
Ponsel itu masih menyala ketika Mika memungutnya. Dari pengeras suara terdengar ibunya memanggil dengan panik.
“Mika? Kamu kenapa? Tadi Ibu dengar suara laki-laki.”
Mika menatap layar yang retak.
“Bukannya dari tempat Ibu?”
“Ibu sendirian.”
Di tengah riuh kantin, Mika mendadak merasa sangat jauh dari semua orang.
Dia mengakhiri telepon, lalu membuka riwayat percakapan keluarga. Lima tahun lalu, ibunya mengirim foto pemakaman Om Darma, suami Tante Sari. Mika tidak ikut melayat karena sedang ujian.
Di belakang batu nisan, Tante Sari berdiri mengenakan kebaya hitam.
Seorang laki-laki tampak di sampingnya.
Mika memperbesar foto itu.
Wajahnya buram, tetapi jas abu-abu dan tongkat berkepala perak yang dipegangnya terlihat jelas.
Tongkat yang semalam bersandar di depan kamar Mika.
Sepulang kerja, Mika berhenti di warung perempuan yang ditemuinya pagi tadi. Namanya Bu Rukmini.
“Om Darma meninggal karena apa, Bu?”
Tangan Bu Rukmini berhenti membungkus gula.
“Kamu belum diberi tahu?”
Mika menggeleng.
Perempuan itu mempersilakannya duduk di belakang warung.
“Ditemukan di ruang kerja. Pintunya terkunci dari dalam. Sejak itu, Bu Sari tidak pernah menyalakan lampu ruang tengah setelah magrib.”
“Kenapa?”
“Katanya, suaminya tidak suka melihat wajahnya sendiri.”
Mika menelan ludah.
“Memangnya wajahnya kenapa?”
Bu Rukmini memandang jalan sebelum menjawab.
“Waktu ditemukan, semua cermin di ruangan itu pecah.”
Mika pulang menjelang magrib. Dia berniat mengambil tas, kemudian mencari penginapan murah.
Namun, Tante Sari sudah menunggunya di ruang tengah.
“Kamu bertanya kepada Rukmini?”
Mika berhenti.
Tantenya tersenyum letih.
“Duduk. Tante seharusnya menjelaskan sebelum kamu datang.”
Dari dapur tercium harum melati yang semakin kuat.
“Om benar-benar sudah meninggal?”
“Iya.”
“Lalu siapa yang berjalan semalam?”
Tante Sari menunduk. Jari-jarinya meremas saputangan.
“Tante tidak tahu.”
Jawaban itu lebih menakutkan daripada semua dugaan Mika.
Setelah pemakaman, Tante Sari mulai mendengar langkah kaki suaminya. Mula-mula hanya di teras, kemudian masuk ke kamar. Suaranya sama. Kebiasaannya sama. Bahkan mengetahui percakapan yang tidak pernah didengar orang lain.
“Tante pikir dia pulang karena Tante memintanya.”
“Meminta kepada siapa?”
“Tante hanya menangis di depan fotonya. Setiap malam.”
Jam dinding berdentang enam kali.
Tante Sari langsung bangkit dan menutup tirai.
“Sejak kapan Tante tahu itu bukan Om?”
Perempuan itu berhenti dengan tangan masih memegang kain.
“Darma selalu mengetuk dua kali sebelum masuk kamar. Yang ini tidak pernah mengetuk.”
Mika meraih tasnya.
“Kita pergi sekarang.”
Pintu depan membanting tertutup.
Dari lantai atas terdengar suara batuk pendek.
Lalu suara laki-laki.
“Sari. Tamu kita sudah makan?”
Wajah Tante Sari kehilangan warna.
Dia menarik Mika ke kamar dan mengunci pintunya.
“Jangan jawab kalau dia memanggil namamu.”
Langkah kaki mulai menuruni tangga.
Mika menyalakan ponsel. Tidak ada sinyal, padahal beberapa menit sebelumnya dia masih menerima pesan kantor.
Di layar muncul panggilan dari Ibu.
Tante Sari merampas ponsel itu sebelum Mika menjawab.
“Bukan ibumu.”
“Bagaimana Tante tahu?”
“Tidak ada jamnya.”
Mika menatap layar. Di tempat yang biasanya menampilkan waktu, hanya ada ruang hitam.
Panggilan berhenti.
Pesan masuk menyusul.
Buka pintunya, Mika. Ibu menunggu di luar.
Di balik pintu kamar terdengar suara ibunya.
“Nak, ayo pulang.”
Mika menutup mulut.
Tante Sari membuka laci dan mengeluarkan buku catatan bersampul cokelat.
“Ini ditemukan setelah Darma meninggal. Tante baru berani membacanya minggu lalu.”
Halaman-halamannya berisi tanggal, jumlah uang, dan kalimat yang diulang dengan tulisan semakin berantakan.
Jangan biarkan dia memakai suaraku.
Di halaman terakhir terselip sepucuk surat untuk Tante Sari.
Darma mengaku pernah menerima tawaran seseorang untuk menyelamatkan usahanya yang bangkrut. Setelah itu, uang datang dengan cara yang tidak bisa dijelaskannya. Namun, setiap malam ada langkah kaki di rumah.
Sesuatu itu mempelajari kebiasaannya.
Kemudian suaranya.
“Darma meninggal sebelum sempat menjelaskan semuanya,” bisik Tante Sari. “Tante malah mempersilakannya masuk ketika dia memanggil dari teras.”
Pegangan pintu bergerak perlahan.
“Sari,” suara laki-laki itu terdengar lembut, “kamu sudah cerita apa kepada anak itu?”
Mika membalik surat dengan tangan gemetar.
Di belakangnya ada tulisan lain.
Ia bertahan selama diberi tempat sebagai keluarga. Jangan jawab. Jangan terima pemberiannya. Jangan panggil namaku kepadanya.
Mika teringat uang dua ratus ribu dalam dompetnya.
“Tante, uang sarapan tadi…”
Tante Sari memejamkan mata.
“Dia yang meletakkannya di meja.”
Dari luar terdengar tawa pelan.
Mika mengeluarkan uang itu. Kedua lembar yang pagi tadi tampak baru kini terasa lembap. Ada bau tanah yang menusuk.
“Kenapa Ibu menyuruhku tinggal di sini?”
Tante Sari menatapnya, kebingungan.
“Ibumu hanya menelepon untuk memastikan kamarmu siap. Katanya kamu sendiri yang meminta.”
Mika merasa dadanya membeku.
Dia tidak pernah meminta.
Di luar, suara ibunya berubah menjadi suaranya sendiri.
“Tante, Mika boleh tinggal sebulan?”
Tante Sari mulai menangis.
Sesuatu itu tidak sedang menunggu Mika datang.
Ia sudah mengaturnya.
Mika merobek kedua lembar uang itu, menjatuhkannya ke lantai.
Tawa di luar berhenti.
“Tante harus berhenti memanggilnya Denmas.”
Perempuan itu menggeleng, tubuhnya gemetar.
“Kalau dia marah…”
“Dia sudah marah.”
Terdengar benturan keras. Bingkai foto jatuh di ruang tengah.
Mika menggenggam tangan tantenya.
Dari balik pintu, suara Darma terdengar lagi. Kali ini tersedu.
“Sari, setelah semua yang kita lalui, kamu mau membuangku?”
Tante Sari menangis tanpa suara.
Lalu perlahan dia berdiri.
“Suamiku sudah meninggal,” katanya. “Aku tidak mengenalmu.”
Rumah itu bergetar seperti dilalui truk besar. Pegangan pintu berputar liar, kemudian mendadak diam.
Cahaya tipis masuk dari bawah pintu.
Azan subuh terdengar.
Mereka menunggu sampai matahari terbit sebelum keluar. Pintu depan terbuka. Semua bingkai foto suami Tante Sari menghadap dinding.
Di lantai kamar, sobekan uang sudah berubah menjadi potongan daun kering.
Hari itu Tante Sari ikut Mika meninggalkan rumah. Ibunya datang menjemput, menangis ketika mendengar cerita mereka. Di ponselnya tidak pernah ada panggilan yang menyuruh Mika menumpang di sana.
Sebulan kemudian, Mika membantu tantenya memilih foto untuk kamar baru.
Mereka menemukan foto pernikahan lama. Tante Sari menyentuh wajah suaminya sambil tersenyum sedih.
“Itu Om Darma,” katanya.
Mika menatap laki-laki dalam foto.
Wajahnya hangat. Kedua tangannya menggenggam tangan Tante Sari.
Tidak ada tongkat.
“Om pernah pakai tongkat?”
Tante Sari menggeleng.
Mika terdiam, lalu membuka lagi foto pemakaman di ponselnya.
Laki-laki berjas abu-abu itu masih berdiri di belakang nisan.
Sekarang wajahnya terlihat jelas.
Wajah Mika.
