Tok.
Tok.
Tok.
Tiga ketukan itu membuat seluruh tubuhku membeku.
Selama tujuh belas tahun, aku tidak pernah mendengar kode itu lagi. Kakakku, Maya, menciptakannya ketika kami masih kecil. Satu ketukan berarti aman. Dua berarti tunggu. Tiga berarti jangan percaya orang di dekatmu.
Dan sekarang seseorang mengetukkannya dari balik pintu besi.
Pria yang memegang senter menoleh kepadaku.

“Kamu dengar sendiri, kan? Kakakmu ada di sana.”
Aku menatapnya. Wajahnya sudah tua, mungkin hampir enam puluh, tetapi ada sesuatu yang terasa familiar. Bekas luka panjang membelah alis kirinya.
Ingatan lama muncul.
Dia pernah datang ke rumah kami ketika aku kecil.
Aku memanggilnya Pak Jaya.
Dulu dia sering minum kopi bersama Ayah.
“Buka pintunya,” kataku.
Pak Jaya tersenyum tipis.
“Berikan dulu buku catatan yang kamu temukan.”
“Aku tidak membawanya.”
Senyumnya menghilang.
“Jangan bohong, Raka.”
Dia tahu namaku.
Pria di belakangnya mulai bergerak mendekat.
Aku mundur sampai punggungku menyentuh dinding. Diam-diam, tanganku membuka layar ponsel di dalam saku dan menekan tombol rekam.
“Aku hanya ingin melihat kakakku.”
“Setelah buku itu kami dapatkan.”
Dari balik pintu kembali terdengar ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Lalu suara yang sangat lemah.
“Raka…”
Dunia seakan berhenti.
Suara itu lebih berat daripada yang kuingat, tetapi cara dia menyebut namaku tidak berubah.
Aku menahan napas.
“Kak Maya?”
Tiba-tiba terdengar benturan keras dari balik pintu.
Pak Jaya langsung menoleh.
Kesempatan itu kugunakan untuk menyambar kotak plastik di lantai dan melemparkannya ke lampu senter.
Ruangan mendadak gelap.
Aku berlari.
Seseorang mencoba menangkap bajuku, tetapi aku menghantamkan siku ke belakang dan berhasil melepaskan diri. Aku menerjang tangga, naik secepat mungkin.
“Kejar dia!”
Aku tidak berani menoleh.
Begitu mencapai gudang, aku berlari keluar menuju perkebunan. Hujan kembali turun. Tanah merah berubah licin.
Aku baru berlari sekitar lima puluh meter ketika terdengar mesin mobil menyala.
Mereka mengejarku.
Aku meninggalkan motor dan masuk ke antara pohon sawit.
Selama hampir satu jam aku berjalan tanpa arah sampai akhirnya menemukan jalan kecil menuju permukiman.
Aku baru berhenti ketika sampai di sebuah musala.
Tanganku gemetar saat memeriksa ponsel.
Rekamannya masih tersimpan.
Aku langsung menelepon polisi.
Dua jam kemudian, aku kembali ke gudang bersama enam petugas.
Namun ruang bawah tanah itu sudah kosong.
Foto-foto hilang.
Borgol hilang.
Bahkan pintu besi telah terbuka.
Di belakangnya tidak ada Maya.
Hanya sebuah ruangan kosong dengan kasur tipis dan botol air.
Di dinding terdapat tulisan yang dibuat menggunakan arang.
17 AGUSTUS.
Aku mengenali tulisan tangan itu.
Tulisan Maya.
Seorang polisi bernama Inspektur Arif mendekat.
“Kenapa tanggal ini?”
Aku menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Arif menatap tulisan itu cukup lama.
“Besok tanggal tujuh belas.”
Aku baru menyadarinya.
Malam itu aku tidak tidur.
Aku memutar kaset Maya berulang kali. Setelah rekaman suara Ayah, ternyata masih ada bagian lain yang sangat pelan.
Aku menaikkan volumenya.
Suara Maya muncul lagi.
“Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan salahkan Ayah sebelum menemukan ruang kedua.”
Aku langsung duduk tegak.
Ruang kedua?
Kemudian terdengar suara Ayah.
“Maya, pulang sekarang.”
“Ayah tahu mereka membawa orang!”
“Pelankan suaramu.”
“Ayah membantu mereka!”
“Tidak. Ayah sedang mencoba mengeluarkan mereka.”
Aku menahan napas.
Kaset berdesis.
Suara Ayah terdengar semakin panik.
“Kalau mereka tahu kamu melihat buku itu, kamu akan dibunuh. Pulang. Bawa Raka dan ibumu pergi dari desa.”
“Kalau begitu ikut kami.”
“Ayah tidak bisa.”
“Kenapa?”
Hening panjang.
Lalu Ayah berkata,
“Karena kalau aku pergi, tidak ada lagi orang di dalam yang bisa membuka pintu untuk mereka.”
Kaset berhenti.
Selama bertahun-tahun aku membenci Ayah karena satu kalimat di buku Maya.
Ternyata kenyataannya jauh lebih rumit.
Aku segera menelepon Arif.
Kami kembali memeriksa gudang menjelang subuh.
Ruang kedua akhirnya ditemukan di balik lemari besi yang menempel pada dinding bawah tanah.
Di dalamnya terdapat peta perkebunan lama.
Ada dua belas gudang di permukaan.
Namun di bawah tanah terdapat jaringan lorong yang menghubungkan gudang-gudang itu dengan sebuah bangunan pengolahan yang sudah ditinggalkan.
Di tengah peta terdapat lingkaran merah.
Di sampingnya tertulis tangan Ayah.
“Sumur pompa lama.”
Aku teringat tanggal di dinding.
Tujuh belas Agustus.
Setiap tahun desa mengadakan perayaan kemerdekaan di lapangan dekat pabrik lama. Hampir seluruh warga berkumpul di sana.
Tempat sempurna untuk memindahkan seseorang tanpa menarik perhatian.
Sore itu polisi menutup beberapa jalan menuju perkebunan secara diam-diam.
Aku ikut bersama Arif menuju sumur pompa.
Kami menemukan pintu beton tersembunyi di balik semak.
Di dalamnya terdapat tangga menuju lorong bawah tanah.
Semakin jauh kami berjalan, semakin terdengar suara mesin.
Kemudian kami melihat cahaya.
Ada sebuah ruangan besar.
Empat orang sedang memasukkan kardus ke sebuah truk.
Pak Jaya ada di sana.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan kurus dengan rambut pendek yang sebagian sudah memutih.
Aku berhenti bernapas.
Meski tujuh belas tahun telah berlalu, aku mengenal matanya.
“Kak Maya…”
Dia menoleh.
Air matanya langsung jatuh.
“Raka?”
Aku hendak berlari, tetapi Arif menahanku.
Pak Jaya mengangkat pistol.
“Jangan bergerak!”
Polisi langsung mengambil posisi.
Namun Maya justru berdiri di depan Pak Jaya.
“Turunkan senjatamu, Jaya.”
“Diam!”
“Kamu sudah kalah.”
Pak Jaya tertawa.
“Kamu pikir polisi-polisi ini akan menyelamatkanmu?”
Dia menunjuk Arif.
“Bahkan kalian tidak tahu siapa yang menjalankan semuanya.”
Tiba-tiba terdengar tembakan.
Pak Jaya jatuh.
Semua orang terkejut.
Bukan polisi yang menembak.
Pria yang sejak awal berdiri di belakang Pak Jaya memegang pistol dengan tangan gemetar.
Dia segera menjatuhkan senjatanya.
“Saya menyerah.”
Polisi menangkap mereka.
Maya berlari ke arahku.
Aku memeluknya.
Tubuhnya sangat kurus.
Aku menangis seperti anak delapan tahun yang akhirnya menemukan kembali orang yang selama hidupnya dia tunggu.
“Kenapa Kakak tidak pulang?”
Maya tidak langsung menjawab.
Dia hanya memegang wajahku.
“Karena mereka mengawasi kalian.”
Kemudian dia menceritakan semuanya.
Tujuh belas tahun lalu, perkebunan itu digunakan sebagai jalur transit jaringan perdagangan manusia. Para korban direkrut dari berbagai daerah dengan janji pekerjaan di kota atau luar negeri.
Ayah mengetahuinya setelah salah satu sopir meminta bantuannya memperbaiki truk.
Dia berpura-pura bergabung dengan jaringan itu untuk mengumpulkan bukti.
Maya tanpa sengaja menemukan buku catatan milik Ayah dan mengira Ayah adalah bagian dari mereka.
Malam ketika Maya menghilang, dia mengikuti Ayah ke gudang nomor 12.
Pak Jaya menangkapnya.
Ayah berhasil menyelamatkan Maya malam itu, tetapi mereka tidak bisa membawanya pulang.
“Ayah menyembunyikanku di rumah seorang kenalannya di kota,” kata Maya.
“Lalu kenapa Kakak tidak menghubungi kami?”
“Karena tiga minggu kemudian Ibu meninggal.”
Aku menunduk.
Maya menggenggam tanganku.
“Ayah bilang kematian Ibu bukan karena sakit biasa.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
Maya mengeluarkan sebuah amplop kecil dari balik bajunya.
“Setelah Ibu meninggal, Ayah tahu mereka sudah mulai menyerang keluarga kita. Dia memintaku tetap menghilang.”
Selama bertahun-tahun Maya hidup dengan identitas berbeda. Dia dan Ayah diam-diam mengumpulkan nama, rekening, rute kendaraan, dan bukti transaksi.
Tujuh tahun setelah kepergiannya, Maya kembali ke desa untuk mengambil dokumen.
Saat itulah foto yang kutemukan dibuat.
Namun jaringan tersebut mengetahui keberadaannya.
Sejak saat itu Maya terus berpindah tempat.
“Lalu kecelakaan Ayah?” tanyaku.
Maya menatapku lama.
“Bukan kecelakaan.”
Dadaku terasa sesak.
“Truknya dirusak.”
Aku teringat pemakaman Ayah.
Aku bahkan tidak menangis waktu itu.
Aku berdiri di depan makamnya dengan kemarahan karena menganggapnya sebagai orang yang menghancurkan keluarga kami.
Sekarang rasa bersalah terasa seperti batu besar menindih dada.
Namun Maya berkata sesuatu yang lebih mengejutkan.
“Raka, semua yang kita temukan hari ini belum selesai.”
Dia menyerahkan amplop itu.
Di dalamnya terdapat daftar nama.
Pengusaha.
Pejabat lokal.
Pemilik perusahaan transportasi.
Dan beberapa aparat.
Nama terakhir membuat tanganku berhenti.
Inspektur Arif Prasetyo.
Aku perlahan mengangkat kepala.
Arif berdiri sekitar sepuluh meter dari kami.
Dia sedang berbicara melalui radio.
Maya berbisik,
“Itulah alasan aku mengetuk tiga kali.”
Darahku seketika terasa dingin.
Bukan Pak Jaya yang dia maksud.
Dia memperingatkanku tentang polisi.
Arif menoleh ke arah kami.
Tatapan kami bertemu.
Senyumnya perlahan menghilang.
“Maya,” katanya, “serahkan amplop itu.”
Beberapa petugas tampak kebingungan.
Arif mengangkat pistol.
“Sekarang.”
Aku berdiri di depan kakakku.
“Jadi selama ini kamu bagian dari mereka?”
Arif tertawa kecil.
“Kalian terlalu suka membagi dunia menjadi orang baik dan orang jahat.”
Dia melangkah mendekat.
“Jaringan ini sudah ada jauh sebelum aku menjadi polisi.”
“Dan kamu melindunginya.”
“Aku menjaga keseimbangan.”
Maya menatapnya dengan jijik.
“Kamu membunuh Ayah.”
Arif tidak menyangkal.
Itu sudah cukup.
Namun sebelum dia sempat mendekat lagi, suara sirene terdengar dari luar.
Banyak sekali.
Arif membeku.
Aku tersenyum.
Saat melarikan diri dari gudang malam sebelumnya, aku tidak hanya mengirim rekaman kepada polisi setempat.
Aku mengirim salinannya kepada seorang jurnalis nasional yang nomornya tertulis di halaman terakhir buku catatan Maya.
Nama itu ditulis Ayah tujuh belas tahun lalu.
Jurnalis tersebut sudah meneruskan bukti kepada kepolisian tingkat provinsi dan lembaga perlindungan saksi.
Arif menatapku dengan wajah pucat.
Beberapa detik kemudian puluhan petugas memasuki ruangan.
Pistolnya jatuh ke lantai.
Dalam tiga bulan berikutnya, penyelidikan berkembang ke beberapa provinsi. Belasan orang ditangkap. Beberapa kasus orang hilang yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai pelarian dari rumah akhirnya dibuka kembali.
Sebagian korban berhasil ditemukan hidup.
Sebagian lainnya tidak pernah pulang.
Aku dan Maya kembali ke rumah lama kami enam bulan kemudian.
Kami berdiri di depan dinding yang pernah kusembunyikan di balik lemari.
Aku memperbaiki lubangnya, tetapi tidak menutupnya sepenuhnya.
Di dalam rongga itu kami meletakkan gelang merah, kaset lama, dan sebuah foto keluarga.
“Kenapa disimpan di sini?” tanya Maya.
Aku tersenyum.
“Supaya rumah ini tidak lagi menyimpan kebohongan. Cuma kenangan.”
Sebelum pergi, kami mengunjungi makam Ayah dan Ibu.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku membersihkan batu nisan Ayah dengan tanganku sendiri.
“Aku minta maaf, Yah.”
Angin bergerak pelan di antara pohon.
Maya berdiri di sampingku.
“Ayah pasti tahu kamu akhirnya akan menemukan dinding itu.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Maya tersenyum kecil.
“Karena yang menyemen dinding itu bukan Ayah.”
Aku terdiam.
“Aku.”
Ternyata pada malam terakhirnya di rumah, Maya sudah mengetahui bahwa seseorang sedang menggeledah kamar Ayah. Sebelum mengikuti truk menuju gudang, dia menyembunyikan kaset, kunci, dan gelangnya di dalam rongga tersebut.
“Tapi kenapa gelangnya?”
Maya menatap gelang merah yang kini melingkar kembali di pergelangan tangannya.
“Karena aku takut tidak akan pulang.”
Dia menggenggam tanganku.
“Dan aku ingin meninggalkan sesuatu yang membuat adikku percaya bahwa suatu hari nanti kakaknya akan kembali.”
Mataku terasa panas.
Tujuh belas tahun aku mengira kakakku meninggalkan kami.
Tujuh belas tahun aku mengira Ayah mengkhianati keluarganya.
Padahal keduanya kehilangan hampir seluruh hidup mereka untuk melindungi kebenaran yang bahkan tidak kuketahui.
Saat kami berjalan meninggalkan pemakaman, Maya mengetuk bahuku tiga kali.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku langsung menoleh.
Dia tertawa untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kembali.
“Kali ini artinya beda.”
“Apa?”
Maya merangkul bahuku.
“Jangan percaya semua cerita yang diwariskan kepadamu sebelum kamu berani mencari sendiri kebenarannya.”
Aku menatap jalan tanah merah di depan kami.
Dulu jalan itu membawa kakakku pergi.
Kini jalan yang sama membawa kami pulang bersama.
Dan untuk pertama kalinya setelah tujuh belas tahun, aku merasa keluargaku tidak lagi hidup di bawah bayang-bayang orang hilang.
Karena terkadang orang yang disebut melarikan diri sebenarnya sedang berjuang untuk pulang.
Dan terkadang orang yang paling kita benci ternyata adalah orang yang diam-diam berdiri paling depan agar bahaya tidak pernah sampai kepada kita.
