“Apa maksudnya kejadian tiga hari lalu?”
Pertanyaanku membuat suasana yang tadi dipenuhi tawa mendadak sunyi.
Petugas muda yang keceplosan itu langsung menunduk. Wajahnya berubah pucat ketika Arga menatapnya dari balik kacamata hitam.
“Nggak ada apa-apa,” kata Arga.
Aku tertawa pendek.
Aku pengacara perceraian. Setiap hari pekerjaanku adalah mendengarkan orang berbohong tentang perselingkuhan, aset tersembunyi, rekening rahasia, dan pernikahan yang katanya baik-baik saja.
Jadi ketika seseorang mengatakan tidak ada apa-apa dengan wajah seperti Arga saat itu, aku tahu pasti ada sesuatu.
Aku masuk ke mobil patroli dan menutup pintu.
“Baik. Kita bicara berdua.”
Arga ikut masuk dari sisi lain.
Mobil belum bergerak ketika aku mengeluarkan map cokelat dari tas.
Aku meletakkannya di pangkuannya.
“Apa ini?”
“Surat gugatan cerai.”
Arga menatap map itu cukup lama.
Aneh.
Aku sudah membayangkan berbagai reaksinya selama perjalanan dari Jakarta. Mungkin dia marah. Mungkin lega. Mungkin menandatangani semuanya tanpa membaca.
Tapi Arga justru tersenyum tipis.
“Jadi kamu datang sejauh ini cuma untuk kasih ini?”
“Iya.”
“Bohong.”

Aku melotot.
“Kenapa bohong?”
“Kalau cuma mau cerai, kamu pengacara. Bisa kirim dokumen lewat kuasa hukum.”
Aku terdiam.
Sial.
Dia benar.
Arga menyandarkan kepala ke kursi.
“Kamu datang karena masih ingin lihat aku.”
“Percaya diri sekali.”
“Lumayan.”
Aku hendak membalas ketika tiba-tiba wajahnya menegang.
Tangannya mencengkeram sisi kursi.
“Arga?”
“Nggak apa-apa.”
Lagi-lagi kalimat itu.
Namun kali ini aku melihat sesuatu yang berbeda.
Di bagian samping seragamnya terdapat noda gelap.
Aku menunduk.
“Ini apa?”
Arga cepat-cepat menutupinya dengan tangan.
Terlambat.
Aku menarik ujung jaket lapangannya.
Dia mendesis.
Di balik kausnya ada perban tebal melilit sisi perut. Sebagian warnanya sudah berubah kecokelatan.
Darah.
“Ya Tuhan.”
“Alya.”
“Kamu terluka?”
“Cuma sedikit.”
“Sedikit dari mana? Ini perban hampir selebar badanmu!”
Aku menoleh ke luar.
“Bawa kami ke klinik!”
Sopir di depan tidak bergerak.
Aku membentak lagi.
“Sekarang!”
Petugas itu justru menatap Arga melalui kaca spion, seolah menunggu izin.
Arga mengangguk pelan.
Mobil langsung melaju.
Sepanjang perjalanan aku tidak bicara.
Tanganku gemetar.
Entah karena marah atau takut.
Mungkin keduanya.
Pos kesehatan yang kami datangi sangat sederhana. Seorang dokter yang tampaknya sudah mengenal Arga segera menyuruhnya berbaring.
Saat perban dibuka, aku hampir kehilangan napas.
Luka itu lebih buruk daripada yang kubayangkan.
Dokter menatap Arga tajam.
“Saya sudah bilang jangan banyak bergerak.”
“Ada urusan.”
“Urusan apa yang lebih penting daripada jahitanmu terbuka?”
Arga melirikku.
Dokter mengikuti pandangannya.
“Oh.”
Aku menyilangkan tangan.
“Oh apa?”
Dokter berdeham.
“Jadi ini istrinya.”
Aku mulai kesal.
“Kenapa semua orang di tempat ini tahu dia punya istri sementara istrinya sendiri bahkan tidak tahu suaminya terluka?”
Tak ada yang menjawab.
Dokter kembali membersihkan luka.
Aku berdiri di sudut ruangan sambil memperhatikan Arga menahan sakit tanpa mengeluarkan suara.
Tiga hari lalu ternyata timnya melakukan operasi malam di wilayah hutan dekat jalur perbatasan.
Itu saja yang mau mereka ceritakan.
Setelah luka selesai ditangani, Arga membawaku ke rumah dinas kecil di belakang pos.
Rumah itu jauh dari bayanganku tentang tempat tinggal seorang komandan.
Satu kamar tidur, ruang tamu sempit, dapur kecil, dan meja kerja yang penuh peta.
Di dinding tergantung seragam.
Di atas lemari ada beberapa buku.
Aku memperhatikan meja di samping tempat tidur.
Ada foto pernikahan kami.
Aku mengambilnya.
Itu foto sederhana dari enam bulan lalu. Aku sedang tertawa karena Arga salah memasangkan cincin.
“Kamu bawa ini?”
“Kenapa nggak?”
“Kupikir kamu bahkan sudah lupa punya istri.”
Arga duduk perl
