Tiga hari setelah Rania pindah ke apartemen kami, aku mengetahui bahwa Arga telah mengambil sesuatu yang jauh lebih besar daripada diffuser, sandal rumah, atau ruang pribadiku.
Dia mengambil masa depan yang sudah kuperjuangkan selama hampir sepuluh tahun.
Pagi itu aku baru pulang dari rumah sakit setelah pemeriksaan lanjutan. Empat jariku masih dibalut perban tebal. Dokter mengatakan operasi pertama harus dilakukan secepat mungkin jika aku ingin mendapatkan kembali fungsi tanganku semaksimal mungkin.
Ketika membuka pintu apartemen, aku mendengar suara Rania dari ruang makan.
“Mas, aku nggak enak sama Kak Nadira.”
“Kenapa?”
“Rute itu kan seharusnya punya dia.”
Langkahku berhenti.
Ada jeda beberapa detik sebelum Arga menjawab.
“Sudah kubilang jangan dipikirkan. Nadira belum tentu bisa terbang lagi.”
Dadaku terasa dingin.
Rute.
Aku tahu persis rute apa yang mereka bicarakan.
Jakarta Melbourne.
Rute charter internasional baru yang akan dibuka perusahaan kami bulan berikutnya.
Selama hampir dua tahun, aku mengikuti pelatihan tambahan, mengambil sertifikasi pelayanan internasional, memperbaiki skor bahasa Inggris, bahkan beberapa kali menggantikan kru lain tanpa mengambil cuti demi memenuhi jam terbang yang disyaratkan.
Manajer kabin sudah memberitahuku secara tidak resmi bahwa namaku berada di posisi pertama sebagai senior cabin crew untuk rute tersebut.
Melbourne bukan sekadar destinasi bagiku.
Kakakku tinggal di sana.

Setelah ayah meninggal dan ibu menyusul dua tahun kemudian, hanya dia keluarga kandung yang kumiliki.
Aku pernah berkata kepada Arga sambil tertawa, “Kalau aku dapat rute Melbourne, akhirnya aku bisa sering ketemu Kak Maya tanpa harus menghabiskan cuti.”
Arga bahkan pernah memelukku dan berkata bahwa dia bangga.
Sekarang aku mendengar suaranya dari balik dinding.
“Aku sudah bicara dengan Pak Surya. Nama kamu masuk menggantikan Nadira.”
Aku menahan napas.
Rania terdengar gugup.
“Tapi pengalaman aku belum cukup.”
“Aku yang rekomendasikan.”
“Kalau Kak Nadira tahu?”
Arga tertawa kecil.
“Dia harus realistis. Dengan kondisi tangannya sekarang, buat apa mempertahankan rute yang tidak mungkin dia jalani?”
Aku mendorong pintu ruang makan.
Mereka langsung terdiam.
Rania duduk mengenakan kaus tidur milikku.
Bukan mirip.
Benar-benar milikku.
Kaus abu-abu yang dibelikan Kak Maya saat terakhir pulang ke Jakarta.
Aku menatapnya beberapa detik sebelum beralih kepada Arga.
“Rute Melbourne diberikan ke Rania?”
Arga tidak terlihat bersalah.
Sebaliknya, dia mengambil cangkir kopinya.
“Belum final.”
“Kamu merekomendasikan dia untuk menggantikanku?”
“Nadira, jangan mulai lagi.”
“Jawab.”
“Iya.”
Satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada ketika pintu kokpit menghantam jariku.
Aku tertawa kecil.
Aneh.
Setelah beberapa hari menangis diam-diam, ternyata ada titik ketika rasa sakit berubah menjadi sesuatu yang sangat tenang.
“Kenapa?”
Arga meletakkan cangkir.
“Karena perusahaan butuh orang yang siap terbang.”
“Dan kamu memutuskan aku tidak siap?”
“Dokter sendiri bilang pemulihanmu panjang.”
“Rute itu baru mulai bulan depan.”
“Memangnya kamu yakin bulan depan tanganmu normal?”
Aku tidak menjawab.
Arga berdiri.
“Ini dunia penerbangan, Nadira. Bukan tempat untuk sentimental. Kalau satu orang tidak bisa bertugas, orang lain menggantikan.”
“Kalau begitu kenapa harus Rania?”
Wajahnya mengeras.
“Karena aku percaya kemampuannya.”
Aku hampir tertawa lagi.
Perempuan yang tiga hari lalu dia katakan terlalu panik menghadapi keadaan darurat hingga harus diselamatkan lebih dahulu sekarang dianggap cukup mampu mengambil posisi senior di penerbangan internasional.
Kontradiksi itu begitu jelas hingga aku tidak perlu mengatakannya.
Rania berdiri perlahan.
“Kak, aku sebenarnya bisa menolak.”
Aku menatapnya.
“Kalau benar-benar tidak mau, kamu sudah menolak sebelum membawa koper ke rumahku.”
Wajahnya pucat.
Arga langsung maju.
“Jangan menyerang Rania.”
“Aku bahkan belum meninggikan suara.”
“Kamu selalu seperti ini. Membuat semua orang merasa bersalah.”
Aku menatap lelaki yang sudah tujuh tahun kucintai itu.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Selama ini setiap kali kami bertengkar, aku selalu menjadi orang pertama yang meminta maaf.
Ketika Arga lupa ulang tahun pernikahan kami karena menemani Rania membeli mobil, aku yang akhirnya meminta maaf karena dianggap terlalu sensitif.
Ketika ibu mertuaku membandingkanku dengan Rania di meja makan, aku yang diminta memahami bahwa orang tua kadang bicara tanpa berpikir.
Ketika Arga membatalkan perjalanan ulang tahun kami karena Rania sedang patah hati, aku juga yang diminta bersikap dewasa.
Ternyata pernikahanku tidak hancur dalam satu malam.
Ia sudah retak bertahun-tahun.
Aku hanya terlalu sibuk menutup retakannya sendirian.
“Baik,” kataku.
Arga mengernyit.
“Baik apa?”
“Rute itu untuk Rania.”
Dia tampak terkejut karena aku menyerah begitu cepat.
“Bagus kalau kamu akhirnya mengerti.”
Aku mengangguk.
“Aku mengerti sekarang.”
Lalu aku masuk kamar.
Malam itu, ketika Arga tidur di sofa karena menemani Rania yang katanya masih mengalami mimpi buruk, aku membuka laptop dengan satu tangan.
Ada sebuah surel dari pengacaraku.
Dokumen perceraian sudah siap.
Aku membalas dengan dua kata.
Lanjutkan prosesnya.
Hari berikutnya aku menjalani operasi.
Arga tidak datang.
Dia mengirim pesan pukul sembilan pagi.
Aku harus menemani Rania medical check untuk rute Melbourne. Operasimu kan ada dokter. Kabari kalau sudah selesai.
Aku membaca pesan itu sebelum masuk ruang operasi.
Untuk pertama kalinya, aku tidak menangis.
Kak Maya menelepon dari Melbourne dan menemaniku melalui video call sampai perawat mengambil ponselku.
“Aku akan pulang ke Jakarta kalau perlu,” katanya.
“Jangan.”
“Kamu sendirian.”
Aku tersenyum.
“Nggak lama lagi.”
Dia terdiam.
Hanya Kak Maya yang tahu tentang tiketku.
Enam hari lagi aku akan pergi.
Bukan untuk liburan.
Bukan untuk menenangkan diri.
Aku sudah menerima tawaran lama dari sebuah perusahaan pelatihan keselamatan penerbangan di Melbourne. Beberapa bulan sebelumnya mereka pernah menghubungiku setelah melihat rekam jejak pelatihanku sebagai senior cabin crew.
Dulu aku menolak karena Arga tidak mau pindah.
Sekarang aku menghubungi mereka kembali.
Dan mereka masih membuka pintu.
Tiga hari setelah operasi, perusahaan memanggilku untuk investigasi insiden penerbangan.
Arga datang sebagai kapten.
Rania datang sebagai kru.
Aku datang sebagai korban sekaligus senior cabin crew.
Di ruang rapat, Arga mengulang cerita yang sama.
“Kondisi saat itu sangat kritis. Saya mengambil keputusan berdasarkan siapa yang paling membutuhkan bantuan.”
Investigator menatapnya.
“Saudari Rania mengalami cedera apa?”
“Syok dan lecet.”
“Saudari Nadira?”
Arga terdiam.
Investigator membuka berkas.
“Empat fraktur, kerusakan tendon, cedera saraf, dan kehilangan darah.”
Ruangan sunyi.
Rania menunduk.
Kemudian investigator menyalakan rekaman cockpit voice recorder.
Suara badai memenuhi ruangan.
Alarm.
Teriakan.
Lalu suara Arga terdengar jelas.
“Nadira masih bisa bertahan. Tarik Rania dulu.”
Suara kopilot menyusul.
“Kapten, Nadira lebih dekat!”
“Rania dulu!”
Aku menatap meja.
Jadi bukan keputusan spontan.
Dia benar-benar memilih.
Namun rekaman belum selesai.
Beberapa detik kemudian terdengar suara kopilot lagi.
“Masker cadangan kru senior tinggal satu.”
Lalu Arga menjawab.
“Kasih Rania.”
Investigator menghentikan rekaman.
Arga terlihat pucat.
“Ada konteks yang tidak terdengar di rekaman.”
“Semua akan diperiksa,” jawab investigator.
Lalu muncul kejutan kedua.
Manajer operasional menyerahkan dokumen.
“Kami juga menemukan Kapten Arga mengirim rekomendasi perubahan roster rute Melbourne kurang dari dua puluh empat jam setelah insiden.”
Aku menoleh.
Arga langsung berkata, “Itu kebutuhan operasional.”
“Dengan mencantumkan bahwa kondisi medis Saudari Nadira kemungkinan membuatnya tidak memenuhi syarat permanen?”
Aku membeku.
Permanen?
Dokter bahkan belum memberikan prognosis akhir saat itu.
Arga sudah menulis seolah karierku selesai.
“Informasi itu berdasarkan perkiraan,” katanya.
“Kapten tidak memiliki kewenangan membuat diagnosis medis.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di wajah suamiku.
Investigasi ditutup sementara.
Arga dibebastugaskan dari penerbangan sampai pemeriksaan selesai.
Rania juga dicoret dari rute Melbourne karena proses penunjukannya dianggap bermasalah.
Ketika kami keluar dari gedung, Arga mengejarku.
“Nadira!”
Aku terus berjalan.
Dia menarik lenganku yang sehat.
“Kamu puas sekarang?”
Aku menoleh perlahan.
“Apa?”
“Karierku terancam gara-gara ini.”
Aku hampir tidak percaya.
“Gara-gara aku?”
“Kamu bisa menjelaskan bahwa saat itu aku cuma mengambil keputusan darurat.”
“Aku tidak mengatakan apa pun selain fakta.”
“Kamu istriku.”
Kalimat itu akhirnya membuatku tersenyum.
“Istri?”
Arga terdiam.
“Waktu tanganku hancur, kamu menemani Rania. Waktu aku operasi, kamu mengantar Rania medical check. Waktu aku masih berstatus senior cabin crew, kamu sudah menyerahkan rute impianku kepada dia.”
“Nadira…”
“Sekarang saat kariermu bermasalah, baru kamu ingat aku istrimu?”
Dia melemahkan genggamannya.
Aku menarik tanganku.
“Besok pengacaraku akan menghubungimu.”
Wajahnya berubah.
“Pengacara?”
“Perceraian.”
Arga tertawa gugup.
“Kamu bercanda.”
“Tidak.”
“Nadira, hanya karena satu insiden?”
“Bukan satu insiden.”
Aku menatap matanya.
“Insiden itu cuma membuatku akhirnya melihat seluruh pernikahan kita dengan jelas.”
Malam terakhir sebelum keberangkatanku, aku pulang ke apartemen untuk mengambil koper.
Rania sedang menangis.
Ternyata setelah Arga dibebastugaskan, dia meminta Rania pindah.
“Aku melakukan semua ini karena Mas Arga bilang pernikahan kalian memang sudah hampir selesai,” katanya kepadaku.
Aku berhenti memasukkan pakaian.
“Apa?”
Rania menunjukkan ponselnya.
Ada percakapan mereka selama berbulan-bulan.
Arga mengatakan aku terlalu fokus pada karier.
Bahwa kami akan segera bercerai.
Bahwa dia sebenarnya menikahiku karena tekanan keluarga.
Namun satu pesan membuatku terpaku.
Pesan itu dikirim dua minggu sebelum kecelakaan.
Kalau posisi senior Melbourne kosong, aku bisa bantu kamu masuk. Tunggu saja.
Tanganku menjadi dingin.
Dua minggu sebelum kecelakaan.
Artinya keinginannya memberikan rute itu kepada Rania sudah ada jauh sebelumnya.
Aku memotret percakapan tersebut dan mengirimkannya kepada investigator.
Keesokan paginya aku pergi.
Arga baru menyadari semuanya ketika pulang dan menemukan apartemen hampir kosong.
Dia menelepon puluhan kali.
Aku tidak menjawab.
Ketika pesawat komersial yang kutumpangi lepas landas dari Jakarta menuju Melbourne, aku melihat kota itu mengecil dari jendela.
Empat jariku masih kaku.
Pernikahanku berakhir.
Karier sebagai pramugari mungkin juga tidak akan pernah kembali.
Anehnya, aku merasa lebih ringan daripada selama bertahun-tahun terakhir.
Enam bulan kemudian, hasil investigasi keluar.
Arga tidak terbukti sengaja menyebabkan kecelakaan. Badai memang tidak mungkin dia kendalikan.
Namun keputusan operasionalnya selama keadaan darurat dinilai melanggar prosedur prioritas keselamatan kru. Upayanya memengaruhi roster berdasarkan informasi medis yang belum sah juga menjadi pelanggaran serius.
Lisensinya tidak dicabut permanen, tetapi dia kehilangan posisi kapten di perusahaan itu.
Rania mengundurkan diri beberapa minggu kemudian.
Aku tidak pernah bertanya apakah mereka akhirnya bersama.
Aku tidak peduli.
Karena kehidupanku sendiri bergerak ke arah yang sama sekali tidak kuduga.
Rehabilitasi tanganku berjalan perlahan. Dua jariku tidak pernah kembali selentur dulu, sehingga aku akhirnya menerima kenyataan bahwa karier sebagai cabin crew sudah selesai.
Namun perusahaan di Melbourne tetap menerimaku.
Bukan sebagai pramugari.
Sebagai instruktur keselamatan kabin.
Setahun kemudian, aku berdiri di sebuah pusat pelatihan di Melbourne, mengajarkan dua puluh calon awak kabin tentang prosedur dekompresi dan pengambilan keputusan dalam situasi darurat.
Di layar besar terpampang satu kalimat.
Keselamatan bukan tentang menyelamatkan orang yang paling kita sayangi. Keselamatan adalah kemampuan membuat keputusan yang benar ketika perasaan pribadi harus disingkirkan.
Setelah kelas selesai, seorang peserta perempuan menghampiriku.
“Bu Nadira, boleh tanya sesuatu?”
“Tentu.”
“Kenapa Ibu memilih jadi instruktur?”
Aku melihat tangan kiriku.
Bekas luka masih terlihat jelas.
Lalu aku tersenyum.
“Karena dulu seseorang membuat keputusan yang salah saat hidupku ada di tangannya.”
Perempuan itu tampak canggung.
Namun aku melanjutkan.
“Dan untuk waktu yang lama, kupikir keputusan itu menghancurkan hidupku.”
Aku melihat keluar jendela.
Di kejauhan, sebuah pesawat baru saja meninggalkan landasan Melbourne dan perlahan naik ke langit.
Rute yang dulu begitu ingin kudapatkan.
Rute yang pernah direbut Arga dan diberikan kepada perempuan lain.
Sekarang aku bahkan tidak lagi menginginkannya.
“Ternyata aku salah,” kataku.
“Keputusan itu justru memaksaku meninggalkan kehidupan yang sudah terlalu lama membuatku lupa bahwa aku juga berhak memilih diriku sendiri.”
Malamnya, saat pulang, ada sebuah amplop dari Jakarta di kotak surat.
Dokumen perceraian final.
Aku membukanya dengan tenang.
Di antara lembaran dokumen itu terdapat surat tulisan tangan Arga.
Nadira, kalau malam itu bisa kuulang, aku akan menarikmu lebih dulu.
Aku membaca kalimat itu sekali.
Lalu melipat surat tersebut dan memasukkannya kembali ke amplop.
Aku tidak marah.
Aku juga tidak merasa menang.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.
Cinta tidak diuji ketika seseorang punya waktu untuk memilih kata-kata indah.
Cinta terlihat pada detik ketika keadaan menjadi kacau, ketika tidak ada waktu berpura-pura, dan seseorang harus menunjukkan siapa yang secara naluriah ingin dia lindungi.
Malam itu di atas Laut Jawa, Arga telah memberikan jawabannya.
Dan setahun kemudian, di kota yang dulu hanya menjadi rute impianku, akhirnya aku memberikan jawabanku sendiri.
Aku memilih diriku.
Kali ini tanpa rasa bersalah.
