TIGA TAHUN AKU MENUNGGU SUAMIKU PULANG DARI SURABAYA, TETAPI PADA MALAM PERTAMA IA MEMELUKKU DENGAN KEBIASAAN MILIK PEREMPUAN LAIN—LALU SATU KALIMAT DINGIN MEMBUATKU MEMBUKA REKENING BERSAMA DAN MENEMUKAN ALASAN SEBENARNYA IA KEMBALI KE RUMAH BAGIAN 1 — MALAM PERTAMA SUAMIKU PULANG SETELAH TIGA TAHUN, IA TIDUR SEPERTI LELAKI YANG SUDAH TERBIASA MEMELUK ORANG LAIN—DAN JAWABANNYA MEMBUATKU BERHENTI MENJADI ISTRI YANG MENUNGGU

“Kalau kamu pura-pura tidak tahu, kita masih bisa tetap seperti dulu.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku bahkan setelah suara Bu Maya terdengar dari ujung telepon.

“Jangan tanda tangani apa pun. Jangan pindahkan uang dulu. Dan yang paling penting, jangan beri tahu Raka bahwa kamu sudah menemukan dokumen itu.”

Aku menatap pintu kamar.

Dari lantai bawah terdengar suara Kirana tertawa kecil.

Di rumahku.

Bersama suamiku.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kalau tanda tanganmu benar-benar dipalsukan, kita perlu tahu seberapa jauh mereka sudah menggunakan namamu.”

“Mereka?”

Bu Maya terdiam sejenak.

“Nadira, pinjaman Rp2,8 miliar tidak mungkin muncul begitu saja. Kita cari tahu dulu siapa yang mengajukan, ke mana uangnya pergi, dan siapa yang menerima manfaatnya.”

Aku menutup telepon dengan tangan dingin.

Ketika turun, Kirana sedang duduk di sofa dengan pergelangan tangan dibalut tisu basah. Raka berjongkok di depannya.

Pemandangan itu seharusnya menghancurkanku.

Anehnya, tidak lagi.

Aku mengambil tas.

Raka menoleh. “Mau ke mana?”

“Kerja.”

“Kita belum selesai bicara.”

Aku menatapnya.

“Justru aku baru mulai.”

Untuk pertama kalinya sejak pulang, wajah Raka berubah.

Mungkin dia mendengar sesuatu dalam suaraku yang tidak pernah ada sebelumnya.

Ketakutan.

Bukan ketakutanku.

Ketakutannya.

Aku bertemu Bu Maya di sebuah kedai kopi di kawasan Sudirman. Dia datang bersama seorang rekannya yang menangani perkara perbankan.

Selama hampir dua jam, kami membuka setiap dokumen yang berhasil kukumpulkan.

Semakin banyak yang kami lihat, semakin jelas pola itu.

Transfer kepada PT Karya Anindya Nusantara ternyata bukan transaksi acak. Pembayaran mulai muncul dua tahun empat bulan lalu, hampir bersamaan dengan periode ketika Raka mengaku hubungannya dengan Kirana dimulai.

Perusahaan itu menerima lebih dari Rp1,1 miliar dari rekening bersama kami.

“Ada yang aneh,” kata Bu Maya.

“Apa?”

“Perusahaan ini baru berdiri dua tahun lalu.”

Dia memutar laptop ke arahku.

Nama komisarisnya membuat napasku berhenti.

Budi Wulandari.

Nama yang sama dengan pasien rumah sakit yang biayanya dibayar dari rekening kami.

Ayah Kirana.

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Bu Maya melanjutkan, “Dan direkturnya Reza Wulandari.”

Adik Kirana.

Jadi bukan hanya perselingkuhan.

Selama bertahun-tahun, uang dari rumah tanggaku digunakan untuk membangun kehidupan keluarga perempuan lain.

“Tapi kenapa Raka kembali sekarang?”

Itulah pertanyaan yang tidak bisa dijawab siapa pun.

Sampai rekannya Bu Maya menemukan sesuatu.

Pinjaman Rp2,8 miliar itu dicairkan hanya enam minggu lalu.

Sebagian dana masuk ke rekening PT Karya Anindya Nusantara.

Sisanya digunakan untuk melunasi beberapa kewajiban bisnis di Surabaya.

“Kalau pinjamannya sudah cair,” kataku, “kenapa dia masih membutuhkan aku?”

Bu Maya menatapku.

“Karena rumahnya belum berpindah.”

Aku tidak langsung mengerti.

Rumah di Bintaro dibeli setelah kami menikah. Uang muka berasal dari tabunganku sebelum menikah, sementara cicilannya dibayar bersama. Sertifikat tercatat atas namaku karena saat pengajuan dulu kondisi keuanganku lebih mudah memenuhi persyaratan bank.

Bu Maya membuka dokumen lain.

“Ada permohonan pengalihan hak yang belum selesai.”

Darahku terasa turun ke kaki.

“Ke siapa?”

“Belum ada nama penerima di dokumen yang kita punya. Tapi mereka membutuhkan tanda tangan asli kamu untuk tahap berikutnya.”

Sekarang semuanya masuk akal.

Mengapa Raka tiba-tiba menyelesaikan penugasannya.

Mengapa dia pulang.

Mengapa dia tidak langsung memilih Kirana.

Mengapa dia berkata kami bisa tetap seperti dulu kalau aku pura-pura tidak tahu.

Dia tidak pulang karena merindukanku.

Dia pulang karena membutuhkan tanda tanganku.

Aku tertawa.

Bu Maya menatapku khawatir.

“Maaf,” kataku. “Aku cuma baru sadar betapa bodohnya aku selama ini.”

“Percaya kepada pasangan bukan kebodohan.”

Aku menunduk.

Untuk pertama kalinya pagi itu, mataku panas.

Bukan karena Kirana.

Bukan karena Raka tidur sambil memelukku dengan kebiasaan yang dia pelajari dari perempuan lain.

Aku menangisi perempuan yang selama tiga tahun duduk sendirian di meja makan setiap malam sambil meyakinkan dirinya bahwa kesepian adalah harga yang harus dibayar demi masa depan keluarga.

Ternyata masa depan itu sedang dibangun untuk keluarga lain.

Sore hari aku pulang seperti tidak terjadi apa-apa.

Kirana sudah pergi.

Raka sedang menonton televisi.

“Aku pesan makan malam,” katanya.

Aku mengangguk.

Malam itu kami makan berdua.

Dia mulai berbicara tentang hal-hal kecil. AC kamar yang perlu diservis. Tanaman depan rumah yang terlalu tinggi. Tetangga baru di sebelah.

Aku ikut menanggapi.

Semakin tenang aku bersikap, semakin santai dia.

Setelah makan, akhirnya dia mengeluarkan sebuah map.

“Ada beberapa dokumen rumah yang perlu dibereskan.”

Aku hampir tersenyum.

Cepat sekali.

“Dokumen apa?”

“Restrukturisasi pinjaman.”

Dia mendorong map ke arahku.

“Aku sudah tandai bagian yang perlu kamu tanda tangani.”

Aku membuka halaman pertama.

Lalu kedua.

Di halaman keempat terdapat surat persetujuan pengalihan sebagian hak jaminan.

Aku menutup map.

“Aku baca besok.”

“Nggak perlu. Aku sudah cek.”

“Aku tetap mau baca.”

Wajahnya berubah tipis.

“Nadira, jangan bikin semuanya sulit.”

Aku menatapnya.

“Sejak kapan membaca dokumen sebelum tanda tangan disebut bikin sulit?”

Dia tersenyum kaku.

“Ya sudah.”

Malam itu aku tidur di kamar utama dan mengunci pintu.

Sekitar pukul satu, seseorang mencoba membuka gagangnya.

Sekali.

Dua kali.

Lalu berhenti.

Keesokan harinya, aku memasang kamera kecil di ruang kerja.

Bu Maya sebenarnya menyuruhku berhati-hati, tetapi aku perlu mengetahui satu hal.

Seberapa jauh Raka akan pergi?

Jawabannya datang lebih cepat daripada dugaan.

Dua hari kemudian, saat aku pura-pura pergi ke kantor, kamera mengirim notifikasi.

Raka masuk ke ruang kerja.

Kirana bersamanya.

Aku duduk di dalam mobil dua blok dari rumah sambil melihat rekaman langsung dari ponsel.

“Kamu bilang dia bakal tanda tangan,” suara Kirana terdengar.

“Aku juga pikir begitu.”

“Kalau sampai akhir bulan nggak selesai, rumah Mama bisa disita.”

Raka membuka laci mejaku.

“Jangan panik.”

“Gimana aku nggak panik? Papa sudah pakai uang perusahaan untuk tutup utang lama. Reza juga nggak bisa bayar pemasok.”

Aku menahan napas.

Jadi perusahaan keluarga Kirana juga bermasalah.

“Makanya rumah ini harus cepat dijual,” kata Raka.

Kirana terdiam.

Lalu mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.

“Kalau Nadira tahu kamu juga kehilangan uang perusahaanmu sendiri, habis semuanya.”

Aku memperbesar suara.

Raka langsung menatap Kirana.

“Jangan ngomong soal itu di sini.”

“Tapi itu kenyataannya.”

“Kirana.”

“Kamu ambil uang dari rekening perusahaan buat bantu Papa. Sekarang audit internal sudah mulai. Kalau keluarga kamu tahu…”

Raka menutup mulut Kirana dengan tangannya.

“Cukup.”

Aku menghentikan rekaman.

Tanganku gemetar.

Sekarang aku mengerti alasan sebenarnya dia kembali.

Bukan hanya karena rumah.

Raka sedang tenggelam.

Dan dia ingin menggunakan hartaku sebagai pelampung.

Tiga hari berikutnya menjadi permainan yang melelahkan.

Aku berpura-pura tidak tahu.

Raka berpura-pura masih menjadi suamiku.

Kirana beberapa kali mengirim pesan meminta maaf atas kedatangannya. Pesannya selalu sopan, tetapi ada sesuatu yang terasa seperti kemenangan tersembunyi di setiap kalimat.

Sampai suatu sore dia mengirim foto.

Raka sedang tidur di sebuah apartemen.

Di meja samping tempat tidur terdapat foto mereka berdua.

Pesannya singkat.

“Mbak, saya rasa lebih baik kita sama-sama menerima kenyataan.”

Aku menatap foto itu cukup lama.

Lalu membalas.

“Kamu benar.”

Tidak lebih.

Malam berikutnya, Raka pulang membawa bunga.

Bunga lili putih.

Favoritku.

Atau dulu favoritku.

Dia meletakkannya di meja makan.

“Aku mau kita mulai lagi.”

Aku menatap bunga itu.

“Bagaimana dengan Kirana?”

“Aku akan selesaikan.”

“Sudah?”

Dia mengusap wajah.

“Kenapa semuanya harus sekarang?”

Aku tersenyum kecil.

“Karena tiga tahun ternyata cukup lama.”

Dia terdiam.

Aku kemudian mengeluarkan map yang dia berikan.

Wajahnya langsung berubah cerah.

“Kamu sudah baca?”

“Sudah.”

“Kita bisa tanda tangan sekarang. Besok orang bank datang.”

“Boleh.”

Raka menatapku seolah tidak percaya.

“Serius?”

Aku mengangguk.

“Tapi aku mau satu hal.”

“Apa?”

“Besok kita tanda tangan di depan pengacaraku.”

Wajahnya memucat.

“Nggak perlu.”

“Kenapa?”

“Ini cuma urusan bank.”

“Kalau begitu seharusnya tidak masalah.”

Dia mulai marah.

“Nadira, kenapa kamu tiba-tiba jadi seperti ini?”

Aku berdiri.

“Seperti apa?”

“Curiga. Dingin. Seolah aku penjahat.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata, “Kalau kamu bukan penjahat, besok datang.”

Pukul sepuluh pagi keesokan harinya, Raka datang ke kantor Bu Maya.

Dia tidak sendirian.

Kirana ikut.

Aku benar-benar tidak menyangka perempuan itu akan cukup berani untuk hadir.

“Aku pikir sebaiknya semuanya jelas,” kata Raka.

“Bagus,” jawabku. “Aku juga.”

Bu Maya mempersilakan kami masuk.

Di atas meja sudah ada beberapa map.

Raka melihatnya.

“Apa ini?”

“Dokumen yang perlu kita klarifikasi,” jawab Bu Maya.

Dia membuka map pertama.

Mutasi rekening.

Map kedua.

Invoice renovasi.

Map ketiga.

Dokumen perusahaan keluarga Kirana.

Wajah Kirana perlahan kehilangan warna.

Raka langsung berdiri.

“Kamu menyelidiki aku?”

“Duduk,” kataku.

“Nadira.”

“Duduk.”

Entah kenapa dia menurut.

Aku mengeluarkan dokumen terakhir.

Surat pinjaman Rp2,8 miliar.

“Ini tanda tanganku?”

Raka tidak menjawab.

“Aku tanya sekali lagi. Ini tanda tanganku?”

Kirana menoleh kepadanya.

“Raka…”

“Diam.”

Bu Maya kemudian meletakkan hasil pemeriksaan awal dari ahli dokumen.

“Terdapat indikasi kuat bahwa tanda tangan tersebut bukan dibuat oleh Bu Nadira.”

Raka berdiri lagi.

“Aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

“Aku terdesak.”

Aku tertawa pelan.

Itulah pembelaannya.

Bukan menyangkal.

Bukan meminta maaf.

Terdesak.

“Bisnis keluarga Kirana bermasalah,” katanya cepat. “Aku cuma membantu.”

“Dengan uangku?”

“Aku akan mengembalikannya.”

“Dengan menjual rumahku?”

“Nadira, dengarkan dulu.”

“Dan uang perusahaan keluargamu?”

Wajahnya membeku.

Kirana langsung menatap Raka.

Saat itu aku tahu satu hal.

Kirana tidak tahu bahwa aku sudah mengetahui semuanya.

“Audit internal sedang berjalan,” lanjutku. “Benar?”

Raka memandang Bu Maya.

“Kamu nggak punya hak ikut campur perusahaan keluargaku.”

“Aku tidak perlu ikut campur.”

Aku menggeser sebuah amplop ke arahnya.

“Karena kakakmu sudah tahu.”

Wajah Raka benar-benar berubah.

Kakaknya, Damar, adalah direktur keuangan perusahaan keluarga mereka.

Pagi tadi Bu Maya mengirimkan dokumen yang relevan kepadanya setelah mendapat persetujuanku untuk melindungi posisiku terkait transaksi yang mencantumkan namaku.

Raka menatapku seperti baru pertama kali mengenalku.

“Kamu menghancurkan aku.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku akhirnya lepas.

“Aku?”

Suaraku tetap pelan.

“Aku menunggu tiga tahun.”

Dia terdiam.

“Aku menjaga rumah ini. Aku membayar cicilan. Aku berbohong kepada keluargaku supaya mereka tetap menghormatimu. Aku menolak promosi ke Singapura karena kamu bilang setelah proyek Surabaya selesai kita akan punya anak.”

Mataku mulai basah, tetapi kali ini aku tidak menahannya.

“Kamu tidur dengan perempuan lain. Kamu menggunakan uang kita untuk keluarganya. Kamu memalsukan tanda tanganku. Lalu kamu pulang karena membutuhkan rumahku.”

Aku menatapnya lurus.

“Jangan berani-berani mengatakan aku yang menghancurkanmu.”

Ruangan itu sunyi.

Tiba-tiba Kirana berdiri.

“Kamu bilang rumah itu milikmu.”

Raka menoleh.

“Kirana, jangan sekarang.”

“Kamu bilang Nadira sudah setuju menjual.”

“Kirana.”

“Kamu bilang uang itu warisanmu!”

Untuk pertama kalinya aku melihat perempuan itu bukan sebagai selingkuhan suamiku.

Aku melihatnya sebagai orang lain yang juga diberi versi kebohongan berbeda.

Kirana mulai menangis.

“Papa sampai menjaminkan rumah karena kamu bilang dana akan cair setelah rumah Bintaro dijual.”

Raka mencoba memegang tangannya.

Kirana menepis.

“Jangan sentuh aku.”

Ironis.

Tiga hari sebelumnya, perempuan itu memeluk suamiku di depan foto pernikahan kami.

Sekarang dia memandangnya dengan jijik yang sama seperti yang kurasakan.

Namun kejutan terbesar datang setelah itu.

Bu Maya menerima telepon.

Dia keluar sebentar, lalu kembali.

“Nadira, pihak bank sudah menyelesaikan verifikasi tambahan.”

Aku menatapnya.

“Ada apa?”

“Pengajuan pinjaman bukan hanya menggunakan tanda tangan palsu.”

Dia menatap Raka.

“Dokumen pendukungnya juga memuat surat persetujuan pasangan yang dilegalisasi.”

Aku mengernyit.

“Dilegalisasi siapa?”

Bu Maya menyebut sebuah nama.

Raka menunduk.

Aku tidak mengenalnya.

Namun Kirana mengenalnya.

“Itu pamanku.”

Semua mata beralih kepadanya.

Kirana menutup mulut.

Pamannya bekerja di kantor notaris di Surabaya.

Tiba-tiba seluruh ruangan menjadi jauh lebih sunyi.

Kasus ini bukan lagi sekadar perselingkuhan dan uang rumah tangga.

Ada terlalu banyak orang yang mungkin terlibat.

Aku menandatangani surat kuasa untuk proses hukum dan permohonan pembekuan transaksi terkait aset atas namaku.

Kemudian aku menandatangani satu dokumen lagi.

Gugatan cerai.

Raka menatap tanda tanganku.

Ironis sekali.

Setelah semua tanda tangan yang dia palsukan, akhirnya tanda tanganku yang asli justru menjadi tanda tangan yang mengakhiri pernikahan kami.

Enam bulan kemudian, aku menjual rumah Bintaro.

Bukan karena Raka.

Bukan karena utang.

Aku menjualnya karena aku tidak ingin lagi tinggal di rumah yang setiap sudutnya mengingatkanku pada seseorang yang sebenarnya sudah pergi jauh sebelum tubuhnya meninggalkan rumah.

Proses hukum berjalan panjang.

Beberapa transaksi masih diperiksa. Persoalan internal perusahaan keluarga Raka ditangani secara terpisah. Kirana akhirnya memberikan keterangan mengenai sejumlah dokumen yang pernah diminta Raka dan transaksi yang melibatkan keluarganya.

Hubungannya dengan Raka juga berakhir.

Aku tahu bukan karena bertanya.

Suatu malam dia mengirim pesan terakhir kepadaku.

“Saya minta maaf. Saya tahu dia menikah. Untuk bagian itu, tidak ada alasan yang bisa membenarkan saya.”

Aku membaca kalimat itu beberapa kali.

Kemudian membalas.

“Saya menerima permintaan maafmu. Tapi menerima bukan berarti melupakan.”

Setelah itu aku memblokir nomornya.

Setahun kemudian aku pindah ke apartemen yang lebih kecil di Jakarta Selatan.

Tidak ada kamar bayi.

Tidak ada foto pernikahan.

Tidak ada lemari besar berisi pakaian laki-laki yang hanya pulang sesekali.

Anehnya, tempat yang lebih kecil itu terasa jauh lebih luas.

Suatu sore Mama datang membantuku membereskan kotak-kotak lama.

Dia menemukan gelang berhuruf N.

Pasangan dari gelang yang pernah kulihat di tangan Kirana.

“Mau disimpan?” tanyanya.

Aku memandang gelang itu.

Dulu benda kecil tersebut terasa seperti bukti bahwa sembilan tahun hidupku telah dicuri.

Sekarang hanya terlihat seperti sepotong emas.

“Jual saja.”

Mama tertawa.

“Buat apa uangnya?”

Aku berpikir sebentar.

“Beli meja makan.”

“Meja makan?”

Aku mengangguk.

Beberapa hari kemudian sebuah meja kayu kecil dikirim ke apartemenku.

Hanya empat kursi.

Malam pertama, aku makan sendirian di sana.

Anehnya, aku tidak merasa kesepian.

Ponselku berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kusimpan.

Raka.

“Aku cuma ingin tahu apakah masih ada kemungkinan kita bicara. Aku kehilangan semuanya.”

Aku membaca pesan itu sekali.

Kemudian menghapusnya.

Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak kupahami.

Raka tidak kehilangan semuanya ketika aku pergi.

Dia kehilangan semuanya jauh sebelumnya, ketika dia mulai menganggap kesetiaanku sebagai kelemahan, kepercayaanku sebagai kesempatan, dan diamku sebagai izin.

Sedangkan aku tidak kehilangan rumah.

Tidak kehilangan sembilan tahun.

Tidak kehilangan masa depan.

Aku hanya berhenti menunggu seseorang pulang ke tempat yang sebenarnya sudah lama dia tinggalkan.

Dan malam itu, di meja makan kecil yang kubeli dari hasil menjual gelang pernikahanku sendiri, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun aku makan tanpa melihat kursi kosong di seberang.

Karena akhirnya aku sadar, kursi itu tidak pernah kosong.

Selama ini, aku hanya mengisinya dengan harapan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang