DUA ANAK SUAMIKU DATANG MEMBAWA KOPER RUSAK DAN MEMOHON DIIZINKAN TIDUR DI GUDANG—.

Nomor pegawaiku tercetak rapi di bawah kalimat yang membuat tanganku mendadak dingin.

Penanggung jawab pembayaran dan persetujuan pemotongan penghasilan.

Aku membaca halaman itu sekali lagi. Di sebelah nomor pegawai ada namaku, alamat kantor, dan tanda tangan yang bentuknya menyerupai milikku.

“Jangan berikan alamat rumah kita,” bisikku kepada Damar.

Laki-laki di telepon kembali berbicara.

“Bu, kami hanya menjalankan jadwal. Kalau dibatalkan, biaya tetap ditagih.”

“Sebutkan nama dan lembaga Anda.”

Sambungan terputus.

Salma langsung menangis.

“Maaf, Bu. Kami nggak tahu nama Ibu dipakai.”

Aku meletakkan berkas dan berjongkok di hadapannya.

“Kamu tidak perlu minta maaf untuk sesuatu yang dilakukan orang dewasa.”

Zahra muncul dari kamar sambil memeluk bantal. Dia mendekati kakaknya tanpa suara.

Aku mengajak mereka duduk di sofa, lalu meminta Damar mengambil air. Setelah tangis Salma mereda, aku bertanya apakah mereka bersedia bercerita. Dia mengangguk.

“Awalnya Ibu bilang kami mau ikut kursus bahasa. Katanya gratis karena Ayah bekerja di perusahaan besar.”

“Kalian pernah datang ke tempat kursusnya?”

“Pernah. Tapi bukan tempat belajar.”

Salma menatap lantai.

“Di belakang kantor ada rumah besar. Kami disuruh membersihkan kamar. Katanya latihan disiplin sebelum tinggal di sana.”

Damar berdiri kaku di dekat meja.

“Siapa yang menyuruh?”

“Pak Bagas.”

Aku mengenal nama itu.

Bagas bekerja di bagian administrasi umum kantor kami. Dialah yang pernah menawarkan program pendidikan untuk keluarga karyawan melalui grup percakapan.

Waktu itu aku hanya membaca sekilas.

“Pergelangan tangan Zahra?” tanyaku pelan.

Salma memeluk adiknya.

“Dia menarik keranjang pakaian pakai tali. Keranjangnya berat. Aku sudah bilang biar aku saja.”

Aku berhenti bertanya. Cukup untuk malam itu.

Kami menyimpan dokumen, pesan, serta nomor telepon tersebut. Aku menghubungi sahabatku, seorang pekerja sosial, yang membantu kami mencari pendampingan perlindungan anak. Atas sarannya, kami melaporkan ancaman penjemputan dan tidak mencoba menemui Bagas sendiri.

Minggu pagi, Damar menelepon atasannya. Aku mengirim salinan berkas kepada bagian sumber daya manusia melalui alamat resmi.

Jawabannya datang menjelang siang.

Perusahaan tidak pernah menjamin program tersebut. Tidak ada persetujuan pemotongan penghasilanku.

Namun, nomor pegawai dan salinan identitas pada berkas itu memang benar.

“Dari mana mereka mendapatkannya?” tanya Damar.

Aku teringat sesuatu.

Dua bulan sebelumnya, aku membantu Damar mengurus perubahan data tanggungan kesehatan. Salinan identitas dan data penggajianku kukirim kepadanya karena kami hendak menyatukan beberapa dokumen rumah tangga.

Damar membuka percakapan lamanya dengan Bagas.

Wajahnya berubah.

“Aku mengirimkannya ke dia.”

“Untuk apa?”

“Katanya ada bantuan biaya sekolah. Dia minta data penghasilan keluarga untuk menghitung kelayakan.”

Aku memejamkan mata, menahan amarah.

“Kenapa memakai dataku?”

“Karena gajiku sudah ada potongan pinjaman. Bagas bilang data pasangan juga boleh dipakai. Aku pikir cuma pemeriksaan awal.”

“Dan kamu tidak merasa perlu bertanya kepadaku?”

Damar menunduk.

Dari ruang tamu terdengar Zahra bertanya apakah dia boleh menambah nasi. Pertengkaran kami berhenti di sana. Aku keluar dan mengambilkan sepiring kecil untuknya.

Siang itu, Melati datang.

Dia mengetuk pagar berkali-kali sambil memanggil kedua putrinya. Damar hendak membuka, tetapi aku mengingatkannya bahwa pendamping sedang dalam perjalanan.

Kami berbicara melalui pagar.

“Anak-anak ikut aku,” kata Melati. “Senin mereka harus berangkat.”

“Ke mana?” tanya Damar.

“Jangan pura-pura tidak tahu. Kamu sendiri yang mengenalkan Bagas.”

Kalimat itu membuatku menoleh.

Damar mengangguk dengan wajah pucat.

“Aku mengenalkan untuk bantuan sekolah. Bukan untuk membawa mereka tinggal di tempat orang.”

Melati tertawa pahit.

“Bantuan? Kamu pikir uang delapan setengah juta cukup untuk semuanya?”

“Sekolah mereka menunggak enam juta empat ratus,” kataku. “Uangnya dipakai untuk apa?”

Dia terdiam.

Ketika pendamping tiba, pembicaraan dipindahkan ke ruang teras tanpa menghadirkan anak-anak. Melati akhirnya mengaku menerima uang muka dua belas juta rupiah dari Bagas.

Dia dijanjikan kedua anaknya akan mendapat pendidikan, tempat tinggal, dan uang bulanan. Sebagian biaya disebut akan ditanggung perusahaan Damar.

“Tapi aku sudah bilang Zahra terlalu kecil,” katanya sambil menangis. “Bagas bilang justru lebih mudah dibentuk.”

Aku merasakan mual.

“Kenapa tetap dilanjutkan?”

Melati mengusap wajah.

“Uangnya sudah kupakai. Waktu mau batal, tagihannya jadi empat puluh delapan juta.”

Di situlah kami mulai memahami amplop yang dibawa Salma.

Dokumen itu diselipkan Bagas ke koper mereka saat kunjungan terakhir. Salma diminta menyerahkannya kepada Damar, lalu diberi tahu bahwa jika ayahnya menolak membayar, Zahra akan dijemput lebih dulu.

Anak tiga belas tahun itu membawa ancaman pulang tanpa tahu harus meminta tolong kepada siapa.

Pemeriksaan berikutnya tidak selesai dalam sehari. Perusahaan menonaktifkan akses kerja Bagas selama penyelidikan internal. Kami menyerahkan seluruh bukti kepada petugas, sementara pendamping membantu memastikan Salma dan Zahra tidak diserahkan kepada pihak program.

Alamat yang tercantum ternyata bukan asrama pendidikan. Keterangan beberapa keluarga lain kemudian menunjukkan pola serupa: janji kursus, uang muka, lalu ancaman utang ketika orang tua ingin membatalkan.

Damar ikut dimintai keterangan tentang dokumen yang dia kirimkan.

Aku tidak membiarkannya bersembunyi di balik kalimat tidak tahu.

“Kamu mungkin tidak merencanakannya,” kataku malam itu. “Tapi kamu menyerahkan data tanpa izin, lalu empat bulan tidak memastikan keadaan anak-anakmu.”

Dia mengangguk, menangis tanpa meminta aku segera memaafkan.

Pembayaran sekolah akhirnya dilakukan langsung. Damar mulai menemui guru mereka dan mengurus kebutuhan harian bersama pendamping. Pengaturan tempat tinggal anak-anak dibicarakan dengan mempertimbangkan keadaan mereka, bukan sekadar keinginan orang tua.

Beberapa minggu kemudian, Salma menghampiriku saat aku merapikan kamar kosong.

“Bu, kami boleh taruh buku di rak ini?”

“Boleh.”

“Kalau lama?”

Aku menoleh. Di belakangnya, Zahra memegang sebuah gambar rumah dengan tiga jendela.

Aku teringat ucapan pertama mereka di pagar. Boleh tidur di gudang saja.

Aku menarik kursi agar kami bisa duduk sejajar.

“Rak itu untuk buku kalian. Lemari itu untuk pakaian kalian. Kalau ada yang belum cukup, bilang.”

Zahra meletakkan gambarnya di meja.

Di atas rumah itu tertulis namaku, nama kakaknya, dan namanya sendiri.

“Nama Ayah belum kutulis,” katanya polos. “Ayah tadi bilang harus belajar jadi ayah dulu.”

Dari ambang pintu, Damar mendengarnya.

Dia tidak membantah.

Untuk pertama kalinya, aku merasa mungkin rumah ini bisa diperbaiki. Bukan karena semua orang sudah dimaafkan, melainkan karena anak-anak akhirnya tidak perlu menawarkan diri tinggal di gudang agar diizinkan pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang