Tiga Kali Suamiku Memaksaku Mengakhiri Kehamilan, Saat Keempat Ingin Dipertahankan, Aku Sudah Menyiapkan Koper dan Surat Cerai

Aku tidak pernah menyangka satu kalimat Adrian akan membuatku membatalkan niat untuk langsung pergi dari rumah itu.

“Apartemen itu bukan hadiah untuk Keisya.”

Tanganku masih menggenggam gagang koper ketika aku menoleh.

“Lalu apa?”

Adrian tidak segera menjawab. Wajahnya tegang, berbeda dari lelaki yang beberapa menit lalu dengan yakin mengingatkanku bahwa rumah, mobil, dan kartu kreditku berasal darinya.

“Itu pembayaran.”

“Untuk apa?”

Dia menelan ludah.

“Bukan sesuatu yang perlu kamu tahu.”

Aku tertawa kecil.

Aneh. Tiga tahun aku hidup bersamanya, tetapi baru hari itu aku benar-benar memahami pola Adrian. Ketika dia marah, dia akan membentak. Ketika merasa benar, dia akan merendahkan. Namun ketika takut, dia justru bicara semakin sedikit.

Dan saat itu, Adrian takut.

Aku mengangguk pelan.

“Baik.”

Aku kembali menarik koper.

“Nadira.”

“Aku tidak perlu tahu lagi. Mulai hari ini, apa pun yang kamu sembunyikan bukan urusanku.”

Aku turun ke lantai bawah. Mbak Ratih sudah berdiri di dekat pintu sambil memegang tas kecilku. Matanya merah.

“Bu…”

Aku memeluknya.

“Terima kasih sudah menemani saya waktu itu.”

Tubuhnya mendadak kaku.

Kemudian dia berbisik begitu pelan sampai hampir tidak terdengar.

“Bu Nadira, jangan percaya siapa pun dari keluarga ini.”

Aku mundur.

Mbak Ratih memasukkan sesuatu ke telapak tanganku.

Sebuah flashdisk hitam.

Sebelum aku sempat bertanya, langkah Adrian terdengar dari tangga.

Mbak Ratih langsung menjauh.

Aku memasukkan flashdisk itu ke tas dan keluar tanpa menoleh lagi.

Aku tidak pergi ke rumah orang tuaku. Ayahku meninggal sebelum aku menikah, sementara ibuku tinggal bersama kakakku di Yogyakarta. Selama tiga tahun terakhir aku selalu mengatakan kepada mereka bahwa pernikahanku baik-baik saja.

Aku malu mengakui kenyataan.

Malam itu aku menyewa kamar hotel kecil di Kemang menggunakan uang dari rekening pribadiku yang diam-diam kusisihkan selama beberapa bulan.

Hanya setelah pintu kamar terkunci, lututku kehilangan tenaga.

Aku duduk di lantai.

Tanganku menyentuh perut yang kini kosong.

Untuk pertama kalinya setelah prosedur tiga hari lalu, aku menangis.

Bukan karena menyesali keputusanku.

Aku menangisi diriku sendiri.

Perempuan yang tiga kali duduk di ruang tindakan karena suaminya berkata belum waktunya memiliki anak.

Kehamilan pertama terjadi empat bulan setelah kami menikah.

Adrian sedang mengejar promosi menjadi direktur utama perusahaan keluarga.

“Kalau punya bayi sekarang, semua rencana kita berantakan.”

Aku percaya.

Kehamilan kedua datang setahun kemudian.

Kali itu alasannya berbeda.

Ibunya, Helena Wijaya, mengatakan keluarga mereka sedang menghadapi masalah bisnis dan tidak ingin ada “gangguan”.

Aku kembali menurut.

Kehamilan ketiga adalah yang paling menghancurkanku.

Aku ingin mempertahankannya.

Adrian berjanji hanya akan menemani konsultasi.

Namun di perjalanan menuju rumah sakit dia terus mengatakan bahwa aku egois, tidak memikirkan masa depan, dan sengaja menggunakan bayi untuk mengikatnya.

Pada akhirnya aku menyerah.

Setelah prosedur, terjadi perdarahan.

Aku terbangun tanpa suamiku.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku membuka laptop dan mencolokkan flashdisk pemberian Mbak Ratih.

Hanya ada satu folder.

Namanya sederhana.

KEISYA.

Di dalamnya terdapat puluhan foto dokumen.

Transfer bank.

Percakapan.

Salinan hasil pemeriksaan laboratorium.

Kemudian sebuah rekaman suara.

Tanganku gemetar ketika menekan tombol putar.

Suara pertama adalah Helena.

“Berapa kali lagi dia bisa hamil?”

Kemudian suara perempuan lain menjawab.

Aku mengenalinya.

Keisya.

“Dokter bilang kondisi Nadira masih bagus, tapi kalau prosedur dilakukan berkali-kali tentu ada risiko.”

“Yang penting jangan sampai anak itu lahir sebelum urusan warisan selesai.”

Aku membeku.

Rekaman berlanjut.

Suara Helena terdengar dingin.

“Kalau Nadira punya anak dari Adrian, posisi anak itu otomatis kuat. Saham mendiang ayah Nadira bisa berpindah lewat garis keturunan sesuai perjanjian lama.”

Aku menghentikan rekaman.

Ayahku?

Apa hubungannya ayahku dengan keluarga Wijaya?

Aku membuka dokumen berikutnya.

Sebuah perjanjian pemegang saham dari dua puluh dua tahun lalu.

Nama ayahku tercantum di sana.

Bramantyo Pradana.

Aku membaca halaman demi halaman dengan napas tercekat.

Sebelum meninggal, ayahku ternyata pernah menjadi salah satu investor awal Wijaya Infrastruktur. Ketika perusahaan hampir bangkrut, ayah menanamkan modal besar dan memperoleh dua belas persen kepemilikan.

Namun berdasarkan perjanjian, hak atas saham tersebut dikelola melalui sebuah perusahaan amanat sampai keturunannya memenuhi syarat tertentu.

Aku adalah ahli warisnya.

Dan ada klausul tambahan.

Jika aku memiliki keturunan sah, kendali atas saham itu sepenuhnya berpindah kepadaku dan anakku. Tidak lagi dapat dikelola oleh pihak keluarga Wijaya yang selama ini bertindak sebagai pengelola sementara.

Aku menutup mulut.

Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal.

Pernikahanku dengan Adrian.

Penolakan mereka terhadap setiap kehamilanku.

Bahkan alasan mengapa Helena begitu mendukung Adrian menikahiku padahal sejak awal dia tidak pernah menyukaiku.

Ponselku bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Aku mengangkatnya.

“Bu Nadira?”

Suara perempuan.

“Siapa?”

“Keisya Mahendra.”

Aku berdiri.

“Dari mana kamu mendapatkan nomor saya?”

“Dari Mbak Ratih.”

Jantungku berdegup semakin keras.

“Apa sebenarnya hubunganmu dengan Adrian?”

Keisya terdiam beberapa detik.

“Kalau saya jawab lewat telepon, Anda mungkin tidak akan percaya.”

“Coba saja.”

“Apartemen itu dibeli menggunakan uang Adrian, tapi bukan untuk saya.”

Aku menatap layar laptop.

“Lalu?”

“Untuk dokter.”

Aku merasa darahku berhenti mengalir.

Keisya menjelaskan bahwa selama hampir dua tahun dia bekerja sebagai sekretaris pribadi Helena. Dia menemukan bukti bahwa keluarga Wijaya membayar seorang dokter di klinik lain untuk memalsukan beberapa catatan medis terkait kehamilanku.

Menurut catatan asli, kehamilan pertamaku sehat.

Kehamilan kedua juga tidak menunjukkan masalah serius.

Namun kepada Adrian, Helena selalu mengatakan dokter menyarankan penghentian kehamilan demi kesehatanku.

“Adrian tahu?”

Pertanyaan itu keluar nyaris seperti bisikan.

Keisya tidak langsung menjawab.

“Awalnya tidak.”

Dadaku sedikit longgar.

Kemudian dia melanjutkan.

“Tapi setelah kehamilan kedua, dia tahu.”

Aku menutup mata.

Jadi itu jawabannya.

Suamiku mungkin tidak memulai kebohongan tersebut.

Namun setelah mengetahui semuanya, dia memilih meneruskannya.

“Kenapa transfernya atas namamu?”

“Saya diminta menjadi perantara. Ketika saya mulai mengumpulkan bukti, Bu Helena tahu. Mereka memberi saya uang supaya diam. Saya gunakan sebagian uang itu untuk membeli apartemen karena saya takut mereka akan menariknya kembali.”

“Dan perhiasan?”

“Dijual lagi. Uangnya untuk membayar pengacara dan menyimpan dokumen.”

Aku tertawa pahit.

Selama setahun aku mengira Keisya adalah selingkuhan Adrian.

Ternyata perempuan yang kubenci justru sedang mengumpulkan bukti tentang keluarganya.

“Kenapa sekarang kamu bicara?”

“Karena tiga hari lalu saya tahu Anda mengakhiri kehamilan keempat.”

Suaranya melemah.

“Dan kali ini bukan mereka yang menyuruh.”

Aku memejamkan mata.

“Tidak.”

“Karena itu Bu Helena panik.”

Aku membuka mata.

“Apa?”

“Kehamilan keempat justru mereka ingin pertahankan.”

“Kenapa?”

“Karena perjanjian amanat itu berubah enam bulan lalu.”

Aku merasa tengkukku dingin.

Keisya menjelaskan bahwa masa pengelolaan sementara saham hampir berakhir. Jika aku tidak memiliki keturunan sampai ulang tahunku yang ketiga puluh dua, dua belas persen saham tersebut tetap menjadi milikku secara ekonomi, tetapi hak suara akan kembali ke struktur lama perusahaan.

Sebaliknya, jika aku memiliki anak sebelum tanggal itu, aku mendapatkan hak kendali penuh.

“Tapi bukankah itu merugikan mereka?”

“Dulu iya.”

“Sekarang?”

“Perusahaan mereka sedang terancam diambil alih investor asing. Mereka membutuhkan dua belas persen suara milik Anda untuk mempertahankan kendali keluarga.”

Aku akhirnya mengerti.

Tiga kali mereka tidak menginginkan anakku karena anak itu mengancam kekuasaan mereka.

Keempat kalinya mereka menginginkannya karena anak itu dibutuhkan untuk menyelamatkan kekuasaan mereka.

Tidak pernah sekalipun mereka memikirkan aku.

Tidak pernah sekalipun mereka memikirkan bayi-bayi itu.

Aku hanyalah tubuh yang harus mengikuti kebutuhan bisnis keluarga Wijaya.

Keesokan paginya aku menemui Keisya di sebuah kantor pengacara di Kuningan.

Mbak Ratih sudah berada di sana.

Aku terkejut melihatnya.

“Sejak kapan Mbak tahu?”

Dia menunduk.

“Sejak kehamilan kedua, Bu.”

“Kenapa tidak bilang?”

Air matanya jatuh.

“Anak saya kuliah menggunakan beasiswa yayasan keluarga Wijaya. Mereka mengancam akan menghentikan semuanya. Saya pengecut.”

Aku menggenggam tangannya.

“Tidak. Mbak yang menyelamatkan bukti.”

Pengacara bernama Raka Santoso kemudian menunjukkan dokumen yang paling mengejutkan.

Aku tidak perlu memiliki anak untuk mengambil kembali kendali saham.

Ada klausul lain yang selama ini sengaja disembunyikan.

Jika terbukti pengelola sementara melakukan tindakan yang merugikan atau memengaruhi kebebasan ahli waris demi mempertahankan penguasaan atas saham, seluruh hak pengelolaan mereka gugur seketika.

Rekaman Helena cukup untuk membuka penyelidikan.

Namun ada satu masalah.

Kami membutuhkan bukti bahwa Adrian mengetahui rencana itu.

Aku tahu persis bagaimana mendapatkannya.

Malam berikutnya aku kembali ke rumah Pondok Indah.

Adrian sudah menunggu di ruang keluarga.

Wajahnya tampak lelah.

“Kamu pulang.”

“Bukan untuk kembali.”

Aku meletakkan ponsel di dalam tas dengan perekam suara menyala.

“Aku sudah bicara dengan Keisya.”

Wajah Adrian berubah.

Hanya sepersekian detik.

Namun cukup.

“Kamu tahu soal saham ayahku.”

Dia diam.

“Kamu tahu alasan ibumu memaksaku mengakhiri kehamilan.”

“Nadira, dengarkan dulu.”

“Sejak kapan?”

Dia mengusap wajah.

“Setelah yang kedua.”

Aku merasa sesuatu dalam diriku akhirnya benar-benar mati.

“Dan yang ketiga?”

“Nadira…”

“Jawab.”

“Iya.”

Air mataku hampir jatuh, tetapi kutahan.

“Kenapa?”

Adrian berdiri.

“Karena saat itu kalau kamu punya anak, keluargaku kehilangan kendali perusahaan. Ribuan karyawan bisa terkena dampaknya. Ayahku sakit. Ibu panik. Aku terjebak.”

“Kamu terjebak?”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Yang berbaring di meja tindakan aku.”

“Aku tahu.”

“Yang kehilangan tiga kehamilan aku.”

“Aku tahu!”

Suaranya meninggi.

Lalu dia mendekat.

“Tapi yang keempat berbeda. Aku ingin mempertahankannya.”

Aku tersenyum pahit.

“Karena sekarang perusahaanmu membutuhkan sahamku.”

Adrian terdiam.

Itu sudah cukup.

Aku mengambil ponsel dari tas.

Ketika dia melihat layar rekaman, wajahnya langsung pucat.

“Nadira.”

Aku mundur.

“Jangan.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Adrian benar-benar kehilangan kendali.

Bukan karena aku pergi.

Bukan karena kehamilan itu sudah berakhir.

Melainkan karena dia tahu kekuasaan keluarganya ikut berakhir.

Tiga bulan kemudian, gugatan ceraiku dikabulkan.

Bukti-bukti tersebut juga membuka sengketa perdata mengenai pengelolaan saham peninggalan ayahku. Helena diberhentikan dari posisi komisaris selama proses internal perusahaan berlangsung, sementara Adrian mengundurkan diri dari beberapa jabatan setelah dewan mengetahui konflik kepentingan yang selama bertahun-tahun disembunyikan.

Keisya mengembalikan sisa dana yang pernah diberikan kepadanya dan menjadi saksi.

Mbak Ratih berhenti bekerja di rumah keluarga Wijaya. Aku membantunya membuka usaha katering kecil yang sudah lama dia impikan.

Sedangkan aku?

Aku tidak langsung menjadi perempuan hebat seperti dalam cerita-cerita.

Beberapa malam aku masih terbangun sambil menangis.

Ada rasa bersalah yang tidak bisa hilang hanya karena aku tahu siapa yang salah.

Aku mulai menjalani terapi.

Aku kembali bekerja sebagai ilustrator, profesi yang kutinggalkan setelah menikah.

Aku menyewa apartemen sederhana dengan uangku sendiri.

Tidak ada kolam renang pribadi.

Tidak ada sopir.

Tidak ada lemari berisi tas mahal.

Tetapi setiap pagi ketika membuka pintu, aku tahu aku bebas pergi ke mana pun tanpa meminta izin.

Enam bulan setelah perceraian, sebuah surat tiba dari pengacara.

Seluruh hak pengelolaan saham peninggalan ayahku akhirnya dikembalikan kepadaku.

Nilainya jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.

Aku membaca surat itu dua kali, lalu menyimpannya ke dalam laci.

Aneh sekali.

Dulu Adrian bertanya apa yang masih kumiliki jika meninggalkan rumahnya.

Hari itu aku akhirnya tahu jawabannya.

Bukan saham.

Bukan uang.

Bukan rumah.

Aku memiliki diriku sendiri.

Malamnya, sebuah pesan masuk dari nomor Adrian.

Aku tidak membukanya.

Aku berdiri di balkon sambil melihat lampu Jakarta menyala satu per satu di kejauhan.

Tanganku menyentuh perutku tanpa sadar.

Ada empat kehilangan yang mungkin akan selalu hidup dalam ingatanku.

Namun aku tidak lagi ingin menjadikan luka itu sebagai penjara.

Karena akhirnya aku mengerti sesuatu yang seharusnya kupahami sejak awal.

Cinta yang meminta seseorang menyerahkan hak atas tubuhnya bukanlah cinta.

Rumah yang membuat seseorang takut mengambil keputusan bukanlah rumah.

Dan kebebasan tidak selalu dimulai ketika sebuah pintu dibukakan untuk kita.

Kadang kebebasan dimulai ketika kita sendiri berani memegang gagangnya, menarik koper keluar, lalu menutup pintu itu untuk terakhir kalinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang