapa laki laki yang berkuasa di rumah itu.

Sekarang pukul 04.40 mengingatkanku pada sesuatu yang jauh lebih penting.

Aku tidak perlu menjadi penguasa siapa pun.

Aku hanya perlu menjadi pemilik hidupku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang