
Empat ratus dua puluh juta rupiah ternyata punya alamat. Rumah yang tidak pernah kukunjungi, dibeli dengan uang yang kusisihkan sambil berharap bisa menjadi ibu.
Aku menatap nomor asing itu.
“Anda siapa?”
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
“Saya Rina, kakaknya Putri. Saya baru tahu Budi masih punya istri.”
Aku ingin langsung menelepon dan menumpahkan semua pertanyaan. Namun, Dewi lebih dulu menghubungiku.
“Jangan kirim dokumen pribadimu kepada orang yang belum kamu kenal. Kita pastikan dulu.”
Malam itu, kami mengadakan panggilan video. Rina memperlihatkan wajahnya, lalu menunjukkan dokumen pemesanan rumah secara utuh. Ia menjelaskan bahwa keluarganya mengenal Budi sebagai duda.
“Katanya bercerai dua tahun lalu karena istrinya memilih tinggal di luar negeri.”
Aku memandang dinding rumah kami. Di sana masih tergantung foto pernikahan yang dibersihkan Budi sebelum berangkat.
“Dua tahun lalu kami merayakan ulang tahun pernikahan di Yogyakarta,” kataku.
Rina menutup mulutnya.
Aku mengirim satu foto perjalanan itu, lengkap dengan tanggalnya. Setelah melihatnya, ia meminta waktu untuk berbicara kepada adiknya.
“Putri baru melahirkan. Saya tidak mau menyampaikan ini sembarangan.”
“Aku juga tidak akan datang ke rumah sakit membuat keributan.”
Kalimat itu keluar lebih tenang daripada perasaanku.
Setelah panggilan berakhir, Dewi membantuku mengunduh rekening koran dan mengumpulkan catatan asal tabungan. Sebagian besar berasal dari gajiku, bonus tahunan, dan hasil penjualan sebidang tanah warisan Ibu.
“Jangan memindahkan seluruh saldo karena marah,” katanya. “Kita amankan akses pribadimu dan catat semuanya dulu.”
Aku mengangguk.
Pukul dua pagi, pesan Budi masuk.
Tidur yang nyenyak, ya. Jangan terlalu banyak pikiran.
Aku mematikan layar.
Besok paginya, ibu mertuaku datang membawa semangkuk sup.
“Kamu pucat, Sari. Budi bilang kamu kurang sehat.”
Aku mempersilakannya duduk, lalu meletakkan ponsel di meja. Tangkapan layar komentarnya terbuka.
Sendok di tangannya berhenti bergerak.
“Sejak kapan Ibu tahu?”
Beliau menarik napas panjang.
“Budi takut menyakitimu.”
“Jadi dia memilih berbohong?”
“Ibu cuma ingin punya cucu.”
Aku menatap perempuan yang selama bertahun-tahun menemaniku menunggu hasil pemeriksaan.
“Ibu tahu aku juga menginginkannya.”
Beliau mulai menangis.
“Putri sudah melahirkan. Sekarang mau bagaimana? Jangan sampai anak itu kehilangan ayah.”
“Aku tidak meminta Budi meninggalkan anaknya.”
Aku menggeser mangkuk sup yang belum kusentuh.
“Tapi jangan meminta aku membayar rumahnya sambil tetap dipanggil istri.”
Ibu mertuaku pulang tanpa membawa mangkuk itu.
Menjelang siang, Rina kembali menelepon. Kali ini Putri ada di sampingnya, bersandar dengan wajah lelah.
“Bu Sari,” katanya pelan, “saya tidak tahu.”
Aku tidak segera menjawab.
Putri memperlihatkan pesan-pesan Budi. Ada cerita tentang perceraian, foto rumah, dan janji mengurus pencatatan perkawinan setelah persalinan.
Mereka telah mengadakan pernikahan secara agama. Orang tua Budi hadir.
Aku merasakan sesuatu yang panas merambat ke tenggorokan.
“Joko juga hadir?”
Putri mengangguk.
Jadi komentar itu bukan kesalahan.
“Apa Budi bilang uang rumah berasal dari mana?” tanyaku.
“Bonus proyek. Katanya dia menabung sebelum kami bertemu.”
Aku menunjukkan beberapa transaksi melalui layar. Putri membacanya, kemudian memalingkan wajah.
“Saya akan menyerahkan dokumen yang saya punya,” katanya. “Tapi saya perlu didampingi kakak saya.”
“Itu lebih baik.”
Kami tidak saling memaafkan hari itu. Terlalu banyak yang belum kupahami. Namun, kami berhenti menjadi dua perempuan yang hanya mendengar cerita Budi.
Sore harinya, suamiku menelepon berkali-kali.
Pada panggilan kelima, aku menjawab.
“Kamu menghubungi Putri?” suaranya keras.
“Katanya kamu masih rapat.”
“Sari, dengarkan dulu.”
“Pulang. Besok jam sepuluh kita bicara bersama Dewi.”
“Aku mau bicara berdua dengan istriku.”
“Aku ingin ada pendamping.”
Ia terdiam, lalu berkata dengan suara yang kukenal betul.
“Aku masih sayang kamu.”
Dulu kalimat itu selalu membuatku melunak.
Sekarang aku hanya menjawab, “Besok jam sepuluh.”
Budi datang membawa bunga.
Ia berhenti ketika melihat map-map tersusun di meja. Dewi duduk di sebelahku.
“Aku melakukan kesalahan,” katanya.
“Kesalahan yang mana?” tanyaku. “Mengaku duda, menikah lagi, atau mengambil tabungan?”
Dia menaruh bunga di kursi.
“Aku ingin punya anak, Sar.”
“Aku tahu. Aku ikut menunggu selama enam tahun.”
“Kamu pasti tidak akan mengizinkan.”
“Jadi kamu sudah tahu jawabanku, lalu memutuskan aku tidak perlu diberi pilihan.”
Budi menunduk.
Dewi meminta penjelasan mengenai setiap transaksi. Awalnya ia menyebut investasi, kemudian uang muka, lalu biaya persiapan persalinan. Angka-angkanya tidak sesuai sampai kami membuka bukti satu per satu.
Akhirnya ia mengaku.
“Aku pikir nanti bisa kuganti.”
“Dengan apa?”
“Kalau proyek berikutnya cair.”
Aku menutup map.
Selama tujuh bulan, ia menggunakan masa depan yang belum ada untuk membenarkan uang yang sudah diambil.
Pertemuan itu tidak menghasilkan penyelesaian seketika. Dewi menyiapkan langkah untuk menelusuri aset dan menuntut pengembalian bagian danaku. Aku memutuskan mengajukan perceraian.
Budi meminta kesempatan sampai suaranya habis.
Aku tetap melanjutkan.
Beberapa minggu kemudian, Joko datang ke kantorku. Ia meminta maaf karena ikut menutupi hubungan itu.
“Aku pikir kalian sudah punya kesepakatan.”
“Kamu pernah bertanya kepadaku?”
Dia menggeleng.
Aku kembali bekerja. Ada permintaan maaf yang hanya perlu didengar, tanpa harus diberi tempat lagi.
Proses pembagian harta berlangsung berbulan-bulan. Rumah Bandung akhirnya dijual melalui kesepakatan yang didampingi kuasa masing-masing. Pengembalian dana dilakukan bertahap, dengan catatan tertulis. Putri tinggal bersama kakaknya dan mengurus kepentingan anaknya secara terpisah.
Aku menyewa apartemen kecil dekat kantor.
Suatu malam, saat membongkar kardus, kutemukan amplop biaya program kehamilan. Di dalamnya ada catatan lama.
Jangan lupa beli vitamin. Semoga kali ini berhasil.
Aku duduk di lantai dan menangisi perempuan yang menulis kalimat itu dengan begitu banyak harapan.
Kemudian ponselku berbunyi.
Pesan dari Putri berisi foto dokumen rumah yang sudah selesai diurus dan ucapan terima kasih karena aku tidak pernah menyalahkan bayinya.
Aku membalas singkat, lalu membuka aplikasi tabungan.
Nama rekening tujuannya masih tertulis Masa Depan Anak.
Lama aku memandanginya sebelum mengubahnya.
Masa Depan Sari.
Untuk pertama kalinya setelah sekian bulan, aku bisa membayangkan sesuatu yang ingin kutabungkan tanpa harus menunggu seseorang menepati janji.
