Tiga Tahun Setelah Bercerai, Raka Baru Tahu Mantan Istrinya Melahirkan Sepasang Anak yang Wajahnya Persis Dirinya

Raka tidak tidur malam itu.

Kalimat laki-laki di telepon terus berputar di kepalanya.

“Ini ponsel istri saya.”

Dua kata terakhir terasa seperti palu yang menghantam sesuatu di dalam dadanya.

Istri saya.

Berarti Laras sudah menikah lagi.

Berarti selama tiga tahun ketika Raka sibuk membangun perusahaan, menghadiri rapat, terbang dari satu kota ke kota lain, dan menjalani hidup seolah perceraiannya hanyalah satu urusan administratif yang telah selesai, Laras sudah membangun kehidupan baru.

Dan mungkin kedua anak itu juga sudah memiliki seorang ayah.

Pukul enam pagi, Bagas menerima telepon dari atasannya.

“Pesankan tiket ke Yogyakarta.”

“Hari ini?”

“Penerbangan paling pagi yang masih tersedia.”

Bagas terdiam sesaat.

“Tuan Raka, bukankah sebaiknya kita menunggu hasil penyelidikan dulu?”

“Aku sudah menunggu tiga tahun.”

Dua jam kemudian Raka sudah berada dalam perjalanan.

Ia tidak memberi tahu ibunya. Tidak membawa sopir. Tidak pula menghubungi Laras lagi.

Alamat yang diperoleh Bagas membawanya ke sebuah rumah sederhana di kawasan utara Yogyakarta. Rumah itu jauh berbeda dari rumah mewah yang pernah ditempati Laras di Jakarta.

Halaman depannya kecil, tetapi dipenuhi tanaman. Ada dua sepeda anak berwarna biru dan kuning di dekat teras. Beberapa pakaian mungil dijemur di samping rumah.

Raka berdiri di dalam mobil sewaan selama hampir sepuluh menit.

Tangannya terasa dingin.

Ia pernah menghadapi negosiasi bernilai ratusan miliar rupiah tanpa berkeringat sedikit pun.

Namun sekarang ia bahkan tidak berani mengetuk pintu sebuah rumah sederhana.

Tiba-tiba pintu terbuka.

Seorang anak laki-laki berlari keluar sambil membawa mobil-mobilan.

“Bunda! Arka mau main di luar!”

Raka membeku.

Anak itu berhenti beberapa meter darinya.

Usianya sekitar dua setengah tahun. Rambutnya hitam agak bergelombang, kulitnya cerah, dan alisnya tebal.

Namun bukan itu yang membuat napas Raka tercekat.

Mata anak itu.

Bentuk matanya persis seperti mata Raka ketika kecil.

Bahkan kebiasaan mengerutkan hidung saat kebingungan pun sama.

Anak laki-laki itu menatap Raka dengan penasaran.

“Om siapa?”

Raka membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Kemudian seorang anak perempuan muncul dari balik pintu.

“Arka, Bunda bilang jangan lari.”

Anak perempuan itu memegang boneka kelinci kecil.

Raka merasa lututnya kehilangan tenaga.

Anak perempuan itu memiliki wajah Laras, tetapi dagunya, bentuk telinga, dan sorot matanya seperti salinan dirinya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Raka memahami bahwa ada rasa sakit yang tidak membutuhkan luka.

Cukup melihat dua anak yang seharusnya dikenalnya sejak mereka membuka mata pertama kali, tetapi kini menatapnya seperti orang asing.

“Arka.”

Suara perempuan terdengar dari dalam.

Laras muncul di ambang pintu.

Langkahnya langsung berhenti.

Wajahnya berubah pucat.

Mata mereka bertemu setelah tiga tahun.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada air mata.

Tidak ada sapaan.

Hanya keheningan yang terasa lebih panjang daripada seluruh pernikahan mereka.

Laras bergerak cepat. Ia menarik kedua anaknya mendekat.

“Masuk.”

“Tapi Bunda, Arka mau main.”

“Nanti.”

Nada Laras tegas.

Kedua anak itu menurut.

Sebelum masuk, anak perempuan itu masih sempat menoleh kepada Raka.

Raka ingin memanggilnya.

Namun ia bahkan tidak tahu namanya.

Pintu hampir tertutup ketika Raka akhirnya berkata, “Laras.”

Perempuan itu berhenti.

“Aku cuma ingin bicara.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

“Anak-anak itu anakku?”

Pertanyaan itu membuat tangan Laras yang memegang gagang pintu mengencang.

Beberapa detik kemudian ia menoleh.

“Setelah tiga tahun, baru sekarang kamu bertanya?”

Raka tidak mampu menjawab.

Laras keluar dan menutup pintu di belakangnya.

“Apa yang kamu inginkan?”

“Aku ingin tahu kebenarannya.”

“Kebenaran yang mana?”

Laras tertawa kecil, tetapi matanya mulai memerah.

“Kebenaran bahwa aku sudah hamil ketika kita bercerai? Atau kebenaran bahwa aku pernah mencoba memberitahumu?”

Raka menatapnya.

“Kamu mencoba memberitahuku?”

Laras mengangguk perlahan.

“Hari ketika aku keluar dari kamar mandi membawa sesuatu, apa kamu ingat?”

Raka langsung teringat.

Benda kecil di tangan Laras.

Wajah pucat.

Mata penuh harapan.

“Itu alat tes kehamilan.”

Dada Raka terasa dihantam.

“Dua garis.”

Laras melanjutkan.

“Aku menunggu hampir satu jam di depan ruang kerjamu. Tapi kamu sedang menelepon klien. Setelah selesai, kamu keluar dan mengatakan kamu harus pergi makan malam dengan investor.”

Raka menunduk.

“Aku berniat memberitahumu malam itu.”

“Kenapa tidak?”

Laras menatapnya lama.

“Karena ibumu datang lebih dulu.”

Raka mengangkat wajah.

Laras mengusap sudut matanya.

“Dia menemukan hasil pemeriksaan dari dokter kandungan di kamarku.”

“Apa?”

“Dia tahu aku hamil.”

Raka merasa seluruh tubuhnya menegang.

“Kenapa Mama tidak pernah bilang?”

“Karena dia tidak ingin kamu tahu.”

Raka menatap Laras seolah tidak memahami bahasa yang baru saja didengarnya.

“Itu tidak masuk akal.”

“Bagiku juga begitu.”

Laras menghela napas panjang.

“Ibumu mengatakan perusahaan sedang berada dalam tahap penting. Kamu akan ekspansi ke Singapura. Dia bilang anak akan mengganggu fokusmu.”

Raka menggeleng.

“Mama sangat ingin punya cucu.”

“Cucu yang dia inginkan.”

Laras menatap lurus kepadanya.

“Bukan cucu dariku.”

Kalimat itu membuat Raka terdiam.

Ia teringat bagaimana ibunya selalu menganggap keluarga Laras terlalu sederhana.

Ayah Laras hanya seorang guru SMA. Ibunya memiliki toko kecil. Tidak ada jaringan bisnis, tidak ada nama keluarga besar.

Bu Ratna tidak pernah menyembunyikan kekecewaannya ketika Raka memilih menikahi Laras.

“Dia menyuruhku menggugurkan kandungan.”

Wajah Raka seketika kehilangan warna.

“Apa?”

“Aku menolak.”

Suara Laras bergetar.

“Setelah itu dia mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan. Katanya kalau aku mempertahankan bayi-bayi itu, dia akan memastikan kamu menceraikanku.”

Raka mundur satu langkah.

Perceraian mereka memang terjadi beberapa minggu kemudian.

Pertengkaran kecil berubah menjadi besar.

Ibunya terus mengatakan Laras tidak cocok dengannya. Bahwa Laras terlalu emosional. Terlalu menuntut perhatian. Tidak mendukung kariernya.

Dan Raka percaya.

“Aku bodoh,” bisiknya.

Laras tersenyum getir.

“Bukan hanya bodoh, Raka. Kamu tidak pernah bertanya.”

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada makian.

Karena benar.

Selama pernikahan mereka, Raka selalu menganggap menyediakan rumah besar, kartu kredit, mobil dan segala kebutuhan Laras berarti ia sudah menjadi suami yang baik.

Ia tidak pernah menyadari bahwa Laras tidak membutuhkan semua itu.

Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

“Kenapa kamu tidak menghubungiku setelah pergi?”

“Aku mencoba.”

Raka terdiam.

“Tiga kali.”

Laras mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah folder lama.

Ada tangkapan layar pesan.

Pesan pertama dikirim dua hari setelah perceraian.

Raka, aku perlu bicara tentang sesuatu yang penting.

Tidak dibalas.

Pesan kedua.

Tolong hubungi aku kalau kamu punya waktu.

Tidak dibalas.

Pesan ketiga dikirim hampir sebulan kemudian.

Aku akan berhenti menghubungimu setelah ini. Semoga suatu hari nanti kamu memahami apa yang sudah kamu kehilangan.

Raka memandangi layar itu.

“Aku tidak pernah menerima pesan ini.”

“Aku tahu.”

Laras memasukkan ponselnya kembali.

“Nomorku diblokir dari ponselmu.”

Raka langsung memahami.

Hanya ada satu orang yang saat itu sering memiliki akses ke ponselnya.

Ibunya.

Suara pintu terbuka terdengar.

Seorang laki-laki keluar membawa dua botol susu.

Usianya sekitar tiga puluhan, mengenakan kaus sederhana dan celana panjang.

Raka langsung mengenali suaranya.

Laki-laki di telepon.

Ia berdiri di samping Laras.

“Kamu baik-baik saja?”

Laras mengangguk.

Raka menatap mereka.

“Suamimu?”

Laras belum sempat menjawab ketika laki-laki itu tersenyum.

“Saya Dimas.”

Ia mengulurkan tangan.

Raka tidak menyambutnya.

Dimas menarik tangannya kembali.

“Saya kakak Laras.”

Raka membeku.

“Kakak?”

“Nomor itu milik saya. Laras mengganti nomor sejak lama. Ketika Anda menelepon tadi malam, saya tahu siapa Anda.”

“Kenapa bilang dia istrimu?”

Dimas menatap Raka tanpa rasa bersalah.

“Saya ingin tahu bagaimana rasanya ketika sesuatu yang Anda anggap masih mungkin menjadi milik Anda ternyata sudah menjadi milik orang lain.”

Raka tidak bisa membalas.

Dimas kemudian masuk kembali.

Laras menatap Raka.

“Aku belum menikah lagi.”

Entah mengapa informasi itu membuat Raka lega sekaligus malu karena merasa lega.

“Nama mereka?”

Raka bertanya pelan.

“Arka dan Ara.”

Raka mengulang kedua nama itu di dalam hati.

“Boleh aku bertemu mereka?”

Laras menggeleng.

“Tidak hari ini.”

“Mereka anakku.”

“Secara biologis mungkin.”

Jawaban itu menusuk.

“Tapi menjadi ayah bukan soal DNA saja.”

Raka mengatupkan rahang.

“Aku ingin memperbaikinya.”

“Kamu tidak bisa memperbaiki tiga tahun dalam satu hari.”

“Aku tahu.”

“Tidak, kamu belum tahu.”

Laras menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu tidak tahu bagaimana rasanya melahirkan dua bayi dan tidak ada suami yang menggenggam tanganmu. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya Arka demam sampai hampir kejang saat usianya delapan bulan. Kamu tidak tahu Ara baru bisa berjalan setelah terapi berbulan-bulan karena perkembangan motoriknya terlambat.”

Raka tidak mampu menatapnya.

“Kamu juga tidak tahu kata pertama mereka.”

Air mata Laras akhirnya jatuh.

“Jadi jangan datang ke sini lalu berkata mereka anakmu seolah darah memberimu hak atas semua yang sudah kulewati.”

Raka mengangguk perlahan.

“Aku tidak akan mengambil mereka darimu.”

Laras terdiam.

“Aku cuma ingin diberi kesempatan mengenal mereka.”

Saat itulah suara mobil terdengar berhenti di depan rumah.

Sebuah sedan hitam.

Raka langsung mengenalinya.

Pintu terbuka.

Bu Ratna turun.

Wajah Raka berubah.

“Mama?”

Laras langsung pucat.

Bu Ratna memandang Raka, lalu Laras.

Kemudian matanya tertuju pada dua anak yang mengintip dari balik jendela.

Ekspresinya berubah drastis.

“Jadi benar.”

Raka menatap ibunya tajam.

“Bagaimana Mama tahu aku di sini?”

“Bagas.”

Raka mengepalkan tangan.

Bu Ratna berjalan mendekati rumah.

“Mana cucu Mama?”

Laras segera berdiri menghalangi.

“Jangan mendekati mereka.”

Bu Ratna berhenti.

“Kamu menyembunyikan cucu keluarga Pradana selama hampir tiga tahun dan sekarang berani melarang saya?”

“Cukup, Ma.”

Raka berdiri di antara mereka.

Bu Ratna menatap putranya.

“Raka, bawa anak-anak itu pulang. Kita urus secara hukum.”

Laras terlihat gemetar.

Namun kali ini Raka tidak diam.

“Tidak.”

Bu Ratna tercengang.

“Apa?”

Raka menatap ibunya.

“Dulu Mama tahu Laras hamil?”

Keheningan mendadak jatuh.

Bu Ratna tidak menjawab.

Dan diam itu sudah cukup.

Raka merasa sesuatu dalam dirinya runtuh.

“Mama memblokir nomornya?”

“Raka, Mama melakukan semua itu demi kamu.”

“Demi aku?”

Suara Raka meninggi untuk pertama kalinya.

“Mama menyuruh istriku menggugurkan anak-anakku!”

“Karena waktu itu hidupmu sedang menuju puncak! Perempuan ini akan menahanmu!”

Raka menatap ibunya seolah sedang melihat orang asing.

“Tidak, Ma.”

Suaranya justru menjadi tenang.

“Yang menghancurkan keluarga saya bukan Laras.”

Bu Ratna terdiam.

“Saya sendiri.”

Raka menoleh kepada Laras.

“Karena saya membiarkan Mama menentukan siapa yang pantas saya dengarkan.”

Bu Ratna mencoba meraih lengannya, tetapi Raka mundur.

“Pulanglah.”

“Raka.”

“Pulang.”

Untuk pertama kalinya, Bu Ratna tidak memiliki jawaban.

Ia kembali ke mobil dengan wajah penuh amarah.

Setelah mobil itu menghilang, Raka berdiri lama di depan Laras.

“Aku tidak akan meminta kamu memaafkanku.”

Laras tidak berkata apa-apa.

“Aku juga tidak akan menuntut hak apa pun sebelum tes DNA dan sebelum kamu siap.”

Raka mengeluarkan kartu nama dari dompetnya, tetapi kemudian tersenyum pahit dan memasukkannya kembali.

“Kamu sudah tahu cara menghubungiku.”

Ia berbalik.

Baru beberapa langkah, terdengar suara kecil dari belakang.

“Om!”

Raka berhenti.

Arka berdiri di ambang pintu.

Tangannya memegang mobil-mobilan.

Ara bersembunyi di belakang kakaknya.

“Om mau pulang?”

Raka berjongkok agar sejajar dengannya.

“Iya.”

“Besok datang lagi?”

Pertanyaan sederhana itu membuat tenggorokan Raka tercekat.

Ia menatap Laras.

Laras diam cukup lama.

Kemudian berkata pelan, “Kalau kamu mau, datang jam empat sore. Mereka biasanya bermain di taman.”

Raka hampir tidak percaya.

Ia mengangguk.

“Terima kasih.”

Hari berikutnya Raka datang tepat pukul empat.

Ia membawa dua tas besar berisi mainan mahal.

Laras melihatnya dan menghela napas.

“Kembalikan.”

Raka bingung.

“Kenapa?”

“Kalau kamu ingin mengenal anak-anakmu, jangan mulai dengan membeli kasih sayang mereka.”

Raka menatap tas di tangannya, lalu meletakkannya kembali di mobil.

Hari itu ia bermain bola dengan Arka dan membantu Ara menyusun balok.

Tidak ada pembicaraan tentang perusahaan.

Tidak ada telepon.

Tidak ada rapat.

Ketika ponselnya berdering, Raka mematikannya.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa tidak sedang kehilangan waktu.

Ia justru sedang mendapatkannya kembali.

Beberapa minggu kemudian, tes DNA dilakukan.

Hasilnya 99,99 persen.

Arka dan Ara adalah anak biologis Raka.

Namun hal paling mengejutkan justru datang ketika dokter menyerahkan berkas medis lama milik Laras.

Ada satu catatan dari masa kehamilannya.

Kehamilan kembar berisiko tinggi.

Dokter pernah menyarankan Laras menghubungi keluarga karena kondisinya berpotensi membutuhkan transfusi dan tindakan darurat.

Di bawah catatan itu terdapat nama kontak darurat.

Raka Pradana.

Nomor telepon Raka.

Dan sebuah catatan kecil tulisan tangan Laras.

Jika terjadi sesuatu pada saya, tolong selamatkan anak-anak saya dan beri tahu ayah mereka bahwa saya tidak pernah membencinya.

Raka membaca kalimat itu berulang kali.

Tangannya mulai gemetar.

Tiga tahun lalu ia mengira Laras pergi karena tidak lagi mencintainya.

Ternyata perempuan itu pergi sambil membawa dua anaknya dan tetap mencantumkan namanya sebagai orang pertama yang harus diberi tahu jika ia meninggal.

Raka menutup wajahnya.

Untuk pertama kalinya sejak menjadi dewasa, ia menangis tanpa mencoba menyembunyikannya.

Setahun kemudian, Raka belum kembali menjadi suami Laras.

Laras juga belum pernah menjanjikan bahwa mereka akan menikah lagi.

Namun setiap Jumat sore, sebuah mobil dari Jakarta berhenti di depan rumah sederhana itu.

Arka biasanya berlari paling cepat.

“Ayah datang!”

Ara akan menyusul sambil membawa boneka kelincinya.

Raka selalu berjongkok dan membuka kedua lengannya.

Ia tidak lagi membawa hadiah mahal.

Kadang hanya membawa roti dari stasiun.

Kadang buku cerita.

Kadang tidak membawa apa-apa.

Karena akhirnya ia memahami sesuatu yang dulu tidak pernah diajarkan oleh uang maupun kesuksesan.

Kehadiran tidak bisa digantikan oleh hadiah.

Kepercayaan tidak bisa dibeli.

Dan keluarga bukanlah sesuatu yang otomatis menjadi milik kita hanya karena memiliki darah yang sama.

Suatu sore, setelah anak-anak tertidur, Laras duduk di teras bersama Raka.

“Aku mau tanya sesuatu,” katanya.

Raka menoleh.

“Kenapa kamu terus datang? Jakarta dan Yogyakarta bukan perjalanan dekat.”

Raka tersenyum kecil.

“Dulu aku selalu bilang tidak punya waktu untukmu.”

Ia memandang dua sepeda kecil di halaman.

“Ternyata aku punya waktu. Aku cuma salah memilih untuk siapa waktu itu kuberikan.”

Laras terdiam.

Kemudian, untuk pertama kalinya setelah hampir empat tahun, ia tersenyum kepadanya tanpa kepahitan.

Raka tidak tahu apakah senyum itu berarti kesempatan kedua.

Ia tidak bertanya.

Untuk sekali ini, ia tidak terburu-buru mendapatkan jawaban.

Dari dalam rumah terdengar suara Ara mengigau memanggil ayahnya.

Raka langsung berdiri.

Laras memandangnya masuk ke dalam rumah, lalu menatap langit senja Yogyakarta.

Tiga tahun lalu ia pergi dari Jakarta membawa dua kehidupan kecil di dalam rahimnya dan sebuah hati yang sudah hancur.

Ia pernah berpikir perceraian adalah akhir dari keluarganya.

Ternyata ia salah.

Kadang sebuah keluarga tidak kembali karena seseorang meminta maaf.

Ia kembali perlahan, melalui ratusan tindakan kecil yang membuktikan bahwa penyesalan benar-benar telah berubah menjadi tanggung jawab.

Dan bagi Raka, hukuman terbesar atas masa lalunya bukanlah kehilangan Laras.

Melainkan menyadari bahwa dua anak yang memiliki wajah persis dirinya pernah tumbuh selama dua setengah tahun tanpa mengenal wajah ayah mereka.

Karena itu, ketika Ara terbangun malam itu dan mengulurkan kedua tangan kecilnya sambil berkata, “Ayah, jangan pulang dulu,” Raka memeluknya erat.

“Ayah di sini.”

Kali ini, ia memastikan kata-kata itu bukan sekadar janji.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang