Polisi yang Dihina Tak Berguna Ini Ternyata Membongkar Pembunuh Berantai yang Selama Tiga Tahun Menipu Seluruh Tim Penyidik

Aku berlari keluar dari ruang arsip sebelum Raka sempat menyelesaikan kalimatnya.

Bukan berlari seperti saat latihan pagi.

Tidak ada langkah terseret. Tidak ada tangan yang mencari dinding. Tidak ada napas terengah yang sengaja kubuat lebih berat.

Aku melewati lorong, menuruni tangga dua anak sekaligus, lalu membuka pintu mobil patroli.

Raka berhenti beberapa meter di belakangku.

Tatapannya berubah.

“Kamu…”

“Kalau mau bengong, tinggal di kantor.”

Aku masuk ke mobil.

Untuk pertama kalinya, Raka tidak membalas.

Apartemen Muara Indah hanya berjarak dua belas menit. Ketika kami tiba, halaman depan sudah dipenuhi penghuni. Tubuh korban tergeletak di dekat taman, ditutupi kain putih oleh petugas keamanan.

Alya datang beberapa menit kemudian bersama tim identifikasi.

“Korban bernama Maya Kusuma, tiga puluh satu tahun,” katanya. “Tinggal sendiri di lantai tujuh. Dugaan awal bunuh diri.”

Raka mendongak ke balkon.

“Tidak ada saksi?”

“Satpam mendengar suara benturan sekitar pukul dua belas kurang lima.”

Aku tidak melihat tubuh korban.

Aku melihat kakinya.

Lebih tepatnya, telapak sepatunya.

Bersih.

Terlalu bersih.

“Kamarnya di mana?”

Raka menoleh. “Kita periksa korban dulu.”

“Kamarnya.”

Nada suaraku membuat Alya terdiam.

Kami naik ke lantai tujuh.

Pintu unit 712 terbuka. Tidak ada kerusakan pada kunci. Ruang tamunya rapi. Televisi masih menyala. Di meja terdapat segelas teh yang tinggal setengah.

Aku berhenti.

Dua cangkir.

Satu di meja.

Satu lagi sudah dicuci dan diletakkan terbalik di rak dekat wastafel.

“Kemungkinan dia menerima tamu,” kataku.

Raka mengenakan sarung tangan dan memeriksa balkon.

“Bisa saja cangkir itu dipakai pagi tadi.”

Aku berjongkok di dekat pintu balkon.

Lantainya berdebu tipis.

“Ada yang aneh?”

Aku menunjuk lantai.

Jejak kaki Maya terlihat menuju balkon.

Namun tidak ada jejak kembali.

“Dia berjalan sendiri ke sana,” kata Raka.

“Lihat lagi.”

Ia berjongkok.

Di antara jejak Maya terdapat bekas samar berbentuk garis setengah lingkaran.

Bukan telapak sepatu.

Ujung tongkat.

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Tiga tahun.

Delapan perempuan.

Dan akhirnya dia melakukan kesalahan.

Aku berdiri.

“Jangan sentuh apa pun.”

Raka menatapku tajam. “Nadira, ini wilayah penyelidikanku.”

“Kalau begitu selidiki kenapa perempuan yang katanya bunuh diri punya memar bekas genggaman di pergelangan tangan.”

Semua orang melihat ke arahku.

Aku kembali ke bawah dan menarik kain penutup tubuh Maya hanya cukup untuk melihat tangan kirinya.

Ada empat bekas tekanan samar.

Raka terdiam.

Kamera reality show rupanya ikut tiba dan merekam dari balik garis polisi.

Komentar siaran langsung kembali ramai.

Kali ini berbeda.

Orang-orang mulai bertanya kenapa “polisi tidak berguna” tiba-tiba terlihat seperti orang lain.

Aku mengabaikannya.

Pukul dua pagi, hasil pemeriksaan awal memperlihatkan sesuatu yang lebih ganjil.

Di dalam tubuh Maya ditemukan obat penenang dalam dosis rendah.

Tidak cukup untuk membuatnya pingsan.

Cukup untuk memperlambat refleks.

Aku meminta rekaman CCTV apartemen.

Tidak ada orang asing masuk ke lantai tujuh selama enam jam sebelum kematian Maya.

Raka menyilangkan tangan.

“Berarti pembunuhnya penghuni apartemen.”

“Belum tentu.”

“Tidak ada orang masuk.”

“Karena kita mencari orang.”

Ia mengerutkan kening.

Aku memutar rekaman mundur.

Pukul 21.13 seorang petugas pemeliharaan masuk membawa kotak peralatan.

Pukul 21.26 seorang kurir makanan naik.

Pukul 22.04 seorang pria tua berjalan menggunakan tongkat menuju lift.

Aku menghentikan rekaman.

Pria itu memakai topi, masker, dan jaket longgar.

Tongkat.

“Dia.”

Raka mendekat.

“Kamu tidak bisa menyimpulkan hanya karena tongkat.”

“Benar.”

Aku memperbesar gambar.

“Makanya lihat sepatunya.”

Sol sepatu pria itu memiliki pola diagonal.

Aku membuka foto dari kasus lima tahun lalu di tablet.

Raka membeku.

Pola yang sama.

Alya berbisik, “Kamu punya berkas kasus ini?”

“Semua.”

Aku membuka tas dan mengeluarkan sebuah hard disk.

“Tujuh korban sebelumnya dianggap tidak berhubungan. Tiga dikategorikan bunuh diri, dua perampokan yang gagal, satu kecelakaan, satu pembunuhan oleh mantan pasangan.”

Raka menatapku seperti baru melihat orang asing.

“Kamu siapa sebenarnya?”

Aku tidak menjawab.

Komisaris Hendra yang menjawab dari belakang.

“Dulu dia analis utama Satgas Seruni.”

Ruangan mendadak sunyi.

Bahkan Raka mengenal nama itu.

Semua polisi reserse di Jakarta mengenalnya.

Satgas Seruni dibentuk tiga tahun lalu untuk menyelidiki serangkaian kematian perempuan yang tidak pernah berhasil dihubungkan secara hukum.

“Aku pikir seluruh timnya dibubarkan,” kata Raka.

“Benar,” jawab Hendra.

“Karena mereka gagal?”

Hendra memandangku.

“Karena seseorang mencoba membunuh Nadira.”

Bekas luka di tubuhku kembali terasa nyeri.

Tiga tahun lalu aku menemukan pola.

Semua korban pernah melaporkan kasus berbeda ke kepolisian. Penipuan, penguntitan, kekerasan, pemerasan.

Laporan mereka ditangani oleh petugas berbeda.

Namun ada satu kesamaan.

Seseorang selalu muncul setelah laporan dibuat.

Seseorang yang menawarkan bantuan.

Aku hampir menemukan identitasnya.

Lalu gudang tempat penyimpanan barang bukti terbakar.

Malam berikutnya, seseorang menungguku di parkiran.

Pisau masuk di bawah tulang rusukku.

Paru-paruku terluka permanen.

Sejak itu aku tidak pernah bisa berlari jauh lagi.

“Jadi semua kelakuanmu selama ini…” Alya menatapku.

“Sebagian akting.”

“Sebagian?”

“Aku memang suka lemper.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Hendra hampir tersenyum.

Namun senyumnya hilang ketika ponselku berbunyi.

Pak Joko.

“Nadira, ada masalah.”

“Apa?”

“Berkas korban kedelapan bocor.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Siapa yang punya akses?”

“Tim lama. Polda. Dan…”

Dia berhenti.

“Polsek Tanjung Biru.”

Aku menatap orang-orang di ruangan.

Pembunuh itu bukan sekadar mengawasi polisi.

Dia berada cukup dekat untuk mengetahui penyelidikan kami.

Pagi berikutnya kami menemukan identitas pria bertongkat.

Namanya Surya Mahendra, lima puluh delapan tahun.

Setidaknya itu identitas yang tercatat.

Alamatnya ternyata rumah kosong di Bekasi.

Nomor identitasnya milik orang yang sudah meninggal sebelas tahun lalu.

Namun wajahnya muncul di kamera beberapa lokasi kasus sebelumnya.

Selalu berbeda.

Petugas kebersihan.

Kurir.

Teknisi AC.

Penjual makanan.

Orang-orang melihatnya, tetapi tidak pernah benar-benar memperhatikannya.

Raka akhirnya memahami.

“Dia tidak menghindari kamera.”

Aku mengangguk.

“Dia membuat dirinya terlihat tidak penting.”

Sama seperti yang kulakukan selama dua tahun terakhir.

Siang itu sebuah pesan masuk ke ponselku.

Nomor tidak dikenal.

“Kamu masih suka menyimpan semuanya di arsip, Nadira?”

Tubuhku menegang.

Pesan kedua muncul.

“Datang sendiri kalau tidak ingin korban kesembilan mati.”

Sebuah lokasi dikirim.

Gudang tua di kawasan pelabuhan.

Tempat yang sama dengan kebakaran tiga tahun lalu.

Aku tidak memberi tahu siapa pun.

Setidaknya itulah yang kubuat mereka percaya.

Pukul sembilan malam aku masuk ke gudang.

Bau besi dan air laut memenuhi udara.

Seorang pria berdiri membelakangiku.

Tongkatnya tergeletak di lantai.

“Sudah lama,” katanya.

Ia berbalik.

Aku mengenalnya.

Bukan Surya Mahendra.

Bukan teknisi.

Bukan kurir.

Namanya dr. Adrian Wibowo.

Psikolog forensik yang tiga tahun lalu membantu Satgas Seruni membuat profil pembunuh.

Orang yang duduk di sebelahku selama puluhan rapat.

Orang yang selalu berkata bahwa teoriku terlalu jauh.

“Kamu?”

Adrian tersenyum.

“Aku penasaran kapan kamu akan berhenti pura-pura bodoh.”

Aku merasakan mual.

Semua informasi yang kami miliki dahulu melewati tangannya.

Profil korban.

Strategi pengejaran.

Kecurigaan kami.

Dia tidak menghindari penyelidikan.

Dia mengarahkan penyelidikan.

“Kenapa mereka?”

“Mereka datang meminta keadilan,” katanya. “Lalu mereka kecewa. Marah. Putus asa. Sangat mudah membuat seseorang percaya bahwa kematian adalah satu-satunya jalan keluar.”

“Kamu membunuh mereka.”

“Aku membebaskan mereka.”

Aku hampir tertawa mendengar kegilaan dalam kalimat itu.

“Lalu Maya?”

“Dia mengenaliku.”

Adrian melangkah mendekat.

Aku mundur.

“Dan sekarang kamu juga harus selesai.”

Tangannya masuk ke saku jaket.

Aku tahu apa yang akan terjadi.

Namun sebelum ia sempat mengeluarkan sesuatu, lampu gudang menyala.

“Jangan bergerak!”

Raka muncul dari sisi kiri.

Hendra dari belakang.

Belasan polisi mengepung gudang.

Wajah Adrian berubah.

Aku mengangkat ponsel.

“Sejak ditusuk tiga tahun lalu, aku belajar satu hal.”

“Apa?”

“Jangan pernah datang sendirian.”

Adrian tertawa.

Lalu tiba-tiba Alya berteriak dari belakang.

“Nadira, awas!”

Adrian melempar sesuatu.

Aku menjatuhkan diri.

Suara tembakan menggema.

Raka menerjangnya.

Dalam hitungan detik Adrian terjatuh dan diborgol.

Aku duduk di lantai, terengah-engah.

Paru-paruku terasa terbakar.

Raka menghampiriku.

“Kamu bilang tidak bisa lari.”

“Aku memang tidak bisa.”

“Tadi kamu menghindar cepat.”

“Itu jatuh dengan elegan.”

Dia menggeleng sambil tertawa untuk pertama kalinya.

Kasus itu seharusnya selesai malam itu.

Namun ternyata belum.

Saat Adrian diperiksa, ia mengakui tujuh pembunuhan.

Bukan delapan.

“Maya bukan korbanku,” katanya.

Aku menatapnya dari balik kaca ruang interogasi.

“Apa maksudnya?”

“Aku memang datang menemuinya. Tapi ketika aku pergi, dia masih hidup.”

Rekaman CCTV diperiksa kembali.

Adrian keluar pukul 22.17.

Perkiraan kematian Maya pukul 23.50.

Ada jeda lebih dari satu setengah jam.

Berarti ada orang kedua.

Kami memeriksa ulang semua bukti.

Lalu aku melihat sesuatu yang membuat tengkukku dingin.

Foto pertama tubuh Maya diambil pukul 23.58.

Dalam foto itu, jam tangannya berada di pergelangan kiri.

Namun ketika tim identifikasi tiba, jam itu berada di kanan.

Seseorang memindahkannya.

Seseorang yang berada di lokasi sebelum kami.

Aku meminta daftar petugas pertama yang tiba.

Namanya muncul di urutan kedua.

Alya Safitri.

Aku tidak ingin percaya.

Namun bukti tidak peduli pada apa yang ingin kita percaya.

Kami memeriksa latar belakangnya.

Nama “Alya Safitri” baru muncul delapan bulan lalu.

Ijazah akademinya asli.

Dokumennya asli.

Namun sidik jarinya cocok dengan seseorang bernama Alya Mahendra.

Putri Adrian Wibowo.

Malam itu Alya tidak datang ke kantor.

Kamarnya kosong.

Di meja hanya ada sebuah amplop untukku.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat foto delapan korban.

Di belakang foto Maya tertulis satu kalimat.

“Ayah membunuh tujuh orang. Aku hanya membunuh satu. Tapi orang yang sebenarnya menghancurkan hidup kami belum pernah kalian tangkap.”

Di bawahnya terdapat nama.

Pak Joko.

Tanganku bergetar.

Aku langsung meneleponnya.

Tidak aktif.

Kami mendatangi rumahnya.

Kosong.

Di ruang kerjanya, kami menemukan brankas terbuka.

Isinya dokumen lama Satgas Seruni.

Dan sebuah laporan yang seharusnya sudah dimusnahkan tiga tahun lalu.

Aku membacanya sampai halaman terakhir.

Barulah aku mengerti.

Pak Joko sudah mengetahui identitas Adrian sejak korban keempat.

Namun ia sengaja membiarkan penyelidikan berjalan.

Adrian adalah informan rahasia yang membantunya membongkar jaringan pemerasan besar yang melibatkan pejabat dan pengusaha.

Menangkap Adrian berarti kehilangan sumber informasi.

Tiga perempuan berikutnya mati karena keputusan itu.

Dan ketika aku terlalu dekat dengan kebenaran, Pak Joko memerintahkan penghapusan bukti.

Dia bukan orang yang menusukku.

Tetapi dialah yang membuat Adrian tetap bebas.

Tiga tahun aku mengira kegagalanku terjadi karena aku kurang pintar.

Ternyata kami gagal karena seseorang memilih karier dan operasi rahasia di atas nyawa manusia.

Pak Joko ditangkap dua hari kemudian di Bandung.

Alya menyerahkan diri seminggu setelahnya.

Ia mengaku membunuh Maya karena Maya mengetahui identitas ayahnya dan hendak menjual informasi itu kepada media. Ia mengira dengan membuat kematiannya menyerupai pola Adrian, semua kesalahan akan jatuh kepada ayahnya.

Kasus itu akhirnya membuka semuanya.

Tujuh pembunuhan.

Satu pembunuhan tiruan.

Manipulasi barang bukti.

Penyalahgunaan wewenang.

Dan tiga tahun kebohongan.

Reality show yang awalnya datang untuk merekam polisi bekerja malah menyiarkan konferensi pers terbesar yang pernah terjadi di Polsek Tanjung Biru.

Namaku kembali menjadi trending topic.

Namun kali ini judulnya berbeda.

POLISI YANG DIANGGAP TIDAK BERGUNA MEMBONGKAR KASUS TIGA TAHUN.

Aku membaca beberapa komentar.

【Maaf sudah menghina.】

【Ternyata selama ini dia menyamar.】

【Keren banget.】

Aku mematikan ponsel.

Raka duduk di sebelahku di ruang arsip.

“Tidak mau menikmati ketenaran?”

“Capek.”

“Kamu tahu mereka sekarang menganggapmu polisi paling hebat di kantor?”

Aku membuka bungkus lemper.

“Dua minggu lagi mereka lupa.”

Raka tertawa.

Komisaris Hendra masuk membawa sebuah surat.

“Polda meminta kamu kembali.”

Aku menatap surat itu cukup lama.

Dua tahun lalu, aku mungkin akan menerimanya tanpa berpikir.

Aku ingin membuktikan bahwa aku masih sama seperti sebelum ditusuk.

Bahwa tubuhku yang rusak tidak mengurangi kemampuanku.

Bahwa orang-orang yang meremehkanku salah.

Namun tiga tahun mengejar seorang pembunuh mengajariku sesuatu.

Menjadi polisi bukan tentang terlihat kuat.

Bukan tentang siapa yang berlari paling cepat.

Bukan siapa yang paling cepat menyimpulkan.

Dan bukan siapa yang paling dipuji kamera.

Aku mendorong surat itu kembali.

“Untuk sementara saya tetap di sini.”

Hendra mengangkat alis.

“Kenapa?”

Aku melihat tumpukan berkas di sekelilingku.

Ratusan laporan.

Ratusan nama.

Ratusan cerita yang mungkin dianggap terlalu kecil oleh orang lain.

“Karena orang seperti Adrian selalu mencari korban yang merasa tidak didengar.”

Aku mengambil satu map dari tumpukan paling bawah.

Laporan seorang perempuan tentang seseorang yang mengikutinya pulang selama tiga minggu.

Kasusnya diberi catatan.

Tidak cukup bukti.

Aku berdiri.

Raka memandangku.

“Mau ke mana?”

“Kerja.”

Ia tersenyum. “Akhirnya.”

Aku berjalan menuju pintu, lalu berhenti.

“Oh iya.”

“Apa?”

“Tolong belikan lemper.”

Wajah Raka langsung berubah.

Aku tertawa kecil dan keluar dari ruang arsip.

Di luar, matahari pagi menyinari halaman Polsek Tanjung Biru.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku tidak merasa sedang bersembunyi.

Orang-orang mungkin pernah menganggapku tidak berguna.

Mungkin besok mereka akan menemukan alasan lain untuk menertawakanku.

Tidak masalah.

Karena seragam ini tidak pernah membutuhkan seseorang yang terlihat sempurna.

Ia membutuhkan seseorang yang mau melihat apa yang dilewatkan orang lain.

Dan terkadang, orang yang dianggap paling tidak berguna di ruangan justru satu-satunya yang masih memperhatikan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang