Saat Menolong Seorang Ibu Melahirkan, Aku Menemukan Nama Suamiku Tertulis sebagai Ayah Bayinya

Aku menatap layar komputer cukup lama sampai angka Rp4,5 miliar itu terasa seperti ejekan.

Lima tahun menikah.

Lima tahun aku mempercayakan punggungku kepada seorang laki-laki yang setiap pagi mencium keningku sebelum berangkat kerja.

Dan ternyata, saat aku sibuk menyelamatkan anak orang lain, dia diam-diam sedang membangun masa depan untuk anaknya bersama perempuan lain.

Aku tidak menangis.

Entah karena terlalu marah atau karena rasa sakitnya sudah melampaui batas yang bisa diterjemahkan menjadi air mata.

Aku mengunduh seluruh mutasi rekening selama dua tahun terakhir.

Transfer Rp60 juta kepada PT Nadi Samudra ternyata baru dimulai delapan bulan lalu. Sebelumnya, ada beberapa pembayaran dengan nominal lebih kecil kepada sebuah klinik kandungan swasta di Bekasi, toko perlengkapan bayi, dan agen properti.

Satu transaksi membuat tanganku berhenti.

Rp780 juta.

Uang muka sebuah apartemen di kawasan Summarecon Bekasi.

Tanggal pembayarannya tepat pada hari ulang tahunku tahun lalu.

Hari itu Raka datang ke rumah hampir tengah malam sambil membawa bunga.

Dia memelukku dari belakang dan berkata rapat direksi berlangsung sangat lama.

Ternyata dia memang sedang mempersiapkan rumah.

Hanya saja bukan untuk kami.

Aku menutup laptop ketika terdengar ketukan pintu.

“Masuk.”

Sekretaris departemen menyerahkan jadwal operasi siang itu. Aku membacanya seperti biasa, menandatangani beberapa dokumen, lalu kembali bekerja.

Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa pernikahanku sedang runtuh.

Menjelang sore, ponselku berbunyi.

Raka.

“Sayang, aku pulang malam ini. Nadia sudah stabil.”

“Baik.”

“Kamu mau makan apa?”

“Apa saja.”

Dia tertawa kecil.

“Kok dingin sekali? Masih marah?”

Aku memandang foto hasil pemeriksaan kehamilan Nadia yang tersimpan di ponselku.

“Tidak.”

“Syukurlah. Aku takut kamu salah paham.”

Aku hampir tertawa.

Ternyata kebohongan yang diulang berkali-kali memang bisa terdengar seperti kebenaran bagi orang yang mengucapkannya.

Malam itu Raka pulang pukul sembilan.

Dia membawa sekotak macaron dan iga asam manis dari restoran yang biasa kami kunjungi.

Begitu masuk, dia mencium keningku seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

“Maaf soal kemarin.”

Aku tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

Dia tampak lega.

Saat makan malam, aku sengaja bertanya, “Bagaimana kondisi Nadia?”

“Sudah lebih baik.”

“Bayinya?”

“Juga sehat.”

“Papamu senang?”

Tangan Raka yang sedang mengambil nasi berhenti sepersekian detik.

“Ya. Mau bagaimana lagi? Anak sendiri.”

Aku mengangguk.

“Benar juga.”

Malam itu dia tidur nyenyak di sampingku.

Sementara aku berbaring dengan mata terbuka sampai pukul tiga pagi.

Untuk pertama kalinya selama lima tahun, aku memperhatikan wajah suamiku seperti memperhatikan orang asing.

Aku teringat semua malam ketika dia berkata sedang lembur.

Semua perjalanan bisnis ke Bekasi.

Semua telepon yang dia jawab di balkon.

Semua parfum asing yang pernah tercium samar di mobilnya dan selalu dia katakan berasal dari klien perempuan.

Pagi berikutnya, setelah Raka pergi bekerja, aku mengambil satu helai rambut dari sisirnya dan memasukkannya ke dalam kantong kecil.

Aku tidak berniat melakukan sesuatu yang ilegal.

Aku hanya membutuhkan kepastian sebelum mengambil keputusan yang akan mengubah hidupku.

Kesempatan itu datang tiga hari kemudian.

Sebagai dokter yang menangani operasi Nadia, aku harus melakukan evaluasi pascaoperasi.

Ketika masuk ke kamar perawatan, Nadia sedang sendirian.

Wajahnya masih pucat.

Bayi laki-laki itu tidur di boks transparan di samping ranjang.

Aku berdiri beberapa detik memandangnya.

Hidungnya kecil.

Rambutnya hitam lebat.

Dan di bawah telinga kirinya terdapat tanda lahir kecil berwarna kecokelatan.

Dadaku langsung berdenyut.

Raka memiliki tanda lahir hampir sama di tempat yang sama.

“Dokter Maya?”

Suara Nadia membuatku mengangkat kepala.

Dia mengenaliku.

Bukan sebagai dokter.

Tatapannya menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.

“Kamu tahu siapa saya?” tanyaku.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

“Saya dokter yang mengoperasi kamu.”

Aku menarik kursi dan duduk.

“Juga istri Raka.”

Jari Nadia mencengkeram selimut.

Ruangan mendadak sunyi.

“Aku tidak datang untuk bertengkar,” kataku.

“Aku hanya ingin mendengar satu jawaban.”

Aku menunjuk bayi itu.

“Siapa ayahnya?”

Bibir Nadia gemetar.

“Pak Surya.”

Aku tersenyum tipis.

“Kamu ingin aku memanggil keluarga Raka sekarang dan menanyakan langsung kepada Pak Surya?”

Nadia membeku.

Aku melanjutkan dengan tenang.

“Pak Surya mengalami stroke enam bulan lalu. Tapi kehamilanmu sudah tiga puluh delapan minggu.”

“Aku punya catatan pemeriksaanmu.”

“Aku juga punya bukti Raka membayar apartemenmu dan mengirim uang setiap bulan.”

“Jadi jangan buang waktu kita.”

Air mata mulai memenuhi mata Nadia.

Beberapa detik kemudian, pertahanannya runtuh.

“Raka bilang dia akan menceraikan Dokter.”

Aku tidak bergerak.

“Sejak kapan kalian bersama?”

“Hampir dua tahun.”

Jawabannya menusuk lebih dalam daripada yang kuduga.

“Dia bilang pernikahan kalian sudah lama tidak bahagia.”

Nadia menangis.

“Dia bilang Dokter tidak ingin punya anak.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena kalimat itu terlalu kejam.

“Aku mengalami keguguran dua tahun lalu.”

Nadia langsung menatapku.

“Raka bilang Dokter sengaja menggugurkannya karena lebih memilih karier.”

Untuk pertama kalinya, emosiku hampir pecah.

Aku menggenggam kedua tangan di bawah meja.

Kehamilan itu adalah sesuatu yang paling kami nantikan.

Aku kehilangan bayi kami pada usia sebelas minggu setelah mengalami perdarahan saat sedang bertugas.

Malam itu Raka memelukku sampai pagi.

Dia berkata berkali-kali bahwa itu bukan kesalahanku.

Dan kepada perempuan ini, dia mengubah kehilangan terbesar dalam hidupku menjadi kebohongan untuk membenarkan perselingkuhannya.

“Dia juga bilang rumah tangga kalian hanya dipertahankan karena aset keluarga,” lanjut Nadia lirih.

“Dia berjanji setelah anak kami lahir, semuanya akan selesai.”

Aku menatap bayi yang sedang tidur.

“Rp4,5 miliar itu untuk apa?”

Nadia terkejut.

“Aku tidak tahu.”

“Kamu yakin?”

“Demi Tuhan, saya tidak tahu.”

Ketakutannya terlihat nyata.

Aku bangkit.

Sebelum pergi, Nadia tiba-tiba berkata, “Dokter.”

Aku berhenti.

“Raka pernah bilang sesuatu yang aneh.”

Aku menoleh.

“Dia bilang setelah anak kami lahir, Dokter akan menandatangani beberapa dokumen investasi. Setelah itu kami bisa pergi.”

Tubuhku mendadak dingin.

“Dokumen apa?”

“Saya tidak tahu.”

Aku meninggalkan kamar tanpa mengatakan apa pun.

Sore itu aku langsung menghubungi seorang pengacara keluarga yang sudah kukenal sejak lama, Pak Adrian.

Setelah mendengar semuanya, dia hanya mengatakan satu kalimat.

“Jangan tanda tangani dokumen apa pun dari suamimu.”

Dua hari kemudian, alasan sebenarnya akhirnya muncul.

Raka datang ke ruang kerjaku membawa sebuah map hitam.

“Ada sebentar?”

Aku memandang map tersebut.

“Apa itu?”

“Dokumen investasi yang pernah kita bahas.”

Dia duduk di depanku.

“Dana Rp4,5 miliar kemarin sudah kupindahkan sebagai tahap awal. Tapi untuk aktivasi portofolio luar negeri, perlu tanda tanganmu karena rekening asal atas nama bersama.”

Aku membuka map itu.

Dokumennya tebal dan penuh istilah hukum.

Raka tersenyum.

“Kamu kan sibuk. Aku sudah cek semuanya. Tinggal tanda tangan.”

Aku membalik beberapa halaman.

Di halaman belakang terdapat surat kuasa pengelolaan aset.

Jika kutandatangani, Raka memperoleh kewenangan luas untuk memindahkan investasi tertentu atas nama kami.

Aku menutup map.

“Boleh kubawa pulang dulu?”

Wajahnya berubah tipis.

“Untuk apa?”

“Aku mau baca.”

“Maya, kamu dokter. Bukan orang keuangan.”

Aku menatapnya.

“Justru karena aku bukan orang keuangan, aku perlu membacanya.”

Beberapa detik kami saling memandang.

Kemudian Raka tertawa.

“Ya sudah. Jangan terlalu lama.”

Aku membawa dokumen itu kepada Pak Adrian.

Hasil pemeriksaannya jauh lebih buruk dari perkiraanku.

Perusahaan investasi luar negeri yang tercantum di dokumen tersebut terhubung dengan sebuah entitas yang kepemilikan manfaatnya mengarah kepada Raka sendiri.

Jika surat kuasa kutandatangani, sebagian besar aset likuid kami bisa dipindahkan tanpa persetujuanku lagi.

“Dia sedang mempersiapkan jalan keluar,” kata Pak Adrian.

Aku memandang dokumen itu.

“Kalau begitu biarkan dia berpikir jalannya masih terbuka.”

Seminggu kemudian, Raka mengadakan makan malam keluarga untuk merayakan kepulangan ayahnya dari pusat rehabilitasi.

Pak Surya sudah bisa duduk di kursi roda dan berbicara meski pelan.

Mama Raka hadir.

Adik perempuan Raka juga datang bersama suaminya.

Di tengah makan malam, Raka kembali meletakkan map hitam di dekat tanganku.

“Maya, sekalian tanda tangan dokumen investasi kemarin. Papa juga ada, jadi bisa jadi saksi.”

Aku tersenyum.

“Boleh.”

Raka langsung mengambil pena.

Namun sebelum menerimanya, aku mengeluarkan sebuah amplop dari tas.

“Aku juga punya dokumen.”

Raka mengernyit.

“Dokumen apa?”

Aku meletakkannya di atas meja.

“Laporan transaksi rekening kita.”

Wajahnya langsung berubah.

Mama Raka memandang kami bergantian.

“Maksudnya apa?”

Aku mengeluarkan lembar berikutnya.

“Transfer bulanan Rp60 juta kepada PT Nadi Samudra.”

Kemudian satu lembar lagi.

“Uang muka apartemen Rp780 juta.”

Lembar berikutnya.

“Penarikan Rp4,5 miliar.”

Raka berdiri.

“Maya, jangan buat keributan di depan keluarga.”

Aku mengangkat kepala.

“Duduk.”

Entah karena nada suaraku atau karena semua orang sedang menatapnya, Raka akhirnya kembali duduk.

Aku menoleh kepada Pak Surya.

“Papa, saya mau bertanya.”

Wajah lelaki tua itu terlihat bingung.

“Apakah Papa mengenal Nadia Putri?”

Pak Surya mengerutkan kening.

“Siapa?”

Ruangan seketika sunyi.

Aku memandang Raka.

Wajahnya benar-benar pucat.

“Perempuan yang katanya Papa hamili.”

Mama Raka menjatuhkan sendok.

“Apa?”

Pak Surya memukul sandaran kursi rodanya.

“Saya tidak kenal perempuan itu!”

Raka langsung berdiri lagi.

“Papa sedang sakit. Ingatannya belum pulih sepenuhnya.”

“Cukup.”

Suara Mama Raka terdengar gemetar.

Aku mengeluarkan salinan catatan pemeriksaan Nadia.

“Selama tujuh bulan, Raka menandatangani pemeriksaan kehamilannya.”

Kemudian aku meletakkan foto bayi itu.

“Dan bayi tersebut laki-laki.”

Raka menatapku dengan mata melebar.

“Kamu bilang perempuan.”

“Aku berbohong.”

Aku menatapnya lurus.

“Dan kamu langsung membocorkan bahwa kamu sudah mengetahui jenis kelaminnya sejak pemeriksaan.”

Raka tidak mampu menjawab.

Aku mengeluarkan dokumen terakhir.

Bukan hasil tes DNA.

Melainkan surat permohonan perceraian dan permintaan pembekuan sementara atas aset yang sedang disengketakan, yang telah disiapkan melalui jalur hukum.

“Aku tidak membutuhkan tes DNA untuk mengetahui kamu berselingkuh,” kataku.

“Kalau nanti status biologis anak itu perlu dibuktikan untuk perkara hukum, biarkan prosedur resmi yang menentukan.”

Raka menatap dokumen itu seperti baru saja melihat jurang terbuka di bawah kakinya.

“Maya, dengarkan aku.”

“Aku sudah mendengarkanmu selama lima tahun.”

Dia mendekat.

“Aku memang salah. Tapi kita bisa memperbaikinya.”

Aku menatap laki-laki yang pernah kucintai lebih dari siapa pun.

Anehnya, saat itu aku tidak merasakan kebencian.

Hanya kelelahan.

“Kamu tahu kesalahan terbesarmu bukan karena jatuh cinta kepada perempuan lain.”

Matanya memerah.

“Kamu menggunakan keguguran anak kita untuk mengatakan kepada perempuan itu bahwa aku tidak menginginkan anak.”

Wajah Raka langsung runtuh.

“Aku bisa memaafkan banyak hal.”

Aku berdiri.

“Tapi aku tidak akan tinggal bersama seseorang yang menjadikan luka istrinya sebagai alasan untuk membenarkan pengkhianatannya.”

Aku meninggalkan rumah itu malam itu juga.

Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai setelah proses panjang mengenai aset dan transaksi keuangan.

Nadia tidak pernah menjadi musuhku.

Belakangan aku mengetahui bahwa sebagian cerita yang dia dengar tentangku memang berasal dari Raka. Dia juga akhirnya memilih menjauh dan mengurus anaknya sendiri setelah persoalan hukum mengenai tanggung jawab Raka diselesaikan melalui jalur resmi.

Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Sampai hampir setahun kemudian.

Suatu sore, sebuah paket kecil tiba di ruang kerjaku.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat sebuah foto bayi laki-laki yang kini sudah bisa berdiri sambil berpegangan pada meja.

Di belakang foto itu hanya ada tulisan tangan.

Terima kasih karena malam itu Anda menyelamatkan nyawa kami, meskipun Anda punya seribu alasan untuk membenci saya.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Kemudian aku memasukkan foto tersebut kembali ke amplop.

Pada hari operasi itu, aku pernah berpikir bahwa aku sedang menyelamatkan anak dari perempuan yang menghancurkan rumah tanggaku.

Baru sekarang aku mengerti.

Di ruang operasi, tidak ada istri yang dikhianati.

Tidak ada perempuan simpanan.

Tidak ada suami pembohong.

Yang ada hanya seorang dokter, seorang ibu yang hampir kehilangan nyawa, dan seorang bayi yang tidak pernah memilih bagaimana ia dilahirkan ke dunia.

Aku berjalan menuju jendela ruang kerja.

Jakarta sedang diguyur hujan.

Ponselku bergetar.

Pesan dari bagian administrasi rumah sakit muncul di layar.

Dokter Maya, hasil seleksi fellowship maternal fetal medicine di Singapura sudah keluar.

Saya langsung membukanya.

Di baris pertama tertulis satu kata yang selama berbulan-bulan tidak berani kuharapkan.

Diterima.

Aku tersenyum.

Setahun sebelumnya, aku mungkin akan langsung menelepon Raka untuk memberitahunya.

Kali ini tidak.

Aku hanya berdiri di depan jendela, memandang hujan yang perlahan membasahi kota.

Ternyata kehilangan seseorang tidak selalu berarti kehilangan masa depan.

Kadang-kadang, kita hanya sedang dipaksa melepaskan masa depan palsu agar akhirnya bisa berjalan menuju kehidupan yang benar-benar milik kita sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang