Mantan Tunanganku Melempar Rp20 Juta Saat Aku Bangkrut—Sebulan Kemudian, Rekaman Pengkhianatannya Menghancurkan Pesta Pertunangannya

Nama Raka di dokumen itu bukan sekadar tercantum sebagai saksi atau pihak yang pernah berhubungan dengan perusahaan Selena.

Namanya muncul sebagai penerima uang.

Aku memperbesar halaman terakhir di layar laptop.

Transfer pertama sebesar tiga ratus lima puluh juta rupiah.

Transfer kedua enam ratus juta.

Transfer ketiga satu miliar dua ratus juta.

Semua berasal dari perusahaan milik keluarga Selena, Hartono Global Distribution.

Dion yang berdiri di belakang kursiku mendadak kehilangan senyum.

“Nadira, ini bukan uang receh.”

“Aku tahu.”

“Dan semuanya masuk sebelum perusahaan ayahmu mulai gagal bayar?”

Aku mengangguk.

Tanganku terasa dingin.

Selama beberapa minggu terakhir aku membongkar arsip ayah, mencoba memahami bagaimana perusahaan yang dibangun selama hampir tiga puluh tahun bisa runtuh begitu cepat.

Awalnya kupikir ayah memang salah mengambil keputusan.

Ternyata ada sesuatu yang jauh lebih buruk.

Salah satu kontrak terbesar perusahaan kami dibatalkan mendadak delapan bulan lalu. Setelah itu beberapa distributor utama ikut memutus kerja sama hampir bersamaan.

Aku menemukan korespondensi yang menunjukkan bahwa Hartono Global Distribution diam-diam menawarkan harga jauh di bawah pasar untuk merebut klien kami.

Namun ada satu masalah.

Mereka mengetahui persis harga minimum yang masih bisa ditawarkan perusahaan ayah.

Informasi itu seharusnya rahasia.

Dan hanya beberapa orang yang mengetahuinya.

Termasuk aku.

Termasuk ayah.

Dan termasuk Raka.

Aku teringat malam-malam ketika Raka datang ke rumah, duduk bersama ayah sambil minum kopi, lalu bertanya tentang bisnis seolah benar-benar ingin menjadi bagian keluarga kami.

“Om jangan khawatir,” katanya suatu malam. “Kalau nanti saya dan Nadira menikah, perusahaan ini juga keluarga saya.”

Ayah mempercayainya.

Aku lebih bodoh lagi.

Aku memberinya akses ke beberapa laporan perusahaan karena Raka pernah menawarkan bantuan mencari investor.

Sekarang semuanya terasa masuk akal.

Dion menarik kursi.

“Kita laporkan?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena dokumen ini membuktikan ada transaksi. Belum membuktikan Raka menjual informasi.”

Dion menatapku beberapa detik, kemudian tersenyum kecil.

“Makanya kamu bilang mau kasih hadiah?”

Aku menutup laptop.

“Aku mau dia sendiri yang membuktikannya.”

Hari pertunangan Raka dan Selena tiba satu minggu kemudian.

Acara diselenggarakan di sebuah hotel mewah di Jakarta.

Aku mengenakan gaun hitam sederhana yang kubeli dengan diskon tujuh puluh persen.

Dion datang menjemputku dengan setelan jas gelap.

Begitu melihatku, ia terdiam.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Kamu biasanya punya komentar.”

“Aku sedang berusaha menjadi manusia beradab.”

Aku memutar mata.

Di depan ballroom, puluhan tamu dari kalangan pengusaha dan sosialita sudah berdatangan.

Begitu aku masuk bersama Dion, percakapan di sekitar kami perlahan mereda.

Aku bisa merasakan tatapan mereka.

Sebulan lalu mereka melihat fotoku sebagai perempuan bangkrut yang menjual tas.

Sekarang aku datang bersama Dion Mahendra.

Bagas menjadi orang pertama yang menghampiri.

“Nadira?”

Wajahnya berubah ketika melihat Dion.

“Wah, ternyata benar berita itu.”

Dion memasukkan tangan ke saku.

“Berita apa?”

Bagas tertawa canggung.

“Nadira sekarang pacarmu.”

Dion menoleh kepadaku.

“Dia belum mau mengakui.”

Aku menyikut lengannya.

Bagas terlihat semakin tidak nyaman.

Saat itulah Raka muncul.

Selena berdiri di sampingnya mengenakan gaun putih dengan berlian di leher.

Tatapan Raka langsung berhenti pada tangan Dion yang berada dekat pinggangku.

“Nadira.”

“Selamat atas pertunangan kalian.”

Aku menyerahkan sebuah kotak kecil.

Selena menerimanya dengan senyum tipis.

“Kamu benar-benar datang.”

“Bukankah kalian yang mengundang?”

Raka menatapku dingin.

“Aku harap kamu tidak membuat masalah.”

Aku tersenyum.

“Tenang saja. Aku hanya datang membawa hadiah.”

Acara dimulai.

Pidato demi pidato terdengar.

Ayah Selena berbicara tentang persatuan dua keluarga besar.

Ayah Raka membicarakan kepercayaan dan kehormatan.

Ironis sekali.

Kemudian sebuah video perjalanan cinta Raka dan Selena diputar di layar raksasa.

Foto masa kecil mereka.

Foto liburan.

Foto ketika mereka bertemu kembali beberapa bulan lalu.

Aku menatap layar tanpa emosi.

Sampai Dion berbisik,

“Mereka berbohong.”

Aku menoleh.

“Apa?”

Dion menunjuk tanggal kecil di sudut salah satu foto.

Foto Raka dan Selena di Singapura.

Tanggalnya hampir setahun lalu.

Saat itu aku masih bertunangan dengan Raka.

Dadaku terasa sesak.

Aku tahu ia mengkhianati bisnis keluargaku.

Namun melihat bukti bahwa pengkhianatan itu juga terjadi dalam hubungan kami tetap terasa seperti pisau.

Dion menyentuh tanganku.

“Kalau kamu mau pergi, kita pergi.”

Aku menggeleng.

“Aku sudah terlalu lama pergi dari masalah.”

Setelah video selesai, Selena mengambil mikrofon.

“Ada satu orang yang ingin kami ucapkan terima kasih karena sudah hadir malam ini.”

Matanya mengarah kepadaku.

“Nadira.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Terima kasih karena sudah datang dan membuktikan bahwa masa lalu memang bisa melihat kebahagiaan masa depan.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Dion hendak berdiri.

Aku menahan lengannya.

Aku bangkit sendiri.

“Boleh aku membalas?”

Selena tersenyum puas.

“Tentu.”

Aku berjalan menuju panggung.

Raka terlihat gelisah.

Aku menerima mikrofon.

“Selamat untuk Raka dan Selena.”

Aku memandang mereka.

“Aku juga membawa hadiah kecil.”

Layar di belakang kami tiba-tiba berubah.

Video romantis menghilang.

Muncul tabel transaksi.

Suasana ballroom langsung gaduh.

Wajah Selena memucat.

Ayahnya berdiri.

“Apa ini?”

Aku menatap para tamu.

“Delapan bulan sebelum perusahaan ayahku runtuh, Hartono Global Distribution mentransfer lebih dari dua miliar rupiah kepada seseorang.”

Nama penerimanya muncul.

RAKA WIJAYA.

Semua kepala menoleh kepadanya.

Raka berdiri cepat.

“Ini fitnah!”

“Aku juga berharap begitu.”

Aku mengganti slide.

Muncul email berisi daftar harga perusahaan ayah.

Kemudian dokumen internal.

Kemudian kontrak klien yang akhirnya berpindah ke perusahaan keluarga Selena.

Raka naik ke panggung.

“Kamu mencuri dokumen perusahaan!”

“Dokumen itu milik ayahku.”

“Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu jelaskan.”

Raka terdiam.

Selena mendekat.

“Raka, bilang dia bohong.”

“Aku bisa jelaskan.”

Wajah Selena berubah.

Kalimat itu lebih buruk daripada penyangkalan.

Namun aku belum selesai.

“Ada satu hadiah terakhir.”

Lampu ballroom diredupkan.

Sebuah rekaman suara terdengar.

Suara Raka.

Jelas.

“Ayah Nadira terlalu percaya sama gue.”

Kemudian suara Bagas.

“Kalau ketahuan?”

Raka tertawa.

“Ketahuan bagaimana? Begitu kontrak mereka habis, perusahaan itu bakal tenggelam sendiri.”

Ruangan membeku.

Rekaman berlanjut.

Suara Selena terdengar.

“Setelah perusahaan mereka jatuh, kamu benar-benar putus sama Nadira?”

“Ya.”

“Kalau dia curiga?”

“Dia nggak akan curiga. Dia terlalu percaya sama gue.”

Tanganku mulai gemetar.

Aku sudah mendengar rekaman itu tiga hari sebelumnya.

Tetapi mendengarnya di ruangan yang sama dengan Raka tetap membuat dadaku sakit.

Selena tiba-tiba menatap Raka.

“Aku tidak pernah mengatakan bagian terakhir itu.”

Raka membeku.

Aku pun terkejut.

Rekaman kembali berjalan.

Suara Selena terdengar lagi.

“Kamu bilang ayah Nadira hanya akan kehilangan beberapa kontrak. Kamu tidak bilang perusahaannya akan bangkrut.”

Raka menjawab,

“Bukan masalah kita.”

“Raka, ini keterlaluan.”

“Selena, keluargamu dapat pasar mereka. Aku dapat bagian gue. Setelah itu kita menikah. Semua menang.”

Rekaman berhenti.

Selena mundur satu langkah.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar pucat.

Ayah Selena berjalan ke arah Raka.

“Dari mana rekaman itu?”

Aku menatap Dion.

Dion mengangkat bahu.

“Teman lama.”

Ternyata selama beberapa minggu terakhir Dion meminta tim keamanan digital perusahaan keluarganya membantu memeriksa perangkat penyimpanan lama milik ayahku.

Di salah satu hard disk terdapat rekaman pertemuan yang secara otomatis tersimpan dari aplikasi konferensi milik perusahaan.

Raka rupanya menggunakan akun ayahku untuk melakukan panggilan tanpa menyadari fitur perekam otomatis masih aktif.

Bagas mencoba keluar dari ballroom.

Dua petugas keamanan menghentikannya.

Raka menatapku dengan mata merah.

“Kamu puas?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Aku turun dari panggung.

“Ayahku meninggal sambil mengira dirinya gagal.”

Suaraku pecah.

“Dia menghabiskan minggu-minggu terakhir hidupnya meminta maaf kepadaku karena merasa menghancurkan masa depanku.”

Air mataku jatuh.

“Jadi tidak, Raka. Tidak ada bagian dari ini yang membuatku puas.”

Raka tidak menjawab.

Tiba-tiba Selena melepas cincin pertunangannya.

Ia meletakkannya di meja.

Raka menatapnya.

“Selena.”

“Jangan sentuh aku.”

“Kamu juga terlibat!”

“Aku tahu soal harga yang kamu bawa. Aku tahu ayahku memanfaatkannya. Dan aku salah karena diam.”

Selena menatapku.

“Tapi aku tidak tahu kamu sengaja menghancurkan seluruh perusahaan mereka.”

Ia kemudian menatap ayahnya.

“Dan kalau Papa tahu semuanya sejak awal, kita juga harus bertanggung jawab.”

Ballroom berubah menjadi kekacauan.

Aku tidak menunggu sampai selesai.

Aku berjalan keluar.

Di koridor hotel, kakiku akhirnya berhenti.

Dion menyusul.

“Kamu baik-baik saja?”

Aku tertawa sambil menangis.

“Pertanyaan bodoh.”

“Iya. Aku memang sering begitu.”

Aku duduk di bangku dekat lift.

Dion duduk di sebelahku.

Beberapa menit kami tidak bicara.

Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku.

Selembar uang seratus ribu.

Aku menatapnya.

“Apa itu?”

“Modal.”

“Modal apa?”

Ia menyerahkannya kepadaku.

“Kamu pernah bilang ayahmu selalu ingin perusahaan itu dibangun lagi.”

Aku tertawa pahit.

“Dengan seratus ribu?”

“Simbolis.”

“Kamu anak konglomerat paling pelit yang pernah kutemui.”

“Bagus. Berarti kamu sudah bisa bercanda.”

Tiga bulan kemudian, penyelidikan resmi terhadap transaksi antara Raka dan Hartono Global Distribution dimulai.

Beberapa mantan klien ayah kembali menghubungiku.

Bukan karena kasihan.

Mereka mengetahui bagaimana perusahaan kami kehilangan kontrak dan menawarkan kerja sama baru.

Aku tidak menerima uang Dion.

Aku menerima sesuatu yang lebih berguna.

Akses ke mentor bisnis dan jaringan logistik teknologi milik grup keluarganya.

Aku membangun perusahaan baru dari nol.

Kantornya hanya sebuah ruko kecil.

Karyawannya tujuh orang.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada tas bermerek.

Namun untuk pertama kalinya dalam hidupku, semua yang kumiliki terasa benar-benar milikku.

Suatu sore, seorang kurir datang membawa paket tanpa nama pengirim.

Di dalamnya ada sebuah tas.

Tas yang kujual kepada Raka seharga dua puluh juta rupiah.

Di dalam tas terdapat amplop.

Aku membuka suratnya.

Tulisan tangan itu milik Selena.

Aku membeli tas ini dari butik setelah malam itu. Aku tidak meminta maaf supaya kamu memaafkanku. Aku hanya ingin mengembalikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah menjadi simbol penghinaanmu. Aku sudah menyerahkan semua bukti yang kumiliki kepada penyidik. Semoga suatu hari kita sama-sama bisa hidup tanpa laki-laki yang pernah membuat kita mengkhianati diri sendiri.

Aku membaca surat itu dua kali.

Kemudian terdengar ketukan di pintu.

Dion masuk membawa dua gelas kopi.

Ia melihat tas di mejaku.

“Wah. Masa kejayaan kembali?”

Aku tersenyum.

“Tidak.”

Aku memasukkan surat Selena ke laci.

“Aku rasa masa kejayaanku baru mulai.”

Dion menyerahkan kopi.

“Oh ya, perusahaanmu baru dapat kontrak pertama yang nilainya di atas satu miliar.”

Aku hampir menjatuhkan gelas.

“Apa?”

“Cek email.”

Aku membuka laptop.

Benar.

Tanganku menutup mulut.

Perusahaan yang tiga bulan lalu hanya memiliki tujuh karyawan kini mendapatkan kontrak distribusi nasional pertamanya.

Aku menatap foto ayah yang kusimpan di meja.

Untuk pertama kalinya sejak pemakamannya, aku tidak merasa gagal menjaga apa yang ia tinggalkan.

Malamnya, ketika aku hendak pulang, Dion berdiri di depan pintu.

“Nadira.”

“Hm?”

“Dulu aku bilang kita sekutu.”

“Aku ingat.”

“Kontrak sekutu itu ada masa berlakunya?”

Aku menatapnya curiga.

“Kamu mau apa?”

Ia menggaruk tengkuk.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Dion Mahendra terlihat gugup.

“Aku mau mengubah status.”

Aku tertawa.

“Jangan bilang pacar palsu lagi.”

“Bukan.”

Ia menarik napas.

“Pacar beneran.”

Aku terdiam.

Dion buru-buru menambahkan,

“Kamu tidak perlu jawab sekarang.”

Aku menatap laki-laki yang menemukanku ketika hidupku sedang hancur tetapi tidak pernah mencoba menjadi penyelamatku.

Ia tidak membayar utangku.

Tidak membeli harga diriku.

Ia hanya duduk di sampingku ketika aku menangis, memberiku tisu, lalu membiarkanku berdiri dengan kakiku sendiri.

Aku tersenyum.

“Dion.”

“Ya?”

“Kamu masih punya uang seratus ribu yang lain?”

Ia mengerutkan kening.

“Ada.”

“Bagus.”

Aku mengambil tasku.

“Traktir aku makan dulu. Setelah itu baru kita negosiasi status.”

Wajahnya langsung bersinar.

“Seratus ribu cukup?”

“Kalau tidak cukup, kita cuci piring.”

Kami berjalan keluar sambil tertawa.

Di parkiran, aku sempat menatap tas bermerek yang baru dikembalikan Selena.

Dulu aku mengira benda-benda mahal adalah bukti bahwa hidupku baik-baik saja.

Kemudian aku kehilangan rumah, perusahaan, tunangan, dan hampir seluruh uangku.

Anehnya, justru setelah kehilangan semuanya aku mengetahui siapa ayahku sebenarnya, siapa Raka sebenarnya, siapa orang-orang di sekitarku sebenarnya, dan yang paling penting, siapa diriku sendiri.

Dua puluh juta rupiah yang pernah dilemparkan Raka di hadapanku memang membeli tas-tas lamaku.

Namun uang itu tidak pernah membeli harga diriku.

Karena harga diri bukan sesuatu yang bisa hilang ketika rekening kosong.

Ia hanya hilang ketika kita membiarkan orang lain menentukan berapa nilai kita.

Dan kali ini, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun melakukannya lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang