Petugas pemakaman menatapku cukup lama ketika aku menunjuk sebidang tanah kosong tepat di samping makam Ayah.
“Untuk siapa makam ini, Bu?”
Aku terdiam sejenak.
“Untuk saya.”
Wajahnya langsung berubah.
“Maksud Ibu?”
“Saya ingin membelinya sekarang. Tolong urus semuanya hari ini.”
Ia mungkin menganggapku aneh, tetapi setelah memastikan pembayaran masuk, ia tidak bertanya lagi.
Aku berdiri di depan makam Ayah ketika langit Surabaya mulai memucat.
“Ayah, sebentar lagi Kirana pulang.”
Aku tersenyum, meskipun mataku mulai panas.
“Maaf baru sekarang aku tahu bahwa selama ini ternyata aku tidak punya tempat untuk pulang.”
Aku membersihkan beberapa daun basah dari batu nisannya.
Dulu, sebelum meninggal, Ayah adalah satu-satunya orang di keluarga Maheswari yang tidak pernah membedakan aku dan Fikri.
Setelah Ayah pergi, semuanya berubah.
Fikri menjadi satu-satunya harapan keluarga.
Sementara aku menjadi seseorang yang boleh dikorbankan kapan saja.
Ponselku tiba-tiba bergetar.

Nama Arga muncul di layar.
Aku menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.
“Ya?”
“Kamu di mana?”
Suaranya terdengar lebih dingin daripada hujan semalam.
“Di luar.”
“Siapa yang mengizinkanmu pergi?”
Aku hampir tertawa.
Selama lima tahun, aku selalu memberi tahu Arga ke mana pun aku pergi. Bahkan ketika hanya keluar membeli obat, aku akan meninggalkan pesan kepada pelayan.
Hari ini untuk pertama kalinya aku pergi tanpa mengatakan apa pun.
“Mungkin mulai sekarang kamu harus membiasakan diri.”
Di ujung telepon terdengar keheningan.
“Apa maksudmu?”
Aku melihat batu nisan Ayah.
“Tidak apa-apa.”
“Kirana.”
Untuk pertama kalinya, nada suara Arga terdengar sedikit tidak sabar.
“Pulang.”
Aku menutup mata.
Kalau saja ia mengucapkan kata itu beberapa hari lebih awal, mungkin aku akan merasa bahagia sepanjang malam.
Namun sekarang kata pulang justru terdengar seperti lelucon.
“Aku ada urusan.”
“Aku bilang pulang.”
“Aku dengar.”
“Kalau begitu kenapa masih membantah?”
Aku tersenyum kecil.
“Karena aku bukan pelayanmu lagi, Arga.”
Telepon langsung sunyi.
Aku mematikannya.
Di rumah keluarga Pradana, Arga menatap layar ponselnya dengan wajah gelap.
Seorang pelayan berdiri di dekat pintu sambil menunduk.
“Tuan, sarapan sudah siap.”
“Panggil Kirana.”
“Nyonya Kirana belum pulang sejak semalam.”
Arga mengangkat kepala.
“Semalam?”
“Iya, Tuan.”
Entah mengapa dadanya tiba-tiba terasa tidak nyaman.
Ia menggerakkan kursi rodanya menuju ruang makan.
Biasanya Kirana sudah menyiapkan obatnya di sebelah mangkuk bubur.
Namun pagi itu meja kosong.
Tidak ada air hangat.
Tidak ada obat.
Tidak ada perempuan yang akan mengingatkannya bahwa obat lambung harus diminum sebelum sarapan.
Arga mendadak kehilangan selera makan.
Saat kembali ke kamar, matanya tanpa sengaja jatuh ke tempat sampah.
Selimut yang semalam diperintahkannya untuk dibuang masih berada di sana.
Di salah satu ujungnya terdapat noda kecokelatan.
Arga mengernyit.
“Ini apa?”
Pelayan yang sedang membersihkan kamar menoleh.
“Saya tidak tahu, Tuan. Sepertinya darah.”
Jantung Arga seolah berhenti sesaat.
“Darah?”
“Kemarin tangan Nyonya Kirana memang terluka.”
“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”
Pelayan itu tampak bingung.
“Tuan melihatnya sendiri kemarin.”
Kalimat itu membuat Arga terdiam.
Benar.
Ia melihat pakaian Kirana basah.
Ia melihat wajahnya pucat.
Ia bahkan melihat tangannya penuh luka.
Namun ia tidak bertanya.
Arga memalingkan wajah.
“Keluar.”
Setelah pelayan pergi, ia menatap selimut itu lama sekali.
Kemudian ia mengambil ponsel dan menelepon Kirana lagi.
Tidak dijawab.
Siang itu aku kembali ke pusat kota.
Waktuku tinggal beberapa jam.
Aku menjual beberapa perhiasan yang dahulu diberikan keluarga Pradana kepadaku. Sebagian uangnya kuberikan kepada yayasan yang pernah merawat Ayah saat sakit.
Sisanya kugunakan untuk melunasi biaya pemakaman.
Ketika keluar dari gedung, aku melihat sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan.
Galang turun.
Ia menatapku dengan terkejut.
“Kirana?”
Aku berjalan melewatinya.
Namun Galang segera menahan lenganku.
“Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali.”
Aku menarik tanganku.
“Jangan sentuh aku.”
Galang mengerutkan kening.
“Aku dengar kamu meminta cerai dari Kak Arga.”
“Cepat sekali beritanya sampai kepadamu.”
“Kamu serius?”
Aku menatapnya.
“Bukankah itu yang kalian inginkan sejak awal?”
Ekspresinya berubah.
“Apa maksudmu?”
“Lima tahun lalu, kamu bilang keluargaku menerima Rp99 miliar karena kamu ingin menyelamatkan mereka.”
Aku mendekat satu langkah.
“Ternyata uang itu adalah harga untuk menjualku kepada kakakmu.”
Wajah Galang memucat.
“Kamu tahu dari siapa?”
“Jadi benar.”
Ia terdiam.
Aku tertawa kecil.
“Galang, dulu aku benar-benar menganggapmu penyelamat.”
“Kirana, dengarkan aku dulu.”
“Tidak perlu.”
“Aku melakukan itu karena Kak Arga membutuhkan seseorang.”
“Lalu kenapa harus aku?”
Galang mengepalkan tangan.
“Karena waktu itu aku tidak punya pilihan.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Semua orang selalu bilang tidak punya pilihan ketika yang dikorbankan adalah hidup orang lain.”
Galang tidak mampu menjawab.
Aku berbalik.
Namun sebelum pergi, ia berkata, “Kirana, ada sesuatu yang tidak kamu tahu tentang kecelakaan Kak Arga.”
Langkahku berhenti.
“Kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa.”
Aku menoleh.
Galang menatap sekeliling sebelum merendahkan suara.
“Enam tahun lalu, rem mobil Kak Arga sengaja dirusak.”
Aku membeku.
“Dan orang yang seharusnya berada di mobil itu sebenarnya aku.”
Galang menelan ludah.
“Kak Arga menggantikanku pergi ke pertemuan hari itu. Dia yang mengalami kecelakaan.”
“Siapa yang merusak remnya?”
Galang menggeleng.
“Kami tidak pernah menemukan bukti.”
Aku menatapnya beberapa saat.
Anehnya, aku tidak lagi ingin mengetahui jawabannya.
Aku sudah mati.
Rahasia orang hidup tidak lagi menjadi urusanku.
“Aku harus pergi.”
“Kirana.”
Aku terus berjalan.
“Kirana!”
Aku tidak menoleh lagi.
Sementara itu, Arga mulai merasa ada sesuatu yang salah.
Kirana tidak pernah menghilang selama ini.
Ia memerintahkan sopir mencari ke rumah keluarga Maheswari.
Jawaban yang dibawa pulang justru membuat wajahnya berubah.
“Nyonya Kirana tidak masuk ke rumah, Tuan.”
“Tidak masuk?”
“Menurut kamera keamanan, beliau berdiri di depan rumah sejak tengah malam sampai pagi.”
Arga mencengkeram sandaran kursi rodanya.
“Kenapa?”
“Kode pintunya sudah diganti.”
Arga terdiam lama.
Kemudian ia memerintahkan, “Bawa aku ke sana.”
Ketika mobil keluarga Pradana berhenti di depan rumah Maheswari, Bu Yuni langsung keluar menyambut.
“Tuan Arga, kenapa datang mendadak?”
“Di mana Kirana?”
Bu Yuni tersenyum kaku.
“Bukankah dia tinggal bersama Anda?”
“Kemarin malam dia datang ke sini.”
Wajah Bu Yuni berubah sesaat.
“Ah, mungkin dia hanya lewat.”
Arga menatapnya tajam.
“Dia berdiri di luar rumah sampai pagi.”
Fikri yang baru keluar dari dalam langsung terdiam.
Arga memperhatikan ekspresi mereka.
“Kenapa kalian mengganti kode rumah tanpa memberitahunya?”
Bu Yuni terlihat tidak nyaman.
“Itu urusan keluarga kami.”
Arga tertawa dingin.
“Urusan keluarga?”
Tatapannya semakin tajam.
“Lima tahun lalu kalian menerima Rp99 miliar. Bukankah sejak saat itu kalian sudah berhenti menganggap Kirana keluarga?”
Wajah Bu Yuni langsung pucat.
Fikri buru-buru berkata, “Tuan Arga, waktu itu keluarga Pradana sendiri yang menawarkan uang.”
“Jadi kalian memang tahu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Arga menatap mereka satu per satu.
“Dia tidak tahu?”
Tak seorang pun menjawab.
Arga akhirnya memahami semuanya.
Selama lima tahun ia membenci Kirana karena mengira perempuan itu sengaja menikah dengannya demi uang.
Ia menganggap semua perhatian Kirana hanyalah sandiwara.
Namun ternyata Kirana juga korban.
Tangannya mulai gemetar.
“Pulang.”
Sopir segera mendorong kursi rodanya keluar.
Begitu tiba di rumah, Arga langsung menuju ruang kerja.
Entah mengapa ia teringat ekspresi Kirana semalam.
Selama lima tahun perempuan itu selalu menatapnya dengan hati-hati.
Namun semalam tatapannya berbeda.
Seolah sedang mengucapkan selamat tinggal.
Arga membuka laci meja.
Laci pertama kosong.
Ia membuka laci kedua.
Tangannya berhenti.
Di atas benda-benda peninggalan Selina terdapat sebuah amplop.
Tulisan di atasnya hanya dua kata.
Untuk Arga.
Ia membukanya.
Semakin banyak membaca, semakin pucat wajahnya.
Ketika melihat salinan dokumen perceraian, napasnya menjadi berat.
Namun ada sesuatu yang lebih mengganggunya.
Tulisan Kirana.
Huruf-huruf terakhir terlihat sangat kacau, seperti ditulis oleh tangan yang hampir tidak bisa bergerak.
Arga tiba-tiba teringat luka di tangan Kirana.
Pakaian basah.
Wajah pucat.
Tubuh yang jatuh ke dadanya.
Tangannya yang dingin.
Sangat dingin.
Arga langsung mengambil ponsel.
“Cari Kirana sekarang.”
Beberapa menit kemudian, kepala keamanan menelepon.
“Tuan, kami menemukan rekaman CCTV dari pantai.”
“Apa?”
“Kemarin sore Nyonya Kirana terseret ombak.”
Arga tidak bernapas.
“Lalu?”
Suara di seberang terdengar ragu.
“Tim penyelamat menemukan tubuhnya sekitar satu jam kemudian.”
Arga mencengkeram ponsel.
“Tubuhnya?”
“Iya, Tuan.”
“Maksudmu apa?”
“Menurut laporan petugas medis, Nyonya Kirana sudah tidak memiliki tanda-tanda kehidupan ketika ditemukan.”
Ponsel terlepas dari tangan Arga.
Tidak mungkin.
Kalau Kirana meninggal kemarin sore, lalu siapa yang pulang membawa cincin?
Siapa yang menyelimutinya?
Siapa yang berlutut semalaman?
Siapa yang tadi pagi berbicara dengannya melalui telepon?
Arga berteriak kepada sopir.
“Cari dia!”
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, kepanikan memenuhi wajah lelaki itu.
Mereka akhirnya menemukan jejak transaksi terakhir Kirana.
Pembelian sebuah lahan makam.
Di samping makam ayahnya.
Saat Arga tiba di pemakaman, matahari hampir tenggelam.
Aku sedang duduk di samping batu nisan Ayah.
Tubuhku semakin transparan.
Aku tahu waktuku hampir habis.
Dari kejauhan terdengar suara roda kursi bergerak cepat di atas jalan batu.
“Kirana!”
Aku menoleh.
Arga.
Wajahnya tidak lagi sedingin biasanya.
Ia terlihat kacau.
“Kamu kenapa?”
Aku tersenyum.
“Bukankah seharusnya kamu sedang mempersiapkan pernikahan Galang?”
Arga berhenti tepat di depanku.
“Kamu meninggal kemarin.”
Aku terdiam.
Jadi ia sudah tahu.
“Kenapa kamu masih ada di sini?”
“Aku hanya diberi waktu tiga hari.”
Suara Arga bergetar.
“Untuk apa?”
Aku menatapnya.
“Untuk mengakhiri ikatan pernikahan kita.”
Wajahnya kehilangan warna.
Aku menunjukkan dokumen perceraian.
“Sudah selesai.”
“Kirana.”
“Sekarang kamu bebas.”
Arga meraih tanganku.
Begitu menyentuhnya, seluruh tubuhnya gemetar karena tanganku sedingin batu.
“Kenapa tidak bilang?”
Aku tersenyum.
“Kalau kubilang, apa kamu akan percaya?”
Arga tidak menjawab.
“Dan sekalipun percaya, apa yang akan berubah?”
Aku menarik tanganku perlahan.
“Selama lima tahun aku mencoba membuatmu percaya bahwa aku tidak pernah menginginkan uang keluarga Pradana.”
Mataku mulai basah.
“Kamu tidak pernah percaya.”
“Aku salah.”
Itulah pertama kalinya aku mendengar Arga mengucapkan dua kata itu kepadaku.
“Aku tahu semuanya sekarang.”
Ia menundukkan kepala.
“Galang. Ibumu. Fikri. Aku tahu kamu tidak pernah memilih pernikahan ini.”
Aku menatapnya.
“Sudah terlambat.”
“Aku bisa memperbaikinya.”
Aku tertawa kecil.
“Bagaimana caranya memperbaiki hidup orang yang sudah mati?”
Arga terdiam.
Langit semakin gelap.
Aku merasakan tubuhku semakin ringan.
Waktunya tiba.
Arga tiba-tiba meraih tanganku lagi.
“Kirana, jangan pergi.”
Aku menatapnya terkejut.
Selama lima tahun, lelaki ini berkali-kali menyuruhku pergi dari hadapannya.
Hari ini untuk pertama kalinya ia memintaku tinggal.
“Arga.”
“Aku belum menjawab pertanyaanmu dengan jujur.”
Aku menatapnya.
Ia menggenggam tanganku semakin erat.
“Ketika kamu bertanya apakah selama lima tahun aku pernah menyukaimu, aku berbohong.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Aku mulai menyukaimu sejak tahun kedua.”
“Lalu kenapa?”
“Karena aku takut.”
Suaranya pecah.
“Aku takut semua perhatianmu hanya karena rasa bersalah. Aku takut kamu masih mencintai Galang. Dan aku terlalu sombong untuk mengakui bahwa aku membutuhkanmu.”
Aku menutup mata.
Ternyata lima tahun kami hancur bukan karena tidak ada cinta.
Melainkan karena dua orang yang sama-sama terluka memilih diam.
Namun penyesalan tidak bisa mengembalikan orang mati.
“Sudah waktunya.”
Tubuhku mulai memudar.
Arga panik.
“Kirana!”
Aku tersenyum untuk terakhir kalinya.
“Jangan cari aku lagi.”
Jari-jariku perlahan terlepas dari tangannya.
“Hiduplah dengan baik.”
“Kirana!”
Suara Arga menjadi suara terakhir yang kudengar sebelum semuanya berubah gelap.
Ketika membuka mata, penjaga alam kematian sudah berdiri di hadapanku.
“Sudah selesai?”
Aku mengangguk.
Namun ia tidak membuka gerbang di belakangnya.
Sebaliknya, ia menatapku lama.
“Ada masalah.”
“Apa?”
“Ikatan kalian belum terputus.”
Aku membeku.
“Tapi kami sudah bercerai.”
“Dokumen manusia hanya memutuskan hubungan di dunia manusia.”
Ia mengangkat tangannya.
Di udara muncul seutas benang merah tipis yang masih menghubungkan dadaku dengan seseorang di dunia kehidupan.
“Lalu bagaimana cara memutusnya?”
Penjaga itu menatap ujung benang tersebut.
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang terikat denganmu baru saja membuat pilihan.”
Jantung yang seharusnya sudah tidak kumiliki seolah kembali berdetak.
“Pilihan apa?”
Di permukaan gelap di hadapanku, muncul bayangan pemakaman.
Arga masih berada di sana.
Namun ia tidak lagi duduk di kursi roda.
Dengan kedua tangan mencengkeram sisi kursinya, ia mencoba berdiri.
Kakinya gemetar hebat.
Ia jatuh.
Bangkit lagi.
Jatuh lagi.
Sampai akhirnya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arga berhasil berdiri selama beberapa detik di depan makam yang kubeli untuk diriku sendiri.
Di tangannya ada cincin yang membuatku mati.
Ia menggenggamnya sambil menangis.
“Aku akan menunggumu, Kirana.”
Penjaga alam kematian menatapku.
“Lelaki itu menolak mengakhiri ikatan kalian.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Kemudian penjaga itu tersenyum tipis.
“Dan ada satu hal lagi yang tidak diketahui siapa pun.”
Bayangan lain muncul.
Rekaman lama dari kecelakaan Arga enam tahun lalu.
Seseorang terlihat membungkuk di dekat mobil dan merusak sistem rem.
Ketika orang itu mengangkat wajah, seluruh tubuhku membeku.
Fikri.
Adikku sendiri.
Penjaga itu berkata pelan, “Kematianmu bukan akhir dari utang keluarga Maheswari.”
Gerbang di belakangku perlahan tertutup kembali.
“Kamu belum boleh bereinkarnasi.”
Aku menatapnya.
“Lalu apa yang akan terjadi?”
Ia menunjuk benang merah yang masih bersinar.
“Kembalilah.”
“Tapi tubuhku sudah mati.”
“Tidak untuk kedua kalinya.”
Dari kejauhan aku kembali mendengar suara Arga memanggil namaku.
Dan tepat ketika dunia di sekelilingku runtuh menjadi cahaya, aku akhirnya memahami satu hal.
Tiga hari yang kukira diberikan untuk mengakhiri pernikahanku ternyata bukan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Itu adalah kesempatan untuk mengetahui siapa yang sebenarnya menghancurkan hidup kami sejak awal.
