Aku mengenali suara itu.
Nara.
Putriku benar-benar pulang.
Dan ia tidak sendirian.
Dari bawah tempat tidur, aku hanya bisa melihat bagian bawah kaki mereka. Sepasang sepatu hitam milik Nara berhenti di dekat pintu kamar. Di belakangnya muncul dua pasang sepatu lain, sama-sama sepatu sekolah.
Jantungku berdetak begitu keras sampai aku takut mereka bisa mendengarnya.
“Pintunya sudah dikunci?” bisik seorang anak perempuan.
“Sudah,” jawab Nara.
“Yakin mamamu nggak bakal pulang?”
“Nggak. Mama biasanya baru pulang jam enam.”
Aku menggigit bibir.

Ada rasa sakit aneh mendengar betapa yakin putriku mengetahui rutinitasku. Selama ini kukira rutinitas itu memberinya rasa aman. Ternyata rutinitas yang sama membuatnya tahu persis kapan rumah kosong.
Seseorang menjatuhkan tas ke lantai.
Aku bisa melihat tiga orang sekarang. Nara dan dua anak perempuan lain.
“Cepat,” kata Nara. “Kita cuma punya waktu sampai sebelum jam istirahat kedua.”
Salah satu anak berlutut.
Aku langsung menahan napas.
Wajahnya nyaris sejajar dengan celah bawah ranjang.
Untung ia hanya mengambil sesuatu dari tas.
Sebuah kotak plastik transparan.
Kemudian Nara membuka lemari.
Aku mendengar bunyi benda-benda dipindahkan.
“Ada berapa?” tanya seseorang.
“Sebelas.”
“Yang kemarin?”
“Sudah habis.”
Tubuhku mendadak dingin.
Sebelas apa?
Apa yang mereka sembunyikan?
Obat?
Rokok?
Barang curian?
Pikiranku langsung berlari ke kemungkinan paling buruk.
Aku meraih ponsel perlahan. Tanganku gemetar ketika membuka kamera.
Lalu terdengar suara plastik dibuka.
“Kasihan banget,” bisik salah satu anak.
Aku membeku.
Kasihan?
Beberapa detik kemudian terdengar suara yang sangat kecil.
Mengeong.
Aku berkedip.
Mengeong lagi.
Kemudian satu lagi.
Aku hampir mengira pikiranku sedang mempermainkanku.
“Nara, yang putih nggak mau makan lagi.”
“Aku tahu.”
“Apa kita bawa ke dokter?”
“Pakai uang apa?”
Suara Nara berubah.
Tidak lagi terdengar seperti anak yang sedang melakukan sesuatu yang nakal.
Ia terdengar lelah.
Sangat lelah.
“Aku masih punya seratus dua puluh ribu,” katanya. “Nanti sore aku jual dua gelang lagi.”
“Nar, jangan. Kamu sudah jual banyak.”
“Nggak apa-apa.”
“Terus uang makanmu?”
“Aku bisa makan di rumah.”
Dadaku seperti dipukul.
Porsi makannya berkurang.
Lampunya menyala sampai tengah malam.
Wajahnya selalu terlihat lelah.
Tiba-tiba potongan-potongan kecil yang selama ini kuabaikan mulai tersusun.
Tetapi aku masih belum mengerti semuanya.
Aku menggeser tubuh sedikit untuk mencari sudut pandang.
Kesalahan besar.
Sikutku menyenggol sebuah kotak kecil di bawah ranjang.
Tok.
Suasana langsung sunyi.
“Suara apa itu?” bisik salah satu anak.
Aku menutup mata.
“Nara…”
Suara temannya gemetar.
“Ada orang di bawah tempat tidur.”
Sepasang kaki mundur cepat.
Nara berjongkok.
Wajahnya muncul tepat di depan wajahku.
Selama beberapa detik kami hanya saling menatap.
Matanya membesar.
“Ma?”
Tidak ada lagi gunanya bersembunyi.
Aku merangkak keluar dengan tubuh pegal dan rambut penuh debu.
Dua teman Nara berdiri membeku di dekat lemari.
Yang satu memegang kantong makanan kucing.
Yang lain memeluk kotak plastik.
Dan di dalam kotak itu ada seekor anak kucing putih yang sangat kurus.
Aku menatap mereka.
“Nara.”
Wajah putriku pucat.
“Mama kok di sini?”
“Seharusnya Mama yang tanya.”
Tidak ada yang menjawab.
Aku berdiri dan melihat ke arah lemari yang terbuka.
Di bagian bawah, di balik tumpukan pakaian, terdapat dua kandang lipat kecil. Di dalamnya ada beberapa anak kucing.
Bukan sebelas.
Hanya empat.
“Katamu ada sebelas.”
Nara menunduk.
“Yang lain bukan di sini.”
“Di mana?”
Ia diam.
“Nara, lihat Mama.”
Perlahan ia mengangkat kepala.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku bisa jelasin.”
“Jelaskan sekarang.”
Salah satu temannya buru-buru menyela.
“Tante, ini bukan salah Nara. Kami juga ikut.”
“Kalian seharusnya ada di sekolah.”
Ketiganya terdiam.
Aku merasakan marah, takut, bingung, dan lega sekaligus.
Setidaknya mereka tidak memakai narkoba atau melakukan sesuatu yang lebih buruk.
Tetapi mereka tetap bolos sekolah dan berbohong.
“Kenapa ada kucing-kucing ini?”
Nara menatap anak kucing putih di tangan temannya.
“Kami nemuin induknya mati dekat pasar sekitar dua bulan lalu.”
“Dua bulan?”
Ia mengangguk.
“Ada lima anaknya. Kami nggak tega ninggalin.”
“Kenapa nggak bilang Mama?”
Nara tersenyum kecil, tetapi senyum itu terasa pahit.
“Waktu aku kelas lima aku pernah bawa anak kucing pulang.”
Aku mengingatnya.
Seekor anak kucing kotor yang ia temukan di selokan.
Saat itu aku sedang berada dalam masa paling kacau menjelang perceraian. Aku marah karena rumah berantakan, pekerjaan menumpuk, dan aku baru bertengkar hebat dengan ayahnya.
Aku menyuruh Nara mengembalikan kucing itu.
Aku bahkan mengatakan sesuatu yang sekarang menusukku ketika mengingatnya.
Jangan bawa masalah baru ke rumah. Mama sudah punya cukup masalah.
Aku menelan ludah.
“Aku pikir Mama nggak suka kalau aku bawa hewan pulang,” katanya.
“Tapi kenapa harus bolos?”
Nara tidak menjawab.
Temannya yang berkacamata akhirnya berkata, “Karena bukan cuma kucing, Tante.”
Aku menatapnya.
“Apa maksudnya?”
Nara langsung memotong.
“Dina.”
Tetapi sudah terlambat.
Dina mengeluarkan ponselnya.
“Tante sebaiknya lihat.”
Ia membuka sebuah akun media sosial.
Nama akunnya sederhana.
Rumah Sementara.
Di dalamnya ada foto-foto kucing dan anjing terlantar.
Ada kucing dengan kaki terluka. Anak anjing yang ditemukan di pinggir jalan. Kucing tua yang ditinggalkan pemiliknya.
Beberapa unggahan memiliki tulisan kecil.
Sudah diadopsi.
Sudah pulang.
Sudah mendapat keluarga baru.
Aku terus menggulir.
“Ini kalian?”
Dina mengangguk.
“Nara yang mulai.”
Aku menatap putriku.
“Kalian selama ini menyelamatkan hewan?”
Nara terlihat semakin tidak nyaman.
“Awalnya cuma lima anak kucing itu. Terus ada yang kirim pesan. Ada yang nemu kucing sakit. Ada yang buang anak anjing. Kami pikir cuma sementara.”
“Sebelas tadi apa?”
“Hewan yang masih kami urus.”
“Di mana sisanya?”
Nara menggigit bibir.
“Di rumah teman-teman lain.”
Aku menutup mata sejenak.
“Dan kalian bolos sekolah buat ini?”
“Kami nggak bolos seharian.”
Aku langsung menatapnya tajam.
Nara sadar kalimat itu tidak membantu.
“Kami cuma keluar beberapa jam kalau ada yang harus dikasih obat atau dibawa ke klinik.”
“Keluar sekolah tanpa izin tetap bolos, Nara.”
“Iya.”
“Kamu bohong sama Mama.”
“Iya.”
“Berapa kali?”
Ia tidak menjawab.
“Nara.”
“Enam kali.”
Dina berbisik, “Delapan.”
Nara menoleh tajam.
Aku menarik napas panjang.
“Delapan kali.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Nara.
“Aku minta maaf.”
Aku ingin marah.
Sungguh.
Tetapi sebelum sempat berkata apa pun, anak kucing putih di dalam kotak mengeluarkan suara lemah.
Nara langsung berbalik.
“Dia kenapa?”
Anak itu terbaring lemas.
Nara mengangkatnya.
Tubuh kecil itu hampir tidak bergerak.
“Dari pagi dia nggak mau minum.”
Dina terlihat panik.
“Nar, gusinya pucat.”
Wajah Nara berubah.
“Mama…”
Untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak terlihat seperti remaja yang ketahuan berbohong.
Ia terlihat seperti anak tiga belas tahun yang ketakutan.
“Tolong.”
Satu kata itu menghancurkan seluruh kemarahanku.
“Ambil tas kalian.”
Kami langsung pergi ke klinik hewan.
Dokter mengatakan anak kucing itu mengalami dehidrasi berat dan infeksi. Kalau terlambat beberapa jam lagi, kondisinya bisa jauh lebih buruk.
Aku membayar biaya pemeriksaan dan perawatan.
Saat petugas menyerahkan struk, Nara berdiri di sampingku dengan wajah tertunduk.
“Berapa, Ma?”
“Nggak usah dipikirkan.”
“Aku ganti.”
“Pakai uang apa?”
Ia diam.
Aku teringat ucapannya tentang menjual gelang.
“Nara, gelang apa yang kamu jual?”
Wajahnya langsung berubah.
“Nggak penting.”
“Nara.”
Akhirnya ia membuka tas dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya hanya tersisa satu gelang manik-manik.
“Aku bikin sendiri.”
“Kamu jual ini?”
Ia mengangguk.
“Ke teman-teman. Kadang lewat internet.”
“Buat bayar makanan dan dokter?”
“Iya.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Selama berminggu-minggu aku mengira putriku kehilangan selera makan karena stres sekolah.
Ternyata ia menyisihkan uang jajannya.
Aku mengira ia begadang mengerjakan tugas.
Ternyata ia membuat gelang untuk membayar makanan hewan-hewan terlantar.
Aku merasa bangga.
Dan pada saat yang sama, aku merasa gagal.
Karena kebaikan anakku tumbuh dalam persembunyian dariku.
Kami mengantar Dina dan temannya kembali ke sekolah bersama surat penjelasan.
Nara duduk di kursi penumpang mobilku.
Sepanjang perjalanan ia diam.
Aku akhirnya berkata, “Mama tetap marah.”
“Aku tahu.”
“Bukan karena kamu nolong hewan.”
Ia menatapku.
“Mama marah karena kamu bohong dan keluar sekolah tanpa izin. Itu berbahaya.”
“Aku tahu.”
“Kalau terjadi sesuatu sama kamu, Mama bahkan nggak tahu kamu ada di mana.”
Nara menunduk.
“Maaf.”
Aku memegang kemudi lebih erat.
“Kenapa kamu benar-benar nggak pernah cerita?”
Lama sekali ia tidak menjawab.
Kemudian ia berkata sangat pelan, “Karena Mama selalu capek.”
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada kebohongannya.
“Maksud kamu?”
“Setiap pulang kerja Mama capek. Kalau aku cerita sesuatu, Mama sering bilang nanti. Kalau aku tanya sesuatu, Mama bilang Mama lagi banyak pikiran.”
Ia berhenti.
“Aku nggak mau jadi masalah tambahan.”
Aku merasa tenggorokanku tercekat.
Kalimat yang pernah kukatakan bertahun-tahun lalu kembali kepadaku.
Jangan bawa masalah baru ke rumah.
Mama sudah punya cukup masalah.
Aku memarkir mobil di pinggir jalan.
“Nara.”
Ia menatapku.
“Mama pernah bilang kamu masalah?”
Ia menggeleng cepat.
“Nggak.”
“Tapi Mama bikin kamu merasa begitu.”
Nara tidak menjawab.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
Aku meraih tangannya.
“Mama minta maaf.”
Air matanya langsung jatuh.
Aku menariknya ke pelukanku.
Untuk beberapa saat kami hanya menangis di dalam mobil yang terparkir di bawah pohon, sementara kendaraan berlalu-lalang di jalan Bandung yang mulai ramai.
Setelah hari itu, semuanya berubah.
Bukan berarti Nara bebas dari konsekuensi.
Aku menemui wali kelasnya dan menjelaskan semuanya. Nara mendapat teguran dan harus mengejar pelajaran yang tertinggal. Aku juga meminta ketiga anak itu berjanji tidak akan meninggalkan sekolah tanpa izin lagi.
Tetapi aku tidak menyuruh Nara menghentikan Rumah Sementara.
Sebaliknya, kami mengubah cara kerjanya.
Aku membantu membuat jadwal.
Mereka hanya boleh mengurus hewan setelah sekolah atau akhir pekan. Kalau ada keadaan darurat saat jam pelajaran, mereka harus menghubungi orang dewasa.
Aku juga menghubungi sebuah komunitas penyelamat hewan di Bandung.
Dalam beberapa minggu, sebelas hewan yang mereka rawat mendapatkan tempat penampungan yang lebih layak. Sebagian kemudian diadopsi.
Anak kucing putih yang hampir mati itu selamat.
Nara menamainya Awan.
Dan tentu saja, Awan akhirnya tinggal bersama kami.
Aku sempat berpura-pura keberatan selama dua hari sebelum Nara memergokiku membelikan tempat tidur kucing secara online.
Namun ada satu hal yang masih menggangguku.
Bu Ratna mengatakan ia melihat Nara pulang bersama anak-anak lain berkali-kali.
Kalau mereka hanya merawat hewan, mengapa selalu rumah kami?
Jawabannya baru kutemukan sekitar sebulan kemudian.
Suatu sore, aku sedang membersihkan kamar Nara ketika menemukan sebuah amplop terselip di belakang meja.
Di bagian depan tertulis namaku.
Mama.
Aku tidak membukanya.
Aku menunggu Nara pulang.
Ketika kutunjukkan amplop itu, wajahnya langsung pucat.
“Itu apa?”
“Surat.”
“Buat Mama?”
Ia mengangguk.
“Kenapa nggak dikasih?”
Nara duduk di tepi tempat tidur.
“Karena aku nggak jadi pergi.”
Dadaku mendadak dingin.
“Pergi ke mana?”
Ia menarik napas panjang.
Kemudian untuk pertama kalinya, Nara menceritakan bagian yang tidak pernah ia ceritakan kepada teman-temannya.
Beberapa bulan sebelumnya, ia pernah berencana pindah ke rumah ayahnya.
Bukan karena membenciku.
Justru karena ia merasa aku akan hidup lebih mudah tanpa dirinya.
Hari ketika Bu Ratna pertama kali melihatnya pulang saat jam sekolah bukanlah hari ketika mereka menemukan kucing.
Hari itu Nara pulang sendirian untuk mengambil pakaian.
Ia sudah memasukkan beberapa baju ke tas.
Kemudian ia mendengar suara anak kucing menangis dari saluran air di belakang rumah.
Ia keluar.
Ia menemukan seekor anak kucing kecil terjebak di sana.
Ketika berusaha menyelamatkannya, Dina kebetulan lewat.
Dari satu anak kucing, mereka menemukan induknya.
Lalu empat anak lainnya.
Rencana Nara untuk pergi tertunda.
Besoknya tertunda lagi.
Kemudian ia mulai sibuk merawat mereka.
“Aku pikir waktu itu aku cuma bikin Mama tambah capek,” katanya sambil menangis. “Tapi pas lihat mereka, aku merasa… mungkin ada yang masih butuh aku.”
Aku tidak sanggup berkata apa-apa.
Aku hanya memeluknya.
Malam itu, setelah Nara tidur, aku duduk sendirian di ruang makan sambil memandangi Awan yang tidur di kursi.
Selama ini aku mengira aku menemukan rahasia putriku karena bersembunyi di bawah tempat tidurnya.
Ternyata aku salah.
Yang kutemukan bukan sekadar rahasia tentang sebelas hewan terlantar.
Aku menemukan seorang anak yang selama berbulan-bulan merasa dirinya terlalu berat untuk dibawa oleh ibunya sendiri.
Dan ironisnya, anak-anak kucing yang kupikir merupakan masalah itulah yang membuat putriku tetap tinggal bersamaku.
Keesokan paginya aku mengetuk pintu rumah Bu Ratna.
Ia sedang duduk di teras seperti biasa.
“Bagaimana Nara?” tanyanya.
Aku tersenyum.
“Baik, Bu.”
Bu Ratna mengangguk seolah sudah mengetahui jawabannya.
Aku hampir pulang ketika ia memanggilku.
“Maya.”
Aku menoleh.
“Waktu itu sebenarnya saya lihat Nara pulang sendirian dulu,” katanya.
Aku membeku.
“Kenapa Ibu bilang ada anak-anak lain?”
“Karena setelah beberapa hari, baru teman-temannya mulai datang.”
Ia memandang rumahku.
“Hari pertama itu dia duduk lama sekali di depan pagar. Bawa tas besar. Saya pikir dia mau pergi.”
Aku tidak mampu menjawab.
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Makanya saya bilang sama kamu.”
Aku menatap perempuan tua itu dengan mata panas.
“Terima kasih.”
Ia hanya mengangguk.
Saat aku kembali ke rumah, Nara sudah berdiri di depan pintu dengan seragam sekolah dan Awan dalam pelukannya.
“Ma, aku berangkat.”
Aku berjalan mendekatinya.
Lalu, tanpa alasan yang ia mengerti, aku memeluknya erat.
“Ma?”
“Nggak apa-apa.”
“Mama aneh.”
“Biarin.”
Ia tertawa.
Sebelum pergi, Nara menyerahkan Awan kepadaku.
Aku berdiri di depan pintu melihat putriku berjalan menuju ujung jalan.
Kali ini aku tidak hanya memastikan ia benar-benar pergi ke sekolah.
Aku memastikan satu hal lain.
Bahwa ketika sore nanti ia kembali, rumah ini tidak hanya menjadi tempat yang memiliki pintu untuk pulang.
Rumah ini harus menjadi tempat di mana ia tidak perlu menyembunyikan alasan untuk tetap tinggal.
