KAKEK ALI.

Peringatan Kakek Ali mendadak terdengar berbeda di kepalaku. Kemarin aku menganggapnya teriakan tanpa arti. Sekarang, kalimat itu membuat tengkukku dingin.

“Ayah, tadi malam aku dengar orang menjerit.”

Tangan Ayah yang semula memegang bahuku mendadak mengencang.

“Jam berapa?”

“Sekitar jam satu. Lampu rumah Bu Lastri juga mati.”

Ayah menatap rumah seberang, lalu membawaku menemui seorang polisi.

Aku menceritakan semuanya, termasuk kejadian ketika Bu Lastri menyiram Kakek Ali. Polisi itu mencatat, kemudian bertanya apakah aku melihat seseorang keluar dari rumah.

Aku menggeleng.

Menjelang siang, kabar buruk menyebar lebih cepat daripada penjelasan polisi. Ada yang mengatakan Kakek Ali mengirim kutukan. Ada pula yang mengaku melihat beliau berkeliaran malam itu.

Sore harinya, beberapa pemuda mendatangi gubuk tempat Kakek Ali tinggal.

Aku menyusul bersama Ayah.

“Dia sudah memperingatkan! Berarti dia tahu!” seru seorang lelaki.

Kakek Ali duduk di lantai, memeluk lutut. Di sampingnya ada bungkus roti pemberianku yang belum dibuka.

Ayah berdiri menghalangi pintu.

“Kalau memang ada keterangan, sampaikan ke polisi. Jangan menghakimi orang.”

Di tengah keributan, Kakek Ali mengangkat kepala.

“Dia pakai topi,” gumamnya.

Semua orang terdiam.

“Siapa, Kek?” tanyaku.

Beliau menatapku, lalu menunjuk ke arah jalan.

“Bawa tas. Bilang mau periksa listrik. Jangan buka.”

Seorang pemuda mendengus.

“Dengar sendiri. Ngomongnya nggak jelas.”

Namun aku ingat sesuatu.

Dua hari sebelumnya, sebuah mobil pikap putih berhenti di depan rumah Bu Lastri. Seorang pria memakai topi turun membawa tas perkakas. Aku melihatnya saat menyiram tanaman.

Aku memberi tahu Ayah.

Wajah beliau berubah.

“Kamu ingat nomor mobilnya?”

“Tidak. Tapi lampu belakang kirinya pecah.”

Ayah segera menghubungi polisi.

Malam itu beliau tidak berangkat menjaga empang. Kami duduk di ruang tamu dengan pintu terkunci. Sesekali Ayah memeriksa jendela.

“Ayah kenapa?”

“Belum tahu pasti.”

“Pikap itu punya siapa?”

Beliau lama tidak menjawab.

“Ayah pernah melihat mobil seperti itu di gudang Juragan Basri.”

Aku menatapnya. Juragan Basri sering membagikan sembako dan menyumbang untuk perbaikan musala. Sulit membayangkan namanya bersinggungan dengan kematian keluarga tetangga kami.

Tetapi Ayah tidak mengatakan beliau bersalah. Ayah hanya meminta aku menceritakan apa yang benar-benar kulihat.

Keesokan harinya, polisi membawa Kakek Ali untuk dimintai keterangan dengan pendampingan petugas kesehatan. Aku ikut karena beliau menolak naik mobil sampai melihatku.

Di ruangan yang tenang, tanpa orang-orang membentak, kalimatnya perlahan menjadi lebih utuh.

Pria bertopi itu pernah datang ke rumahnya.

Bertahun-tahun lalu.

“Lastri buka pintu,” katanya. “Dulu istriku juga buka.”

Penyidik yang duduk di hadapan kami berhenti menulis.

“Kakek melihat orang yang sama?”

Kakek Ali mengangguk keras.

“Ada bekas di pipi. Sebelah sini.”

Beliau menyentuh pipi kirinya.

Aku teringat pria di depan rumah Bu Lastri. Dari jarak jendelaku, wajahnya tidak terlihat jelas.

Namun Ayah langsung menunduk.

Sepulang dari kantor polisi, beliau mengatakan pria itu mungkin Yanto, pekerja kepercayaan Juragan Basri. Ada bekas luka panjang di pipinya.

“Kenapa Ayah kelihatan takut?”

Ayah mengusap wajah.

“Karena malam sebelum kebakaran rumah Kakek Ali, Ayah pernah mengantar mereka ke sana.”

Aku merasa udara di ruangan habis.

“Mereka?”

“Basri dan Yanto. Katanya mau membicarakan pembelian tanah. Ayah cuma sopir saat itu.”

“Lalu?”

“Ayah menunggu di mobil. Setelah pulang, Basri melarang Ayah bercerita soal kunjungan itu. Besoknya rumah Pak Ali terbakar.”

Ayah menangis sebelum menyelesaikan kalimat berikutnya.

“Ayah takut. Kamu masih bayi. Ibumu baru meninggal.”

Aku menjauh sedikit. Untuk pertama kalinya, orang yang paling kupercaya tampak asing.

“Tapi Ayah tahu itu penting.”

“Iya.”

Tidak ada pembelaan setelahnya.

Pagi berikutnya, Ayah kembali memberikan keterangan. Kali ini tentang sesuatu yang beliau sembunyikan bertahun-tahun.

Sementara itu, polisi menemukan rekaman kamera toko di ujung jalan. Pikap putih terlihat masuk menjelang tengah malam dan keluar tak lama setelah teriakan yang kudengar.

Pemilik toko menyerahkan rekaman aslinya. Yanto kemudian ditemukan di rumah saudaranya, bersama sejumlah barang yang sedang diperiksa keterkaitannya dengan kejadian tersebut.

Kabar penangkapannya membuat desa mendadak sunyi.

Orang-orang yang sebelumnya menuduh Kakek Ali mulai berpura-pura tidak pernah ikut berteriak.

Beberapa hari kemudian, penyidik kembali menemui Ayah. Mereka menanyakan hubungan Bu Lastri dengan keluarga Kakek Ali.

Jawabannya datang dari sebuah amplop yang ditemukan dalam lemari Bu Lastri.

Di dalamnya ada salinan dokumen tanah dan surat tulisan tangan yang belum sempat dikirim.

Bu Lastri pernah bekerja membantu pembukuan usaha Kakek Ali. Setelah kebakaran, sejumlah aset berpindah tangan melalui dokumen yang keabsahannya mulai dipertanyakan. Nama Basri muncul dalam rangkaian transaksi itu.

Belakangan, Bu Lastri rupanya berniat memberikan keterangan.

Dari pesan di ponselnya, polisi menemukan ancaman agar dia diam.

Aku mengingat ember air itu, teriakan Bu Lastri, dan sorot mata pilu Kakek Ali.

Mungkin Bu Lastri marah karena takut. Mungkin kehadiran Kakek Ali mengingatkannya pada sesuatu yang bertahun-tahun berusaha dilupakan.

Kami tidak pernah bisa menanyakannya lagi.

Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan. Keterangan Ayah membantu membuka kembali perkara kebakaran lama. Beliau harus menghadapi pemeriksaan dan akibat dari kebisuannya sendiri.

Hubungan kami pun tidak langsung pulih.

Namun setiap kali dipanggil, Ayah datang. Tidak lagi meminta aku melupakan sesuatu hanya karena mengingatnya terasa menyakitkan.

Kakek Ali sementara tinggal bersama keponakannya dan mendapat perawatan. Kadang beliau masih tersentak ketika mendengar ketukan. Kadang beliau lupa siapa aku.

Tetapi suatu sore, saat kuantarkan roti, beliau menyebut namaku dengan benar.

“Nadia.”

Aku duduk di sampingnya.

“Dulu mereka bilang istri Kakek ceroboh,” katanya lirih. “Katanya anak-anak Kakek tidak sempat bangun.”

Matanya menatap halaman.

“Kakek cuma ingin ada yang dengar.”

Aku menggenggam tangannya.

Di luar pagar, Ayah menunggu dengan membawa sekantong buah. Beliau tidak berani masuk sebelum Kakek Ali mengizinkan.

Lama sekali pria tua itu memandangnya.

Lalu beliau berkata pelan, “Buka pintunya.”

Ayah menutup wajah dan menangis.

Kali ini, aku tahu betul kepada siapa kalimat itu ditujukan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang