Laras Dijadikan Tumbal oleh Bosnya, Tapi Perjanjian Laut Justru Menagih Nyawa Sang Miliarder

Jeritan Armand hanya berlangsung beberapa detik.

Setelah itu, laut kembali dipenuhi nyanyian.

Laras berdiri kaku di tepi geladak. Kedua tangannya mencengkeram pagar kapal sampai buku-buku jarinya memutih. Di bawah sana, air yang semula hitam memantulkan cahaya kemerahan dari lampu kapal.

Namun sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.

Armand muncul lagi.

Ia terbatuk-batuk sambil berusaha menggapai lambung kapal.

“Tolong aku!”

Laras tersentak.

Makhluk yang tadi memeluknya sudah menghilang. Beberapa tamu lain juga masih terlihat berenang dengan panik, seolah baru terbangun dari pengaruh nyanyian tersebut.

“Lempar pelampung!” teriak Laras.

Pak Hadi justru menangkap bahunya.

“Jangan!”

“Mereka masih hidup!”

“Lihat baik-baik!”

Laras menoleh kembali.

Barulah ia menyadarinya.

Makhluk-makhluk laut itu tidak sedang menyerang semua orang.

Mereka membentuk lingkaran.

Mengelilingi Armand.

Salah satu dari mereka muncul perlahan dari permukaan. Rambut hitamnya menempel di wajah, sementara sepasang matanya yang merah menatap lurus ke arah Laras.

Kemudian makhluk itu berbicara.

“Utang harus dibayar.”

Suaranya tidak keras, tetapi Laras mendengarnya seolah perempuan itu berbisik tepat di telinganya.

Armand juga mendengarnya.

Wajahnya mendadak pucat.

“Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan!”

Makhluk itu tersenyum.

“Manusia selalu mengatakan itu ketika waktu pembayaran tiba.”

Pak Hadi menarik Laras menjauh.

“Masuk ke kabin. Sekarang!”

Mereka berlari.

Beberapa kru yang masih sadar segera menutup pintu geladak. Mesin kapal dinyalakan dengan tenaga penuh.

Anehnya, kapal tidak bergerak.

Baling-baling berputar.

Mesin meraung.

Tetapi kapal tetap berada di tempat yang sama.

Seolah ada sesuatu yang menahannya dari bawah.

Kemudian terdengar benturan.

Duk.

Duk.

Duk.

Sesuatu menghantam lambung kapal.

Lampu berkedip.

Seorang influencer bernama Keisha menangis histeris di sudut kabin. Ia satu dari sedikit tamu yang tidak melompat karena sejak awal memakai earphone.

“Apa itu?” tanyanya gemetar.

Tak seorang pun menjawab.

Laras menatap Pak Hadi.

“Bapak tahu sesuatu.”

Lelaki tua itu diam.

“Pak Hadi.”

“Bukan sekarang.”

“Bos saya hampir mati di luar sana dan makhluk itu bicara soal utang. Bapak tahu apa maksudnya.”

Pak Hadi menatap pintu kabin beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan.

“Dua puluh tujuh tahun lalu, kapal milik keluarga Wijaya tenggelam di perairan ini.”

Laras terdiam.

Ia tidak pernah mendengar cerita tersebut.

“Yang punya kapal ayah Armand?”

Pak Hadi mengangguk.

“Surya Wijaya.”

Nama itu Laras kenal. Pendiri Wijaya Group sekaligus ayah Armand yang meninggal lima tahun sebelumnya.

Pak Hadi melanjutkan.

“Waktu itu saya masih nelayan muda. Malamnya mirip seperti sekarang. Ombak besar datang tanpa peringatan. Kapal Pak Surya hampir tenggelam.”

“Lalu?”

“Dia selamat.”

“Itu bukan sesuatu yang aneh.”

Pak Hadi menatapnya.

“Dia satu-satunya yang selamat.”

Bulu kuduk Laras berdiri.

Menurut cerita Pak Hadi, Surya ditemukan keesokan paginya terapung di dekat pantai dalam kondisi hampir tidak sadar. Dua belas orang lain di kapalnya hilang.

Tidak pernah ditemukan.

Beberapa bulan kemudian, bisnis Surya yang sebelumnya hampir bangkrut tiba-tiba berkembang pesat.

Investasi berdatangan.

Proyek besar dimenangkan.

Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, keluarga Wijaya berubah menjadi salah satu keluarga terkaya di Jakarta.

Orang-orang menganggapnya keberuntungan.

Namun nelayan setempat mempunyai cerita berbeda.

“Pak Surya membuat perjanjian,” kata Pak Hadi.

“Perjanjian apa?”

“Dia meminta keselamatan dan kekayaan.”

“Sebagai gantinya?”

Pak Hadi belum sempat menjawab.

Brak!

Pintu kabin dihantam dari luar.

Keisha menjerit.

Brak!

Sekali lagi.

Kemudian terdengar suara Armand.

“Laras!”

Semua orang terdiam.

“Buka pintunya!”

Laras mendekat.

“Pak Armand?”

“Tolong aku!”

Tangannya hampir menyentuh gagang ketika Pak Hadi menahannya.

“Jangan.”

“Tapi itu suaranya.”

Pak Hadi menggeleng.

“Pak Armand masih di laut.”

Laras membeku.

Suara dari luar kembali terdengar.

Kali ini lebih lembut.

“Laras, buka pintunya.”

Persis suara Armand.

Kemudian berubah.

Menjadi suara ibunya.

“Laras…”

Napas Laras berhenti.

Ibunya sudah meninggal tujuh tahun lalu.

“Buka pintunya, Nak.”

Air mata langsung memenuhi matanya.

Ia tahu itu mustahil.

Namun suara tersebut begitu nyata.

“Laras, Ibu kangen.”

Tangannya bergerak tanpa sadar.

Pak Hadi menamparnya.

Tidak keras, tetapi cukup membuat Laras tersadar.

“Jangan dengarkan!”

Suara di balik pintu mendadak berubah menjadi tawa melengking.

Lampu mati.

Kabin tenggelam dalam kegelapan.

Kemudian sesuatu merayap di atas atap kapal.

Satu.

Dua.

Puluhan.

Keisha menutup mulutnya agar tidak berteriak.

Beberapa menit kemudian suara itu berhenti.

Mesin kapal juga mati.

Dalam keheningan tersebut, Laras mendengar seseorang menangis di luar.

Armand.

Kali ini benar-benar Armand.

“Aku tahu perjanjiannya,” katanya.

Pak Hadi memejamkan mata.

“Ayahku pernah menceritakannya.”

Laras berdiri dekat pintu.

“Perjanjian apa?”

Tidak ada jawaban beberapa detik.

Kemudian Armand berkata sesuatu yang membuat darah Laras serasa berhenti mengalir.

“Setiap dua puluh tujuh tahun, keluarga kami harus mengembalikan satu nyawa.”

Keisha terisak.

“Gila…”

Armand melanjutkan.

“Ayahku bilang kalau pembayaran tidak dilakukan, semua yang diberikan laut akan diambil kembali.”

Laras mulai memahami.

Kekayaan.

Kesuksesan.

Mungkin bahkan kehidupan Surya sendiri.

“Kenapa kamu membawa kami ke sini?” tanya Laras.

Armand tidak menjawab.

“Kenapa, Armand?”

Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Laras merasa mual.

Perjalanan ini bukan liburan.

Bukan bonus.

Mereka sengaja dibawa ke sana.

“Siapa yang seharusnya menjadi tumbal?” tanyanya.

Suara Armand mengecil.

“Kamu.”

Ruangan seolah kehilangan udara.

Laras menatap kosong ke arah pintu.

“Aku?”

“Ayah meninggalkan catatan. Korban harus seseorang yang bekerja untuk keluarga kami selama tiga tahun, bukan anggota keluarga, dan datang ke laut atas kemauannya sendiri.”

Laras akhirnya mengerti mengapa Armand tiba-tiba mengundangnya.

Tepat setelah tiga tahun ia bekerja.

Bonus.

Perjalanan pribadi.

Semua sudah direncanakan.

“Kamu bajingan.”

“Aku tidak punya pilihan!”

“Kamu punya pilihan!”

“Aku punya ribuan karyawan! Kalau perusahaan hancur, mereka kehilangan pekerjaan!”

Laras tertawa getir.

“Jadi hidupku lebih murah daripada perusahaanmu?”

Armand tidak menjawab.

Tiba-tiba suara perempuan terdengar dari luar.

“Perjanjian tidak pernah meminta perempuan itu.”

Pak Hadi mengangkat kepala.

Laras merasakan jantungnya berdetak semakin keras.

Suara tersebut melanjutkan.

“Manusia selalu mengubah cerita agar dosanya tampak masuk akal.”

Pintu kabin terbuka sendiri.

Tidak rusak.

Tidak didobrak.

Hanya terbuka.

Di ujung geladak berdiri perempuan laut yang sebelumnya memeluk Armand.

Namun kini tubuh bagian bawahnya tertutup kain hitam panjang yang basah, sehingga dari kejauhan ia hampir tampak seperti manusia biasa.

Armand berlutut beberapa meter darinya.

Wajahnya pucat.

“Ayahku bilang kalian meminta tumbal!”

Makhluk itu memandangnya.

“Kami meminta apa yang dipinjam dikembalikan.”

“Apa bedanya?”

“Nyawa yang dipinjam.”

Laras menoleh kepada Pak Hadi.

Lelaki itu tampak seperti baru memahami sesuatu.

Perempuan laut itu berjalan mendekat.

Setiap langkahnya meninggalkan air di lantai.

“Dua puluh tujuh tahun lalu, Surya Wijaya seharusnya mati bersama kapalnya. Ia memohon hidupnya diperpanjang.”

Armand menggeleng.

“Dia sudah mati lima tahun lalu.”

“Tubuhnya mati.”

Makhluk itu menatap Armand.

“Utangnya belum.”

Ternyata perjanjian tersebut bukan meminta satu korban setiap dua puluh tujuh tahun.

Surya meminta hidupnya diperpanjang dan keturunannya diberi kemakmuran selama satu siklus.

Sebagai gantinya, ketika siklus selesai, seluruh kekayaan yang berasal dari perjanjian harus dikembalikan.

Jika keluarga Wijaya menolak, pewaris utama harus menggantikan nyawa Surya yang dulu diselamatkan.

Ayah Armand mengetahui hal itu.

Namun sebelum meninggal, ia memalsukan isi perjanjian dalam catatan yang diwariskan kepada anaknya.

Ia menulis bahwa orang lain dapat dijadikan pengganti.

“Jadi ayahku membohongiku?”

“Dia takut.”

Perempuan itu tersenyum tipis.

“Seperti kamu.”

Armand berdiri.

“Aku bisa membayar.”

Ia bicara cepat.

“Berapa pun. Sepuluh miliar? Seratus miliar? Satu triliun?”

Untuk pertama kalinya, Laras melihat makhluk itu tertawa.

Bukan tawa menyeramkan.

Justru tawa seperti seseorang yang mendengar lelucon bodoh.

“Kalian manusia benar-benar mengira uang adalah bahasa seluruh dunia.”

Armand mundur.

“Aku tidak mau mati.”

“Begitu juga perempuan yang kau bawa.”

Armand menoleh kepada Laras.

Tatapan mereka bertemu.

Selama tiga tahun Laras mengenalnya sebagai lelaki yang tidak pernah meminta maaf dengan tulus.

Namun sekarang kesombongan itu lenyap.

“Laras…”

“Jangan.”

“Aku panik.”

“Kamu merencanakan ini sebelum kita meninggalkan Jakarta.”

“Aku bisa memberikan apa pun kepadamu.”

Laras tersenyum pahit.

“Masih belum mengerti juga?”

Ombak mulai menghantam kapal.

Perempuan laut mengangkat tangannya.

Air di sekitar kapal berputar membentuk pusaran.

Armand langsung berlari menuju Laras.

Ia menarik tangan perempuan itu.

“Ambil dia!”

Laras terkejut.

“Armand!”

“Dia yang kubawa! Dia korbannya!”

Makhluk itu tidak bergerak.

Armand semakin panik.

“Ambil dia!”

Laras menatap lelaki yang selama tiga tahun dilayaninya.

Saat itulah seluruh keraguan dalam dirinya hilang.

Ia mengeluarkan sebuah amplop yang sejak Jakarta disimpan di saku dalam jaketnya.

Surat pengunduran diri.

Ia melemparkannya ke depan Armand.

“Aku sebenarnya ingin memberikan ini malam pertama kita di kapal.”

Armand memandang kertas tersebut.

“Apa?”

“Aku berhenti.”

“Sekarang bukan waktunya!”

“Justru sekarang waktu yang paling tepat.”

Laras menatap perempuan laut.

“Perjanjiannya mengatakan korban harus bekerja untuk keluarga Wijaya selama tiga tahun, bukan?”

Armand terdiam.

Laras tersenyum.

“Mulai detik ini aku bukan pegawainya.”

Pak Hadi hampir tertawa meski wajahnya masih tegang.

Namun makhluk itu berkata sesuatu yang lebih mengejutkan.

“Tidak pernah ada syarat itu.”

Laras menatapnya.

Perempuan laut menunjuk surat tersebut.

“Itu hanya kebohongan lain yang dibuat keluarga Wijaya.”

Armand langsung pucat.

“Tidak…”

Makhluk itu mendekatinya.

“Surya berbohong kepada anaknya. Anaknya berbohong kepada cucunya. Dan cucunya hampir membunuh orang yang tidak bersalah demi mempertahankan kekayaan yang bahkan bukan miliknya.”

Armand berlari.

Ia mencoba mencapai sekoci penyelamat.

Namun sebelum tangannya menyentuh tali, kapal berguncang keras.

Armand terjatuh.

Dari laut muncul puluhan tangan.

Bukan untuk menariknya.

Mereka hanya menunjuk.

Kepada Armand.

Lelaki itu menangis.

Untuk pertama kalinya Laras melihatnya benar-benar ketakutan.

“Laras, tolong aku.”

Laras tidak bergerak.

“Aku akan mengubah semuanya. Aku akan memberikan saham. Rumah. Uang. Apa saja.”

“Masalahmu bukan kekurangan uang, Armand.”

Air mulai naik ke geladak.

“Masalahmu adalah selama ini kamu mengira semua orang punya harga.”

Armand terdiam.

Perempuan laut berdiri tepat di depannya.

“Ada dua pilihan.”

Armand mendongak.

“Kembalikan apa yang diberikan laut dan hidup sebagai manusia biasa.”

“Artinya?”

“Seluruh kekayaan yang dibangun dari perjanjian akan hilang.”

Armand gemetar.

“Pilihan kedua?”

Makhluk itu menatap laut.

“Pertahankan semuanya.”

Armand menelan ludah.

“Dan aku mati?”

“Bukan.”

Perempuan itu tersenyum.

“Kau tinggal bersama kami sampai utang keluargamu lunas.”

Tidak ada yang tahu berapa lama itu.

Satu tahun.

Seratus tahun.

Atau selamanya.

Armand menatap kapal mewahnya, jam mahal di pergelangan tangannya, kemudian Laras.

Lalu ia melakukan sesuatu yang bahkan Laras tidak menduganya.

“Aku pilih kekayaannya.”

Pak Hadi mengumpat pelan.

Armand menangis ketika mengucapkannya, tetapi ia tetap mengulanginya.

“Aku tidak bisa kehilangan semuanya.”

Perempuan laut mengangguk.

“Pilihan diterima.”

Air meledak dari kedua sisi kapal.

Laras menutup wajah.

Ketika ia membuka mata, Armand sudah tidak ada.

Laut kembali tenang.

Makhluk-makhluk itu menghilang satu per satu.

Mesin kapal mendadak menyala.

Fajar muncul di cakrawala.

Pak Hadi segera mengarahkan kapal kembali menuju Banyuwangi.

Tidak seorang pun berbicara selama perjalanan pulang.

Tiga hari kemudian, dunia bisnis Indonesia diguncang berita hilangnya Armand Wijaya dalam kecelakaan laut.

Namun kejutan sebenarnya terjadi satu minggu kemudian.

Saham perusahaan-perusahaan Wijaya melonjak.

Kontrak baru berdatangan.

Nilai kekayaan keluarga tersebut justru meningkat drastis.

Persis seperti pilihan Armand.

Ia mempertahankan semuanya.

Tetapi tidak bisa menikmatinya.

Laras mengundurkan diri secara resmi.

Ia tidak meminta pesangon.

Tidak mengambil tawaran uang tutup mulut dari keluarga Wijaya.

Ia hanya ingin hidupnya kembali.

Enam bulan kemudian, Laras pindah ke Malang dan membuka usaha konsultasi operasional kecil bersama dua temannya.

Hidupnya jauh lebih sederhana.

Tidak ada penerbangan kelas bisnis.

Tidak ada hotel bintang lima.

Tidak ada pesta kapal pesiar.

Namun setiap malam ia bisa tidur tanpa takut telepon dari bosnya berbunyi.

Sampai suatu malam.

Sebuah paket tiba tanpa nama pengirim.

Kotaknya basah.

Laras membukanya perlahan.

Di dalamnya terdapat jam tangan Armand.

Jam yang dulu pernah membuatnya terbang ke Surabaya hanya karena Armand malas membeli yang baru.

Jarumnya berhenti tepat pukul satu lewat tujuh belas menit.

Di bawah jam tersebut terdapat sebuah benda lain.

Kepingan logam kecil berkarat.

Laras mengangkatnya.

Ada tulisan yang terukir di permukaannya.

Utang berikutnya bukan milik keluarga Wijaya.

Laras menjatuhkan benda itu.

Teleponnya berdering.

Nomor tidak dikenal.

Dengan tangan gemetar, ia mengangkatnya.

Tidak ada suara manusia.

Hanya ombak.

Kemudian suara Armand terdengar sangat jauh.

“Laras…”

Ia terisak.

“Tolong aku.”

Laras hampir mematikan telepon ketika suara perempuan lain terdengar.

Suara yang sangat dikenalnya.

Perempuan laut itu.

“Jangan takut. Kami tidak datang menagihmu.”

Laras menahan napas.

“Lalu kenapa menghubungiku?”

Beberapa detik hanya terdengar suara air.

Kemudian jawabannya datang.

“Karena manusia yang kami bawa membuat perjanjian baru.”

Darah Laras terasa dingin.

“Apa yang dia tawarkan?”

Perempuan itu tertawa pelan.

“Semua kekayaan keluarganya.”

“Untuk apa?”

“Untuk kembali ke daratan.”

Laras memejamkan mata.

“Dan kalian menerima?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Suara di telepon berubah tenang.

“Karena dia masih belum memahami satu hal.”

“Apa?”

“Yang membuat manusia menjadi budak bukan perjanjian dengan laut.”

Suara ombak semakin keras.

“Melainkan ketidakmampuannya merasa cukup.”

Sambungan terputus.

Laras berdiri lama di dekat jendela.

Di luar, hujan turun membasahi jalanan Malang.

Ia memandang jam tangan Armand di atas meja, lalu mengambilnya dan menyimpannya di dalam laci.

Bukan sebagai kenang-kenangan.

Melainkan sebagai pengingat.

Tiga tahun ia mengira kebebasan berarti memiliki cukup uang untuk meninggalkan pekerjaan yang dibencinya.

Armand mengajarinya sesuatu yang berbeda.

Seseorang bisa memiliki perusahaan, kapal pesiar, rumah mewah, saham bernilai triliunan, dan hampir seluruh hal yang bisa dibeli uang, tetapi tetap menjadi manusia paling miskin ketika tidak pernah tahu kapan harus berhenti menginginkan lebih.

Jauh di selatan Jawa, pada malam yang sama, sebuah kapal nelayan melintasi perairan yang tenang.

Seorang nelayan muda melihat sosok lelaki berenang mengikuti kapal.

Wajahnya pucat.

Pakainya compang-camping.

Di pergelangan tangannya tidak ada lagi jam mahal.

Lelaki itu mengangkat tangan dan berteriak meminta pertolongan.

Nelayan muda itu hampir melemparkan tali.

Namun ayahnya segera menariknya mundur.

“Jangan.”

“Kenapa, Pak? Dia masih hidup!”

Ayahnya menatap sosok di laut.

Lalu ia mematikan lampu kapal.

“Bukan.”

Dari bawah permukaan mulai terdengar nyanyian perempuan.

“Dia cuma belum selesai membayar.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang