Ponselku kembali bergetar di atas meja.
Panggilan ke tiga puluh delapan.
Nama Raka muncul di layar.
Aku membiarkannya sampai berhenti sendiri.
Di samping tempat tidur, putriku tertidur pulas di dalam boks bayi. Wajahnya merah muda, kedua tangannya mengepal kecil di dekat pipi. Melihatnya, kemarahan yang sejak pagi memenuhi dadaku perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.
Keputusan.
Selama tiga tahun menikah, aku terlalu sering mengalah demi mempertahankan rumah tangga. Hari ini, untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa mempertahankan keluarga tidak sama dengan membiarkan diri sendiri diinjak-injak.
Ponselku berbunyi lagi.
Kali ini pesan dari Raka.
“Alya, angkat telepon! Orang leasing datang dan bilang mobil ini harus diserahkan. Kamu gila?”
Aku tersenyum tipis.
Bukan leasing.
Pak Hendra adalah pengacara sekaligus orang kepercayaan ayahku sejak aku masih kuliah. Sebelum menikah, ayah telah memintanya mengurus seluruh asetku agar tercatat dengan jelas atas namaku.
Innova itu milikku.
Rumah dua lantai yang ditempati keluarga Raka juga milikku.

Bahkan perusahaan distribusi kecil yang selama ini dibanggakan Raka dibangun menggunakan modal dariku.
Awalnya aku tak pernah mempermasalahkannya.
Aku mencintainya.
Kesalahanku adalah mengira orang yang kita cintai otomatis akan menghargai pengorbanan kita.
Pukul delapan malam, Pak Hendra menelepon.
“Bu Alya, kendaraan sudah diamankan.”
“Bagaimana reaksinya?”
Pak Hendra terdiam sejenak.
“Pak Raka sempat menolak menyerahkan kunci. Tetapi setelah kami menunjukkan BPKB dan surat kuasa, akhirnya diberikan.”
Aku membayangkan ekspresinya.
“Rumah?”
“Besok pagi.”
Aku memandang putriku.
“Lakukan sesuai prosedur. Jangan kasar kepada siapa pun.”
“Tentu.”
Setelah sambungan berakhir, sebuah pesan suara masuk dari Bu Ratna.
Aku memutarnya.
“Alya! Kamu ini istri macam apa? Cuma gara-gara disuruh pulang sendiri, kamu mempermalukan suamimu di depan orang banyak? Mobil itu dipakai keluarga! Kamu tidak punya hati?”
Aku hampir tertawa.
Perempuan yang meninggalkan ibu dua hari setelah melahirkan bersama bayi di depan rumah sakit sedang bertanya apakah aku punya hati.
Aku tidak membalas.
Keesokan paginya, setelah menyusui putriku, aku membuka ponsel.
Ada 112 pesan.
Raka akhirnya menulis sesuatu yang berbeda.
“Kita bicara baik-baik. Mas jemput kamu sekarang.”
Aku menjawab untuk pertama kalinya.
“Tidak perlu.”
Balasannya datang dalam hitungan detik.
“Mas minta maaf soal kemarin.”
Hanya itu.
Tidak ada permintaan maaf karena meninggalkan anaknya.
Tidak ada pertanyaan mengenai kondisi putrinya.
Tidak ada pertanyaan apakah jahitanku sakit atau apakah bayinya sehat.
Aku mengetik perlahan.
“Kamu bahkan belum bertanya bagaimana keadaan anakmu.”
Lima menit tak ada balasan.
Kemudian muncul pesan.
“Dia baik-baik saja, kan?”
Saat itulah sesuatu dalam diriku benar-benar mati.
Sekitar pukul sembilan, Pak Hendra mengirim kabar bahwa timnya sudah tiba di rumahku.
Tak lama kemudian, Raka menelepon.
Kali ini kuangkat.
“Alya!”
Suaranya meledak.
“Kenapa ada orang datang ke rumah?”
“Karena itu rumahku.”
“Rumah kita!”
“Tidak.”
Aku menjawab tenang.
“Rumah itu kubeli enam bulan sebelum kita menikah. Sertifikatnya atas namaku.”
Terdengar suara Bu Ratna di belakang.
“Kasih teleponnya ke Ibu!”
Beberapa detik kemudian suaranya memenuhi sambungan.
“Alya, jangan kurang ajar! Setelah menikah, harta istri itu milik keluarga!”
“Siapa yang bilang begitu, Bu?”
“Kamu mau mengusir ibu mertua dan adik-adik suamimu?”
“Aku tidak mengusir siapa pun hari ini. Pak Hendra memberi waktu tiga puluh hari untuk pindah.”
“Tiga puluh hari?”
Bu Ratna berteriak.
“Kami mau tinggal di mana?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu terasa ironis.
Kemarin mereka meninggalkanku di rumah sakit tanpa memikirkan bagaimana aku membawa bayi pulang.
Sekarang mereka ingin aku memikirkan tempat tinggal mereka.
“Cari kontrakan.”
Bu Ratna terdiam.
Kemudian Raka mengambil telepon.
“Kamu keterlaluan.”
Aku memejamkan mata.
“Raka, kemarin kamu memberiku seribu rupiah.”
“Itu cuma bercanda!”
“Tidak ada yang tertawa ketika kamu pergi.”
“Mas sedang tertekan. Ibu terus mendesak. Adik-adik juga mau ikut.”
“Dan kamu memilih mereka.”
“Jangan dibesar-besarkan.”
Aku menatap putriku.
“Aku tidak membesar-besarkan apa pun. Aku hanya berhenti mengecilkan diriku sendiri.”
Lalu kututup telepon.
Namun ternyata rumah dan mobil baru permulaan.
Siang harinya, Pak Hendra datang membawa beberapa dokumen.
“Ada sesuatu yang perlu Ibu lihat.”
Dia membuka laptop.
Di layar muncul laporan keuangan perusahaan Raka.
PT Raka Niaga Mandiri.
Perusahaan yang selama dua tahun terakhir selalu dikatakan Raka sedang berkembang pesat.
“Ada apa?”
Pak Hendra menunjuk beberapa transaksi.
“Modal awal perusahaan ini delapan ratus juta rupiah dari Ibu.”
Aku mengangguk.
“Raka bilang sudah dikembalikan melalui keuntungan perusahaan.”
“Belum.”
Aku menatapnya.
Pak Hendra membuka dokumen lain.
“Lebih dari itu, selama setahun terakhir ada transfer rutin dari rekening perusahaan ke rekening pribadi.”
“Punya siapa?”
Pak Hendra memutar laptop ke arahku.
Nama penerimanya membuatku tercekat.
Sari Wulandari.
Adik pertama Raka.
Totalnya hampir tiga ratus juta rupiah.
“Apa ini?”
“Belum selesai.”
Nama berikutnya muncul.
Dina Rahmawati.
Seratus delapan puluh juta.
Kemudian Bu Ratna.
Dua ratus dua puluh juta.
Aku merasa tenggorokanku mengering.
“Untuk apa?”
“Sebagian dicatat sebagai biaya operasional.”
“Operasional apa?”
“Itu yang sedang kami periksa.”
Aku memejamkan mata.
Selama kehamilan, aku bahkan pernah menunda membeli kursi menyusui karena Raka mengatakan perusahaan sedang kesulitan arus kas.
Ternyata uang perusahaan mengalir ke keluarganya.
“Apakah Raka tahu?”
Pak Hendra menatapku serius.
“Semua transaksi disetujui dari akun direktur.”
Raka adalah direktur.
Tanganku mengepal.
Malam itu aku akhirnya meneleponnya.
“Kamu transfer uang perusahaan ke keluargamu?”
Sunyi.
“Alya, dengarkan dulu.”
“Berapa lama?”
“Aku bisa jelaskan.”
“Berapa lama?”
“Hampir setahun.”
Aku tertawa pendek.
Sakit.
Bukan karena jumlah uangnya.
Tetapi karena kebohongannya.
“Kamu bilang perusahaan hampir bangkrut.”
“Memang sedang sulit.”
“Karena kamu mengambil uangnya.”
“Itu bukan mengambil. Aku membantu keluarga.”
“Dengan uang perusahaan yang modalnya dariku?”
Nada suaranya berubah.
“Alya, jangan merasa paling berjasa hanya karena punya uang.”
Aku terdiam.
Kalimat itu justru membuat semuanya menjadi jelas.
Selama ini Raka tidak pernah menganggap bantuanku sebagai pengorbanan.
Dia menganggapnya kewajiban.
“Baik.”
“Apa maksudmu baik?”
“Besok bicara dengan Pak Hendra.”
Aku menutup telepon.
Keesokan harinya, rekening perusahaan dibekukan sementara untuk audit internal sesuai hak yang kumiliki berdasarkan perjanjian investasi.
Raka datang ke pusat perawatan tempatku tinggal.
Dia tidak datang sendirian.
Bu Ratna dan ketiga adiknya ikut.
Aku menemui mereka di ruang tamu privat tanpa membawa bayi.
Begitu melihatku, Bu Ratna langsung berdiri.
“Kamu puas sekarang?”
Aku duduk perlahan karena jahitanku masih sakit.
“Dengan apa?”
“Mobil diambil. Rumah mau diambil. Rekening perusahaan dibekukan. Kamu mau menghancurkan anak saya?”
Raka terlihat jauh berbeda dibanding tiga hari lalu.
Tidak ada lagi pria percaya diri yang meninggalkanku di depan rumah sakit.
“Alya.”
Dia duduk di hadapanku.
“Kita pulang. Kita bicarakan semuanya.”
“Pulang ke mana?”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan.
“Ke rumah yang katanya rumah keluargamu?”
Sari berdiri.
“Kak, kami mengaku salah. Tapi jangan sampai begini juga.”
Aku memandangnya.
“Tiga ratus juta.”
Wajahnya langsung berubah.
“Apa?”
“Uang perusahaan yang masuk ke rekeningmu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Dina menunduk.
Bu Ratna memandang Raka.
Aku menyebut jumlah milik Dina dan Bu Ratna.
“Kalian mengira aku tidak akan pernah tahu?”
Sari mulai menangis.
“Mas Raka yang kasih!”
“Aku tahu.”
Aku menoleh kepada suamiku.
“Karena itu aku tidak menyalahkan kalian untuk transaksi tersebut. Orang yang bertanggung jawab kepada perusahaan adalah Raka.”
Raka menatapku seolah tak mengenaliku.
“Apa maumu?”
Pertanyaan itu sederhana.
Anehnya, aku sudah tahu jawabannya.
“Cerai.”
Bu Ratna langsung memukul meja.
“Jangan sembarangan bicara!”
Namun Raka justru pucat.
“Alya, jangan.”
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, kulihat ketakutan sungguhan di matanya.
“Aku salah.”
Dia berlutut di depanku.
“Aku benar-benar salah.”
Aku memandang pria yang dulu menungguku setiap malam ketika aku lembur, pria yang pernah membawakan bubur saat aku sakit, pria yang membuatku yakin aku memilih pasangan hidup yang tepat.
Mungkin pria itu pernah ada.
Tetapi cinta tidak selalu hilang dalam satu kejadian besar.
Kadang cinta mati sedikit demi sedikit setiap kali seseorang memilih diam saat kita disakiti.
“Aku bisa memaafkan kamu.”
Matanya langsung berbinar.
“Tapi aku tetap ingin bercerai.”
Wajahnya runtuh.
“Memaafkan bukan berarti aku harus kembali ke tempat yang sama dan membiarkan semuanya terulang.”
Tak seorang pun berbicara.
Sampai tiba-tiba Nisa menangis.
Bukan tangisan marah.
Tangisan ketakutan.
“Kak Alya, maaf.”
Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map.
“Aku sebenarnya mau kasih ini sejak sebelum Kakak melahirkan.”
Bu Ratna berdiri cepat.
“Nisa!”
Tetapi gadis itu mundur.
“Aku capek, Bu.”
Dia menyerahkan map kepadaku.
Di dalamnya terdapat salinan beberapa dokumen.
Salah satunya membuatku membeku.
Pengajuan pinjaman bank.
Jaminannya adalah rumahku.
Ada tanda tangan atas namaku.
Masalahnya, aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.
Aku menatap Raka.
Wajahnya kehilangan seluruh warna.
“Kamu memalsukan tanda tanganku?”
“Alya, aku bisa jelaskan.”
“Untuk apa pinjamannya?”
Raka tak menjawab.
Nisa yang menjawab.
“Mas Raka mau buka cabang baru. Tapi sebenarnya sebagian uangnya untuk membeli rumah lain.”
“Rumah lain?”
Nisa mengangguk.
“Untuk Ibu.”
Bu Ratna berteriak menyuruhnya diam.
Namun semuanya sudah terlambat.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami betapa jauh pengkhianatan itu berjalan.
Bukan hanya uang.
Bukan hanya rumah.
Bukan hanya mobil.
Mereka telah membuat rencana menggunakan asetku tanpa sepengetahuanku.
Aku berdiri perlahan.
“Pak Hendra akan menangani sisanya.”
Raka menangkap tanganku.
“Alya, kita punya anak.”
Aku melepaskan tangannya.
“Justru karena kita punya anak, aku harus berhenti di sini.”
Tiga bulan kemudian, proses perceraian berjalan.
Audit menemukan sejumlah transaksi bermasalah. Persoalan dokumen pinjaman diserahkan kepada pengacara untuk ditangani melalui prosedur hukum yang berlaku.
Aku tidak mengambil satu rupiah pun yang bukan hakku.
Aku hanya mengambil kembali apa yang memang milikku.
Rumah.
Mobil.
Modal usaha yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan dokumen.
Dan yang paling penting, kendali atas hidupku sendiri.
Raka pindah ke rumah kontrakan kecil bersama ibunya.
Sari dan Dina akhirnya bekerja untuk membiayai kebutuhan mereka sendiri.
Sedangkan Nisa memilih tinggal terpisah setelah mendapatkan pekerjaan. Sebelum pergi, dia datang menemuiku.
“Kenapa Kakak tidak marah sama aku?”
Aku tersenyum.
“Karena kamu akhirnya memilih melakukan hal yang benar.”
Dia memelukku sambil menangis.
Enam bulan setelah hari kelahiran putriku, aku kembali ke rumah sakit yang sama.
Bukan sebagai pasien.
Aku datang untuk menyerahkan bantuan kepada sebuah program pendampingan ibu pascapersalinan yang kesulitan transportasi setelah keluar dari rumah sakit.
Ketika berjalan melewati pintu tempat dulu Raka meninggalkanku, aku berhenti.
Aku masih ingat diriku berdiri di sana.
Tubuh lemah.
Bayi berusia dua hari.
Tas berat.
Dan uang seribu rupiah di atasnya.
Aku membuka dompet.
Koin itu masih kusimpan.
Bukan karena nilainya.
Tetapi karena aku ingin mengingat harga dari sebuah pelajaran yang mengubah hidupku.
Putriku yang kini berusia enam bulan berada dalam gendonganku. Dia tertawa ketika melihat wajahku.
Aku mencium dahinya.
Saat itulah sebuah suara terdengar dari belakang.
“Alya.”
Aku menoleh.
Raka berdiri beberapa meter dariku.
Penampilannya jauh lebih sederhana.
Dia tidak mendekat.
“Aku cuma mau lihat dia.”
Aku memandang putri kami.
“Ada jadwalnya. Kamu bisa datang sesuai kesepakatan.”
Dia mengangguk.
Sebelum pergi, Raka berkata pelan.
“Aku sering memikirkan hari itu.”
Aku tidak menjawab.
“Kalau saja waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan meninggalkan kalian.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Masalahnya bukan kamu meninggalkanku satu kali, Raka.”
Dia menatapku.
“Kamu meninggalkanku berkali-kali sebelum hari itu. Hanya saja aku baru menyadarinya di depan rumah sakit.”
Matanya memerah.
Aku kemudian berjalan pergi.
Di tempat parkir, Pak Hendra sudah menunggu di samping mobil.
Aku memasukkan bayi ke kursinya dengan hati-hati.
Sebelum naik, aku mengeluarkan koin seribu rupiah itu sekali lagi.
Selama berbulan-bulan aku menyimpannya sebagai pengingat tentang penghinaan.
Namun hari itu rasanya berbeda.
Aku berjalan menuju kotak donasi kecil di dekat pintu rumah sakit dan memasukkan koin tersebut.
Ting.
Suara kecil itu hampir tidak terdengar.
Aku tersenyum.
Aku tidak membutuhkannya lagi.
Karena ternyata seribu rupiah yang pernah diberikan Raka untuk menyuruhku pergi bukanlah akhir dari hidupku.
Itu adalah ongkos yang membawaku keluar dari kehidupan yang seharusnya sudah kutinggalkan sejak lama.
