6 Tahun Setelah Bercerai, Miliarder Wanita Membawa Kekasihnya Pulang Kampung… Lalu Terdiam Saat Melihat Mantan Suaminya Turun ke Sawah Menangkap Kepiting untuk Ibunya

Kalimat Aditya terus terngiang di kepala Nadira sepanjang perjalanan menuju rumah ibunya.

Mereka tahu kamu ibu mereka. Tapi mereka tidak terbiasa dengan kehadiranmu.

Nadira ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa hidup tidak sesederhana itu. Bahwa selama enam tahun terakhir ia bekerja sampai larut malam bukan karena tidak mencintai anak-anaknya. Bahwa setiap kenaikan jabatan, setiap bonus, setiap investasi yang ia kumpulkan selalu disertai pikiran tentang masa depan Rafi dan Alya.

Namun ketika mobil berhenti di depan rumah bercat hijau pucat milik ibunya, semua pembelaan itu mendadak terasa tidak penting.

Di teras, ada tiga pasang sandal berlumpur.

Sandal Bima.

Sandal Rafi.

Sandal Alya.

Seolah-olah mereka memang penghuni tetap rumah itu.

Sementara sepatu Nadira yang bersih justru terasa seperti milik seorang tamu.

Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk.

“Ibu!”

Nadira langsung menghampiri Ratih yang berjalan perlahan menggunakan tongkat.

“Kok Ibu tidak bilang lutut Ibu sakit?”

Ratih tersenyum tipis.

“Kamu datang jauh-jauh, masa baru sampai sudah marah?”

“Aku bukan marah. Aku khawatir.”

“Kalau Ibu telepon, kamu pasti langsung mau pulang. Kerjaanmu bagaimana?”

Nadira terdiam.

Kalimat itu terdengar seperti perhatian seorang ibu kepada anaknya. Namun entah mengapa, justru membuat hatinya semakin tidak nyaman.

Dari dapur terdengar suara Alya.

“Nenek, jangan masuk dapur! Ayah bilang Nenek harus duduk!”

Ratih tertawa.

“Tuh, pengawas Nenek datang.”

Tak lama kemudian Bima muncul membawa baskom berisi yuyu yang sudah dibersihkan. Kaosnya sudah berganti, tetapi rambutnya masih basah setelah mandi.

Ia melihat Aditya berdiri di belakang Nadira.

“Masuk saja. Maaf rumahnya berantakan.”

Aditya mengangguk.

“Tidak apa-apa, Mas.”

Itu pertama kalinya mereka berbicara langsung.

Aneh bagi Nadira melihat calon suaminya berdiri satu ruangan dengan mantan suaminya. Namun yang membuatnya lebih aneh adalah kenyataan bahwa Bima tampak begitu menyatu dengan rumah ibunya.

Ia tahu letak piring.

Tahu di mana Ratih menyimpan obat.

Tahu bahwa kipas ruang tengah harus dipukul sedikit di bagian belakang agar tidak berbunyi.

Bahkan ketika Ratih hendak berdiri mengambil air, Bima spontan berkata, “Bu, duduk saja. Saya ambilkan.”

Nadira memandang semua itu dalam diam.

Saat makan siang, Ratih terlihat jauh lebih ceria.

Yuyu dimasak dengan santan pedas dan daun kemangi. Rafi sibuk memecahkan cangkang. Alya beberapa kali menyuapi neneknya.

Aditya berusaha mencairkan suasana.

“Rafi sekarang kelas berapa?”

“Kelas empat, Om.”

“Kalau Alya?”

“Kelas dua.”

Nadira spontan menyela.

“Bukannya Rafi baru kelas tiga?”

Sendok Rafi berhenti.

Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi.

Rafi tersenyum kecil.

“Bulan depan naik kelas lima, Bu.”

Nadira merasa wajahnya panas.

Ia bahkan salah mengingat kelas anaknya sendiri.

“Aduh, Ibu salah hitung.”

Rafi hanya mengangguk.

“Tidak apa-apa.”

Lagi-lagi kalimat sopan.

Tidak marah.

Tidak kecewa.

Justru itu yang terasa paling menyakitkan.

Seusai makan, Ratih meminta Aditya menemaninya duduk di teras. Rafi dan Alya pergi mencuci keranjang di belakang rumah.

Nadira menemukan Bima sedang memperbaiki keran kamar mandi yang bocor.

“Bim.”

Bima tidak menoleh.

“Ya?”

“Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau sering membantu Ibu?”

Bima memutar kunci inggris.

“Mau cerita untuk apa?”

“Dia ibuku.”

“Nah. Karena dia ibumu.”

Bima akhirnya menatapnya.

“Aku tidak membantu Ibu supaya kamu tahu.”

Nadira terdiam.

“Sejak kapan kamu sering ke sini?”

“Sejak dulu.”

“Dulu itu kapan?”

Bima menghela napas.

“Setelah kita cerai.”

Nadira mengernyit.

“Kenapa?”

Bima kembali mengencangkan sambungan keran.

“Karena Rafi dan Alya tetap cucunya. Kalau aku memutus hubungan dengan Ibu hanya karena kita bercerai, yang kehilangan keluarga bukan cuma aku dan kamu. Anak-anak juga.”

Jawaban itu sederhana.

Namun Nadira tidak siap mendengarnya.

Ia menatap mantan suaminya cukup lama.

“Delapan juta setiap bulan cukup?”

Tangan Bima berhenti.

“Cukup.”

“Kalau kurang, bilang.”

“Tidak kurang.”

“Sekolah mereka?”

“Sudah kamu bayar.”

“Les?”

“Aku tambah sendiri kalau perlu.”

Nadira mengangguk.

Entah kenapa percakapan itu terasa seperti laporan keuangan.

Sebelum ia pergi, Bima tiba-tiba berkata, “Nadira.”

“Ya?”

“Aku tidak pernah menganggap uangmu tidak penting.”

Nadira menoleh.

“Kalau tidak ada bantuanmu, hidup mereka pasti lebih berat. Jadi jangan berpikir aku sedang mengecilkan apa yang kamu lakukan.”

Nadira menelan ludah.

“Tapi?”

Bima tersenyum hambar.

“Tapi anak-anak tidak menghitung kasih sayang dari mutasi rekening.”

Kalimat itu menghantam tepat di tempat yang sejak tadi berusaha Nadira lindungi.

Malamnya, setelah Aditya pulang ke penginapan di pusat Garut, Nadira memilih tidur di rumah ibunya.

Sekitar pukul sepuluh malam, ia mendengar suara dari kamar belakang.

Alya sedang menangis.

Nadira mendekat.

“Alya?”

Tangisan langsung berhenti.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa, Bu.”

Nadira duduk di tepi kasur.

“Kalau tidak apa-apa, kenapa menangis?”

Alya menggigit bibir.

“Besok Ayah mau pulang ke rumah.”

“Ya, kan rumah kalian memang sama Ayah.”

“Bukan itu.”

“Terus?”

Anak delapan tahun itu memeluk bantal.

“Besok Ayah mau jual motor.”

Nadira mengernyit.

“Kenapa?”

Alya tidak menjawab.

Pintu kamar terbuka.

Rafi berdiri di sana.

“Dek.”

Alya langsung diam.

Nadira menatap putranya.

“Kenapa Ayah mau jual motor?”

“Tidak tahu.”

“Kamu tahu.”

Rafi memalingkan wajah.

“Rafi.”

Anak itu akhirnya berkata pelan, “Atap rumah bocor.”

Nadira tercengang.

“Kenapa tidak bilang Ibu?”

Rafi menatapnya untuk pertama kalinya dengan ekspresi yang berbeda.

Bukan sopan.

Bukan canggung.

Ada sesuatu yang selama ini disembunyikannya.

“Karena Ayah bilang jangan.”

“Kenapa?”

“Karena bulan kemarin Ibu sudah bayar laptop Alya.”

“Terus kenapa?”

Rafi mengangkat bahu.

“Ibu sibuk.”

Dua kata itu kembali menusuk.

Nadira segera mengambil ponselnya.

“Ayah kalian di mana?”

“Sudah pulang.”

Ia langsung menelepon Bima.

Telepon baru diangkat setelah dering keempat.

“Ada apa?”

“Kamu mau jual motor?”

Hening beberapa detik.

“Siapa yang bilang?”

“Benar atau tidak?”

“Benar.”

“Kenapa tidak bilang aku?”

“Nadira, ini bukan keadaan darurat.”

“Atap rumah anak-anak bocor dan kamu bilang bukan keadaan darurat?”

“Besok tukang datang.”

“Pakai uang dari mana?”

“Aku urus.”

Nadira mulai emosi.

“Kenapa selalu begitu? Kenapa semua harus kamu urus sendiri?”

Suara Bima tetap tenang.

“Karena kalau aku telepon setiap kali keran rusak, atap bocor, anak demam, sepatu kekecilan, tugas sekolah belum selesai, kamu bisa bekerja kapan?”

“Aku ibu mereka!”

“Makanya aku tidak pernah melarang kamu datang.”

Kalimat itu membuat Nadira membeku.

Bima melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Aku tidak pernah menjauhkan mereka darimu, Nadira.”

“Jadi menurutmu aku yang menjauh?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi itu maksudmu.”

“Kalau kamu mau tahu apa maksudku, tanyakan pada dirimu sendiri kapan terakhir kali kamu menghabiskan satu hari penuh bersama mereka tanpa membuka laptop.”

Nadira langsung memutus telepon.

Tangannya gemetar.

Ia marah.

Sangat marah.

Namun beberapa menit kemudian, ia sadar kemarahannya bukan kepada Bima.

Ia marah karena tidak memiliki jawaban.

Keesokan paginya Nadira pergi ke rumah Bima.

Rumah sederhana itu berada sekitar dua kilometer dari rumah Ratih.

Benar saja.

Sebagian genteng belakang sudah dibongkar. Dua tukang sedang bekerja.

Motor tua Bima terparkir di halaman dengan kertas bertuliskan DIJUAL.

Nadira mencabut kertas itu.

Bima yang sedang mengangkat genteng menatapnya.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Motornya tidak jadi dijual.”

“Siapa bilang?”

“Aku.”

Bima turun dari tangga.

“Nadira.”

“Aku akan bayar perbaikan rumah.”

“Tidak perlu.”

“Ini rumah anak-anakku juga.”

“Kamu sudah punya tanggung jawab yang kita sepakati.”

Nadira menatapnya tajam.

“Berhenti bicara seperti kita sedang membahas kontrak.”

Bima terdiam.

“Aku baru sadar,” lanjut Nadira, suaranya melemah, “selama ini justru aku yang hidup seperti sedang menjalankan kontrak.”

Ia menatap halaman rumah.

Ada sepeda Alya.

Sepatu bola Rafi.

Pot tanaman dari botol bekas.

Di dinding teras tergantung foto kedua anaknya bersama Bima dan Ratih saat ulang tahun Alya.

Tidak ada dirinya.

Nadira menunjuk foto itu.

“Ulang tahun Alya tahun lalu?”

Bima mengangguk.

“Aku sedang di Singapura.”

“Aku tahu.”

“Dia sedih?”

Bima tidak langsung menjawab.

“Dia menunggumu sampai jam sembilan malam karena kamu bilang akan video call.”

Nadira memejamkan mata.

Hari itu ia memang berjanji.

Lalu rapat dengan investor molor.

Ketika ia menelepon pukul sebelas malam, Alya sudah tidur.

“Aku lupa.”

“Alya juga sudah lupa.”

Bima tersenyum tipis.

“Itulah masalahnya.”

Nadira menatapnya.

Bima melanjutkan, “Anak-anak bisa terbiasa dengan apa pun. Termasuk terbiasa tidak menunggu seseorang.”

Untuk pertama kalinya sejak perceraian mereka, Nadira menangis di depan Bima.

Bukan tangisan keras.

Hanya air mata yang terus turun meski berkali-kali ia hapus.

“Aku pikir aku sedang membangun masa depan mereka.”

“Aku tahu.”

“Aku takut mereka hidup susah seperti aku dulu.”

“Aku juga tahu.”

“Kenapa kamu tidak pernah memperingatkanku?”

Bima menatapnya lama.

“Karena setelah kita bercerai, aku bukan lagi orang yang berhak mengatur hidupmu.”

Siang itu Nadira mengajak Rafi dan Alya pergi.

Bukan ke mal.

Bukan membeli hadiah.

Ia mengajak mereka makan bakso di warung dekat sekolah.

Awalnya percakapan terasa kaku.

Sampai Nadira bertanya, “Kalau Ibu pulang lebih sering, kalian keberatan tidak?”

Alya menatap kakaknya.

Rafi bertanya, “Lebih sering itu berapa kali?”

Pertanyaan itu membuat Nadira tersenyum getir.

“Dua minggu sekali?”

Rafi mengaduk kuah baksonya.

“Kalau Ibu tidak sibuk.”

“Aku akan atur.”

Alya tiba-tiba bertanya, “Kalau ada rapat?”

“Kalau bisa dipindah, Ibu pindah.”

“Kalau tidak bisa?”

Nadira terdiam sebentar.

“Ibu akan jujur. Tidak akan janji kalau memang tidak bisa.”

Alya mengangguk.

Jawaban sederhana itu ternyata cukup.

Beberapa hari kemudian, Nadira kembali ke Jakarta bersama Aditya.

Di perjalanan, Aditya bertanya sesuatu yang sejak awal tidak pernah mereka bahas lagi.

“Kamu masih ingin menikah akhir tahun?”

Nadira menatap jalan di depan.

“Aku ingin.”

Aditya tersenyum.

“Tapi?”

“Aku tidak mau menikah denganmu sebelum kamu benar-benar tahu kehidupan seperti apa yang sedang kamu masuki.”

Aditya diam.

“Aku punya dua anak yang selama ini terlalu sedikit mendapatkan ibunya. Aku tidak mau pernikahan baru membuat jarak itu semakin besar.”

“Aku tidak pernah meminta kamu memilih.”

“Aku tahu.”

Nadira menatapnya.

“Karena itu aku harus memastikan aku tidak menggunakan pernikahan kita sebagai alasan baru untuk kembali pergi.”

Aditya mengangguk.

“Kalau begitu, kita tidak perlu terburu-buru.”

Tiga bulan kemudian, Nadira mengambil keputusan yang membuat hampir semua koleganya terkejut.

Ia tidak mengundurkan diri.

Ia juga tidak meninggalkan karier yang dibangunnya selama lima belas tahun.

Ia meminta perubahan pola kerja dan melepaskan satu posisi tambahan yang selama ini membuatnya hampir selalu berada di luar kota.

Pendapatannya berkurang.

Bonus tahunannya juga turun.

Untuk pertama kalinya, Nadira sengaja memilih mendapatkan uang lebih sedikit.

Sebagai gantinya, setiap dua minggu ia pulang ke Garut.

Awalnya Rafi dan Alya masih bersikap hati-hati.

Mereka tidak langsung berubah menjadi anak-anak yang manja kepada ibunya.

Hubungan manusia ternyata tidak bisa diperbaiki seperti mentransfer uang.

Tidak ada tombol kirim.

Tidak ada notifikasi berhasil.

Nadira harus memulai dari hal-hal kecil.

Mengantar Alya les.

Menunggu Rafi latihan sepak bola.

Membantu mengerjakan tugas sekolah meskipun ia sendiri sudah lupa cara menghitung pecahan.

Sesekali ia tetap gagal.

Pernah satu akhir pekan ia terpaksa membatalkan kepulangan karena audit mendadak.

Namun kali ini ia menelepon sendiri.

Meminta maaf.

Tidak mengirim hadiah sebagai pengganti.

Enam bulan kemudian, pada suatu sore setelah hujan, Nadira kembali melewati sawah tempat ia pertama kali melihat Bima menangkap yuyu.

Alya tiba-tiba berteriak dari jok belakang.

“Bu! Ada yuyu!”

Mobil berhenti.

Rafi langsung turun.

Bima yang kebetulan ikut dari rumah Ratih menggulung celananya.

“Ayo. Siapa paling banyak dapat, malam ini tidak cuci piring.”

Alya berteriak, “Ayah curang! Ayah sudah jago!”

Mereka bertiga turun ke sawah.

Nadira berdiri di pematang seperti enam bulan sebelumnya.

Bima menoleh.

“Kamu tidak ikut?”

Nadira melihat celana putihnya.

Lalu melihat lumpur.

Enam bulan lalu, Alya bahkan takut memeluknya karena khawatir mengotori pakaian ibunya.

Nadira melepas sepatu.

Menggulung celana.

Kemudian turun.

Kakinya langsung tenggelam hampir sampai betis.

“Astaga!”

Rafi tertawa terbahak-bahak.

“Bu, jangan injak yang lembek!”

“Memangnya dari sini kelihatan mana yang lembek?”

Alya berlari mendekat.

“Pegang tangan Alya!”

Nadira spontan menyambut tangan kecil itu.

Lumpur menempel di telapak tangannya.

Tidak ada yang peduli.

Beberapa menit kemudian Alya melihat seekor yuyu bergerak di dekat kaki ibunya.

“Bu! Tangkap!”

Nadira menjerit ketika kepiting kecil itu bergerak.

Rafi dan Alya tertawa sampai hampir jatuh.

Bima hanya menggeleng.

“Direktur bank kalah sama yuyu.”

“Diam kamu.”

Nadira mencoba lagi.

Kali ini ia berhasil memasukkan satu ke keranjang.

Alya langsung memeluk pinggangnya.

“IBU DAPAT!”

Baju Nadira terkena lumpur.

Celananya basah.

Rambutnya berantakan.

Namun ia justru memeluk putrinya lebih erat.

Di pematang, Aditya yang baru tiba dari Jakarta mengangkat ponselnya dan mengambil foto mereka.

Malam itu, foto tersebut dikirim ke grup keluarga.

Ratih membalas dengan satu kalimat.

Akhirnya anak Ibu pulang juga.

Nadira membaca pesan itu berulang kali.

Awalnya ia mengira Ratih sedang membicarakan Rafi dan Alya.

Lalu ia memahami maksud sebenarnya.

Enam tahun setelah perceraian, Nadira pulang ke Garut dengan rencana memperkenalkan lelaki yang akan menjadi suami barunya.

Ia mengira perjalanan itu adalah tentang memulai keluarga baru.

Ternyata justru di sebuah sawah berlumpur, melalui mantan suami yang tak lagi memiliki kewajiban apa pun kepadanya, seorang ibu tua yang tidak pernah menuntut, dan dua anak yang sudah belajar berhenti menunggu, Nadira menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.

Keluarga tidak selalu hilang karena perceraian.

Kadang keluarga hilang sedikit demi sedikit karena seseorang terlalu sering berkata nanti.

Nanti kalau pekerjaan selesai.

Nanti kalau target tercapai.

Nanti kalau uang sudah cukup.

Nanti kalau hidup sudah lebih tenang.

Padahal anak-anak tumbuh tanpa menunggu semua itu.

Malam semakin gelap ketika Nadira duduk di teras bersama Ratih.

Dari dalam rumah terdengar Rafi dan Alya berdebat soal siapa yang harus mencuci piring.

Bima sedang memperbaiki lampu dapur.

Aditya membantu memegang tangga.

Ratih menyandarkan kepala ke kursi.

“Kamu bahagia?” tanyanya.

Nadira memandang ke dalam rumah.

Dua lelaki yang pernah dan mungkin akan menjadi bagian berbeda dalam hidupnya sedang tertawa karena sebuah obeng jatuh.

Kedua anaknya berlarian dengan tangan masih bau bumbu yuyu.

Tidak ada rumah mewah.

Tidak ada meja rapat.

Tidak ada angka miliaran.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nadira tidak merasa sedang mengejar apa pun.

Ia menggenggam tangan ibunya.

“Sekarang aku tahu, Bu.”

“Tahu apa?”

Nadira tersenyum sambil menahan air mata.

“Ternyata selama ini aku bukan kekurangan waktu.”

Ratih menoleh.

“Aku cuma terlalu lama salah menentukan untuk siapa waktuku harus diberikan.”

Dari dalam rumah, Alya berteriak.

“Ibu! Cepat! Kak Rafi curang!”

Nadira langsung berdiri.

“Iya! Ibu datang!”

Dan kali ini, ketika anaknya memanggil, Nadira tidak mengatakan nanti.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang