Aku menatap pesan Xu Ning cukup lama sampai layar ponselku meredup dengan sendirinya.
Maaf.

Hanya satu kata itu yang terus berputar di kepalaku.
Empat tahun menjalin hubungan dengan Jimin dan lebih dari sepuluh tahun bersahabat dengan Xu Ning, aku tidak pernah membayangkan keduanya akan membuatku merasa seperti orang asing dalam hidup mereka.
Aku mengambil napas panjang, lalu mengetik balasan.
“Kalau kamu benar-benar merasa bersalah, kirimkan alamat kafe tempat kalian berada.”
Lima menit berlalu tanpa jawaban.
Aku hampir meletakkan ponsel ketika sebuah lokasi dibagikan kepadaku.
Sebuah kafe di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Disusul pesan singkat.
“Datanglah sendiri. Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Aku meminta izin pulang lebih awal kepada kepala toko. Sepanjang perjalanan menggunakan ojek online, pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
Apakah Jimin membeli apartemen untuk Xu Ning?
Apakah mereka diam-diam menjalin hubungan?
Atau selama ini aku hanya menjadi perempuan yang membantu membiayai masa depan mereka?
Ketika tiba di kafe, aku melihat Xu Ning duduk sendirian di dekat jendela.
Wajahnya pucat. Matanya sembap seperti baru menangis.
Jimin tidak terlihat di mana pun.
“Di mana Jimin?” tanyaku tanpa basa-basi.
Xu Ning menunduk.
“Dia pergi menemui agen properti.”
Aku menarik kursi dan duduk di hadapannya.
“Sekarang jelaskan semuanya.”
Xu Ning menggenggam cangkir kopinya dengan kedua tangan.
“Chi Chi, apartemen itu memang dibeli Jimin.”
“Atas nama siapa?”
Dia terdiam.
Aku mengulang pertanyaanku.
“Atas nama siapa, Ning?”
“Atas namaku.”
Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam dadaku.
Aku tertawa kecil, tetapi mataku mulai panas.
“Jadi pacarku menggunakan tabungan pernikahan kami untuk membeli apartemen atas nama sahabatku?”
“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Lalu seperti apa aku harus memikirkannya?”
Xu Ning mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya.
“Jimin bilang kamu sudah menyetujui semuanya.”
Aku menatapnya tajam.
“Menyetujui apa?”
“Investasi apartemen. Katanya uang itu akan dikembalikan setelah unitnya dijual.”
Aku membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat salinan perjanjian pemesanan unit apartemen senilai Rp680 juta. Pembayaran awalnya Rp18 juta, sedangkan sisanya direncanakan melalui kredit.
Namun, yang membuat tanganku gemetar bukan nominalnya.
Melainkan tanda tangan di bagian persetujuan pasangan.
Tanda tangan itu menggunakan namaku.
Jiang Chi Chi.
Aku tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.
“Ini palsu,” bisikku.
Xu Ning mengangkat wajah.
“Apa?”
“Aku bilang tanda tangan ini palsu!”
Beberapa pengunjung menoleh.
Aku menurunkan suara, tetapi kemarahanku sudah tidak bisa disembunyikan.
“Jimin memalsukan tanda tanganku, dan kamu percaya begitu saja?”
Air mata Xu Ning mulai mengalir.
“Aku nggak tahu, Chi Chi. Dia bilang kalian akan menikah tahun depan dan apartemen ini sengaja didaftarkan atas namaku sementara karena pengajuan kreditnya bermasalah.”
“Kenapa harus namamu?”
Pertanyaanku membuat Xu Ning membisu.
Saat itulah aku melihat sesuatu yang sebelumnya tidak kusadari.
Sebuah cincin emas sederhana melingkar di jari manis tangan kirinya.
Aku mengenali cincin itu.
Tiga bulan lalu, Jimin pernah memperlihatkan foto cincin tersebut kepadaku dan bertanya apakah modelnya cocok untuk pertunangan kami.
Aku menunjuk tangannya.
“Dari mana cincin itu?”
Xu Ning buru-buru menyembunyikan tangannya di bawah meja.
Terlambat.
“Ning, jawab.”
Dia menangis semakin keras.
“Jimin memberikannya dua minggu lalu.”
Aku merasa seluruh suara di sekelilingku mendadak menghilang.
“Jadi kalian memang bersama?”
Xu Ning mengangguk perlahan.
“Sejak enam bulan lalu.”
Enam bulan.
Selama enam bulan, aku masih menyiapkan bekal untuk Jimin, mencuci pakaiannya, dan menabung setiap bulan untuk pernikahan kami.
Sementara dia menjalin hubungan dengan perempuan yang selalu kupanggil sahabat.
“Aku ingin mengakhirinya,” kata Xu Ning terbata-bata. “Tapi Jimin selalu bilang dia akan segera putus denganmu.”
Aku menatap perempuan di hadapanku.
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?”
Dia menggeleng.
“Bukan karena kamu merebut pacarku. Tapi karena setiap kali aku menangis dan bercerita kepadamu bahwa Jimin mulai berubah, kamu selalu menyuruhku bersabar.”
Xu Ning menutup wajahnya.
“Aku benar-benar menyesal.”
“Penyesalanmu tidak mengubah enam bulan kebohongan itu.”
Aku mengambil seluruh dokumen dan berdiri.
Namun, sebelum pergi, Xu Ning menarik ujung lenganku.
“Chi Chi, tunggu. Ada satu hal lagi.”
Aku menoleh.
“Jimin sebenarnya punya utang hampir Rp300 juta.”
Aku membeku.
“Utang apa?”
“Dia kehilangan banyak uang karena investasi ilegal yang ditawarkan temannya. Sekarang dia berusaha mendapatkan pinjaman baru. Apartemen itu bagian dari rencananya.”
“Dan kamu membantunya?”
Xu Ning menggeleng cepat.
“Aku baru tahu minggu lalu. Dia memintaku menandatangani beberapa dokumen tambahan. Aku menolak. Makanya tadi kami bertengkar.”
Aku menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang nyata di wajah Xu Ning.
Namun, aku tidak lagi tahu bagian mana dari ceritanya yang bisa dipercaya.
Malam itu aku langsung menemui seorang pengacara yang direkomendasikan kakak sepupuku.
Setelah memeriksa dokumen, pengacara bernama Bu Ratih itu mengatakan bahwa dugaan pemalsuan tanda tangan dan penggunaan dana bersama harus ditangani dengan bukti yang lengkap.
“Jangan menuduh siapa pun secara terbuka dulu. Simpan seluruh percakapan, bukti transaksi, dan dokumen asli kalau bisa diperoleh secara sah,” sarannya.
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian di parkiran, aku merasa masih memiliki kendali atas hidupku.
Keesokan harinya, aku mendatangi bank untuk meminta riwayat transaksi rekening bersama sesuai kewenanganku sebagai pemilik rekening.
Ternyata Rp18 juta bukan satu-satunya uang yang keluar.
Selama empat bulan terakhir, terdapat sejumlah transfer kecil ke rekening yang tidak kukenal.
Totalnya mencapai Rp42 juta.
Sebagian besar uang itu berasal dari setoran bulananku.
Aku memandangi angka-angka tersebut dengan perasaan dingin.
Jimin bukan hanya mengkhianati cintaku.
Dia juga mengkhianati kepercayaanku terhadap masa depan yang kami bangun bersama.
Sore harinya, Jimin datang ke rumah Nenek.
Dia membawa bunga mawar putih dan sekotak kue.
“Chi Chi, kita perlu bicara.”
Aku berdiri di teras tanpa mempersilakannya masuk.
“Tentang apartemen atau tentang Xu Ning?”
Wajah Jimin langsung berubah.
“Dia sudah cerita?”
“Cukup banyak.”
Jimin mengusap wajahnya dengan kasar.
“Kamu salah paham. Hubunganku dengan Ningning itu rumit.”
“Enam bulan bukan kesalahpahaman, Jimin.”
Dia terdiam.
Aku mengeluarkan salinan dokumen dari tas.
“Ini tanda tangan siapa?”
Matanya melebar.
“Dari mana kamu dapat itu?”
“Jawab pertanyaanku.”
Jimin mencoba mengambil dokumen tersebut, tetapi aku segera menariknya.
“Chi Chi, dengarkan dulu. Aku melakukan semuanya untuk masa depan kita.”
Aku hampir tertawa.
“Masa depan kita yang mana? Yang apartemennya atas nama Xu Ning?”
“Aku terpaksa!”
Suaranya meninggi.
“Aku punya masalah keuangan. Kalau aku tidak segera menyelesaikannya, karierku bisa hancur!”
“Jadi kamu memilih menghancurkan hidupku?”
Jimin terdiam.
Kemudian, dengan suara lebih pelan, dia berkata, “Kamu punya tabungan pribadi, kan? Pinjamkan dulu seratus juta. Setelah semuanya selesai, aku akan mengembalikannya.”
Aku menatapnya tidak percaya.
Bahkan setelah seluruh kebohongannya terbongkar, dia masih datang untuk meminta uang.
“Tidak.”
“Chi Chi, kita sudah bersama empat tahun!”
“Justru karena empat tahun itulah aku tahu kapan harus berhenti.”
Aku mengeluarkan sebuah kantong kertas kecil.
Di dalamnya terdapat jam tangan yang pernah Jimin berikan saat ulang tahunku.
“Aku mengembalikan ini. Barang-barangmu yang masih ada di rumah sudah kukemas. Besok bisa kamu ambil melalui kurir.”
Jimin menatap kantong itu.
“Kamu benar-benar mau putus?”
“Iya.”
“Karena masalah sekecil ini?”
Aku tersenyum pahit.
“Bagimu mungkin kecil. Bagiku, ini seluruh kepercayaan yang sudah kamu hancurkan.”
Jimin mendekat, tetapi suara Nenek terdengar dari balik pintu.
“Chi Chi, masuk. Supnya sudah hangat.”
Aku menoleh.
Nenek berdiri dengan wajah tenang, tetapi tatapannya kepada Jimin begitu tegas.
“Anak muda, kalau kamu tidak bisa menjaga cucuku, jangan datang lagi meminta dia menjaga masalahmu.”
Jimin tidak menjawab.
Aku masuk dan menutup pintu.
Dua minggu berikutnya berjalan melelahkan.
Aku mengurus pemisahan keuangan, mengamankan rekening pribadiku, dan menyerahkan bukti dugaan pemalsuan dokumen kepada pihak berwenang melalui pendampingan pengacara.
Jimin berkali-kali menelepon.
Kadang meminta maaf.
Kadang menyalahkanku.
Kadang mengancam akan menyebarkan cerita bahwa aku meninggalkannya ketika dia sedang kesulitan.
Aku tidak membalas satu pun.
Sementara itu, Xu Ning mengirimkan pesan panjang yang berisi pengakuan dan sejumlah bukti percakapannya dengan Jimin.
Dia juga menyatakan bersedia memberikan keterangan mengenai dokumen apartemen tersebut.
Aku menyimpan semuanya.
Namun, aku tidak membalas permintaan maafnya.
Ada luka yang tidak bisa sembuh hanya karena seseorang akhirnya mengatakan kebenaran.
Sebulan kemudian, aku mendapat kabar bahwa pengajuan kredit apartemen itu dibatalkan setelah muncul persoalan dokumen dan persetujuan.
Perselisihan mengenai dana yang digunakan masih harus diselesaikan melalui proses hukum.
Aku tidak langsung mendapatkan kembali seluruh uangku.
Tetapi setidaknya aku berhenti membiarkan orang lain menentukan apa yang boleh diambil dariku.
Pada waktu yang hampir bersamaan, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.
Aku memenangkan kompetisi membuat roti tingkat Jakarta yang diam-diam kuikuti sejak tiga bulan sebelumnya.
Hadiah uangnya cukup untuk menjadi modal awal usaha kecil.
Dengan bantuan Nenek dan Xiaoman, aku menyewa sebuah kios sederhana di dekat stasiun.
Aku menamainya Rumah Roti Chi.
Pada hari pembukaan, hujan turun sangat deras.
Aku sedang menata roti di etalase ketika seorang laki-laki masuk sambil menutup payung hitamnya.
Dia memesan dua bagel asin dan secangkir kopi panas.
Saat hendak membayar, matanya tertuju pada sebuah payung lipat berwarna biru yang tergantung di dekat pintu.
“Payungnya bagus,” katanya sambil tersenyum.
Aku ikut tersenyum.
“Itu hadiah dari nenekku.”
“Kelihatannya kamu sangat menjaganya.”
Aku mengangguk.
“Dulu aku pernah kehilangan payung yang mirip seperti itu.”
“Sayang sekali.”
Aku memandang hujan di luar jendela.
“Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi sekarang aku justru bersyukur.”
Laki-laki itu tampak penasaran.
“Kenapa?”
Aku menatap toko kecilku yang dipenuhi aroma roti hangat.
“Karena malam ketika aku kehilangan payung itu, aku akhirnya sadar bahwa selama ini aku berdiri terlalu lama di tempat yang salah.”
Dia tidak bertanya lebih jauh.
Hanya mengangguk, mengambil pesanannya, lalu pergi setelah mengucapkan terima kasih.
Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak kusimpan.
“Chi Chi, ini Jimin. Aku dengar kamu membuka toko sendiri. Selamat, ya. Aku masih menyimpan payung birumu yang tertinggal di mobil malam itu. Kalau kamu mau, aku bisa mengantarkannya.”
Aku membaca pesan tersebut sekali.
Lalu menghapusnya.
Bukan karena aku masih marah.
Melainkan karena aku benar-benar tidak membutuhkannya lagi.
Dari dapur, Nenek memanggilku untuk mencicipi roti yang baru keluar dari oven.
Aku meletakkan ponsel dan berjalan menghampirinya.
Di luar, hujan masih turun.
Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sedang ditinggalkan.
Aku memiliki rumah untuk pulang, pekerjaan yang kucintai, dan orang-orang yang tidak membuatku harus memohon agar dianggap penting.
Dulu, aku mengira kehilangan Jimin berarti kehilangan empat tahun hidupku.
Sekarang aku mengerti bahwa empat tahun itu tidak sepenuhnya sia-sia.
Setidaknya, aku belajar satu hal yang tidak akan pernah kulupakan.
Cinta tidak seharusnya membuat seseorang terus menunggu di tengah hujan, sementara orang yang dicintainya justru sibuk memberikan tempat paling nyaman kepada orang lain.
Dan terkadang, tiga menit yang mengubah hidup bukanlah tiga menit ketika seseorang meninggalkan kita.
Melainkan tiga menit ketika kita akhirnya memutuskan untuk tidak mengejarnya lagi.
