“Makan saja yang paling mahal. Hari ini Ibu yang traktir!” seru mertuaku di depan 38 temannya.

“Dina, kamu sudah gila?”

Suara Raka meledak dari pengeras suara ponselku.

Seluruh meja mendadak sunyi.

Tiga puluh delapan perempuan yang beberapa menit sebelumnya masih tertawa, memotret lobster, dan memuji kemurahan hati Bu Ratna kini menatap ponselku.

Aku tidak menjawab.

Raka kembali membentak.

“Kenapa akses rekening restoran diblokir? Kartu tambahanku juga tidak bisa dipakai! Aku sedang di hotel dan mereka bilang transaksinya ditolak!”

Aku memandang Bu Ratna.

Wajah mertuaku yang tadi merah karena tertawa kini pucat seperti kehilangan darah.

Jadi benar.

Raka sedang berada di hotel.

“Hotel mana?” tanyaku tenang.

“Bukan urusanmu!”

“Dengan siapa?”

Hening.

Aku tersenyum tipis.

“Dengan Selena?”

Terdengar suara benda jatuh dari ujung telepon.

Bu Ratna langsung berdiri.

“Dina, matikan telepon itu!”

Aku tidak bergerak.

Raka justru semakin panik.

“Kamu dapat nama itu dari mana?”

“Dari rekening restoranku.”

Aku membuka map cokelat di depan Bu Ratna.

“Hotel di Bali dua puluh delapan juta. Tas desainer empat puluh tiga juta. Apartemen di Senopati enam puluh juta untuk deposit. Tiket pesawat. Perhiasan. Restoran. Semuanya dibayar dari rekening perusahaan.”

Beberapa teman Bu Ratna mulai berbisik.

Aku melanjutkan.

“Totalnya selama tiga bulan, satu miliar seratus delapan puluh tujuh juta rupiah.”

“Tidak mungkin,” bisik seseorang.

Bu Ratna meraih lenganku.

“Dina, cukup.”

Aku menarik tanganku perlahan.

“Belum, Bu.”

Aku membalik halaman terakhir.

Itulah dokumen yang membuat wajahnya pucat.

Bukan bukti perselingkuhan.

Bukan pula mutasi rekening.

Itu salinan perubahan akses perbankan perusahaan yang diajukan dua minggu sebelumnya menggunakan tanda tanganku.

Tanda tangan palsu.

Di formulir itu tercantum permintaan untuk menambahkan Raka sebagai pihak yang berwenang melakukan transaksi hingga lima miliar rupiah.

Dan sebagai kontak darurat tercantum satu nama.

Ratna Kusumawati.

Mertuaku sendiri.

“Aku bisa menjelaskan,” katanya.

“Silakan.”

Bu Ratna menelan ludah.

“Itu cuma administrasi. Raka suamimu. Apa salahnya suami membantu mengurus bisnis istrinya?”

“Dengan memalsukan tanda tangan?”

“Jangan pakai kata memalsukan!”

“Lalu apa?”

Dia terdiam.

Aku kembali berbicara ke telepon.

“Raka, pulang.”

“Aku tidak akan ke sana.”

“Kalau begitu kita bertemu di kantor polisi.”

Telepon langsung terputus.

Bu Ratna menghantam meja.

“Jangan keterlaluan! Kamu mau melaporkan suamimu sendiri?”

Aku menatapnya.

“Kalau seseorang mengambil uang perusahaan tanpa izin dan memalsukan tanda tangan direktur, hubungan keluarga tidak mengubah apa yang dia lakukan.”

“Dasar tidak tahu diri!”

Suara Bu Ratna meninggi.

“Kalau bukan karena Raka, siapa yang kenal restoran ini? Siapa yang mengenalkanmu ke orang-orang? Keluarga kami sudah mengangkat derajatmu!”

Untuk pertama kalinya siang itu, aku tertawa.

Bukan karena lucu.

Aku hanya akhirnya mengerti betapa jauh perempuan di depanku hidup dalam cerita yang dia ciptakan sendiri.

“Bu, restoran ini buka empat tahun sebelum saya menikah dengan Raka.”

Beberapa tamu langsung menoleh kepada Bu Ratna.

Aku melanjutkan.

“Modal pertama restoran ini seratus persen dari tabungan saya. Sertifikat perusahaan atas nama saya. Bangunan ini disewa oleh PT yang saya dirikan. Peralatan dapur dibeli dari uang saya. Bahkan ketika menikah, Raka masih punya utang kartu kredit seratus delapan puluh juta yang saya bantu lunasi.”

Seorang perempuan berkacamata di ujung meja berbisik, “Ratna, bukannya kamu bilang Raka yang membelikan restoran ini?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Aku menatapnya.

“Selama ini saya diam ketika Ibu bilang restoran ini milik keluarga. Saya diam ketika Ibu datang membawa lima orang, sepuluh orang, bahkan dua puluh orang tanpa membayar.”

Aku menunjuk tagihan di meja.

“Tapi hari ini Ibu membawa tiga puluh delapan orang dan memesan makanan hampir empat ratus juta rupiah sambil mengatakan uang restoran dipakai Raka untuk perempuan lain.”

Wajah Bu Ratna berubah merah.

“Kamu sengaja menjebak saya!”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Ibu sendiri yang memesan semuanya.”

Seolah menunggu saat itu, Arif datang bersama dua staf.

Dia meletakkan salinan daftar pesanan di meja.

Setiap halaman memiliki tanda tangan Bu Ratna.

Sejak awal aku sudah meminta staf memastikan semua pesanan kelompok itu dikonfirmasi langsung olehnya.

Chef’s table.

Lobster.

Wagyu premium.

Kaviar.

Seafood platter.

Dessert khusus.

Minuman impor nonalkohol.

Total akhir Rp368.450.000.

“Silakan dibayar, Bu,” kataku.

Bu Ratna tertawa kaku.

“Saya tidak bawa uang sebanyak itu.”

“Bisa kartu.”

“Kartu saya limitnya tidak cukup.”

“Transfer.”

Dia mulai kehilangan kesabaran.

“Saya ibumu!”

“Ibu mertua.”

“Memangnya beda?”

“Untuk laporan keuangan, sangat beda.”

Beberapa tamunya menundukkan kepala menahan ekspresi.

Namun aku tidak merasa menang.

Justru ada rasa sakit yang semakin berat di dada.

Karena di balik semua angka itu ada kenyataan yang jauh lebih menyakitkan.

Aku menikahi seorang laki-laki yang ternyata tidak hanya mengkhianatiku.

Dia juga mencuri dari sesuatu yang kubangun dengan tanganku sendiri.

Empat puluh menit kemudian, Raka akhirnya datang.

Dia tidak sendiri.

Seorang perempuan muda berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Cantik, mungkin berusia dua puluh enam atau dua puluh tujuh tahun.

Selena.

Begitu melihatku, perempuan itu berhenti.

“Raka,” katanya pelan, “kamu bilang restoran ini milik keluargamu.”

Bu Ratna langsung menyela.

“Memang milik keluarga!”

Aku menatap Selena.

“Kamu tahu dia sudah menikah?”

Selena terlihat bingung.

“Apa?”

Raka langsung memegang lengannya.

“Jangan dengarkan dia.”

Selena menepis tangan Raka.

“Kamu bilang kalian sudah bercerai.”

Aku tercekat.

Ternyata kebohongan Raka tidak hanya ditujukan kepadaku.

“Aku belum pernah mengajukan cerai,” kataku.

Wajah Selena seketika berubah.

Raka menatapku penuh kebencian.

“Kamu sengaja mempermalukanku?”

Aku hampir tidak percaya mendengar pertanyaan itu.

“Kamu mengambil uang restoranku untuk membiayai hubungan dengan perempuan yang bahkan tidak tahu kamu masih menikah, lalu kamu merasa aku yang mempermalukanmu?”

Raka mendekat.

“Uangmu? Kita menikah. Semua yang kamu punya juga milikku.”

“Tidak sesederhana itu.”

Suara lain terdengar dari belakangku.

Seorang pria berkemeja abu-abu masuk bersama seorang perempuan membawa tas laptop.

Mereka adalah Bima, pengacaraku, dan Maya, auditor independen yang selama dua minggu terakhir memeriksa rekening perusahaan.

Raka langsung berhenti.

Aku sudah menghubungi mereka pagi itu.

Bukan karena tahu Bu Ratna akan datang.

Aku sebenarnya berencana berbicara dengan Raka malam nanti.

Kedatangan Bu Ratna hanya mempercepat semuanya.

Maya membuka laptop.

“Pak Raka,” katanya, “kami menemukan tiga puluh dua transaksi yang berasal dari rekening operasional perusahaan dan masuk ke rekening pribadi atau digunakan untuk kebutuhan nonbisnis.”

Raka mendengus.

“Saya suaminya.”

Bima menjawab datar.

“Namun Anda bukan pemegang saham, direktur, komisaris, ataupun pihak yang mendapat kuasa atas rekening perusahaan.”

Raka menatapku.

“Kamu benar-benar menyiapkan semua ini?”

“Karena aku masih berharap ada penjelasan.”

Aku menatapnya lama.

“Tapi ternyata penjelasannya sedang berdiri di sini.”

Aku menoleh kepada ibunya.

“Dan ternyata ibumu tahu.”

Bu Ratna mulai menangis.

“Dina, jangan hancurkan keluarga ini hanya karena uang.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada makian apa pun.

“Hanya karena uang?”

Suaraku bergetar untuk pertama kalinya.

“Empat tahun sebelum mengenal anak Ibu, saya bekerja enam belas jam sehari. Saya pernah tidur di ruang penyimpanan karena besok pagi harus masuk dapur lagi. Saya menjual mobil pertama saya untuk membeli oven. Ketika restoran ini hampir bangkrut saat pandemi, saya tidak mengambil gaji selama delapan bulan agar pegawai tetap bisa dibayar.”

Aku menahan air mata.

“Jadi jangan bilang ini hanya uang.”

Restoran itu adalah tahun-tahun hidupku.

Dan mereka memperlakukannya seperti mesin ATM.

Selena tiba-tiba membuka tasnya.

Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Diletakkannya di meja.

Di dalamnya ada gelang berlian.

“Raka memberikannya minggu lalu,” katanya.

Raka langsung pucat.

“Selena, jangan.”

“Aku tidak mau barang ini.”

Kemudian Selena mengeluarkan ponselnya.

“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu, Mbak.”

Dia menunjukkan percakapannya dengan Raka.

Aku membacanya.

Jantungku seperti berhenti.

Raka pernah mengirim foto sebuah dokumen kepadanya.

Dalam percakapan itu dia menulis bahwa sebentar lagi restoran akan menjadi miliknya karena aku akan “menandatangani pengalihan saham”.

Aku tidak pernah melihat dokumen tersebut.

Bima mengambil ponsel itu.

“Boleh saya lihat?”

Selena mengangguk.

Setelah membaca beberapa menit, ekspresi Bima berubah.

“Dina, ini lebih serius.”

Ternyata tanda tanganku bukan hanya dipalsukan untuk akses bank.

Ada rancangan akta pengalihan saham.

Jika berhasil, mayoritas kepemilikan perusahaan akan berpindah ke sebuah perusahaan baru.

Pemilik perusahaan itu adalah Raka.

Dan komisarisnya adalah Bu Ratna.

Ruangan terasa berputar.

Jadi perselingkuhan hanyalah permukaan.

Mereka sedang mencoba mengambil restoranku.

Bu Ratna langsung berkata, “Saya tidak tahu soal itu!”

Raka menatap ibunya tajam.

“Mama jangan pura-pura!”

Semua orang terdiam.

Bu Ratna membeku.

Raka baru menyadari kesalahannya.

Tapi terlambat.

“Mama yang bilang kalau sahamnya sudah pindah, Dina tidak bisa macam-macam!”

Suara gaduh langsung memenuhi ruangan.

Bu Ratna berdiri.

“Kamu jangan menyeret Mama!”

“Mama yang kenalkan aku ke notaris itu!”

Aku tidak berkata apa-apa.

Aku hanya menatap dua orang yang selama bertahun-tahun menyebutku keluarga kini saling menyalahkan ketika kebohongan mereka terbongkar.

Aneh sekali.

Selama ini aku takut kehilangan rumah tangga.

Saat itu aku baru sadar, rumah tangga yang kutakutkan hilang sebenarnya sudah lama tidak ada.

Bima meminta seluruh bukti diamankan.

Arif menyerahkan rekaman CCTV dan dokumen pesanan.

Maya menyimpan hasil audit.

Selena bersedia memberikan salinan percakapannya.

Lalu aku mengambil satu amplop putih dari tas.

Kuserahkan kepada Raka.

“Apa lagi ini?”

“Permohonan cerai.”

Tangannya berhenti.

Untuk pertama kalinya, kemarahan di wajahnya berubah menjadi ketakutan.

“Dina, jangan bodoh.”

“Aku justru baru berhenti menjadi bodoh.”

Raka merendahkan suara.

“Kita bisa bicara di rumah.”

“Rumah?”

Aku menatapnya.

“Kontrak apartemen kita atas namaku. Barang-barangmu sudah kukemas pagi tadi.”

Raka menatapku tidak percaya.

Bu Ratna mulai menangis lagi.

“Kamu mau membuang anak saya?”

“Tidak, Bu.”

Aku berdiri.

“Saya mengembalikannya kepada Ibu.”

Tidak ada yang tertawa.

Dan aku memang tidak bermaksud melucu.

Hari itu Bu Ratna akhirnya membayar sebagian tagihan menggunakan tiga kartu kredit. Sisanya ditransfer beberapa temannya setelah mereka sepakat membayar pesanan masing-masing.

Aku tidak menahan siapa pun.

Aku juga tidak ingin mempermalukan tiga puluh delapan orang yang sebagian besar bahkan tidak tahu apa-apa.

Tagihan itu bukan tentang uang.

Itu tentang batas.

Tentang satu kata yang terlalu lama tidak berani kuucapkan.

Cukup.

Tiga bulan kemudian, proses hukum masih berjalan.

Hasil audit menemukan nilai transaksi bermasalah lebih besar daripada perkiraan awal.

Notaris yang namanya muncul dalam rancangan pengalihan saham membantah pernah menyelesaikan akta tersebut dan menyerahkan dokumen yang membantu penyelidikan.

Selena tidak pernah kembali kepada Raka.

Aku juga tidak pernah bertemu Bu Ratna lagi di restoran.

Namun sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Suatu sore, ketika restoran sedang sepi, Arif menyerahkan sebuah amplop.

“Dikirim tadi pagi.”

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat cek bank dan sepucuk surat tulisan tangan.

Dari Bu Ratna.

Jumlahnya persis sama dengan sisa seluruh makanan gratis yang pernah dia nikmati di restoranku berdasarkan catatan kami selama dua tahun terakhir.

Di surat itu hanya ada beberapa kalimat.

Dina, saya tidak meminta kamu memaafkan saya.

Saya terlalu lama membanggakan anak saya sampai memilih tidak melihat siapa dirinya sebenarnya.

Lebih buruk lagi, saya ikut mengambil sesuatu yang bukan hak saya.

Saya baru memahami satu hal setelah kehilangan banyak teman hari itu.

Keluarga bukan izin untuk mengambil tanpa bertanya.

Saya membaca surat itu dua kali.

Lalu menyimpannya di laci.

Aku tidak meneleponnya.

Tidak semua permintaan maaf harus menghasilkan rekonsiliasi.

Ada luka yang bisa dimaafkan dari kejauhan.

Ada hubungan yang memang lebih sehat setelah berakhir.

Enam bulan kemudian, aku berdiri di dapur ketika Arif datang membawa sebuah papan kecil.

“Akhirnya jadi.”

Dia memasangnya di dekat kasir.

Tulisan di papan itu sederhana.

Semua tamu adalah tamu berharga. Keluarga pun tetap membayar.

Aku tertawa.

“Sedikit kejam, ya?”

Arif mengangkat bahu.

“Menurut saya, itu kebijakan keuangan.”

Aku memandang restoran yang mulai dipenuhi tamu malam itu.

Suara piring.

Aroma mentega dari dapur.

Para staf yang berlarian.

Orang-orang tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, tempat itu kembali terasa seperti milikku.

Bukan karena namaku ada di dokumen perusahaan.

Bukan karena Raka sudah pergi.

Tetapi karena akhirnya aku memahami sesuatu yang seharusnya kupahami sejak awal.

Mencintai seseorang tidak berarti memberinya hak untuk melewati semua batas.

Menjadi keluarga tidak berarti boleh mengambil sesuka hati.

Dan kebaikan yang tidak pernah diberi batas, lambat laun akan dianggap sebagai kewajiban.

Malam itu, sebelum restoran tutup, aku melihat papan kecil di dekat kasir sekali lagi.

Lalu aku tersenyum.

Karena tagihan terbesar yang dibayar Bu Ratna hari itu sebenarnya bukan Rp368.450.000.

Melainkan harga dari sebuah kebohongan yang akhirnya jatuh tempo.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang