Tangan Bianca mulai gemetar.
Bukan gemetar kecil yang bisa disembunyikan di balik perban. Bahunya ikut menegang, sementara Adrian berdiri di sampingnya dengan wajah yang perlahan kehilangan ketenangan.
Aku meletakkan cincin palsu itu kembali ke dalam kotak beludru.
“Pak Hartono bilang dia tidak pernah menerima cincinku,” kataku. “Bahkan nomor tanda terima yang kamu berikan kepadaku tidak terdaftar dalam sistem tokonya.”
Adrian mengembuskan napas kasar.
“Jadi sekarang kamu menuduhku mencuri?”
“Aku belum menuduh siapa pun.”

Aku menatap Bianca.
“Aku hanya ingin tahu kenapa seseorang harus membuat cincin tiruan kalau cincin aslinya masih aman.”
Bianca menunduk.
Adrian langsung meraih kotak itu.
“Cukup. Aku akan menyelesaikan masalah ini.”
Aku menarik kotak tersebut lebih dahulu.
“Tidak. Kali ini polisi yang akan menyelesaikannya.”
Wajah Adrian berubah.
“Jangan mempermalukan keluarga kita hanya karena perhiasan.”
Aku hampir tertawa.
Tujuh tahun aku mendengar kalimat semacam itu.
Ketika aku menemukan laporan keuangan yang tidak cocok, katanya aku terlalu curiga.
Ketika Bianca mulai ikut dalam rapat direksi yang bahkan tidak berkaitan dengan pekerjaannya, katanya aku cemburu.
Ketika Adrian mengubah beberapa otorisasi pembayaran tanpa memberitahuku, katanya aku terlalu mengontrol.
Sekarang cincin warisan senilai puluhan juta peso menghilang, dan sekali lagi aku diminta diam demi nama keluarga.
Aku menatap laki-laki yang dulu kucintai itu.
“Bukan aku yang mempermalukan keluarga ini, Adrian. Aku hanya berhenti menutupi orang yang melakukannya.”
Bel rumah berbunyi.
Noel masuk bersama Atty. Mara Sison dan dua petugas kepolisian.
Bianca langsung mundur.
Adrian menatapku tajam.
“Kamu sudah merencanakan ini?”
“Sejak semalam.”
Mara meletakkan beberapa dokumen di meja.
“Bu Andrea telah membuat laporan mengenai dugaan penggelapan properti pribadi. Kami juga sudah meminta agar cincin yang dibawa Pak Adrian diperiksa.”
Salah seorang petugas mengambil kotak beludru tersebut.
Adrian mengepalkan tangan.
“Kalian tidak bisa masuk begitu saja dan memperlakukan saya seperti kriminal.”
Mara menatapnya datar.
“Rumah ini milik klien saya. Anda datang tanpa undangan sambil membawa barang yang diduga merupakan tiruan dari properti yang sedang dipermasalahkan. Jadi sebaiknya kita semua tetap tenang.”
Lourdes yang sejak tadi terdiam akhirnya berdiri.
“Adrian, bilang saja kepada mereka dari mana kamu mendapatkan cincin itu.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Adrian tidak menjawab.
Justru Bianca yang tiba-tiba menangis.
“Saya tidak tahu apa-apa.”
Aku menoleh kepadanya.
“Kamu yakin?”
“Saya cuma menerima cincin itu dari Pak Adrian.”
“Yang asli atau yang ini?”
Bianca terdiam.
Kesalahan kecil.
Tetapi cukup.
Mara langsung menangkapnya.
“Jadi Anda tahu ada dua cincin?”
Bianca memucat.
“Saya… maksud saya bukan begitu.”
Adrian membentak, “Diam, Bianca!”
Semua orang langsung menoleh kepadanya.
Aku tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya, Adrian menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya justru mempersempit jalan keluarnya sendiri.
Pemeriksaan awal terhadap cincin tiruan dilakukan sore itu. Hasilnya sesuai dugaanku.
Zamrud sintetis.
Emasnya asli, tetapi dibuat kurang dari dua minggu sebelumnya.
Lebih menarik lagi, Mara berhasil mendapatkan rekaman kamera keamanan dari sebuah toko perhiasan kecil di Binondo.
Di sanalah semuanya mulai terbongkar.
Dalam rekaman tersebut, Bianca datang membawa foto cincinku dari berbagai sudut.
Dia memesan replika dengan permintaan khusus agar selesai secepat mungkin.
Namun pertanyaan terbesar belum terjawab.
Di mana cincin aslinya?
Jawabannya muncul dua hari kemudian.
Sebuah rumah lelang swasta menghubungi Mara setelah nomor seri sertifikat batu zamrud dilaporkan.
Seseorang telah mencoba menjadikan cincin itu sebagai jaminan untuk pinjaman pribadi sebesar tiga puluh juta peso.
Nama peminjamnya bukan Bianca.
Adrian Villareal.
Saat membaca dokumen itu, aku tidak menangis.
Aneh.
Kupikir setelah tujuh tahun menikah, mengetahui suamiku menggadaikan warisanku demi uang akan menghancurkan hatiku.
Ternyata tidak.
Yang kurasakan justru kelegaan.
Akhirnya aku berhenti mempertanyakan apakah selama ini aku terlalu curiga.
Adrian memang mengkhianatiku.
Bukan hanya sebagai suami.
Dia mengkhianatiku sebagai rekan bisnis.
Mara kemudian menemukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Tiga puluh juta peso itu bukan untuk Bianca.
Uangnya digunakan untuk menutup kerugian dari sebuah perusahaan investasi bernama Aurelius Development Corporation.
Perusahaan yang bahkan tidak pernah kudengar.
Ketika struktur kepemilikannya dibongkar, pemegang saham terbesarnya ternyata adalah Adrian dan Lourdes.
Selama hampir dua tahun, mereka diam-diam memindahkan peluang proyek dari Villareal Group ke perusahaan tersebut.
Proyek yang diperoleh melalui jaringan investorku.
Data yang dikumpulkan timku.
Bahkan proposal yang disusun stafku.
Mereka berencana membangun perusahaan baru dengan fondasi yang kuciptakan, lalu perlahan meninggalkan Villareal Group ketika perusahaan baru itu cukup kuat.
Dan Bianca?
Dia bukan sekadar selingkuhan.
Dia yang mengirim dokumen internal.
Dia yang menyalin daftar klien.
Dia yang menggunakan akses sekretaris eksekutif untuk memindahkan informasi rahasia.
Aku duduk berhadapan dengan Adrian di ruang konferensi kantor pengacara Mara ketika seluruh bukti itu diletakkan di atas meja.
Adrian terlihat berbeda.
Tidak ada jas mahal.
Tidak ada jam tangan mewah.
Tidak ada puluhan staf yang memanggilnya Pak Adrian.
Hanya seorang laki-laki yang akhirnya dipaksa menghadapi kenyataan bahwa kerajaan yang selama ini dia anggap miliknya ternyata dibangun di atas aset orang lain.
“Apa yang kamu inginkan?” tanyanya.
Aku menatapnya.
“Cincinku.”
“Itu akan dikembalikan.”
“Lalu seluruh saham nominee.”
Rahangnya mengeras.
“Tidak.”
Mara mendorong dokumen ke arahnya.
“Kalau begitu kita lanjut ke pengadilan.”
Aku menambahkan, “Dan seluruh investor akan menerima laporan audit forensik.”
Adrian langsung menatapku.
“Kamu mau menghancurkan perusahaan?”
“Perusahaanku tidak akan hancur.”
Aku berhenti sejenak.
“Posisimu yang akan hilang.”
Dia berdiri.
“Tanpa aku, tidak ada Villareal Group!”
Aku ikut berdiri.
“Kalau begitu mari kita buktikan.”
Seminggu kemudian, rapat luar biasa pemegang saham digelar.
Adrian datang dengan keyakinan bahwa para direktur lama akan tetap mendukungnya.
Dia salah.
Satu per satu dokumen ditampilkan.
Transfer dana.
Konflik kepentingan.
Perusahaan tersembunyi.
Penggunaan data internal.
Dan terakhir, penggadaian aset pribadiku tanpa izin.
Ketika pemungutan suara selesai, Adrian diberhentikan dari posisi CEO.
Aku tidak mengambil kursinya.
Aku menunjuk CEO profesional yang selama lima tahun sebelumnya menjadi COO perusahaan.
Itulah sesuatu yang tidak pernah dipahami Adrian.
Aku tidak membutuhkan gelar.
Aku membutuhkan perusahaan berjalan dengan benar.
Lourdes menjual sebagian kepemilikannya untuk menutup kewajiban hukum.
Bianca mengundurkan diri sebelum akhirnya menghadapi tuntutan terkait penyalahgunaan data perusahaan.
Hubungannya dengan Adrian pun tidak bertahan.
Tiga minggu setelah skandal itu pecah, aku mendengar mereka bertengkar di lobi sebuah hotel.
Bianca menuduh Adrian berbohong tentang kekayaannya.
Adrian menuduh Bianca menghancurkan pernikahannya.
Aku hanya tertawa ketika Noel menceritakannya.
Mereka masih belum mengerti.
Bukan Bianca yang menghancurkan pernikahanku.
Bukan cincin itu juga.
Pernikahanku sudah lama retak setiap kali Adrian mengambil sesuatu dariku lalu menganggapnya sebagai miliknya.
Ideku.
Jaringanku.
Uangku.
Waktuku.
Kesetiaanku.
Cincin itu hanya benda pertama yang cukup berkilau sehingga aku akhirnya bisa melihat semuanya dengan jelas.
Dua bulan kemudian, cincin asli akhirnya dikembalikan.
Aku pergi sendiri mengambilnya.
Pak Hartono memeriksa batu zamrud itu sebelum menyerahkannya kepadaku.
“Masih ada goresannya,” katanya.
Aku membalik cincin tersebut.
Garis tipis itu masih ada.
Aku langsung teringat malam bertahun-tahun sebelumnya di rumah sakit.
Doña Elena sedang sekarat.
Aku duduk di samping tempat tidurnya sambil menggenggam tangannya.
Saat itu dia berkata sesuatu yang baru kupahami sekarang.
“Andrea, jangan pernah mengira bertahan adalah satu-satunya cara membuktikan cinta.”
Dulu kupikir dia sedang berbicara tentang penyakitnya.
Ternyata mungkin dia sedang berbicara tentang cucunya.
Aku memasukkan cincin itu ke dalam kotak.
Aku tidak memakainya lagi.
Enam bulan kemudian, proses perpisahanku dengan Adrian masih berjalan ketika sebuah amplop tiba di kantor.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat salinan sebuah dokumen lama.
Surat pribadi Doña Elena kepada pengacaranya.
Aku membacanya perlahan.
Ternyata cincin zamrud itu bukan warisan keluarga Villareal.
Cincin tersebut awalnya milik Doña Elena sendiri, dibeli menggunakan uang yang dia hasilkan sebelum menikah.
Dia sengaja mewariskannya kepadaku karena selama bertahun-tahun dia melihat pola yang sama terjadi dalam keluarganya.
Suaminya mengambil kredit atas bisnis yang dia bangun.
Anaknya menganggap aset ibunya sebagai milik keluarga.
Dan kemudian Adrian tumbuh dengan keyakinan yang sama.
Pada bagian terakhir surat itu tertulis bahwa Doña Elena berharap cincin tersebut suatu hari akan mengingatkanku bahwa warisan terbesar seorang perempuan bukanlah benda yang dia terima, melainkan keberanian untuk mempertahankan hak atas hidup yang dia bangun sendiri.
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Lalu tertawa sambil menangis.
Tujuh tahun aku berpikir bahwa aku sedang membangun kerajaan untuk suamiku.
Ternyata aku salah.
Aku sedang membangun milikku sendiri.
Adrian hanya berdiri di depannya cukup lama sehingga semua orang mengira kerajaan itu milik dia.
Setahun setelah malam di marina, aku kembali ke tempat yang sama.
Mobil sport yang dulu kuhancurkan sudah lama dijual sebagai barang rongsokan.
Kapal pesiarku berlabuh di dermaga.
Di atasnya berlangsung pesta kecil untuk merayakan kontrak internasional terbesar dalam sejarah perusahaan.
Tidak ada Adrian.
Tidak ada Bianca.
Tidak ada Lourdes.
Hanya orang-orang yang benar-benar bekerja membangun perusahaan itu.
Noel menghampiriku sambil membawa segelas jus.
“Bu Andrea, Anda tidak memakai cincin itu?”
Aku melihat tanganku yang kosong.
“Tidak.”
“Disimpan di brankas?”
Aku tersenyum.
“Bukan.”
Beberapa minggu sebelumnya, aku telah menyerahkan cincin tersebut kepada sebuah museum swasta dengan satu syarat.
Cincin itu tidak boleh dipajang dengan nama keluarga Villareal.
Pada plakat kecil di bawahnya hanya tertulis nama pemilik aslinya.
Elena.
Dan di bawahnya terdapat satu kalimat pendek.
Milik seorang perempuan tidak menjadi milik orang lain hanya karena dia mencintainya.
Aku memandang cahaya Jakarta yang berkilauan di kejauhan.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku tidak merasa kehilangan seorang suami.
Aku merasa mendapatkan kembali diriku sendiri.
Dan ternyata, itulah satu-satunya warisan yang benar-benar tidak bisa dicuri siapa pun.
