
Siti tidak langsung menelepon Budi. Ia duduk di sudut lobi rumah sakit, memotret setiap lembar, lalu mengirimkannya kepada Ayu.
Pesannya singkat.
Aku membutuhkan pengacara.
Lima menit kemudian, Ayu menelepon.
“Jangan temui mereka sendirian. Aku jemput sekarang.”
Untuk pertama kalinya sejak pergi, Siti tidak menolak bantuan.
Malam itu, di ruang kerja pengacara bernama Laras, angka sembilan koma tujuh miliar diurai menjadi tanggal, rekening, dan sumber dana. Laras meminta Siti membawa dokumen warisan, bukti pencairan deposito, serta percakapan tentang rencana usaha bersama.
“Apakah seluruh jumlah ini milikmu?” tanyanya.
“Belum tahu. Aku mengenali sebagian sumbernya, tetapi Budi yang mengurus rekening.”
“Kalau begitu, kita telusuri. Jangan menuntut berdasarkan dugaan.”
Siti mengangguk. Ia sudah terlalu lama hidup dari penjelasan orang lain. Kali ini, ia ingin membaca semuanya sendiri.
Esok paginya, ibu mertua menelepon.
“Kamu sudah menerima amplop?”
“Sudah.”
“Kalau mau uangmu kembali, pulang. Bantu Ibu menjauhkan Budi dari Dewi.”
Siti memandang catatan di hadapannya.
“Jadi itu maksud Ibu mengirimkannya?”
“Perempuan itu menguras uang keluarga kita.”
“Ketika saya terbaring di rumah sakit, Ibu juga menyebut saya beban.”
Di seberang terdengar helaan napas kesal.
“Jangan ungkit hal yang sudah lewat.”
“Justru berkas ini membuat saya harus memeriksa hal-hal yang sudah lewat.”
Siti mengakhiri panggilan. Setelah itu, ia meminta seluruh pembicaraan mengenai uang dilakukan melalui Laras.
Langkah tersebut membuat Budi datang ke hotel sore harinya.
Ayu sudah berada di kamar ketika petugas resepsionis menelepon. Siti bersedia menemuinya di lobi.
Budi berdiri dengan jas kusut dan mata kurang tidur.
“Kamu mau menyeretku ke pengadilan?”
“Aku mau tahu ke mana uang peninggalan ayahku pergi.”
“Itu modal yang kamu serahkan kepadaku.”
“Untuk usaha kita. Bukan apartemen Dewi.”
Beberapa orang menoleh. Budi merendahkan suara.
“Aku akan mengembalikannya. Tapi hentikan dulu pengajuan perceraian.”
Siti menatapnya lama.
“Kenapa pengembalian uangku harus ditukar dengan perkawinan kita?”
Budi membuka mulut, lalu terdiam.
Dahulu, keheningan seperti itu membuat Siti merasa harus membantu mencari alasan baginya. Sekarang ia membiarkannya tetap kosong.
“Bicara kepada Laras,” katanya.
Dua minggu berikutnya berjalan lambat. Siti pindah ke kamar sewa dekat rumah Ayu agar tabungannya tidak habis untuk hotel. Pagi hari ia mengurus persyaratan profesi, sore hari mengumpulkan dokumen untuk Laras.
Ada hari ketika ia hanya sanggup menyelesaikan satu formulir. Ada malam ketika tubuhnya lelah dan kenangan tentang kehamilan-kehamilan sebelumnya datang tanpa bisa dicegah.
Ia mulai menemui psikolog.
Pada pertemuan pertama, Siti menangis karena tidak tahu bagaimana menjelaskan mengapa ia terus bertahan.
“Aku selalu mengira setelah mengalah, dia akan melihat betapa aku mencintainya.”
Psikolog itu memberinya waktu sebelum bertanya, “Dan apa yang Siti perlukan sekarang?”
Pertanyaan sederhana itu terasa asing.
Selama bertahun-tahun, semua keputusan dimulai dari kebutuhan Budi.
Sementara itu, penelusuran keuangan menghasilkan temuan baru. Angka sembilan koma tujuh miliar dalam amplop ternyata mencakup transaksi yang tercatat dua kali dan dana yang sebagian telah dikembalikan. Namun, masih ada sejumlah besar uang yang harus dipertanggungjawabkan, termasuk pokok warisan Siti yang dapat ditelusuri dengan jelas.
Laras juga menemukan sesuatu yang lebih mengganggu.
Sebagian dokumen investasi memuat tanda tangan Siti.
“Aku tidak pernah menandatangani ini.”
“Kita akan memeriksakannya. Simpan dokumen aslimu.”
Ketika permintaan klarifikasi dikirim, Dewi menghubungi Siti.
“Aku ingin menjelaskan.”
“Datang melalui pengacaraku.”
Pertemuan berlangsung di kantor Laras. Dewi membawa laptop dan sebuah map merah. Wajahnya tidak menunjukkan kemenangan seperti yang selama ini dibayangkan Siti.
“Budi mengatakan kamu tahu semua investasi ini.”
Siti tidak menjawab.
Dewi membuka percakapan dan memperlihatkan dokumen yang diterimanya. Di sana ada pesan Budi yang menyebut Siti setuju menanamkan modal, lalu foto surat bertanda tangan.
“Aku tahu kalian bermasalah,” lanjut Dewi. “Aku juga tahu hubunganku dengannya salah. Tapi soal uang warisan itu, aku baru diberi tahu setelah menerima surat dari pengacaramu.”
“Kenapa baru sekarang kamu mau bicara?”
“Karena dia memintaku menandatangani pernyataan bahwa semua dana adalah pinjaman darimu kepadaku.”
Laras berhenti menulis.
“Apakah Anda bersedia menyerahkan percakapannya?”
Dewi mengangguk.
Siti memandang perempuan itu. Ia tidak merasa iba, tetapi akhirnya memahami bahwa Budi sedang mencari seseorang untuk menanggung seluruh akibat perbuatannya.
Sama seperti dahulu ia selalu mencari alasan agar Siti yang mengalah.
Bukti baru diserahkan untuk pemeriksaan. Dugaan pemalsuan ditangani terpisah dari perkara perceraian dan tuntutan pengembalian dana. Tidak ada penyelesaian dramatis dalam semalam. Ada panggilan, bantahan, serta pertemuan yang membuat Siti pulang dengan kepala berdenyut.
Namun, kini ia selalu tahu dokumen apa yang dibicarakan.
Berbulan-bulan kemudian, sebagian dana warisannya kembali melalui kesepakatan tertulis. Apartemen Dewi dijual untuk menyelesaikan kewajiban yang telah diverifikasi. Perselisihan lain masih berjalan, tetapi Siti tidak lagi menunda hidup sampai semuanya selesai.
Setelah memenuhi tahap penilaian dan persyaratan yang diperlukan, ia mulai kembali bekerja dengan pendampingan sesuai ketentuan tempat praktiknya.
Hari pertama, tangannya gemetar ketika memasang kartu identitas.
Dokter Setyo melihatnya di koridor.
“Gugup?”
“Sangat.”
“Pelan-pelan. Kalau perlu bantuan, tanyakan.”
Siti tersenyum. Kali ini ia tahu meminta bantuan tidak membuatnya kurang mampu.
Pada hari perceraian mereka akhirnya diputus, Budi menunggunya di luar.
“Aku sudah kehilangan semuanya,” katanya.
Siti berhenti.
“Perusahaan bermasalah. Dewi pergi. Ibu menyalahkanku.”
Ia memandang wajah laki-laki yang pernah begitu dicintainya.
“Dulu ketika aku kehilangan banyak hal, kamu meminta aku tenang dan memahami keadaanmu.”
Budi menunduk.
“Apa tidak ada kesempatan lagi?”
“Tidak.”
Jawabannya pelan, tanpa kemarahan yang perlu dipamerkan.
Malam itu, Siti membuka koper abu-abu yang sudah berbulan-bulan tersimpan di bawah tempat tidur. Di saku dalamnya, ia menemukan sebuah amplop kecil dari Mbak Rina.
Isinya foto Siti muda mengenakan jas putih, diambil sebelum menikah.
Di belakangnya ada tulisan.
Saya simpan ini waktu Bapak menyuruh semua barang kuliah Ibu dimasukkan ke gudang. Saya pikir suatu hari Ibu akan mencarinya.
Siti duduk lama memegang foto itu.
Lalu ia memasangnya di meja, di samping jadwal kerjanya.
Ternyata ada seseorang yang menyimpan bukti bahwa dirinya pernah memiliki masa depan, bahkan ketika ia sendiri hampir melupakannya.
