TIGA JAM SEBELUM MENIKAH, EMPAT GAUNKU DIRUSAK IBU TIRI DAN DUA SAUDARA TIRIKU—TAPI PAKAIANKU DI ALTAR MEMBUKA RAHASIA YANG MEREKA TAKUTI

Beberapa menit kemudian, aku masih menatap halaman pertama surat itu ketika suara Maya terdengar pelan.

“Ayahmu sudah menduga ini akan terjadi.”

Aku mengangkat kepala.

“Menduga apa?”

Maya menarik kursi dan duduk di hadapanku.

“Bahwa setelah beliau meninggal, Ratih akan mencoba mengambil alih semua yang seharusnya menjadi milikmu.”

Dadaku terasa sesak.

Di halaman pertama tercantum daftar aset milik ayah. Saham perusahaan, dua rumah di Jakarta, vila di Bandung, beberapa bidang tanah, dan rekening investasi yang nilainya bahkan tidak pernah kuketahui.

Tapi bukan jumlahnya yang membuat tanganku gemetar.

Melainkan satu kalimat di bawahnya.

Seluruh kepemilikan Hendra Pratama atas Pratama Sentosa Group dialihkan kepada putri kandungnya, Alya Pratama, melalui perwalian yang berakhir pada hari pernikahannya.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tiga kali.

“Aku pemilik saham itu?”

“Enam puluh satu persen,” jawab Maya.

Aku menatapnya tak percaya.

Selama dua tahun terakhir, Ratih selalu mengatakan bahwa perusahaan ayah hampir bangkrut sebelum beliau meninggal. Dia bahkan berkali-kali memintaku menandatangani dokumen dengan alasan restrukturisasi utang.

Aku selalu menolak karena Maya pernah berpesan agar aku tidak menandatangani dokumen apa pun mengenai perusahaan tanpa dirinya.

Sekarang aku mengerti alasannya.

“Lalu Ratih?”

“Dia tidak memiliki saham.”

Aku terdiam.

“Tidak satu persen pun?”

Maya menggeleng.

“Dia hanya mendapat hak tinggal sementara di rumah keluarga dan tunjangan bulanan sesuai wasiat.”

Aku tiba-tiba teringat semua pesta Ratih. Mobil baru Karin. Apartemen Nadine. Liburan mereka ke Eropa.

“Kalau begitu uang mereka selama ini dari mana?”

Maya tidak langsung menjawab.

Dia membuka dokumen lain.

“Ini yang harus kamu lihat.”

Deretan transaksi memenuhi halaman.

Transfer dari rekening perusahaan menuju beberapa perusahaan kecil yang tidak kukenal.

Nama direkturnya membuat darahku seperti berhenti mengalir.

Karin Mahardika.

Nadine Mahardika.

Aku menatap Maya.

“Mereka mengambil uang perusahaan?”

“Kami menduga begitu.”

“Berapa?”

“Hasil audit sementara sekitar tiga puluh dua miliar rupiah.”

Aku menutup mulut.

Bu Sari yang sejak tadi diam langsung duduk.

Maya melanjutkan, “Ayahmu sudah mencurigai Ratih sebelum meninggal. Karena itu beliau memindahkan saham mayoritas ke perwalian. Beliau juga memasukkan klausul khusus.”

“Klausul apa?”

Maya menunjuk paragraf terakhir.

Jika ditemukan upaya intimidasi, manipulasi, perusakan aset, atau pemaksaan terhadap Alya Pratama dengan tujuan memperoleh hak atas warisan, seluruh hak finansial yang diberikan kepada Ratih Mahardika dapat dicabut.

Aku memandang empat gaun yang rusak.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku tidak merasa sedih melihatnya.

Aku justru merasa seolah ayah sedang berbicara kepadaku dari masa lalu.

Jangan takut.

Bu Sari berdiri.

“Kita punya waktu dua jam empat puluh menit.”

Aku menoleh.

Dia mengangkat kebaya ibu.

“Kalau mau menangis, nanti saja setelah menikah. Sekarang kita buat ibumu bangga.”

Aku tertawa kecil meski mataku basah.

Satu setengah jam kemudian, aku berdiri di depan cermin.

Aku hampir tidak mengenali diriku sendiri.

Kebaya ibu ternyata pas sempurna.

Bu Sari mempertahankan bentuk aslinya, hanya menyesuaikan beberapa bagian. Rambutku disanggul sederhana. Tidak ada mahkota berlian yang sebelumnya disiapkan.

Sebagai gantinya, Maya membuka kotak kecil lain.

Di dalamnya terdapat bros berbentuk bunga melati.

Aku mengenalinya.

Ibu selalu memakainya dalam foto pernikahan.

“Ini juga titipan ayahmu,” kata Maya.

Aku memasangnya di dada.

Saat itulah pintu terbuka.

Arga masuk.

Dia berhenti begitu melihatku.

Beberapa detik dia hanya diam.

Aku tersenyum gugup.

“Jelek?”

Arga menggeleng perlahan.

Matanya memerah.

“Kamu mirip sekali dengan ibumu.”

Kalimat itu menghancurkan pertahanan terakhirku.

Air mataku jatuh.

Arga langsung mendekat dan memegang kedua tanganku.

“Aku sudah dengar soal gaunnya.”

“Aku baik-baik saja.”

“Aku tahu siapa yang melakukannya.”

Aku menatapnya.

“Ada CCTV?”

“Koridor ada.”

“Di dalam kamar?”

“Tidak.”

Aku menarik napas.

“Kalau begitu jangan lakukan apa-apa sekarang.”

“Alya, mereka sengaja merusak gaunmu tiga jam sebelum pernikahan kita.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu masih mau mereka duduk sebagai keluarga pengantin?”

Aku tersenyum tipis.

“Justru itu.”

Arga mengenalku cukup baik untuk memahami senyum tersebut.

“Kamu punya rencana?”

“Bukan aku.”

Aku menatap kotak nomor tujuh belas.

“Ayahku.”

Upacara dimulai tepat pukul empat sore.

Ketika pintu besar Katedral Jakarta terbuka, seluruh ruangan mendadak hening.

Aku berdiri bersama paman dari pihak ibu yang akan mengantarkanku menuju altar.

Dari kejauhan aku melihat Arga.

Lalu aku melihat Ratih.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

Karin membisikkan sesuatu kepada Nadine.

Mereka pasti mengenali kebaya itu.

Ratih bahkan pernah mencoba membuangnya setelah ayah meninggal.

Dia mengatakan pakaian lama hanya memenuhi lemari.

Ternyata ayah sudah lebih dulu meminta Bu Sari menyimpannya.

Aku berjalan perlahan.

Setiap langkah terasa seperti membawa dua orang bersamaku.

Ayah dan ibu.

Ketika melewati barisan tempat Ratih duduk, aku sempat menoleh.

Tatapan kami bertemu.

Aku tidak tersenyum.

Aku juga tidak menunjukkan kemarahan.

Dan entah kenapa, ketenanganku tampaknya jauh lebih menakutkan baginya.

Upacara berlangsung tanpa gangguan.

Aku dan Arga mengucapkan janji pernikahan.

Saat cincin terpasang di jariku, aku akhirnya bisa bernapas lega.

Kupikir bagian tersulit hari itu sudah selesai.

Ternyata aku salah.

Saat resepsi malam dimulai di ballroom hotel, Ratih mendatangiku sebelum sesi sambutan keluarga.

“Kita perlu bicara.”

“Aku sedang menerima tamu.”

“Sekarang.”

Nada suaranya sudah tidak lembut lagi.

Aku menyerahkan gelas kepada Arga lalu mengikuti Ratih menuju lorong samping.

Karin dan Nadine sudah menunggu.

Begitu pintu tertutup, Ratih langsung bertanya.

“Apa yang diberikan Maya kepadamu?”

Aku menatapnya.

“Kenapa Tante ingin tahu?”

“Jangan bermain-main denganku.”

Karin menyela.

“Kalau itu soal perusahaan, Mama yang mengelolanya selama dua tahun. Kamu tidak tahu apa-apa tentang bisnis.”

Aku menoleh kepadanya.

“Menarik.”

“Apa?”

“Kamu langsung tahu itu soal perusahaan.”

Wajah Karin berubah.

Nadine memegang lengannya.

Ratih menarik napas.

“Ayahmu sakit menjelang akhir hidupnya. Banyak keputusan yang dia buat tidak rasional.”

Aku hampir tertawa.

“Jadi sekarang Ayah tidak waras?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi itu yang Tante maksud.”

Ratih mendekat.

“Alya, dengarkan. Apa pun yang tertulis di surat itu, kita bisa menyelesaikannya sebagai keluarga.”

“Keluarga?”

Aku menatap Karin dan Nadine.

“Seperti keluarga yang merusak empat gaun pengantinku?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku melanjutkan, “Gaun utama terkena cat tekstil. Gaun kedua disiram anggur merah. Dua lainnya dipotong dengan gunting.”

Nadine memucat.

Aku belum pernah mengatakan jenis cairan yang mengenai gaun kedua.

Tapi matanya langsung bergerak ke arah Karin.

Aku menangkapnya.

Ratih juga.

“Kalian sebaiknya kembali ke ballroom,” katanya cepat.

Namun suara lain terdengar dari belakang.

“Belum.”

Maya berdiri di pintu bersama dua orang pria berjas.

Salah satunya adalah kepala audit internal perusahaan.

Yang lain tidak kukenal.

Maya memperkenalkannya sebagai penyidik yang sedang menangani laporan dugaan penggelapan dana perusahaan.

Karin langsung berdiri.

“Apa maksudnya?”

Maya menyerahkan sebuah dokumen.

“Pratama Sentosa Group secara resmi melaporkan transaksi tidak sah dari beberapa rekening perusahaan.”

Ratih menatapku tajam.

“Kamu melaporkan kami di hari pernikahanmu?”

“Bukan.”

Aku menggeleng.

“Laporan itu dibuat tiga minggu lalu.”

Maya menambahkan, “Atas instruksi dewan pengawas setelah audit menemukan transaksi mencurigakan.”

Ratih tampak kehilangan kata-kata.

Aku baru memahami sesuatu.

Kotak nomor tujuh belas bukan senjata yang baru digunakan hari ini.

Itu adalah kunci terakhir.

Maya rupanya sudah menjalankan audit berbulan-bulan sebelumnya, menunggu perwalianku berakhir agar kepemilikan saham secara hukum berpindah penuh kepadaku.

Hari pernikahanku bukan hanya hari aku menikahi Arga.

Hari itu juga hari ketika aku resmi menguasai perusahaan ayah.

Karin mulai menangis.

“Ini semua Mama yang suruh.”

Ratih langsung berbalik.

“Diam!”

Tapi sudah terlambat.

Nadine ikut bicara.

“Aku cuma membantu bikin perusahaan itu. Aku tidak tahu uangnya dari mana.”

“Kalian berdua diam!”

Suara Ratih menggema.

Aku menatap perempuan yang selama bertahun-tahun membuatku merasa seperti tamu di rumah ayahku sendiri.

Aneh sekali.

Sekarang aku tidak membencinya.

Aku hanya merasa lelah.

“Aku cuma mau tahu satu hal,” kataku.

Ratih menatapku.

“Kenapa gaunku?”

Dia tertawa getir.

“Kamu benar-benar tidak mengerti?”

“Tidak.”

“Kalau kamu batal menikah hari ini, perwalian itu tidak berakhir.”

Aku membeku.

Jadi itu alasannya.

Mereka bukan sekadar ingin mempermalukanku.

Mereka ingin pernikahan ini gagal.

Ratih ternyata tahu sebagian isi wasiat.

Dia tahu saham akan berpindah kepadaku setelah menikah, meski tidak mengetahui detail kotak nomor tujuh belas.

“Kalau kamu panik, bertengkar dengan Arga, lalu pernikahan dibatalkan, aku punya waktu,” katanya.

“Waktu untuk apa?”

“Memperbaiki semuanya.”

Maya menjawab datar.

“Maksud Anda menghapus jejak transaksi.”

Ratih diam.

Saat itulah pintu lorong terbuka.

Arga berdiri di sana.

Dia rupanya mendengar bagian terakhir percakapan.

Ratih langsung berubah.

“Arga, ini urusan keluarga.”

Arga berjalan mendekat dan berdiri di sampingku.

“Dia istriku. Jadi ini juga urusanku.”

Untuk pertama kalinya, Ratih benar-benar terlihat kalah.

Malam itu tidak ada penangkapan dramatis di tengah ballroom.

Aku tidak menginginkannya.

Para penyidik hanya menyerahkan panggilan resmi dan meminta mereka tidak meninggalkan Jakarta selama proses pemeriksaan.

Aku kembali ke resepsi.

Tidak ada tamu yang mengetahui apa yang terjadi di lorong itu.

Mereka hanya melihatku menari bersama Arga memakai kebaya sederhana milik ibuku.

Beberapa bulan kemudian, hasil penyelidikan selesai.

Sebagian besar dana berhasil dilacak.

Karin dan Nadine mengembalikan aset yang dibeli menggunakan uang perusahaan dan bersedia bekerja sama dalam penyidikan.

Ratih menghadapi proses hukum yang jauh lebih panjang.

Aku juga mencabut haknya untuk tinggal di rumah keluarga.

Namun aku tidak menjual rumah itu.

Aku mengubah sebagian bangunannya menjadi yayasan pendidikan yang menggunakan nama ibu.

Setahun setelah pernikahan, Bu Sari datang membawa sebuah kotak.

“Kamu masih ingat empat gaun itu?”

“Tentu.”

“Tiga berhasil diperbaiki.”

“Yang satu?”

“Tidak mungkin diselamatkan.”

Aku tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

Bu Sari kemudian bertanya sesuatu yang tidak kuduga.

“Kebaya ibumu mau disimpan lagi?”

Aku melihat kebaya putih gading yang tergantung di dekat jendela.

Ada satu noda kecil di ujung lengan yang berasal dari air mataku sendiri pada hari pernikahan.

Aku menggeleng.

“Jangan disimpan terlalu jauh.”

“Kenapa?”

Aku menyentuh bros melati di dadanya.

“Mungkin suatu hari ada perempuan lain di keluarga kita yang membutuhkannya.”

Bu Sari tersenyum.

Sebelum pergi, dia menyerahkan sebuah amplop kecil.

“Ada satu lagi surat ayahmu. Dulu beliau bilang baru boleh diberikan setelah semuanya selesai.”

Aku membukanya.

Hanya ada beberapa baris.

Alya, kalau kamu membaca surat ini, berarti kamu akhirnya tahu kenapa Ayah menyimpan kebaya Ibu.

Bukan karena harganya.

Bukan juga karena kenangan.

Tapi karena Ayah ingin kamu belajar satu hal.

Orang bisa merusak pakaianmu, mengambil uangmu, bahkan mencoba merebut tempatmu.

Tapi selama kamu masih tahu siapa dirimu, mereka tidak pernah benar-benar berhasil mengambil apa pun.

Aku membaca kalimat terakhir dengan mata berkaca-kaca.

Di bawah tanda tangan ayah ada satu tambahan kecil.

Dan kalau kebaya itu masih muat, berarti Bu Sari memang penjahit terbaik di Jakarta.

Aku tertawa sambil menangis.

Arga yang sedang berdiri di pintu ikut tersenyum.

Saat itulah aku akhirnya memahami rahasia terbesar dari kotak nomor tujuh belas.

Bukan saham enam puluh satu persen.

Bukan rumah.

Bukan miliaran rupiah yang hampir dicuri.

Ayah tidak menyiapkan kotak itu agar aku bisa membalas Ratih.

Dia menyiapkannya supaya ketika semua orang mencoba membuatku merasa tidak memiliki apa-apa, aku tetap punya sesuatu yang tidak bisa mereka hancurkan.

Keberanian untuk berdiri dengan namaku sendiri.

Empat gaunku memang rusak tiga jam sebelum aku menikah.

Namun justru karena itulah, pada hari terpenting dalam hidupku, aku berjalan menuju altar mengenakan satu-satunya pakaian yang sejak awal memang seharusnya kupakai.

Kebaya ibuku.

Dengan nama ayah tersembunyi di balik sulamannya.

Dan hidup yang akhirnya sepenuhnya menjadi milikku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang