SUAMINYA MEMAKSANYA MENIKAH LAGI, LALU DIAM-DIAM MEMBAWA PULANG SELINGKUHAN DAN BAYI MEREKA KE RUMAH

Bagaimana mungkin Laras tidak peduli?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala Aditya bahkan setelah Laras menghilang di balik pintu kamar lantai dua.

Seharusnya Laras marah.

Seharusnya perempuan itu menangis, menuntut penjelasan, atau setidaknya memaksanya memilih antara dirinya dan Maya.

Namun tatapan Laras tadi begitu tenang.

Terlalu tenang.

Seolah-olah apa pun yang dilakukan Aditya sudah tidak mampu menyentuh hatinya lagi.

Entah mengapa, sikap itu justru membuat Aditya gelisah.

Ia meninggalkan Maya di ruang tamu dan menyusul Laras ke kamar.

Ketika pintu dibuka, Laras sedang berdiri di depan lemari.

“Kamu sedang apa?”

“Membereskan barang.”

Aditya langsung menegang.

“Mau pergi ke mana?”

Laras menoleh sekilas.

“Memindahkan beberapa pakaian yang sudah tidak kupakai.”

Barulah Aditya menyadari bahwa pakaian di tangan Laras memang pakaian lama yang hendak disumbangkan.

Ia mengembuskan napas lega.

Laras memperhatikan perubahan wajahnya dan hampir tertawa.

Pria ini benar-benar takut ia pergi.

Namun anehnya, ketakutan itu tidak pernah membuat Aditya belajar menghormatinya.

Aditya mendekat dari belakang dan memeluk pinggang Laras.

“Jangan marah lagi.”

Laras tidak bergerak.

“Aku membawa Maya ke sini hanya sementara.”

“Hmm.”

“Begitu kondisinya pulih, dia akan pergi.”

“Baik.”

“Aku tidak akan membiarkan keberadaannya mengganggu kita.”

“Baik.”

Jawaban Laras yang terlalu singkat akhirnya membuat Aditya kehilangan kesabaran.

Ia membalikkan tubuh Laras.

“Kamu bisa berhenti menjawab seperti itu?”

“Lalu aku harus menjawab apa?”

“Marahi aku kalau kamu marah.”

Aditya menatap matanya.

“Pukul aku kalau perlu. Jangan seperti ini.”

Laras tersenyum tipis.

“Aku lelah, Dit.”

Hanya itu.

Tetapi untuk pertama kalinya, Aditya merasakan sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan.

Kehilangan.

Ia mencium kening Laras.

“Aku akan memperbaiki semuanya.”

Laras tidak menjawab.

Karena dalam tujuh hari, semua itu tidak akan menjadi urusannya lagi.

Hari pertama berlalu dengan suara tangisan bayi memenuhi rumah.

Hari kedua, Maya mulai berani keluar dari kamar tamu.

Hari ketiga, meja makan yang biasanya hanya ditempati Laras dan Aditya kini memiliki satu kursi tambahan.

Maya selalu tampak berhati-hati di depan Laras.

Setidaknya ketika Aditya berada di sana.

“Laras, kalau keberadaanku membuatmu tidak nyaman, aku bisa makan di kamar.”

Aditya langsung berkata, “Tidak perlu. Kamu harus banyak bergerak sedikit demi sedikit.”

Laras tetap makan tanpa mengangkat kepala.

Maya menunduk.

“Maaf.”

Aditya mengerutkan kening.

“Kamu tidak perlu meminta maaf terus.”

Maya tersenyum kecil.

Namun ketika Aditya menerima telepon dan keluar dari ruang makan, ekspresi perempuan itu langsung berubah.

Ia memandang Laras.

“Tidak kusangka kamu bisa setenang ini.”

Laras terus memotong makanannya.

Maya terkekeh pelan.

“Kupikir setelah melihat anak kami, kamu akan gila.”

Laras akhirnya mengangkat mata.

“Kamu ingin aku marah?”

“Tidak.”

Maya menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Aku hanya penasaran sampai kapan kamu bisa berpura-pura.”

Laras meletakkan sendok.

“Kalau tujuanmu membuatku cemburu, kamu terlambat.”

Senyum Maya membeku.

“Apa maksudmu?”

“Aku sudah tidak menginginkan laki-laki yang sedang kamu perebutkan.”

Maya menatapnya beberapa detik.

Kemudian tertawa.

“Kamu pikir Aditya akan membiarkanmu pergi?”

Pertanyaan itu membuat Laras diam.

Maya mendekat sedikit.

“Dia terobsesi padamu. Kamu tahu itu.”

“Tapi obsesi bukan cinta.”

“Benarkah?”

Maya tersenyum sinis.

“Kalau begitu kenapa kamu masih di sini?”

Laras berdiri.

Sebelum pergi, ia menatap Maya tepat di mata.

“Karena aku sedang menunggu waktunya.”

Untuk pertama kalinya, wajah Maya berubah.

Malam itu Maya mengetuk pintu ruang kerja Aditya.

“Dit, aku merasa ada yang aneh dengan Laras.”

Aditya yang sedang membaca dokumen langsung mengangkat kepala.

“Aneh bagaimana?”

“Dia seperti sedang merencanakan sesuatu.”

Jari Aditya berhenti bergerak.

Maya menceritakan percakapan mereka.

Semakin lama ia berbicara, semakin gelap wajah Aditya.

Malam itu juga, Aditya masuk ke kamar ketika Laras sedang mandi.

Ia membuka lemari.

Tidak ada yang aneh.

Ia memeriksa laci.

Dokumen lama masih ada.

Kemudian matanya tertuju pada tas Laras.

Aditya membukanya.

Dompet.

Kosmetik.

Kunci mobil.

Beberapa kuitansi.

Tidak ada apa-apa.

Ia hampir menutup tas ketika mendengar suara pintu kamar mandi.

Aditya buru-buru meletakkan semuanya seperti semula.

Laras keluar sambil mengeringkan rambut.

“Kamu mencari sesuatu?”

“Tidak.”

Aditya tersenyum.

Laras membalas senyumnya.

Keduanya sama-sama tahu seseorang sedang berbohong.

Hari kelima, Galang mengirim pesan singkat.

Mama dan Papa sudah berangkat. Aman.

Laras membaca pesan itu berkali-kali.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, bahunya terasa ringan.

Tidak ada lagi yang bisa digunakan Aditya untuk mengancamnya.

Ia segera menghapus pesan tersebut.

Namun tanpa Laras sadari, seseorang berdiri di ujung lorong.

Maya.

Maya tidak melihat isi pesan itu.

Tetapi ia melihat Laras tersenyum.

Dan senyum itu membuat firasat buruknya semakin kuat.

Malam berikutnya, Maya sengaja mendekati Aditya.

“Aku takut Laras benar-benar akan pergi.”

Aditya sedang menggendong bayinya.

Tangannya langsung berhenti.

“Dia tidak akan pergi.”

“Bagaimana kalau dia sudah menyiapkan semuanya?”

“Maya.”

Nada suara Aditya dingin.

“Jangan ikut campur urusanku dengan Laras.”

Maya tersenyum pahit.

“Baik.”

Namun malam itu, Maya melakukan sesuatu yang tidak diketahui Aditya.

Ia masuk ke kamar Laras ketika tidak ada orang.

Ia membuka laci, lemari, bahkan kotak perhiasan.

Tidak menemukan apa pun.

Sampai akhirnya ia menemukan secarik kertas kecil terselip di balik sebuah buku.

Tanda terima pengambilan paspor.

Tanggalnya besok.

Jantung Maya berdegup kencang.

Jadi Laras benar-benar akan pergi.

Untuk sesaat, Maya ingin langsung memberi tahu Aditya.

Namun ia berhenti.

Jika Laras pergi, bukankah itu justru yang ia inginkan?

Maya menatap tanda terima itu lama.

Kemudian mengembalikannya ke tempat semula.

Besok pagi, Laras bangun seperti biasa.

Ia sarapan bersama Aditya.

Bahkan ketika Aditya menyendokkan sup ke mangkuknya, Laras tidak menolak.

“Kamu mau pergi hari ini?” tanya Aditya.

“Ya. Ada urusan.”

“Aku antar.”

“Tidak perlu.”

Aditya menatapnya.

“Aku bisa membatalkan rapat.”

“Tidak usah. Hanya sebentar.”

Akhirnya Aditya mengangguk.

Sebelum berangkat, pria itu mencium kening Laras.

“Pulang cepat.”

Laras tersenyum.

“Baik.”

Itulah kebohongan terakhir yang ia ucapkan kepada Aditya.

Dua jam kemudian, Laras keluar dari kantor imigrasi dengan paspor baru di tangannya.

Galang sudah menunggu di dalam mobil.

Begitu Laras masuk, pria itu menyerahkan sebuah ponsel baru.

“Nomor baru. Tiket pesawat juga sudah ada.”

“Jam berapa?”

“Pukul sebelas malam.”

Laras melihat jam.

Masih cukup waktu.

“Aku harus kembali ke rumah.”

Galang langsung menatapnya.

“Kamu gila?”

“Ada sesuatu milik Mama yang harus kuambil.”

“Beli lagi.”

“Tidak bisa.”

Galang menghela napas.

“Laras, kamu sudah hampir berhasil keluar. Jangan mengambil risiko hanya karena benda.”

“Kalung pernikahan Mama dan Papa ada di sana. Itu satu-satunya barang keluarga yang belum kubawa.”

Galang terdiam.

Akhirnya ia mengangguk.

“Satu jam. Kalau dalam satu jam kamu tidak keluar, aku masuk.”

Ketika Laras kembali, rumah terasa sepi.

Aditya belum pulang.

Maya sedang tidur.

Setidaknya itulah yang Laras kira.

Ia masuk ke kamar, membuka sebuah kotak tersembunyi di bagian bawah lemari, lalu mengambil kalung sederhana milik ibunya.

Saat hendak berdiri, suara terdengar dari belakang.

“Jadi kamu benar-benar akan kabur.”

Laras berbalik.

Maya berdiri di ambang pintu.

Tatapannya jatuh pada paspor di tangan Laras.

Laras memasukkan paspor ke tas.

“Jangan menghalangiku.”

“Aku tidak akan menghalangimu.”

Jawaban itu membuat Laras berhenti.

Maya masuk dan menutup pintu.

“Pergilah.”

Laras menatapnya curiga.

Maya tertawa hambar.

“Kamu pikir aku ingin kamu tetap di sini?”

“Bukankah kamu menginginkan Aditya?”

“Aku menginginkannya.”

Mata Maya memerah.

“Dan selama kamu ada, dia tidak pernah benar-benar melihatku.”

Laras mengangguk.

“Kalau begitu kita tidak punya masalah.”

Ia berjalan melewati Maya.

Namun tepat ketika tangannya menyentuh gagang pintu, suara mobil terdengar dari halaman.

Wajah Maya berubah.

Aditya pulang.

Terlalu cepat.

Beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki tergesa-gesa menaiki tangga.

Pintu kamar terbuka keras.

Aditya berdiri di sana.

Napasnya berat.

Matanya langsung tertuju pada tas Laras.

“Dari mana kamu?”

“Kantor imigrasi.”

Laras tidak lagi berbohong.

Wajah Aditya memucat.

“Untuk apa?”

“Mengambil paspor.”

“Kenapa?”

Laras menatapnya.

“Karena aku akan pergi.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aditya tertawa kecil.

Namun tawanya terdengar aneh.

“Pergi ke mana?”

“Itu bukan urusanmu.”

Aditya melangkah maju.

“Berikan paspornya.”

“Tidak.”

“Laras.”

“Tidak.”

Aditya meraih tasnya.

Laras mundur.

“Jangan sentuh aku.”

“Aku bilang berikan!”

Untuk pertama kalinya sejak hari di rumah sakit, Laras berteriak.

“Aditya, kita bukan suami istri!”

Pria itu membeku.

Laras mengeluarkan sebuah map tipis dari tas.

“Apa?”

“Pernikahan kedua yang kamu banggakan itu tidak pernah ada.”

Ia melemparkan salinan dokumen ke atas meja.

“Surat yang kamu simpan bukan dokumen pernikahan resmi.”

Aditya menatap kertas itu.

Wajahnya kehilangan warna.

“Bohong.”

“Kamu memaksaku kembali dengan mengancam orang tuaku. Kamu pikir aku benar-benar akan menikahimu setelah itu?”

“Tidak mungkin.”

Aditya meraih ponselnya.

“Aku akan menelepon pengacara.”

“Silakan.”

Laras menatapnya tanpa gentar.

“Sekalian tanyakan di mana orang tuaku sekarang.”

Aditya langsung menatapnya.

Ia menelepon seseorang.

Tidak tersambung.

Menelepon nomor lain.

Wajahnya semakin pucat.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Aku membebaskan mereka.”

Aditya membanting ponselnya ke lantai.

“Laras!”

Tangannya bergerak hendak meraih Laras.

Namun sebelum sempat menyentuhnya, suara laki-laki terdengar dari lorong.

“Jangan sentuh dia.”

Galang muncul bersama dua orang pengacara dan beberapa petugas keamanan.

Aditya menatapnya dengan mata merah.

“Siapa kamu?”

“Orang yang memastikan Laras bisa pergi dengan aman.”

Aditya tertawa marah.

“Ini rumahku!”

“Dan dia bukan tahananmu.”

Galang mengangkat ponselnya.

“Semua bukti ancaman terhadap keluarga Laras sudah disimpan. Kalau kamu menahannya secara paksa, proses hukumnya akan berjalan.”

Aditya tidak bergerak.

Untuk pertama kalinya, semua kendali yang selama ini ia miliki runtuh dalam hitungan menit.

Ia menatap Laras.

“Jadi selama ini kamu berpura-pura?”

“Tidak.”

Suara Laras tenang.

“Aku pernah benar-benar ingin percaya kamu berubah.”

Kalimat itu justru terlihat lebih menyakitkan bagi Aditya.

Laras melanjutkan,

“Kalau hari itu di rumah sakit kamu berlari kepadaku setelah mendorongku jatuh, mungkin aku masih akan ragu untuk pergi.”

Aditya membeku.

“Tapi kamu bahkan tidak menoleh.”

Air mata pertama akhirnya jatuh dari mata Laras.

Bukan karena ingin kembali.

Melainkan karena ia akhirnya berani mengakui betapa lama dirinya bertahan pada sesuatu yang sebenarnya sudah mati.

“Aku kehilangan anak kita dulu, Dit.”

“Kamu membiarkan Maya menyakitiku ketika aku bahkan belum pulih.”

“Tapi ketika aku menyentuhnya sekali saja, kamu mendorongku sampai kepalaku terluka.”

Aditya menggeleng cepat.

“Aku panik waktu itu.”

“Tidak.”

Laras tersenyum getir.

“Kamu hanya menunjukkan siapa yang secara naluriah ingin kamu lindungi.”

Aditya mendekatinya perlahan.

“Aku mencintaimu.”

“Tidak.”

Kali ini Laras tidak ragu.

“Kamu mencintai perasaan memiliki aku.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada tamparan.

Aditya berdiri terpaku.

Laras berjalan keluar.

Namun ketika melewati Maya, perempuan itu tiba-tiba berkata,

“Laras.”

Laras berhenti.

Maya menangis sambil menatap bayi yang kini berada dalam gendongan pengasuh.

“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

Aditya langsung menoleh.

“Maya, diam.”

Maya justru tertawa di antara air matanya.

“Sudah terlambat.”

Ia menatap Aditya.

“Selama ini kamu pikir Laras pergi karena anak kita.”

Aditya mengerutkan kening.

Maya menggeleng.

“Bayi ini bukan alasan sebenarnya dia meninggalkanmu.”

“Maya!”

“Dia pergi karena akhirnya sadar kamu tidak pernah berubah.”

Maya mengambil sebuah amplop dari sakunya dan meletakkannya di meja.

“Aku juga baru menerima hasilnya pagi ini.”

Aditya menatap amplop tersebut.

Tangannya gemetar ketika membukanya.

Beberapa detik kemudian wajahnya benar-benar pucat.

Hasil tes DNA.

Kemungkinan hubungan biologis antara dirinya dan bayi itu dinyatakan tidak sesuai sebagai ayah biologis.

Aditya mengangkat kepala perlahan.

“Apa ini?”

Maya menangis.

“Aku sendiri baru tahu pasti setelah dia lahir.”

“Siapa ayahnya?”

Maya menutup mata.

“Bukan kamu.”

Keheningan memenuhi kamar.

Aditya seperti kehilangan seluruh kekuatannya.

Perempuan yang ia lindungi ternyata menyembunyikan kebohongan.

Anak yang membuatnya mendorong Laras hingga terluka bahkan bukan darah dagingnya.

Ia langsung berbalik mencari Laras.

Namun Laras sudah berjalan menuruni tangga.

“Laras!”

Aditya mengejarnya sampai halaman.

Laras berhenti di depan mobil Galang.

Aditya berdiri beberapa meter di belakangnya.

Untuk pertama kalinya, pria yang selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan tampak benar-benar tidak berdaya.

“Aku salah.”

Laras menoleh.

“Aku tahu.”

“Aku bisa memperbaikinya.”

“Tidak semua kesalahan harus diperbaiki bersama orang yang kita sakiti.”

“Laras…”

“Selamat tinggal, Aditya.”

Pintu mobil tertutup.

Aditya berdiri di halaman sampai mobil itu menghilang dari pandangan.

Malam itu, Laras duduk di dekat jendela pesawat.

Jakarta berubah menjadi ribuan titik cahaya di bawahnya.

Ponsel barunya bergetar.

Pesan dari Galang.

Orang tuamu sudah menunggu. Mereka aman.

Laras menutup mata.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada seseorang yang menentukan ke mana ia boleh pergi, siapa yang boleh ditemui, atau kapan ia harus pulang.

Beberapa bulan kemudian, surat dari pengacara Aditya tiba di alamat Galang.

Tidak ada ancaman di dalamnya.

Hanya satu lembar tulisan tangan.

Aku baru mengerti bahwa kehilanganmu bukan hukuman terbesar. Hukuman terbesarku adalah mengetahui bahwa ketika kamu masih memberiku kesempatan untuk berubah, aku justru membuktikan bahwa ketakutanmu terhadapku benar.

Laras membaca surat itu sekali.

Kemudian melipatnya kembali.

Ia tidak membalas.

Di teras rumah kecil tempat kedua orang tuanya tinggal, ibunya memanggil dari dalam.

“Laras, makanannya sudah siap.”

Laras berdiri.

Angin sore menyentuh wajahnya.

Ia memasukkan surat itu ke dalam sebuah kotak bersama dokumen perceraian lamanya, lalu menutupnya.

Dulu ia mengira akhir sebuah cinta selalu ditandai dengan kebencian.

Ternyata tidak.

Kadang-kadang cinta benar-benar berakhir ketika seseorang akhirnya mampu menatap orang yang pernah sangat dicintainya tanpa ingin membalas, tanpa ingin kembali, dan tanpa lagi bertanya mengapa dirinya tidak cukup berharga untuk dipilih.

Karena pada akhirnya Laras memahami satu hal.

Hari ketika ia kehilangan Aditya bukanlah hari ketika rumah tangganya berakhir.

Hari itu adalah hari ketika ia mendapatkan kembali dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang