Aku tidak langsung pulang malam itu.
Aku duduk di dalam mobil di parkiran kantor Daniel hampir satu jam, menatap lalu lintas Jakarta yang bergerak lambat di balik kaca depan. Lampu kendaraan menyatu dengan gerimis, tetapi pikiranku hanya tertuju pada empat angka.
Dua ribu delapan ratus empat puluh.
Delapan belas ribu lima ratus.
Empat puluh tujuh ribu.
Enam puluh dua ribu.
Lebih dari seratus tiga puluh ribu dolar.

Namun yang membuat tanganku gemetar bukan uangnya.
Melainkan tanda tanganku.
James telah mencuri sesuatu yang lebih berbahaya daripada uang. Dia mencuri identitasku dan menggunakannya seolah-olah aku masih menjadi istri yang akan mengangguk setiap kali dia berkata semuanya baik-baik saja.
Ponselku bergetar.
James.
Aku membiarkannya berdering.
Beberapa detik kemudian masuk pesan.
Pulang. Kita selesaikan ini seperti orang dewasa.
Aku hampir tertawa.
Selama enam belas tahun menikah, kalimat seperti orang dewasa selalu berarti satu hal bagi James.
Aku harus diam sementara dia menjelaskan mengapa perbuatannya sebenarnya adalah kesalahanku.
Daniel mengetuk kaca mobil sebelum aku pergi.
“Jangan tanda tangani apa pun yang dia berikan malam ini.”
“Aku tahu.”
“Dan jangan beri tahu dia apa saja yang sudah kami temukan.”
Aku menatap Daniel.
“Ada lagi?”
Dia terdiam sebentar.
“Itu yang sedang kami cari.”
Aku pulang pukul sembilan malam.
James sudah menungguku di ruang keluarga.
Holly tidak ada.
Di meja terdapat sebotol anggur yang belum dibuka dan dua gelas. Pemandangan itu begitu normal sampai terasa menjijikkan.
“Kita harus bicara,” katanya.
Aku meletakkan tas.
“Bicara.”
James mengembuskan napas panjang.
“Aku mengakui seharusnya aku tidak menandatangani atas namamu.”
“Memalsukan.”
“Jangan gunakan kata itu.”
“Itulah namanya.”
Rahangnya mengeras.
Dia lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas.
“Aku sudah menyiapkan pengembalian dana.”
Aku tidak menyentuhnya.
“Semua?”
“Tentu.”
“Termasuk uang yang masuk ke perusahaan Holly?”
Wajahnya berubah.
Hanya sedikit.
Tetapi sekarang aku tahu apa yang harus kulihat.
“Daniel menunjukkan itu kepadamu?”
“Kenapa perusahaan Holly menerima uang dari harta warisan ibuku?”
“Itu pembayaran konsultasi.”
“Konsultasi apa?”
James terdiam.
Aku tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya dalam pernikahan kami, aku melihat suamiku kehabisan jawaban.
“Aku lelah,” kataku. “Besok saja.”
Aku naik ke kamar tamu dan mengunci pintu.
Pukul dua dini hari aku terbangun karena suara langkah di lorong.
Seseorang berhenti di depan pintuku.
Gagang pintu bergerak perlahan.
Sekali.
Dua kali.
Lalu berhenti.
Aku tidak tidur lagi sampai pagi.
Keesokan harinya Daniel menelepon pukul tujuh.
“Kami menemukan kontraktornya.”
Aku langsung duduk.
“Siapa?”
“Perusahaan bernama Meridian Living.”
“Tidak kenal.”
“Pemilik resminya bernama Adrian Mercer.”
Nama belakang itu membuat dadaku sesak.
“Mercer?”
“Kakak Holly.”
Aku menutup mata.
Jadi transaksi kedua juga kembali kepada keluarga Holly.
“Lalu uang enam puluh dua ribu?”
“Itu lebih menarik. Perusahaan James menggunakan uang tersebut sebagai uang muka pembelian properti.”
“Properti apa?”
Daniel terdiam.
“Sebuah vila di Bali.”
Aku tidak bisa bicara.
Dia melanjutkan.
“Dokumen awal pembeliannya mencantumkan dua calon pemilik.”
Aku sudah tahu sebelum dia menyebutkannya.
“James dan Holly?”
“Ya.”
Tiba-tiba plakat di makam Ibu terasa berbeda.
Bukan tindakan impulsif seorang selingkuhan.
Bukan sekadar penghinaan.
James sedang membangun kehidupan baru dengan uang ibuku.
Dan dia bahkan sudah mulai menulis ulang sejarah sebelum meninggalkanku.
Siang itu aku kembali ke rumah lebih cepat.
Mobil James tidak ada.
Aku masuk ke ruang kerjanya.
Selama bertahun-tahun ruangan itu seperti wilayah terlarang. James selalu mengatakan dokumen bisnisnya rahasia.
Kali ini aku membuka semuanya.
Laci pertama berisi kontrak.
Laci kedua berisi dokumen pajak.
Di bagian belakang lemari aku menemukan sebuah map biru.
Di dalamnya ada fotokopi pasporku, contoh tanda tanganku dari berbagai dokumen, surat kuasa lama yang sudah kedaluwarsa, dan beberapa lembar kosong dengan tanda tanganku tercetak di bagian bawah.
Aku merasa mual.
Lalu aku menemukan sebuah amplop.
Di bagian depan tertulis nama ibuku.
Margaret Ellis.
Tanganku mulai gemetar ketika membukanya.
Di dalamnya terdapat salinan surat wasiat lama.
Aku mengenal dokumen itu.
Ibu pernah membuatnya tujuh tahun sebelumnya, ketika dia masih menganggap James sebagai putra sendiri.
Dalam versi itu, jika sesuatu terjadi kepadaku dalam waktu tertentu setelah kematian Ibu, James akan menjadi salah satu penerima manfaat utama.
Namun wasiat tersebut sudah diganti dua tahun sebelum Ibu meninggal.
Ibu menghapus nama James sepenuhnya.
Kenapa James menyimpan salinan versi lama?
Ponselku berbunyi.
Daniel.
“Aku baru mau meneleponmu,” kataku.
“Eleanor, dengarkan dulu.”
Nada suaranya membuatku berdiri diam.
“Kami memeriksa aktivitas akun sebelum ibumu meninggal.”
“Kenapa?”
“Karena ada sesuatu yang tidak cocok.”
Aku menggenggam meja.
“Tiga minggu sebelum ibumu meninggal, seseorang mencoba mengajukan salinan surat wasiat lama kepada bank sebagai dasar perubahan penerima manfaat.”
Darah seakan berhenti mengalir di tubuhku.
“Siapa?”
“Kami belum punya bukti siapa yang mengajukan. Permintaan itu ditolak karena dokumennya sudah tidak berlaku.”
Aku menatap surat wasiat lama di tanganku.
“Aku mungkin tahu.”
Malam itu James pulang dan menemukan dua polisi, Daniel, serta aku sedang menunggunya.
Dia berhenti di pintu.
“Apa ini?”
Aku meletakkan map biru di meja.
Untuk pertama kalinya, wajah James benar-benar kehilangan warna.
“Dari mana kamu mendapatkan itu?”
“Rumahku.”
“Itu dokumen bisnis.”
“Fotokopi pasporku adalah dokumen bisnis?”
James menatap polisi.
“Aku ingin pengacara.”
Aku hampir tersenyum.
Kemarin dia ingin menyelesaikannya seperti orang dewasa.
Hari ini dia ingin pengacara.
Penyelidikan berlangsung selama beberapa minggu.
Setiap lapisan yang dibuka memperlihatkan kebohongan baru.
Holly ternyata tidak sekadar menerima uang.
Dia telah membantu membuat invoice palsu melalui perusahaannya.
Adrian mengeluarkan tagihan renovasi untuk pekerjaan yang tidak pernah dilakukan.
James menggunakan dana itu untuk menopang perusahaan propertinya yang hampir bangkrut.
Vila di Bali seharusnya menjadi tempat tinggal James dan Holly setelah perceraian kami selesai.
Ya.
Perceraian.
Karena ternyata James sudah berkonsultasi dengan pengacara perceraian enam bulan sebelumnya.
Dia hanya belum mengajukannya.
Dia menunggu.
Menunggu sampai cukup banyak uang berpindah.
Menunggu sampai struktur keuangannya aman.
Menunggu sampai aku tidak lagi berguna.
Namun ada satu pertanyaan yang terus menggangguku.
Plakat itu.
Kenapa menggantinya sekarang?
Kenapa mengambil risiko untuk sesuatu yang begitu kecil dibandingkan rencana mereka?
Jawabannya datang dari orang yang paling tidak kuduga.
Holly.
Tiga minggu setelah penyelidikan dimulai, dia meneleponku.
“Aku ingin bertemu.”
Aku hampir menutup telepon.
“Kenapa?”
“Karena James berbohong kepadaku juga.”
Kami bertemu di sebuah kafe kecil.
Holly terlihat berbeda tanpa pakaian mahal dan riasan sempurna. Matanya sembap.
“Aku tidak tahu uang itu milik ibumu,” katanya.
“Aku tidak peduli.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu mengganti namaku di plakat?”
Dia menatap meja.
“Itu ide James.”
Aku membeku.
“Dia bilang kamu yang meminta.”
“Untuk menghapus namaku sendiri?”
Holly mulai menangis.
“Dia bilang kalian sudah sepakat berpisah. Katanya kamu membenci ibumu karena masalah warisan dan tidak mau namamu ada di sana.”
Aku hampir tidak percaya.
Namun Holly mengeluarkan ponselnya.
Ada pesan dari James.
Puluhan.
Dalam salah satunya dia menulis bahwa setelah semuanya selesai, Holly akan menjadi bagian dari keluarga yang sebenarnya.
Lalu aku melihat sebuah pesan yang dikirim dua minggu sebelum penggantian plakat.
Kita mulai dari bangku itu. Eleanor bahkan tidak akan menyadarinya sampai semuanya terlambat.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Bukan penghinaan.
Itu ujian.
James ingin tahu apakah pemalsuan tanda tanganku akan lolos.
Plakat seharga 2.840 dolar adalah percobaan.
Jika tidak ada yang mempertanyakannya, transaksi yang lebih besar bisa terus dilakukan.
Dia memilih makam ibuku sebagai laboratorium pertama karena dia yakin kesedihanku akan membuatku lemah.
Aku menyerahkan ponsel kembali kepada Holly.
“Kenapa kamu menunjukkan ini?”
Dia tertawa getir.
“Karena vila itu ternyata bukan untukku.”
“Apa?”
“James punya perempuan lain.”
Untuk beberapa detik kami hanya saling menatap.
Lalu, entah kenapa, aku tertawa.
Holly ikut tertawa sambil menangis.
Pria yang menghancurkan pernikahanku ternyata juga mengkhianati perempuan yang membantunya menghancurkannya.
Beberapa bulan kemudian, kasus James memasuki proses hukum.
Aku mengajukan perceraian.
Aset perusahaan dibekukan.
Sebagian besar dana warisan berhasil dikembalikan.
Holly bekerja sama dalam penyelidikan dengan menyerahkan pesan, email, dan dokumen yang dia simpan.
Aku tidak memaafkannya.
Tetapi aku juga tidak lagi membutuhkannya sebagai musuh.
Pada suatu pagi yang cerah, aku kembali ke makam Ibu.
Bangku itu masih ada.
Namun plakatnya sudah diganti lagi.
Kali ini aku datang sendiri untuk melihatnya.
Tulisan pada kuningan itu sederhana.
Untuk mengenang Margaret Ellis, seorang ibu yang mengajarkanku bahwa cinta tidak pernah meminta kita kehilangan diri sendiri.
Tidak ada nama James.
Tidak ada nama Holly.
Dan yang mungkin paling mengejutkan, tidak ada namaku.
Aku duduk di bangku itu lama sekali.
Angin bergerak pelan di antara pepohonan.
Untuk pertama kalinya sejak Ibu meninggal, aku tidak merasa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun.
Sebelum pergi, petugas pemakaman menghampiriku membawa sebuah amplop.
“Kami menemukan ini ketika membongkar plakat lama,” katanya.
“Sepertinya terselip di bagian bawah bangku sejak pertama kali dipasang.”
Di dalamnya ada secarik kertas kecil.
Tulisan tangan Ibu.
Aku langsung mengenalinya.
Eleanor, kalau suatu hari kamu duduk di sini sendirian, jangan anggap dirimu ditinggalkan. Ada perbedaan besar antara sendirian dan bebas.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Air mataku jatuh.
Selama berbulan-bulan aku mengira cerita ini dimulai ketika James menghapus namaku dari sebuah plakat.
Ternyata aku salah.
Cerita itu baru benar-benar dimulai ketika aku berhenti berusaha mengembalikan namaku ke tempat yang telah dipilih orang lain untukku.
James mencoba menghapusku dari hidup yang pernah kubangun bersamanya.
Tanpa dia sadari, dia justru memberiku alasan untuk menulis hidupku sendiri dari awal.
