Aku datang ke rumah Ayah dengan membawa kabar bahagia: anak yang dahulu disingkirkannya kini telah menjadi dokter.

Namun, ia tidak memberiku kesempatan untuk bicara. Ayah justru sibuk membanggakan adik tiriku yang baru lulus pendidikan keperawatan. Dengan bangga, ia juga mengatakan bahwa adikku memiliki kekasih berpangkat kapten, yang ternyata adalah…
BAB 8
“Sabar, Sayang.”
Aku menoleh. Mas Jeno sudah berdiri di belakangku dengan senyum dan tatapan yang menenangkan. Ia masih mengenakan seragam loreng, lengkap dengan tanda pangkatnya. Wajahnya tampak sedikit lelah, tetapi senyumnya tetap hangat.
“Mas? Kamu dari mana?” tanyaku terkejut.
“Aku langsung ke sini setelah menerima kabarmu tadi,” jawabnya lembut. “Kamu bilang ayahmu masuk ICU. Mana mungkin aku tenang menunggu di rumah?”
Aku tersenyum tipis. “Terima kasih, Mas.”
Mas Jeno mengusap puncak kepalaku, lalu memandang pintu ICU.
“Bagaimana keadaan Ayah?”
Aku menghela napas.
“Masih dipantau di ICU. Kondisinya mulai stabil, tetapi beliau masih lemah.”
Mas Jeno mengangguk, kemudian menggenggam tanganku.
“Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk ayahmu. Semoga kondisinya terus membaik. Apalagi sekarang kedua putrinya sama-sama tenaga kesehatan.”
Kata-katanya membuatku tersenyum. Mas Jeno selalu tahu cara membuatku merasa tidak sendirian.
Namun, senyumku memudar ketika melihat Tante Gina memperhatikannya. Tatapannya menyusuri seragam Mas Jeno dari atas sampai bawah, lalu alisnya terangkat.
“Siapa ini?” tanyanya dengan nada meremehkan.
Mas Jeno tetap tersenyum sopan.
“Perkenalkan, Tante. Saya Jeno, kekasih Maya.”
Ia mengulurkan tangan, lalu menyalami Tante Gina dengan santun. Namun, raut wajah perempuan itu justru semakin tidak ramah.
“Oh, tentara,” gumamnya.
Ia kembali mengamati Mas Jeno.
“Pangkatnya apa? Memangnya gaji tentara cukup untuk menghidupi Maya yang sudah jadi dokter?”
Aku menarik napas panjang, berusaha menahan kekesalan.
“Tante…”
Namun, Mas Jeno mengusap tanganku pelan, seolah memintaku tetap tenang.
“Penghasilan saya cukup untuk kebutuhan saya, Tante,” jawabnya. “Soal masa depan, saya dan Maya tentu akan membicarakan dan mempersiapkannya bersama.”
Tante Gina mendengus kecil.
“Jangan cuma modal sayang. Biaya hidup sekarang mahal.”
“Saya mengerti, Tante.”
Tidak ada nada marah dalam suaranya. Ia menjawab dengan tenang, tanpa merasa perlu membanggakan diri.
Aku memandangnya. Justru ketenangannya itulah yang membuat dadaku terasa hangat. Ia tidak menjadikan ucapan Tante Gina sebagai alasan untuk membalas merendahkan.
Tante Gina terdiam, seperti kehabisan bahan untuk menyindir.
“Ya sudah. Kami pulang dulu. Besok kami datang lagi.”
Ia menggandeng lengan Tiwi dan beranjak. Adik tiriku sempat melirik ke arahku, lalu cepat-cepat menunduk.
Setelah mereka menjauh, aku mengembuskan napas panjang.
“Maaf, Mas. Tante Gina memang sering bicara seperti itu.”
Mas Jeno tersenyum kecil.
“Kamu tidak perlu meminta maaf atas ucapan orang lain.”
“Tapi aku tidak suka kamu direndahkan.”
“Aku tahu.”
Ia menatapku, lalu menggenggam tanganku sedikit lebih erat.
“Tapi sekarang kita tidak perlu memikirkan itu. Bagaimana denganmu? Sudah makan?”
Aku menggeleng.
“Belum lapar.”
“Dari tadi pagi?”
Aku tidak menjawab. Mas Jeno menghela napas pelan.
“Kamu boleh khawatir, tapi jangan sampai ikut sakit. Nanti aku carikan makanan. Sedikit saja dulu.”
Aku mengangguk, tersentuh oleh perhatian sederhana itu.
“Kamu mau tetap menunggu di sini?” tanyanya.
“Iya. Aku belum tenang kalau belum mendengar kabar selanjutnya dari dokter.”
“Kalau begitu, aku temani.”
Mas Jeno duduk di kursi sebelahku.
“Mas tidak capek?”
“Capek,” jawabnya jujur. “Tapi aku masih bisa duduk menemanimu.”
Aku tertawa kecil. Di tengah hari yang terasa begitu berat, jawaban itu berhasil membuatku sedikit lega.
“Lagipula,” lanjutnya, “aku juga ingin bertemu ayahmu kalau nanti sudah diizinkan.”
Aku menatap wajahnya. Kehadirannya membuat ruang tunggu rumah sakit yang dingin ini terasa tidak terlalu menakutkan.
“Terima kasih, Mas,” bisikku.
“Untuk apa?”
“Karena datang. Karena selalu berusaha ada waktu aku membutuhkanmu.”
Senyumnya melembut.
“Kamu juga melakukan hal yang sama untukku, Maya.”
Aku menunduk, memandangi tangan kami yang saling menggenggam.
Di balik pintu ICU, Ayah sedang berjuang memulihkan kondisinya. Sementara di sampingku, duduk seseorang yang tidak pernah membuatku merasa harus berjuang sendirian.
“Mas,” panggilku pelan.
“Hm?”
“Kamu tidak takut menghadapi keluargaku?”
Mas Jeno menoleh.
“Maksudmu?”
“Mereka sering memperlakukanku seperti orang asing. Tadi kamu juga sudah dengar sendiri bagaimana Tante Gina bicara kepadamu.”
Ia terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Aku tentu berharap hubungan kita dengan keluargamu bisa baik. Tapi kalau ada masalah, kita bicarakan bersama. Kamu tidak harus menghadapinya sendirian.”
Mataku mulai terasa panas.
“Aku cuma takut kamu lelah.”
“Kalau aku lelah, aku akan bilang. Kalau ada yang menggangguku, aku juga akan bicara kepadamu.”
Ia tersenyum tipis.
“Jangan memutuskan sendiri bahwa aku akan pergi hanya karena keadaan sedang sulit.”
Aku mengangguk. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh.
Mas Jeno mengeluarkan tisu dari saku dan menyerahkannya kepadaku.
“Pelan-pelan, ya.”
Aku mengusap pipi, lalu tertawa kecil karena merasa malu.
“Aku jadi gampang menangis.”
“Hari ini berat untukmu.”
Tidak ada ceramah panjang. Tidak ada desakan agar aku segera kuat. Ia hanya duduk di sana, membiarkanku menenangkan diri.
Beberapa saat kemudian, aku kembali memandang pintu ICU.
“Kalau Ayah sudah membaik dan boleh menerima kunjungan, aku ingin memperkenalkan Mas.”
“Sebagai pacarmu?” godanya.
Aku menoleh dan tersenyum.
“Sebagai laki-laki yang ingin kuajak membangun masa depan.”
Mas Jeno memandangku beberapa detik. Senyum di wajahnya perlahan mengembang.
“Kalau begitu, aku harus mempersiapkan diri baik-baik.”
“Mas gugup?”
“Tentu. Bertemu calon mertua itu berbeda dengan menghadapi pekerjaan.”
Aku tertawa pelan. Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah sakit, dadaku tidak lagi terasa sesak.
Kami kembali duduk dalam diam. Sesekali terdengar langkah perawat melewati koridor dan pengumuman dari pengeras suara.
Ternyata Tante Gina dan Tiwi belum benar-benar pulang. Mereka berhenti di bangku dekat ujung koridor, tidak terlalu jauh dari tempat kami duduk.
Suara Tiwi terdengar samar, tetapi beberapa ucapannya masih bisa kutangkap.
“Ibu tadi kenapa bicara begitu? Pacarnya Kak Maya itu kapten.”
“Kapten?” ulang Tante Gina, terdengar terkejut.
“Iya, Bu. Aku lihat tanda pangkatnya.”
“Memangnya kapten itu tinggi?”
“Kapten itu perwira pertama, Bu.”
Tante Gina terdiam sesaat.
“Lalu, gajinya besar?”
Aku menatap Mas Jeno. Rupanya ia juga mendengar percakapan itu, tetapi hanya menggeleng kecil.
Di ujung koridor, Tiwi menghela napas.
“Bukan soal gajinya, Bu. Dari tadi dia sopan. Ibu saja yang langsung meremehkan.”
Aku terdiam.
Ucapan itu datang dari orang yang paling tidak kuduga.
Mas Jeno meremas tanganku pelan. Aku membalas genggamannya, lalu kembali memandang pintu ICU.
Malam ini belum menyelesaikan semua masalah di keluargaku. Namun, setidaknya aku tahu bahwa aku tidak perlu lagi menunggu pengakuan mereka untuk merasa berharga.
Baca cerita lengkapnya dalam “Setelah Ayah Menyingkirkan Aku”.
