Namaku Budi Wijaya, tiga puluh lima tahun. Siang hari aku pengemudi Grab yang terbiasa menyapa penumpang dengan senyum. Malam hari aku adalah seorang ayah yang sering menangis sendirian di balik kemudi.
Tiga minggu terakhir, hidupku hanya berputar di antara jalanan Jakarta, aplikasi di ponsel, dan ruang ICU Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Putriku, Lila, baru tujuh tahun.

Tiga minggu lalu, infeksi berat membuat kondisinya memburuk begitu cepat. Anak yang biasanya berlari menyambutku sambil membawa gambar-gambar buatannya kini terbaring di antara selang, infus, dan mesin pemantau yang tak pernah berhenti berbunyi.
Aku membutuhkan dua puluh lima juta rupiah untuk melanjutkan rangkaian perawatannya.
Tabungan kami sudah habis. Motor tua sudah kujual. Aku meminjam uang kepada saudara, menjual cincin pemberian ayah, bahkan sering melewatkan makan siang.
Tetap saja belum cukup.
Karena itulah dini hari itu, meski mataku nyaris tak sanggup terbuka setelah bekerja hampir delapan belas jam, aku masih menerima satu pesanan lagi.
Pukul empat pagi, gerimis turun di depan RSCM.
Titik penjemputan hanya beberapa meter dari tempatku parkir.
Tak lama kemudian, seorang perempuan berseragam perawat keluar dari pintu rumah sakit. Scrubs biru mudanya kusut. Rambutnya diikat seadanya. Wajahnya pucat karena kelelahan.
Namanya Dewi.
Tujuannya Summarecon Bekasi.
Sepanjang perjalanan, aku mengetahui sesuatu yang membuat dadaku sesak.
Dialah salah satu perawat yang menjaga Lila malam itu.
“Lila tadi sempat bangun,” katanya pelan.
Aku langsung menatap kaca spion.
“Dia bilang apa, Bu?”
Dewi tersenyum tipis.
“Dia bilang, kalau ketemu ayahnya, jangan bilang kalau dia menangis waktu disuntik.”
Aku tertawa kecil, tetapi air mataku jatuh.
“Anak itu gengsinya tinggi, Bu.”
“Memang.”
Dewi ikut tersenyum.
Kemudian suaranya berubah lebih lembut.
“Dia juga bilang ingin cepat pulang karena belum selesai mewarnai gambar untuk Bapak.”
Aku tak mampu menjawab.
Sepanjang sisa perjalanan, aku hanya menggenggam setir sambil berusaha agar pandanganku tidak kabur.
Hampir pukul lima ketika kami tiba di Bekasi.
Dewi turun setelah mengucapkan terima kasih. Aku bahkan tak tega mengingatkannya soal ongkos. Bagiku, perempuan itu sudah menjaga sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang.
Aku baru hendak melanjutkan perjalanan ketika melihat sebuah amplop putih di kursi belakang.
Di bagian depannya tertulis dengan tinta hitam.
Untuk Lila dari Tante Dewi.
Aku mengambilnya.
Begitu kubuka, tanganku langsung gemetar.
Uang.
Banyak sekali.
Aku menghitungnya dengan napas memburu.
Lima juta rupiah.
Di dalam amplop itu juga terdapat selembar kertas kecil.
Pak Budi, ini bukan untuk membayar perjalanan tadi. Tolong gunakan untuk kebutuhan Lila. Saya tahu jumlah ini tidak cukup, tetapi semoga bisa memberi Bapak sedikit waktu. Jangan menyerah sebelum Lila sendiri yang menyuruh Bapak berhenti berjuang.
Aku tak tahu apa yang terjadi pada tubuhku.
Aku keluar dari mobil begitu saja.
Hujan mengenai wajahku.
Kakiku kehilangan tenaga.
Aku berlutut di pinggir jalan sambil memeluk amplop itu ke dada.
Aku menangis seperti anak kecil.
Lima juta mungkin bukan angka yang besar bagi sebagian orang.
Tapi bagiku pagi itu, uang tersebut adalah waktu.
Waktu untuk Lila bernapas.
Waktu untuk kami mencari jalan lain.
Waktu untuk berharap.
Aku buru-buru mencoba menelepon Dewi melalui aplikasi, tetapi perjalanan sudah selesai dan aku tak memiliki nomor pribadinya.
Akhirnya aku kembali ke Jakarta.
Aku tidak mengambil penumpang lagi.
Entah kenapa, aku hanya ingin melihat Lila.
Ketika sampai di rumah sakit, Rina sedang duduk di lorong ICU. Matanya bengkak.
Begitu melihatku, dia langsung berdiri.
“Mas.”
Aku membeku.
Ada sesuatu dalam nada suaranya.
“Kenapa?”
“Dokter tadi cari kamu.”
Jantungku seperti jatuh.
“Kenapa?”
Rina menggenggam tanganku.
“Tekanan darah Lila turun lagi.”
Aku berlari menuju ruang ICU.
Dokter menjelaskan bahwa infeksi Lila belum terkendali sepenuhnya. Kondisinya kembali tidak stabil dan beberapa pemeriksaan tambahan harus segera dilakukan.
Aku tidak memahami seluruh istilah medis yang diucapkannya.
Aku hanya memahami satu kalimat.
Kami harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Aku menatap tubuh kecil putriku dari balik kaca.
“Lila…”
Untuk pertama kalinya sejak dia masuk ICU, aku merasa benar-benar takut kehilangan harapan.
Kemudian aku teringat amplop Dewi.
Aku menyerahkannya kepada Rina.
“Ini dari Perawat Dewi.”
Rina membaca suratnya dan langsung menangis.
“Kenapa orang yang bahkan bukan keluarga kita mau melakukan sebanyak ini?”
Aku tidak punya jawaban.
Hari itu, uang dari Dewi langsung kami gunakan untuk menutup sebagian kebutuhan yang mendesak.
Aku kembali bekerja sore harinya.
Namun sesuatu yang aneh terjadi.
Ketika hendak mengambil penumpang pertama, ponselku dipenuhi notifikasi.
Puluhan pesan masuk.
Lalu ratusan.
Aku bahkan sempat mengira akun Grab-ku bermasalah.
Salah satu teman sesama pengemudi mengirimkan sebuah tautan.
“Bud, ini kamu?”
Aku membukanya.
Sebuah unggahan dari akun media sosial seorang dokter muda di RSCM sedang menyebar.
Tidak ada foto wajah Lila. Tidak ada informasi medis pribadinya. Hanya sebuah foto mobilku yang terparkir di area rumah sakit dan sebuah cerita singkat tentang seorang pengemudi transportasi daring yang bekerja hampir tanpa tidur demi membiayai pengobatan putrinya.
Aku tahu siapa yang menceritakannya.
Dewi.
Di akhir tulisan itu ada satu kalimat.
Saya tidak meminta siapa pun menjadi pahlawan. Kalau ingin membantu, cukup bantu seorang ayah mendapatkan sedikit waktu untuk tetap berada di samping anaknya.
Unggahan itu menyebar cepat.
Teman-teman pengemudi mulai datang ke rumah sakit.
Ada yang membawa lima puluh ribu.
Ada yang memberi seratus ribu.
Seorang pengemudi tua bernama Pak Rahmat memasukkan uang dua puluh ribu ke tanganku.
Aku tahu uang itu mungkin hasil satu perjalanan panjang baginya.
Aku menolak.
Dia marah.
“Ambil, Bud.”
“Pak, buat makan Bapak saja.”
Pak Rahmat menatapku tajam.
“Kalau anak saya yang di dalam sana, kamu bakal bantu saya atau enggak?”
Aku terdiam.
“Nah. Ambil.”
Dalam dua hari, bantuan datang dari berbagai tempat.
Namun belum mencapai kebutuhan keseluruhan.
Lalu sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Pak Budi, mohon datang ke bagian administrasi rumah sakit.
Aku langsung panik.
Kupikir ada tagihan baru.
Ketika tiba di sana, seorang staf administrasi menyerahkan dokumen kepadaku.
“Pak, ada pembayaran masuk untuk kebutuhan perawatan Lila.”
“Berapa?”
Perempuan itu menyebut angkanya.
Aku yakin salah dengar.
“Dua puluh juta rupiah, Pak.”
Aku berdiri membeku.
“Siapa yang bayar?”
“Donatur meminta identitasnya tidak disebutkan.”
Aku pulang ke lorong ICU dengan kaki gemetar.
Jika ditambah uang Dewi, jumlahnya tepat dua puluh lima juta.
Jumlah yang selama berminggu-minggu menghantuiku.
Aku langsung mencari Dewi.
Aku menunggu pergantian shift.
Sekitar pukul tujuh malam, dia muncul.
Aku menghampirinya.
“Bu Dewi.”
Dia tampak terkejut.
“Pak Budi?”
Aku langsung menundukkan kepala.
“Terima kasih.”
Dewi mengerti maksudku.
“Jangan berterima kasih kepada saya. Saya cuma menulis cerita.”
“Bukan itu.”
Aku menatapnya.
“Dua puluh juta.”
Wajah Dewi berubah.
“Bukan saya.”
“Bu, kalau memang Ibu…”
“Pak Budi.”
Nada suaranya tegas.
“Gaji perawat saya enggak cukup buat diam-diam transfer dua puluh juta.”
Aku terdiam.
Benar juga.
“Lalu siapa?”
Dewi menggeleng.
“Saya juga enggak tahu.”
Malam itu kondisi Lila kembali memburuk.
Alarm monitor berbunyi.
Beberapa tenaga medis berlari masuk.
Aku dan Rina diminta menunggu di luar.
Pintu ICU tertutup.
Aku mendengar instruksi cepat dari dalam.
Rina memegang lenganku begitu kuat sampai kukunya terasa menekan kulit.
“Mas…”
“Dia kuat.”
Aku mengatakannya berkali-kali.
Entah untuk Rina atau diriku sendiri.
“Dia kuat.”
Dua puluh menit terasa seperti dua puluh tahun.
Kemudian dokter keluar.
Aku langsung berdiri.
“Dok?”
Dokter melepas masker.
“Kondisinya sudah kami stabilkan.”
Kakiku hampir lemas.
“Tapi kami harus memantau ketat dua puluh empat jam ke depan.”
Aku mengangguk berkali-kali.
Malam itu aku tidak bekerja.
Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, aku duduk di samping Rina sampai pagi.
Menjelang subuh, Dewi datang.
Dia membawa dua gelas kopi.
Satu diberikan kepadaku.
“Kali ini gratis,” katanya.
Aku tertawa kecil.
“Jangan sampai saya ditagih lima juta lagi.”
Dewi ikut tertawa.
Kemudian kami terdiam.
Aku akhirnya bertanya sesuatu yang sejak kemarin menggangguku.
“Bu, kenapa Ibu bantu Lila sampai segitunya?”
Senyum Dewi menghilang.
Dia menatap ke arah pintu ICU.
“Saya pernah punya anak.”
Aku menoleh.
“Namanya Alya.”
Dewi menarik napas.
“Umurnya delapan tahun ketika meninggal.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Infeksi juga,” lanjutnya. “Waktu itu saya belum jadi perawat. Saya cuma ibu rumah tangga. Suami saya sudah meninggal lebih dulu karena kecelakaan.”
Tangannya menggenggam gelas kopi.
“Saya enggak ngerti istilah dokter. Enggak ngerti kenapa satu angka di monitor bisa membuat semua orang panik. Yang saya tahu cuma saya takut.”
“Maaf, Bu.”
Dewi menggeleng.
“Setelah Alya meninggal, saya pikir hidup saya selesai.”
Dia tersenyum pahit.
“Lalu saya sekolah lagi. Saya jadi perawat karena saya enggak mau ada ibu atau ayah lain duduk sendirian di depan ICU tanpa ada orang yang menjelaskan apa yang sedang terjadi.”
Aku menunduk.
Sekarang aku memahami lima juta itu.
Bukan sekadar uang.
Itu luka lama yang berubah menjadi pertolongan.
Tiga hari berikutnya, keadaan Lila perlahan membaik.
Demamnya turun.
Respons tubuhnya terhadap terapi mulai menunjukkan perkembangan.
Sampai suatu pagi dokter menyampaikan kabar yang sudah lama kami tunggu.
Lila bisa dipindahkan dari ICU jika kondisinya tetap stabil.
Rina menangis.
Aku memeluknya.
Dewi berdiri beberapa meter dari kami sambil tersenyum.
Seminggu kemudian, aku akhirnya bisa masuk dan berbicara lebih lama dengan Lila.
Tubuhnya masih lemah.
Tapi matanya terbuka.
“Ayah.”
Aku menggenggam tangannya.
“Ayah di sini.”
Dia menatap wajahku lama.
“Kok Ayah kurusan?”
Aku tertawa sambil menangis.
“Karena Ayah enggak habisin nasi.”
Lila mengerutkan kening.
“Nanti aku bilang Mama.”
Aku tertawa lebih keras.
Lalu dia berbisik.
“Tante Dewi mana?”
“Sedang kerja.”
Lila tersenyum.
“Aku mau kasih gambar.”
Beberapa minggu kemudian, Lila akhirnya diperbolehkan pulang dengan kontrol rutin.
Hari ketika kami meninggalkan rumah sakit adalah hari paling indah dalam hidupku.
Aku membawa tas.
Rina mendorong kursi roda Lila.
Sementara Lila memegang selembar gambar.
Dia memberikan gambar itu kepada Dewi.
Di sana ada empat orang bergandengan tangan.
Aku, Rina, Lila, dan seorang perempuan berbaju biru.
Di atasnya tertulis dengan tulisan anak-anak.
Keluargaku yang di rumah dan keluargaku yang di rumah sakit.
Dewi menutup mulut.
Air matanya jatuh.
Lila menarik tangannya.
“Jangan nangis, Tante.”
Dewi berjongkok dan memeluknya.
“Ini air mata senang.”
Sebelum pulang, aku kembali bertanya kepada bagian administrasi mengenai identitas orang yang membayar dua puluh juta rupiah.
Kali ini staf itu tersenyum.
“Donaturnya sudah mengizinkan kami memberi tahu Bapak setelah Lila pulang.”
Dia menyerahkan sebuah amplop.
Di dalamnya hanya ada secarik kertas.
Aku membacanya.
Pak Budi, dua tahun lalu saya pernah menjadi penumpang Bapak. Saat itu saya kehilangan dompet berisi uang dan dokumen penting di mobil. Bapak mengejar saya hampir lima kilometer hanya untuk mengembalikannya. Ketika saya menawarkan imbalan, Bapak menolak dan berkata, “Kalau bukan milik kita, jangan dibawa pulang.”
Saya melihat cerita tentang Lila dan mengenali nama serta mobil Bapak.
Anggap saja barang yang Bapak kembalikan dua tahun lalu akhirnya menemukan jalan pulangnya.
Tidak ada nama.
Hanya sebuah kalimat terakhir.
Kebaikan memang sering terlambat kembali, tetapi ia jarang benar-benar tersesat.
Aku membaca surat itu berkali-kali.
Barulah aku teringat.
Dua tahun lalu, seorang pria berjas abu-abu memang pernah meninggalkan dompet di mobilku.
Saat itu aku bahkan lupa wajahnya.
Aku tidak pernah menganggap tindakanku istimewa.
Aku hanya mengembalikan sesuatu yang bukan milikku.
Tapi ternyata, dua tahun kemudian, sebuah kebaikan kecil yang bahkan sudah kulupakan kembali tepat ketika aku paling membutuhkannya.
Aku keluar dari rumah sakit sambil menggendong Lila.
Jakarta masih sama.
Klakson bersahutan.
Motor menyelip di antara mobil.
Orang-orang berjalan terburu-buru mengejar urusan masing-masing.
Namun hari itu kota ini terasa berbeda.
Sebelum masuk mobil, Lila memeluk leherku.
“Ayah.”
“Hm?”
“Nanti kalau aku sudah sehat, kita bantu orang juga, ya?”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Dia menjawab sederhana.
“Biar bantuannya muter.”
Aku tertawa sambil mencium dahinya.
“Iya.”
Aku membuka pintu mobil dan mendudukkannya perlahan.
Sejak hari itu, aku tetap menjadi pengemudi Grab.
Aku tetap mengejar order.
Tetap menghadapi macet.
Tetap menghitung bensin dan cicilan.
Hidup kami tidak mendadak menjadi mudah.
Namun di dashboard mobilku sekarang selalu ada sebuah kotak kecil.
Setiap selesai bekerja, aku memasukkan uang ke dalamnya.
Kadang sepuluh ribu.
Kadang dua puluh ribu.
Kalau sedang ramai, lima puluh ribu.
Di atas kotak itu, Lila menempelkan kertas berwarna merah muda.
Tulisan tangannya masih miring dan tidak rapi.
Untuk orang yang sedang butuh waktu.
Beberapa bulan kemudian, ketika kotak itu sudah cukup penuh, aku membawanya ke rumah sakit.
Bukan untuk Lila.
Untuk keluarga lain yang sedang duduk di lorong ICU dengan wajah yang dulu pernah kumiliki.
Saat menyerahkan amplop kepada seorang ayah yang kebingungan, aku tidak menyebutkan namaku.
Aku hanya berkata satu hal sebelum pergi.
“Pak, suatu hari kalau keadaan Bapak sudah lebih baik, enggak perlu kembalikan uang ini kepada saya.”
Dia menatapku dengan mata basah.
“Lalu saya harus bagaimana?”
Aku teringat Dewi.
Aku teringat pria yang dompetnya kukembalikan dua tahun lalu.
Aku teringat Lila.
Aku tersenyum.
“Teruskan saja ke orang berikutnya.”
Lalu aku berjalan menuju lift.
Dari belakang, kudengar lelaki itu menangis.
Aku tidak menoleh.
Karena akhirnya aku mengerti sesuatu.
Di kota sebesar Jakarta, kita mungkin merasa tidak saling mengenal.
Kita melewati ribuan wajah setiap hari dan mengira mereka akan hilang begitu saja dari hidup kita.
Padahal mungkin, tanpa kita sadari, kebaikan yang kita tinggalkan pada seseorang sedang berjalan memutar melalui jalan yang sangat panjang.
Dan suatu hari, ketika hidup membuat kita jatuh berlutut di tengah hujan dan merasa tidak ada lagi jalan keluar, kebaikan itu mungkin akan menemukan alamat kita kembali.
