Di hari pertunangan Kak Laras, usiaku baru enam tahun.

Suara itu hanya terdengar sekali.

Krek.

Kecil, tetapi cukup membuat seluruh tubuhku menegang.

Kak Laras juga mendengarnya.

Tangannya yang menggenggam tanganku mendadak semakin erat.

“Dimas,” katanya pelan ke telepon. “Ada seseorang di sini.”

“Apa?”

“Di tangga darurat.”

Suara Dimas langsung berubah panik.

“Jangan dekati pintunya. Balik ke lift sekarang. Aku naik ke sana.”

Kak Laras menarik tanganku.

“Ayo, Tiara.”

Kami baru berbalik ketika terdengar bunyi klik dari arah lift.

Lampu indikator di atas pintu padam.

Kak Laras menekan tombol.

Tidak ada respons.

Dia menekannya lagi.

Tetap tidak ada apa-apa.

“Lift-nya mati.”

Di ujung telepon, Dimas mengumpat pelan.

“Masuk ke ruangan yang bisa dikunci. Aku panggil keamanan.”

Namun lantai tiga hampir seluruhnya digunakan untuk ruang pertemuan yang sedang kosong. Pintu-pintu di sepanjang koridor tertutup.

Dan di belakang kami hanya ada satu jalan lain.

Tangga darurat.

Tiba-tiba gagang pintunya bergerak.

Sekali.

Dua kali.

Kak Laras langsung menarikku ke belakang tubuhnya.

Pintu terbuka perlahan.

Seorang pria keluar.

Aku tidak mengenalnya.

Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun. Dia mengenakan seragam teknisi hotel dan membawa tas perkakas hitam.

Begitu melihat kami, dia tampak terkejut.

“Maaf, Mbak. Ada masalah listrik.”

Kak Laras tidak menjawab.

Pria itu melirik amplop di tangannya.

Hanya sepersekian detik.

Namun aku melihatnya.

Dan Kak Laras juga melihatnya.

“Kamu tahu ini?” tanyanya.

Pria itu segera menggeleng.

“Nggak, Mbak.”

“Kalau nggak tahu, kenapa lihat amplopnya?”

Wajahnya berubah.

Dia mundur setengah langkah.

Saat itulah pintu tangga darurat di belakangnya tiba-tiba terbuka lebih lebar.

Ada seseorang lagi.

Perempuan.

Pendamping yang tadi datang ke ruang rias.

Wajahnya pucat begitu melihat kami.

“Kak Laras?”

Kak Laras membeku.

“Kamu?”

Perempuan itu tampak semakin gugup.

“Aku… aku disuruh naik.”

“Siapa yang menyuruh?”

Dia tidak menjawab.

Pria berseragam teknisi tiba-tiba bergerak cepat.

Bukan menuju kami.

Dia berbalik dan berlari menuruni tangga.

“Hei!”

Kak Laras hendak mengejarnya, tetapi aku langsung memeluk pinggangnya.

“Jangan!”

Dia berhenti.

Dimas masih berada di telepon.

“Laras! Jangan kejar siapa pun!”

Beberapa menit kemudian terdengar langkah kaki ramai dari arah tangga utama.

Dimas muncul bersama dua petugas keamanan hotel dan Papa.

Begitu melihat Kak Laras, Dimas langsung berlari.

“Kamu nggak apa-apa?”

Kak Laras mengangguk, tetapi wajahnya sudah kehilangan warna.

Papa menatap perempuan yang berdiri di dekat pintu tangga.

“Rina?”

Aku akhirnya mengetahui namanya.

Rina menunduk.

“Aku nggak tahu apa-apa, Om.”

“Kalau nggak tahu, kenapa kamu ada di sini?”

“Ada yang kirim pesan.”

Dia buru-buru mengeluarkan ponselnya.

Pesannya berasal dari nomor tidak dikenal.

Naik ke lantai tiga. Laras membutuhkan bantuan.

Papa mengambil ponselnya.

Pesan itu dikirim kurang dari lima menit sebelumnya.

Dimas langsung meminta keamanan memeriksa rekaman CCTV.

Namun ketika kami kembali ke lantai bawah, masalahnya justru semakin aneh.

Tidak ada seorang pun dari bagian pelayanan hotel yang mengaku mengantarkan amplop ke ruang rias.

Manajer hotel memanggil seluruh staf yang bertugas.

Tak satu pun cocok dengan ciri-ciri pegawai yang membawa amplop.

“Seragamnya asli,” kata salah satu manajer setelah mendengar penjelasan Kak Laras. “Tapi name tag yang Mbak sebutkan tidak ada di daftar pegawai kami.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku menatap Kak Laras.

Di kehidupan sebelumnya, dia pergi sendirian.

Berarti tidak ada orang yang melihat siapa yang mengantarkan amplop.

Tidak ada yang mendengar percakapannya dengan Dimas.

Tidak ada yang tahu bahwa seseorang sengaja memancingnya ke lantai tiga.

Mungkin itulah dua puluh menit yang selama ini hilang dari cerita.

Dimas meminta pertunangan dihentikan sementara.

Papa setuju.

Kali ini bukan karena sesuatu telah terjadi pada Kak Laras.

Melainkan karena mereka sadar sesuatu hampir terjadi.

Petugas keamanan membawa kami ke ruang kontrol CCTV.

Rekaman dari koridor ruang rias diputar.

Pukul 16.12, Kak Laras dan aku masuk.

Pukul 16.18, Rina datang memanggil Kak Laras.

Pukul 16.31, seorang pria berseragam hotel berjalan menuju ruang rias membawa amplop.

“Berhenti.”

Dimas menunjuk layar.

“Perbesar.”

Wajah pria itu terlihat.

Aku tidak mengenalnya.

Namun Papa tiba-tiba berdiri.

Kursinya terdorong keras ke belakang.

“Dia.”

Semua orang menoleh.

Mama yang sejak tadi diam langsung bertanya, “Papa kenal?”

Papa tidak segera menjawab.

Wajahnya berubah pucat.

“Namanya Arman.”

Dimas mengerutkan kening.

“Siapa?”

Papa menatap Kak Laras.

“Dulu dia bekerja di perusahaan Papa.”

Tiga tahun sebelumnya, Arman menjadi staf keuangan di salah satu anak perusahaan keluarga kami. Dia dipecat setelah audit menemukan transaksi mencurigakan.

Arman selalu bersikeras bahwa dirinya dijadikan kambing hitam.

Namun ada satu hal yang membuat ruangan itu semakin dingin.

Putra Arman pernah berpacaran dengan Kak Laras.

Namanya Reza.

Hubungan mereka berakhir setahun sebelum Kak Laras mengenal Dimas.

Mama langsung memandang putrinya.

“Kamu nggak pernah cerita.”

Kak Laras menunduk.

“Karena nggak penting.”

Namun dari caranya menjawab, aku tahu ada sesuatu yang dia sembunyikan.

Dimas tidak marah.

Dia hanya bertanya, “Reza pernah mengganggu kamu?”

Kak Laras terdiam lama.

“Ada beberapa pesan.”

“Pesan apa?”

“Dia bilang aku menghancurkan keluarganya.”

Papa mengepalkan tangan.

Ternyata setelah Arman kehilangan pekerjaan, kondisi ekonomi keluarganya memburuk. Reza menganggap keluarga kami penyebab semuanya.

Beberapa bulan kemudian, dia mulai menghubungi Kak Laras.

Awalnya meminta bantuan.

Kemudian memohon.

Lalu mengancam.

Kak Laras memblokirnya.

Dia tidak pernah memberi tahu siapa pun karena takut Papa akan memperbesar masalah.

Dimas meminta rekaman berikutnya diputar.

Arman keluar dari ruang rias setelah mengantarkan amplop.

Namun dia tidak pergi menuju lobi.

Dia memasuki area staf.

Beberapa menit kemudian, sosok berseragam teknisi muncul dari tangga servis.

Orang yang sama.

Dia hanya mengganti jaket.

“Panggil polisi,” kata Papa.

Namun aku terus memandangi layar.

Ada sesuatu yang menggangguku.

Kalau Arman adalah orang yang menyiapkan semuanya, siapa yang memindahkan ponsel Kak Laras?

Arman baru muncul setelah ponsel itu ditemukan.

Berarti ada orang lain yang sudah masuk sebelumnya.

Aku menarik lengan Kak Laras.

“Kak.”

“Hm?”

“Yang HP tadi.”

Dia langsung memahami maksudku.

Rekaman diputar mundur.

Sebelum kami masuk ke ruang rias, beberapa orang keluar masuk.

Petugas kebersihan.

Penata rias.

Pendamping acara.

Lalu seseorang muncul.

Rina.

Dia masuk sekitar tiga menit sebelum kami tiba.

Keluar kurang dari satu menit kemudian.

Semua mata beralih kepadanya.

Wajah Rina langsung pucat.

“Aku cuma ambil tas.”

“Kenapa tadi kamu nggak bilang?” tanya Dimas.

“Aku lupa.”

Kak Laras berdiri.

“Rina.”

Suaranya tenang.

Justru terlalu tenang.

“Kamu yang memindahkan HP-ku?”

Rina menggeleng cepat.

“Nggak.”

“Plastik bening di belakang sofa?”

“Aku nggak tahu.”

“Apa yang kamu lakukan di ruangan itu?”

Rina mulai menangis.

“Aku cuma disuruh.”

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Papa memukul meja.

“Siapa yang menyuruh kamu?”

Rina terisak.

“Reza.”

Nama itu membuat Kak Laras seperti kehilangan napas.

Rina mengaku Reza menghubunginya beberapa minggu sebelumnya. Mereka pernah satu kampus.

Awalnya Reza hanya meminta jadwal pertunangan.

Kemudian dia meminta Rina memastikan Kak Laras berada sendirian di ruang rias.

Sebagai imbalannya, Reza berjanji melunasi utang Rina.

“Aku kira dia cuma mau bicara,” katanya sambil menangis. “Sumpah. Aku nggak tahu dia merencanakan apa.”

“Plastik itu apa?” tanya Dimas.

Rina menutupi wajah.

“Penyangga kecil untuk kamera.”

Ruangan langsung membeku.

Kak Laras tidak bergerak.

Mama memegang mulutnya.

Aku merasa darah di tubuhku seperti berhenti mengalir.

Kamera.

Di kehidupan sebelumnya, Kak Laras kembali dengan pakaian kusut dan wajah hancur.

Kemudian dia mengurung diri hampir dua tahun.

Tiga tahun kemudian dia meninggal.

Aku selalu membayangkan sesuatu terjadi secara langsung di ruangan itu.

Ternyata mungkin bukan begitu.

Rina menjelaskan bahwa Reza menyuruhnya memasang kamera kecil di belakang sofa, mengarah ke area tempat Kak Laras berganti pakaian.

Namun ketika aku bersikeras tinggal bersama Kak Laras, rencana berubah.

Rina mencoba memanggilnya keluar.

Gagal.

Lalu Arman datang membawa pesan palsu.

Tujuannya membuat Kak Laras naik ke lantai tiga.

Sendirian.

“Untuk apa?” suara Kak Laras bergetar.

Rina menggeleng sambil menangis.

“Aku nggak tahu.”

Polisi akhirnya menemukan jawabannya malam itu.

Arman tertangkap ketika mencoba keluar melalui area parkir belakang.

Di dalam tas perkakasnya ditemukan kamera kecil, beberapa kartu memori, dua ponsel prabayar, dan sebuah laptop.

Namun Reza tidak berada di hotel.

Dia ditangkap keesokan paginya di sebuah apartemen sewaan di Jakarta Selatan.

Dari laptop dan percakapan mereka, polisi menemukan rencana lengkapnya.

Reza ingin merekam Kak Laras secara diam-diam ketika berganti pakaian.

Jika gagal, Arman akan memancingnya ke lantai tiga, tempat kamera lain sudah dipasang.

Mereka berencana menciptakan rekaman yang bisa diedit sedemikian rupa agar tampak seolah Kak Laras bertemu seorang pria secara diam-diam pada hari pertunangannya.

Setelah itu, rekaman tersebut akan digunakan untuk memeras keluarga kami dan menghancurkan pernikahannya.

Namun ada satu hal yang membuatku tidak bisa tidur malam itu.

Dalam kehidupan sebelumnya, mereka pasti berhasil.

Aku tahu dari apa yang terjadi sesudahnya.

Tetapi beberapa hari kemudian, polisi menemukan sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan.

Rekaman lama.

Arman ternyata masih menyimpan salinan video dari kehidupan ini sebelum rencananya selesai dijalankan.

Video uji coba kamera.

Di salah satu rekaman, terlihat Reza memasuki ruang rias sehari sebelum pertunangan.

Dia berdiri di depan kamera dan berkata kepada ayahnya,

“Kalau Laras nggak mau kasih uang, kirim videonya ke Dimas. Kalau masih nggak mempan, sebar.”

Aku melihat Kak Laras menutup mata ketika polisi memperlihatkan potongan rekaman itu.

Dimas menggenggam tangannya.

Namun Reza mengatakan satu kalimat lagi.

“Biar dia tahu rasanya kehilangan hidup gara-gara keluarga orang lain.”

Saat itulah Papa menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya aku melihat Papa menangis.

Audit yang menyebabkan Arman dipecat memang benar.

Arman terbukti melakukan penggelapan.

Namun Papa mengakui satu kesalahan.

Bertahun-tahun sebelumnya, demi menjaga nama perusahaan, dia memilih menyelesaikan kasus itu secara internal dan tidak melaporkannya kepada polisi.

Arman pergi membawa rasa dendam.

Dan dendam itu diwariskan kepada anaknya.

Hari pertunangan dibatalkan.

Sama seperti kehidupan sebelumnya.

Namun kali ini Kak Laras pulang bersama kami.

Dia tidak mengunci pintu kamarnya.

Dia tidak membuang ponselnya.

Dia tidak duduk sendirian dalam kegelapan.

Malam itu aku tidur di sampingnya.

Aku terbangun ketika merasakan tangannya mengusap rambutku.

“Tiara.”

Aku membuka mata.

“Kakak takut,” bisiknya.

Aku langsung memeluknya.

Untuk pertama kalinya, Kak Laras tidak berpura-pura kuat.

“Aku juga takut.”

Dia tertawa kecil di tengah air mata.

“Padahal kamu baru enam tahun.”

Aku menempelkan wajah ke lengannya.

“Nggak apa-apa.”

“Kita takut bareng-bareng.”

Beberapa bulan berikutnya tidak mudah.

Kak Laras menjalani konseling.

Dimas menemaninya tanpa memaksanya menentukan kapan pertunangan mereka akan dilanjutkan.

Papa menyerahkan seluruh bukti lama mengenai Arman kepada penyidik dan mengakui keputusan buruk yang pernah dia buat.

Rina juga harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya.

Aku sempat berpikir semuanya telah selesai.

Sampai suatu malam, beberapa bulan kemudian, Kak Laras masuk ke kamarku membawa sebuah kotak.

“Tiara.”

“Apa?”

“Kakak menemukan sesuatu.”

Dia meletakkan kotak anting yang dulu kubawa pada hari pertunangan di atas meja.

Kotak yang sama.

Kak Laras membukanya.

Bagian bawahnya sudah dilepas.

Di dalam lapisan kain beludru terdapat benda kecil berwarna hitam.

Sebuah kartu memori.

Jantungku langsung berdegup kencang.

Polisi memeriksanya keesokan hari.

Isinya hanya satu video.

Rekaman dari ruang rias.

Namun tanggalnya membuat semua orang bingung.

Video itu direkam hampir dua minggu sebelum pertunangan.

Di dalamnya terlihat Reza sedang memasang kamera bersama seseorang.

Bukan Arman.

Bukan Rina.

Orang itu membelakangi kamera hampir sepanjang waktu.

Sampai beberapa detik sebelum video berakhir, dia menoleh.

Mama langsung menjatuhkan gelas dari tangannya.

Dimas berdiri tanpa berkata apa-apa.

Aku sendiri merasa tubuhku membeku.

Orang itu adalah Tante Ratna.

Perempuan yang namanya digunakan Rina ketika pertama kali mencoba memanggil Kak Laras keluar.

Adik kandung Mama sendiri.

Belakangan kami baru mengetahui alasannya.

Tante Ratna terlilit utang investasi dalam jumlah besar. Dia mengetahui Reza ingin memeras keluarga kami dan diam-diam menawarkan bantuan dengan syarat mendapat bagian dari uang tersebut.

Bahkan Rina tidak mengetahui keterlibatannya.

Dialah yang memberi tahu Reza tentang ruang rias, jadwal acara, akses staf, sampai kebiasaan Kak Laras membawa gaun cadangan.

Dia juga yang memastikan hampir seluruh keluarga berada di aula pada waktu yang sama.

Pada kehidupan sebelumnya, Mama pernah berkata sambil menangis,

“Hari itu Mama seharusnya tidak membiarkan Laras pergi sendirian.”

Ternyata bukan Mama yang membuat Kak Laras sendirian.

Seseorang memang merancang keadaan agar dia sendirian.

Bertahun-tahun kemudian, ketika aku sudah cukup dewasa untuk memahami apa yang terjadi, aku baru menyadari sesuatu.

Aku tidak kembali ke masa lalu untuk menjadi pahlawan.

Aku hanya melakukan satu hal yang sangat sederhana.

Aku tetap berada di samping Kak Laras.

Karena terkadang orang yang sedang menghadapi sesuatu yang mengerikan tidak membutuhkan seseorang yang langsung mengetahui semua jawabannya.

Mereka hanya membutuhkan satu orang yang tidak pergi.

Lima tahun setelah hari itu, Kak Laras akhirnya menikah dengan Dimas.

Pestanya tidak diadakan di hotel mewah.

Hanya sebuah acara sederhana di taman.

Ketika waktunya berganti pakaian, Kak Laras menoleh kepadaku sambil tersenyum.

“Tiara.”

Aku yang sudah berusia sebelas tahun langsung mengangkat alis.

“Apa?”

“Kakak mau ganti baju.”

Aku berdiri tanpa perlu diminta.

“Aku ikut.”

Kak Laras tertawa.

“Masih takut Kakak hilang?”

Aku ingin menjawab tidak.

Namun ketika melihat wajahnya, tiba-tiba aku teringat sebuah jembatan dari kehidupan yang mungkin hanya akan selalu hidup di dalam ingatanku.

Aku menggenggam tangannya.

“Iya.”

Kak Laras tidak menertawakanku lagi.

Dia membalas genggamanku.

Kemudian berkata pelan,

“Kalau begitu jangan dilepas.”

Aku mengangguk.

Dan kali ini, aku benar-benar tidak melepaskannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang