“Fikri yang kasih.”
Kalimat Bu Ratna membuat ruang tamu mendadak terasa terlalu sempit.
Aku masih berdiri di ambang dapur dengan celemek terikat di pinggang. Tanganku dingin, tetapi wajahku terasa panas. Di atas meja, map biru itu terbuka seperti bukti bahwa kehidupan pribadiku telah dibongkar tanpa izin.
Aku menoleh kepada suamiku.
Fikri baru saja meletakkan kunci motor di meja. Wajahnya berubah ketika melihatku.
“Dira, aku bisa jelasin.”
“Jelaskan.”
Hanya satu kata, tetapi suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
Fikri melirik ibunya sebelum mendekat.
“Mama bilang Tante Lilis butuh tambahan modal. Pengajuan atas nama Tante susah karena masih ada cicilan lama. Kamu pegawai tetap, riwayat kreditmu bagus.”
“Jadi kamu mengambil KTP, NPWP, dan slip gajiku?”
“Aku cuma kasih fotokopi.”
Aku menatapnya lama.
Entah mengapa, kata “cuma” itu terasa lebih menyakitkan daripada pengakuannya.
“Tanpa izin?”

Tante Lilis menyela sambil tersenyum seolah sedang menenangkan anak kecil.
“Nadira, jangan tegang begitu. Ini keluarga sendiri. Cicilannya nanti Tante yang bayar.”
Aku memandangnya.
“Kalau Tante yang membayar, kenapa kreditnya tidak atas nama Tante?”
Senyumnya hilang.
Om Bowo berdeham.
Bu Ratna segera berkata, “Kamu ini baru tiga hari masuk keluarga sudah hitung-hitungan begitu?”
Aku menarik napas.
“Saya hanya bertanya.”
“Seratus enam puluh juta itu tidak besar,” katanya. “Usaha katering Lilis sudah jalan. Kamu cuma bantu nama.”
Aku hampir tertawa.
Bagi perempuan yang menganggap dua kilogram beras terlalu sedikit untuk dihargai, seratus enam puluh juta rupiah rupanya dianggap tidak besar selama utangnya menggunakan namaku.
Aku menatap Fikri lagi.
“Kamu setuju?”
Fikri mengusap wajahnya.
“Dira, kita bisa bahas di kamar.”
“Tidak. Dokumenku dibicarakan di depan semua orang. Jadi jawab di depan semua orang.”
Wajahnya mengeras.
“Aku pikir kamu bakal mau membantu keluarga.”
“Aku bahkan belum ditanya.”
“Mau ditanya sekarang juga sama saja.”
“Tidak sama.”
Bu Ratna mendecakkan lidah.
“Ya Allah, Fikri. Mama sudah bilang dari awal. Perempuan kalau sudah punya gaji sendiri biasanya susah diatur.”
Aku memandang beliau.
Ada sesuatu dalam diriku yang perlahan berubah.
Selama tiga hari terakhir aku terus meyakinkan diri bahwa aku harus bersabar. Aku menantu baru. Aku harus menyesuaikan diri. Aku harus menjaga perasaan orang tua suami.
Namun rupanya setiap kali aku menunduk, mereka mengira punggungku memang diciptakan untuk diinjak.
Bu Ratna mendorong map itu ke arahku.
“Besok jam sepuluh kita ke bank. Tanda tangan saja. Selesai.”
Aku tidak menyentuhnya.
“Tidak.”
Ruangan langsung sunyi.
“Apa?” tanya Bu Ratna.
“Saya tidak akan mengajukan kredit.”
Tante Lilis berdiri.
“Nadira, Tante sudah bayar uang muka untuk dua oven besar karena Ratna bilang urusan pinjaman ini beres.”
Aku menoleh kepada Bu Ratna.
Beliau sama sekali tidak tampak malu.
“Makanya jangan bikin masalah. Tinggal tanda tangan.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Bu Ratna bangkit dari kursinya.
“Nadira, dengar baik-baik. Kamu tinggal di rumah saya. Makan di rumah saya. Baru tiga hari jadi istri anak saya. Jangan merasa karena punya pekerjaan lalu kamu bisa bertindak seenaknya.”
Aku terdiam beberapa detik.
Kemudian sesuatu yang sejak pagi kutahan akhirnya keluar.
“Beras yang Ibu buang kemarin lebih jujur daripada semua pembicaraan malam ini.”
Bu Ratna membelalak.
“Apa hubungannya?”
“Ibu saya datang membawa sesuatu yang dia hasilkan dengan tangannya sendiri. Ibu menganggapnya tidak berharga karena cuma dua kilo. Sekarang keluarga Ibu membutuhkan nama dan penghasilan saya untuk berutang seratus enam puluh juta, tetapi saya masih dianggap tidak tahu diri.”
“Nadira!” Fikri membentak.
Aku menoleh.
Untuk pertama kalinya sejak kami berpacaran tiga tahun, aku melihatnya bukan sebagai lelaki yang kucintai, melainkan sebagai seseorang yang selalu memintaku memahami keluarganya tanpa pernah meminta keluarganya memahami diriku.
“Jangan bicara begitu sama Mama.”
“Lalu bagaimana seharusnya aku bicara?”
“Kamu bisa sopan.”
“Aku sedang sopan.”
“Kalau sopan, tanda tangan saja. Kita keluarga.”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku benar-benar patah.
Bukan karena keras.
Justru karena Fikri mengatakannya begitu mudah.
Aku membuka celemek dan meletakkannya di kursi.
“Kalau begitu, aku mau tanya satu hal.”
Aku menatap suamiku lurus-lurus.
“Kalau ibuku mengambil dokumenmu diam-diam lalu mengajukan utang seratus enam puluh juta atas namamu untuk saudara kami, kamu akan tanda tangan?”
Fikri terdiam.
Bu Ratna langsung menjawab untuknya.
“Jangan samakan keluarga kami dengan keluargamu.”
Itulah kalimatnya.
Satu kalimat yang membuatku berhenti menunduk.
Aku memandang Bu Ratna.
“Apa bedanya?”
Beliau tertawa kecil.
“Kamu benar-benar mau saya jawab?”
“Jawab.”
“Nadira, keluarga kami punya nama. Punya usaha. Punya rumah. Saudara-saudara kami orang berpendidikan. Jangan tersinggung, tapi ibumu datang ke rumah besan membawa dua kilo beras naik bus. Kamu seharusnya tahu diri berada di keluarga seperti apa sekarang.”
Tidak ada yang tertawa kali ini.
Bahkan Tante Lilis menunduk.
Aku menatap Fikri.
Aku menunggu.
Mungkin bagian kecil dalam diriku masih berharap dia akan mengatakan cukup.
Bahwa ibunya sudah keterlaluan.
Bahwa perempuan yang melahirkanku tidak pantas direndahkan.
Tetapi Fikri hanya berkata pelan, “Dira, Mama memang kalau bicara suka keras. Jangan dimasukkan hati.”
Aku tersenyum.
Aneh sekali.
Tiga tahun mengenal seseorang ternyata belum tentu cukup untuk mengetahui siapa dirinya.
Aku berjalan menuju kamar.
Fikri mengejarku.
“Mau ke mana?”
Aku membuka lemari dan mengeluarkan koper kecil.
“Nadira.”
Aku memasukkan pakaian tanpa terburu-buru.
Fikri menutup pintu kamar.
“Jangan bikin drama.”
Tanganku berhenti.
“Aku yang bikin drama?”
“Kamu mau pergi cuma gara-gara beras?”
Aku menatapnya.
“Bukan karena beras.”
“Terus?”
“Karena ketika ibuku dihina, kamu diam. Ketika dokumenku diambil tanpa izin, kamu ikut melakukannya. Ketika namaku mau dipakai berutang, kamu menganggap aku wajib setuju.”
Aku menarik resleting koper.
“Dan yang paling buruk, kamu bahkan tidak mengerti kenapa semua itu salah.”
Wajah Fikri memerah.
“Kita baru menikah tiga hari.”
“Justru itu.”
Aku mengangkat koper.
“Kalau tiga hari saja sudah begini, aku tidak mau menunggu tiga tahun untuk mengetahui seberapa jauh kalian akan melakukannya.”
Ketika aku keluar kamar, seluruh keluarga masih berada di ruang tamu.
Bu Ratna menyilangkan tangan.
“Kalau keluar malam ini, jangan berharap saya memohon kamu kembali.”
Aku berhenti.
“Saya tidak berharap.”
“Pikirkan baik-baik. Perempuan baru menikah tiga hari lalu pulang ke rumah ibunya, orang kampung akan ngomong apa?”
Untuk pertama kalinya malam itu aku tidak merasa takut.
“Mereka boleh bicara apa saja.”
Aku menatapnya.
“Ibu saya mungkin hanya punya dua kilo beras untuk diberikan kepada saya. Tapi dia tidak pernah mengajarkan saya mengambil hak orang lain lalu menyebutnya bantuan keluarga.”
Aku berjalan keluar.
Fikri tidak mengejarku.
Itulah jawaban terakhir yang kubutuhkan.
Aku naik taksi daring menuju terminal, tetapi di tengah perjalanan aku berubah pikiran.
Aku tidak pulang ke Cianjur.
Aku tahu jika Ibu melihatku datang membawa koper tiga hari setelah menikah, beliau akan menyalahkan dirinya sendiri.
Aku akhirnya menginap di apartemen kecil milik Rani, teman sekantorku.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Sekitar pukul dua dini hari, ponselku terus bergetar.
Fikri menelepon sebelas kali.
Bu Ratna mengirim belasan pesan.
Sebagian memintaku berhenti bersikap kekanak-kanakan.
Sebagian mengatakan aku mempermalukan keluarga.
Namun satu pesan membuatku langsung duduk.
“Kamu jangan macam-macam soal pengajuan kredit. Semua dokumen sudah masuk.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Semua dokumen sudah masuk.
Pagi berikutnya aku meminta izin terlambat ke kantor dan langsung menghubungi bank yang logonya terlihat di formulir semalam.
Setelah beberapa kali dialihkan, aku akhirnya berbicara dengan petugas bagian kredit.
Aku menyebutkan nama dan NIK.
Petugas itu terdiam sebentar.
“Benar, Bu Nadira. Ada pengajuan fasilitas kredit atas nama Ibu yang masuk dua hari lalu.”
Dua hari lalu.
Artinya sehari setelah pernikahan kami.
Sebelum beras Ibu dibuang.
Sebelum makan malam keluarga.
Sebelum mereka pura-pura meminta persetujuanku.
“Tolong blokir prosesnya. Saya tidak pernah mengajukan.”
Nada petugas berubah serius.
“Apakah Ibu merasa data pribadi digunakan tanpa persetujuan?”
“Iya.”
Aku diminta datang ke cabang.
Di sana aku melihat sesuatu yang membuat tanganku kembali dingin.
Pada formulir pengajuan sudah terdapat tanda tangan yang menyerupai tanda tanganku.
Tetapi bukan milikku.
Aku memotretnya setelah mendapat izin petugas dan membuat pernyataan resmi bahwa pengajuan tersebut tidak pernah kusetujui.
Sore harinya Fikri datang ke kantorku.
Dia menungguku di parkiran.
“Kamu blokir kreditnya?”
“Iya.”
“Kenapa kamu bikin semuanya makin rumit?”
Aku hampir tidak percaya.
“Ada tanda tangan palsu atas namaku.”
Fikri diam.
“Siapa yang tanda tangan?”
“Aku nggak tahu.”
“Fikri.”
Dia membuang muka.
Dan dari gerakan kecil itu aku tahu.
“Kamu?”
“Dira, dengar dulu.”
Aku mundur satu langkah.
“Kamu memalsukan tanda tanganku?”
“Mama bilang cuma untuk mempercepat proses. Nanti sebelum pencairan kamu tetap harus datang.”
Aku menatap lelaki yang tiga hari lalu memasangkan cincin ke jariku.
“Jadi semua ini sudah direncanakan?”
Fikri mengusap rambutnya dengan frustrasi.
“Tante Lilis butuh modal cepat.”
“Jawab.”
Dia akhirnya mengangguk.
“Mama sudah bicara soal ini sebelum kita menikah.”
Dadaku terasa kosong.
“Sejak kapan?”
“Sekitar sebulan.”
Sebulan.
Berarti ketika aku sibuk mengurus undangan, gaun, katering, dan memikirkan bagaimana membangun rumah tangga dengannya, keluarga Fikri sudah menghitung nilai slip gajiku.
Aku tertawa kecil sambil menahan air mata.
“Sekarang aku mengerti.”
“Apa?”
“Kenapa Mama tiba-tiba berhenti keberatan ketika kita memutuskan menikah.”
Fikri tidak menjawab.
Aku pergi meninggalkannya.
Dua minggu berikutnya menjadi dua minggu paling melelahkan dalam hidupku.
Keluarga Fikri menghubungi saudara-saudaraku.
Mereka mengatakan aku meninggalkan suami karena masalah sepele.
Versi mereka sederhana.
Nadira marah karena dua kilogram beras.
Tidak seorang pun menyebut kredit.
Tidak seorang pun menyebut dokumen pribadi.
Tidak seorang pun menyebut tanda tangan palsu.
Aku akhirnya menceritakan semuanya kepada Ibu.
Beliau diam lama di telepon.
Lalu bertanya dengan suara kecil, “Beras dari Ibu benar-benar dibuang?”
Pertanyaan itu menghancurkan pertahananku.
Aku menangis.
Bukan karena pernikahanku.
Bukan karena utang.
Aku menangis karena Ibu tidak bertanya tentang penghinaan terhadap dirinya. Ia hanya terdengar sedih karena sesuatu yang ditanamnya dengan susah payah dibuang begitu saja.
“Maaf, Bu.”
“Kenapa kamu yang minta maaf?”
Aku tidak bisa menjawab.
Ibu kemudian berkata sesuatu yang tidak pernah kulupakan.
“Nadira, padi kalau sudah berisi memang merunduk. Tapi manusia jangan salah mengerti. Merunduk karena punya isi berbeda dengan menunduk karena diinjak.”
Aku menangis lebih keras.
Sebulan kemudian, aku mengajukan proses hukum untuk mengakhiri pernikahan.
Fikri datang menemuiku sekali lagi.
Kali ini dia tidak marah.
Dia membawa bunga.
“Mama sudah mau minta maaf.”
Aku memandang bunga itu.
“Karena sadar salah atau karena pengajuan kredit gagal?”
Wajahnya berubah.
“Aku juga salah.”
“Iya.”
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
Dia terlihat terkejut mendengar jawabanku.
Aku melanjutkan.
“Tapi aku tidak harus tinggal untuk menunggu perubahan itu.”
Enam bulan berlalu.
Aku pindah ke kontrakan kecil dekat kantor.
Aku mulai sering pulang ke Cianjur pada akhir pekan.
Suatu hari aku membantu Ibu mengemas beras pandan wangi hasil kelompok taninya.
Awalnya hanya untuk dijual kepada teman-teman kantor.
Ternyata banyak yang menyukainya.
Rani menyarankan kami membuat kemasan sederhana dan menjualnya secara daring.
Kami menamai produk itu “Beras Bu Sulastri”.
Ibu protes.
“Kenapa pakai nama Ibu? Malu.”
Aku tertawa.
“Justru itu yang paling berharga.”
Pesanan perlahan bertambah.
Dari dua puluh bungkus menjadi lima puluh.
Kemudian seratus.
Setahun setelah malam aku keluar dari rumah Bu Ratna, sebuah perusahaan katering menghubungiku.
Mereka ingin memesan dua ratus kilogram setiap minggu.
Ketika membaca nama perusahaan pada surel, aku membeku.
Itu perusahaan katering yang kini dikelola Tante Lilis.
Aku hampir menolak.
Namun Ibu berkata, “Kalau mereka bayar sesuai harga, jual saja. Beras tidak perlu ikut dendam manusia.”
Akhirnya aku menerima pesanan itu dengan satu syarat.
Pembayaran di muka.
Tidak ada utang.
Tidak ada “karena keluarga”.
Hari pengiriman pertama, aku ikut mengantar.
Tante Lilis keluar dari dapur produksi ketika melihatku.
Wajahnya berubah.
“Nadira?”
Aku tersenyum.
“Pesanan dua ratus kilo.”
Dia memandang tumpukan karung beras di belakangku.
Beberapa detik kemudian Bu Ratna muncul dari dalam.
Beliau terlihat lebih tua daripada terakhir kali aku melihatnya.
Tatapannya jatuh pada logo kecil di setiap kemasan.
Beras Bu Sulastri.
Beliau tidak berkata apa-apa.
Aku juga tidak.
Aku menyerahkan faktur kepada pegawai katering.
Sebelum pergi, Bu Ratna akhirnya memanggilku.
“Nadira.”
Aku berbalik.
Beliau memandang kemasan beras itu lama.
“Ini beras yang dulu itu?”
Aku tersenyum tipis.
“Jenis yang sama.”
Wajahnya memerah.
Aku tidak menunggu permintaan maaf.
Aku sudah tidak membutuhkannya.
Saat kembali ke mobil, ponselku berbunyi.
Pesan dari Ibu.
“Sudah dikirim?”
Aku mengetik balasan.
“Sudah, Bu. Dua ratus kilo.”
Beberapa detik kemudian Ibu menjawab.
“Alhamdulillah. Dulu Ibu cuma sanggup bawakan kamu dua kilo.”
Aku berhenti berjalan.
Mataku panas.
Aku memandang puluhan karung yang baru saja diturunkan.
Dua kilogram beras pernah dibuang karena dianggap terlalu sedikit.
Namun malam ketika beras itu dijadikan alasan untuk merendahkan keluargaku, aku akhirnya memahami sesuatu.
Harga sebuah pemberian tidak pernah ditentukan oleh beratnya.
Dan harga diri seseorang tidak pernah ditentukan oleh rumah tempat ia berasal, jumlah uang di rekeningnya, atau keluarga mana yang ia nikahi.
Kadang-kadang, kita baru mengetahui nilai diri sendiri setelah seseorang mencoba membuat kita merasa tidak berharga.
Dua kilo beras itu memang pernah berakhir di tempat sampah.
Tetapi justru dari sanalah aku belajar satu hal yang tidak pernah lagi kulupakan.
Aku boleh merunduk seperti padi yang berisi.
Namun aku tidak akan pernah lagi menunduk hanya supaya orang lain merasa lebih tinggi.
