“Kalau kita berhenti sekarang, justru videonya gagal total.”
Ucapan Maya membuat Arga menoleh tajam.
“Kamu masih memikirkan video setelah kita hampir menabrak orang?”
Maya melepas topeng putih dari wajahnya. Alih-alih merasa bersalah, ia malah memutar ulang rekaman di ponselnya. Di layar, terlihat jelas pengemudi hatchback biru tadi terkejut dan membanting setir.
“Lihat ekspresinya. Lucu banget. Penontonku naik hampir dua ribu dalam beberapa menit.”
Aku menahan napas.

Dalam kehidupan sebelumnya, kalimat itu tidak pernah kudengar.
Saat itu aku sudah merebut topeng Maya jauh sebelum kami mencapai titik ini. Pertengkaran kami membuat rencana mereka tertunda sampai tengah malam.
Berarti kali ini, karena aku tidak menghentikannya, urutan kejadian sudah berubah.
Namun satu hal belum berubah.
Maya masih ingin melanjutkan.
“Maya, cukup,” kata Arga.
Maya mendengus.
“Sejak kapan kamu jadi penakut?”
“Aku bukan penakut. Aku menyetir.”
“Dulu waktu kuliah, kita pernah bikin konten lebih gila dari ini.”
Bu Ratna ikut bicara dari sampingku.
“Sudahlah, Arga. Maya juga cuma bercanda. Yang penting hati-hati.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Hati-hati?
Mereka baru saja membuat seorang pengemudi kehilangan kendali di jalan tol.
Namun aku tidak berdebat.
Ponselku masih merekam.
Setiap kalimat masuk dengan jelas.
Aku bahkan sudah mengaktifkan pencadangan otomatis ke penyimpanan awan. Jika ponsel ini dihancurkan sekalipun, rekamannya tidak akan hilang.
Aku belajar dari kematianku sendiri bahwa kebenaran tanpa bukti hanyalah cerita yang bisa dikalahkan oleh tiga orang yang berbohong bersama-sama.
Beberapa menit berlalu.
Arga kembali mempercepat mobil.
Maya sibuk membaca komentar livestream.
“Wah, mereka minta lagi.”
Ia tertawa.
“Katanya yang tadi kurang dekat.”
Arga tidak menjawab.
Aku melihat layar navigasi.
Tiga puluh empat kilometer.
Tanganku mulai berkeringat.
Aku ingat lokasi kecelakaan itu dengan sangat jelas. Ada papan penunjuk arah hijau, rest area beberapa kilometer di depan, lalu tikungan panjang tempat delapan kendaraan saling menghantam.
Aku tidak boleh membiarkan kami sampai ke sana dengan Maya masih memegang topeng itu.
Tapi jika aku merebutnya sekarang, sejarah bisa kembali berputar melawanku.
Aku membutuhkan sesuatu yang tidak bisa mereka bantah.
Beberapa kilometer kemudian, Maya tiba-tiba menunjuk sebuah SUV hitam.
“Yang itu!”
Arga langsung berkata, “Jangan.”
“Sekali lagi.”
“Tidak.”
“Arga.”
Nada suara Maya berubah lembut.
Aku mengenalnya.
Nada yang selalu membuat suamiku mengalah.
“Cuma sekali. Setelah itu selesai.”
Arga menghela napas panjang.
Lalu sesuatu yang membuat dadaku terasa dingin terjadi.
Mobil kami perlahan mempercepat laju.
Dia menyamai SUV hitam itu.
Jadi penolakannya tadi tidak berarti apa-apa.
Maya tersenyum puas.
Ia kembali mengenakan topeng.
Aku segera berkata cukup keras agar kamera ponselku menangkapnya.
“Arga, jangan bantu Maya mendekati kendaraan lain.”
“Diam dulu, Rani.”
“Aku hanya mengingatkan.”
“Aku bilang diam!”
Maya tertawa kecil.
Lalu ia menempelkan topeng ke kaca.
Pengemudi SUV itu menoleh.
Namun reaksinya berbeda.
Ia tidak panik.
Pria itu justru menatap tajam ke arah kami, kemudian memperlambat mobil dan mengangkat ponselnya seolah sedang merekam nomor polisi kami.
Wajah Maya berubah.
“Cepat! Jalan!”
Arga langsung menambah kecepatan.
“Kenapa takut?” tanyaku pelan.
Maya menoleh tajam.
“Siapa yang takut?”
“Dia merekam kita.”
“Terus kenapa?”
Aku mengangkat bahu.
“Kalau memang cuma bercanda, seharusnya tidak masalah.”
Maya terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, wajahnya kehilangan senyum.
Dua puluh delapan kilometer.
Aku melihat sebuah rest area di depan.
“Arga, aku mau ke toilet.”
“Nanti.”
“Sekarang.”
“Kita baru berhenti satu jam lalu.”
“Aku mual.”
Bu Ratna mendecakkan lidah.
“Perempuan kok merepotkan sekali.”
Aku tidak peduli.
“Kalau tidak berhenti, aku muntah di mobil.”
Arga mengumpat pelan, lalu akhirnya masuk ke jalur kiri menuju rest area.
Begitu mobil berhenti, aku langsung turun membawa tas.
Aku masuk ke toilet perempuan, mengunci pintu bilik, lalu mengirim tiga video yang sudah kurekam kepada kakakku.
Aku menambahkan satu pesan.
Kalau terjadi sesuatu selama perjalanan ini, simpan semua video ini. Jangan hapus apa pun.
Kemudian aku menelepon layanan darurat kepolisian.
Aku menjelaskan bahwa ada penumpang di kendaraan kami yang sengaja menakut-nakuti pengemudi lain di jalan tol untuk konten livestream. Aku menyebutkan nomor kendaraan, arah perjalanan, lokasi, dan ciri mobil.
Petugas meminta kami tidak melanjutkan tindakan berbahaya dan mengatakan laporan akan diteruskan kepada petugas patroli jalan tol.
Saat keluar dari toilet, Maya sudah berdiri di depan wastafel.
Ia menatapku melalui cermin.
“Kamu telepon siapa?”
“Kakakku.”
“Ngapain?”
“Bilang aku sedang perjalanan ke Semarang.”
Maya tersenyum tipis.
“Aneh.”
Aku mencuci tangan.
“Apa yang aneh?”
“Kamu dari tadi seperti sedang menunggu sesuatu terjadi.”
Tanganku berhenti sesaat.
Aku menatap pantulan wajahnya.
“Mungkin karena sesuatu memang hampir terjadi dua kali.”
Senyumnya hilang.
Kami kembali ke mobil.
Dua puluh kilometer.
Perjalanan menjadi lebih sunyi.
Kupikir Maya akhirnya berhenti.
Ternyata aku salah.
Beberapa menit kemudian, aku melihat ia mengetik sesuatu kepada Arga.
Ponsel Arga yang terpasang di dudukan menyala.
Pesan itu muncul di layar.
Nanti dekat tikungan panjang. Yang terakhir. Aku mau pecahkan rekor penonton.
Aku membeku.
Tikungan panjang.
Itulah tempatnya.
Arga cepat-cepat menghapus notifikasi.
Namun terlambat.
Aku sudah merekamnya.
Aku memandang suamiku.
Dalam kehidupan sebelumnya, selama proses penyelidikan, Arga menangis di hadapanku.
Ia mengatakan tidak tahu Maya akan melakukan tindakan itu.
Ia bersumpah hanya kebetulan berada sejajar dengan kendaraan korban.
Dan aku mempercayainya.
Ternyata tidak.
Dia tahu.
Bahkan sejak awal.
Empat belas kilometer.
Aku merasakan tubuhku semakin dingin.
Lalu dari belakang muncul sebuah sedan abu-abu.
Maya melihatnya.
Matanya langsung berbinar.
“Arga.”
“Jangan sekarang.”
“Sebentar lagi tikungan.”
Aku tidak tahan lagi.
“Arga, menepi.”
“Kenapa?”
“Menepi sekarang.”
“Rani, jangan mulai.”
Aku menatapnya melalui kaca spion.
“Kalau kamu tidak menepi, aku akan menelepon polisi dari sini dan mengatakan pengemudi mobil ini sengaja membantu penumpangnya meneror pengendara lain.”
Kabinku langsung sunyi.
Bu Ratna menoleh.
“Kamu mengancam suamimu sendiri?”
“Tidak. Aku memberi tahu apa yang akan kulakukan.”
Maya tertawa sinis.
“Buktinya apa?”
Aku mengangkat ponsel.
Wajahnya langsung berubah.
“Aku merekam sejak kamu mengeluarkan topeng pertama kali.”
Arga menekan rem sedikit.
“Apa?”
“Percakapan kalian, permintaan Maya agar kamu menyamai mobil lain, kejadian dengan hatchback biru, SUV hitam, semuanya.”
“Matikan kameranya!”
“Tidak.”
Arga mengulurkan tangan ke belakang.
Aku segera menjauh.
Mobil sedikit oleng.
“Fokus menyetir!” teriakku.
Bu Ratna malah mencoba merebut ponselku.
Aku menarik tubuh menjauh.
“Bu, jangan sentuh saya.”
“Kasih sini! Kamu mau menghancurkan hidup suamimu?”
Kalimat itu membuatku tercekat.
Bukan karena takut.
Karena aku pernah mendengarnya.
Dalam kehidupan sebelumnya, beberapa jam setelah kecelakaan, Bu Ratna pernah berkata kepadaku di rumah sakit, “Kalau kamu sayang keluarga, akui saja semuanya. Arga punya masa depan.”
Saat itu aku tidak mengerti.
Sekarang aku mengerti.
Baginya, kebenaran tidak pernah lebih penting daripada anaknya.
Tiba-tiba terdengar sirene.
Sebuah mobil patroli muncul dari belakang.
Wajah Maya langsung pucat.
“Itu polisi?”
Arga mengurangi kecepatan.
Petugas memberi isyarat agar kami mengikuti mereka menuju bahu jalan yang aman.
Maya langsung mematikan livestream.
“Hapus videonya, Rani.”
Aku diam.
“Rani, tolong.”
Untuk pertama kalinya suaranya terdengar takut.
Aku menatapnya.
“Kenapa? Katanya cuma bercanda.”
Mobil berhenti.
Dua petugas mendekat.
Aku membuka pintu lebih dulu.
Namun sebelum kakiku menyentuh aspal, suara benturan keras terdengar dari kejauhan.
BRAK!
Disusul klakson panjang.
Lalu suara rem.
Kami semua menoleh.
Beberapa ratus meter di depan, sedan abu-abu yang tadi hendak dijadikan sasaran Maya mendadak mengerem. Sebuah minibus di belakangnya hampir menabrak sebelum berbelok ke jalur lain.
Tidak terjadi kecelakaan besar.
Namun pemandangan itu membuat kakiku lemas.
Lokasinya.
Tikungan itu.
Tempat yang sama.
Kalau polisi tidak menghentikan kami, kemungkinan besar beberapa menit tadi Maya sedang menempelkan topeng ke kaca sedan tersebut.
Aku berdiri membeku.
Empat puluh tiga kilometer.
Hanya sejauh itulah jarak antara keputusan pertamaku untuk merekam dan titik tempat delapan kendaraan seharusnya hancur.
Petugas meminta penjelasan.
Maya buru-buru berkata, “Pak, ini salah paham. Kami cuma bikin konten.”
Aku menyerahkan ponselku.
“Silakan lihat dari awal.”
Arga menatapku seperti baru mengenal orang asing.
“Rani.”
Aku tidak memandangnya.
Petugas menonton beberapa bagian video.
Wajahnya semakin serius.
Kemudian ia meminta Maya menyerahkan ponsel.
Maya menolak.
“Itu privasi saya.”
“Saudari melakukan siaran langsung saat berada di kendaraan dan diduga mengganggu pengguna jalan lain. Kami perlu memeriksa rekaman terkait.”
“Aku sudah hapus.”
Aku menatapnya.
“Livestream-nya mungkin belum hilang.”
Maya membeku.
Aku baru teringat sesuatu dari kehidupan sebelumnya.
Maya memang menghapus rekaman dari akun publik.
Tapi platform menyimpan arsip siaran langsung secara otomatis.
Dulu polisi tidak pernah menemukannya karena tidak tahu akun kedua yang digunakan Maya.
Aku tahu.
Aku menyebutkan nama akun tersebut kepada petugas.
Maya langsung berteriak.
“RANI!”
Semua orang menoleh.
Dan teriakan itulah yang akhirnya menghancurkan pertahanannya sendiri.
Karena beberapa menit kemudian, arsip livestream ditemukan.
Di sana terdengar suara Maya dengan jelas.
“Arga, nanti kalau ada mobil yang gampang dikagetkan, sejajarkan. Aku butuh video yang lebih ekstrem.”
Lalu suara Arga menjawab sambil tertawa.
“Kalau sampai orangnya banting setir, jangan salahkan aku.”
Bu Ratna terdengar dari belakang.
“Asal jangan sampai ketahuan polisi.”
Tidak ada suaraku.
Sama sekali.
Wajah Bu Ratna kehilangan warna.
Arga menutup mata.
Maya mulai menangis.
Dan aku hanya berdiri di sana sambil memandang jalan tol yang terus bergerak di belakang mereka.
Tapi kejutan terbesar datang dua hari kemudian.
Pengemudi hatchback biru menghubungiku melalui polisi.
Namanya Dinda.
Saat bertemu, aku hampir tidak mampu berdiri.
Aku mengenali wajahnya.
Dialah perempuan hamil enam bulan yang dalam kehidupan sebelumnya kehilangan bayinya.
Namun sekarang perutnya masih bulat.
Bayinya masih hidup.
Dinda menggenggam tanganku.
“Saya tidak tahu siapa yang melapor kepada polisi hari itu. Tapi setelah kejadian dengan mobil kalian, saya ketakutan dan keluar di rest area berikutnya. Saya tidak melanjutkan perjalanan selama hampir dua jam.”
Air mataku jatuh.
Dalam kehidupan sebelumnya, Dinda terus melaju.
Beberapa puluh kilometer kemudian, ia menjadi salah satu korban kecelakaan beruntun.
Sekarang ia berdiri di depanku.
Hidup.
Anaknya hidup.
Untuk pertama kalinya aku merasa masa lalu benar-benar bisa dikalahkan.
Arga dan Maya kemudian diperiksa atas tindakan mereka di jalan. Rekaman dari kamera dasbor SUV hitam, laporan beberapa pengendara, arsip livestream, serta videoku membuat mereka tidak lagi bisa menyusun cerita sesuka hati.
Bu Ratna mencoba membujukku.
“Rani, Arga itu suamimu.”
Aku menatap perempuan yang pernah membiarkanku menanggung dosa anaknya.
“Justru karena dia suami saya, saya memberinya kesempatan berkali-kali untuk berhenti.”
“Dia cuma terbawa Maya.”
Aku menggeleng.
“Orang dewasa yang memegang setir tidak bisa menyalahkan penumpang ketika dia sendiri memilih menekan gas.”
Aku mengajukan gugatan cerai.
Arga berkali-kali menghubungiku.
Aku tidak menjawab.
Tiga bulan kemudian, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
Foto bayi perempuan.
Dinda.
Putrinya lahir sehat.
Di bawah foto itu tertulis satu kalimat.
Saya menamainya Kirana. Kata ibu saya, artinya cahaya yang indah.
Aku menangis lama malam itu.
Bukan karena Arga.
Bukan karena kehidupan lamaku.
Aku menangis karena akhirnya memahami mengapa aku diberi kesempatan kembali.
Mungkin bukan untuk menyelamatkan pernikahanku.
Bukan untuk membalas Maya.
Bahkan bukan untuk membuktikan bahwa aku benar.
Melainkan untuk melakukan satu hal kecil secara berbeda pada saat yang tepat.
Aku tidak merebut topeng itu.
Aku tidak berteriak.
Aku tidak mencoba menjadi pahlawan.
Aku hanya menekan tombol rekam.
Dan empat puluh tiga kilometer kemudian, delapan mobil yang seharusnya hancur tetap melaju menuju tujuan masing-masing.
Beberapa bulan setelah semuanya selesai, aku kembali melewati ruas tol itu sendirian.
Saat mencapai tikungan panjang tersebut, aku otomatis memperlambat kendaraan.
Di sebelah jalan berdiri papan elektronik besar.
Utamakan keselamatan. Keluarga menunggu di rumah.
Aku tersenyum kecil.
Lalu sebuah hatchback biru melewatiku dari kanan.
Di kursi belakangnya tergantung mainan bayi kecil.
Aku tidak tahu apakah itu Dinda.
Aku juga tidak mencoba mengejarnya.
Aku hanya membiarkan mobil itu melaju semakin jauh sampai menghilang di antara kendaraan lain.
Karena kali ini, tidak ada yang perlu kuhentikan.
Semua orang sedang menuju masa depan yang seharusnya mereka miliki.
