
Aku baru mengetahui bahwa Sabiru bukan anak kandung adikku pada malam ketika Naima menyerahkan surat gugatan cerai dan sebuah amplop berisi hasil pemeriksaan DNA.
Lima tahun aku memperlakukan perempuan itu seperti orang asing di rumahku sendiri. Lima tahun pula aku menganggap Sabiru sebagai beban yang ditinggalkan adikku, Farhan.
Namun, ketika kubaca nama yang tercantum dalam dokumen itu, seluruh keyakinanku runtuh.
Semuanya bermula tiga hari setelah aku membawa Sabrina menemui Mama.
Malam itu, aku pulang ke rumah dinas di Bandung hampir pukul sebelas. Sebagai kapten TNI, jadwalku memang sering tidak menentu. Namun, belakangan aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Sabrina daripada pulang menemui keluarga.
Lampu ruang makan masih menyala.
Naima duduk di sana, mengenakan daster sederhana. Di depannya terdapat semangkuk sup yang sudah dingin.
“Mas sudah makan?” tanyanya.
“Sudah.”
“Aku tadi masak sop iga. Kesukaan Mas.”
Aku melepas jam tangan tanpa menatapnya.
“Sudah kubilang, jangan menungguku.”
Naima menunduk.
“Iya, Mas.”
Aku hendak masuk kamar ketika dia memanggilku lagi.
“Mas Althaf, aku dengar Mas mau menikah dengan Mbak Sabrina.”
Langkahku terhenti.
“Dari Mama?”
Naima mengangguk.
“Kalau begitu, kamu sudah tahu.”
“Aku cuma ingin bertanya, apakah Mas benar-benar sudah memikirkannya?”
Aku berbalik.
“Naima, jangan mulai.”
“Aku tidak melarang, Mas. Aku hanya ingin tahu bagaimana nanti keadaan Sabiru.”
Aku menghela napas kesal.
“Sabiru tetap akan kubiayai. Kamu juga. Tidak ada yang berubah.”
Naima menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Mas pikir yang dibutuhkan Sabiru cuma uang?”
Pertanyaan itu membuatku tersinggung.
“Lalu apa lagi? Rumah? Sekolah? Semua sudah kuberikan!”
“Dia butuh ayah, Mas.”
Aku tertawa hambar.
“Ayah kandungnya sudah meninggal. Kamu tahu itu.”
Naima langsung terdiam.
Wajahnya berubah pucat.
Aku tidak menyadari bahwa kalimat itulah yang akhirnya membuatnya mengambil keputusan.
Keesokan paginya, Sabiru menghampiriku ketika aku sedang mengenakan seragam.
Anak laki-laki berusia lima tahun itu membawa gambar rumah dengan tiga orang berdiri di depannya.
“Ayah, lihat!”
Aku menoleh sekilas.
“Ayah sedang buru-buru.”
“Tapi ini gambar kita.”
Aku berhenti.
Dalam gambar itu, seorang laki-laki berseragam hijau menggandeng seorang perempuan dan anak kecil.
“Bu Guru bilang hari Jumat ada acara keluarga. Ayah bisa datang?”
Aku memeriksa jam.
“Belum tahu.”
Sabiru menunduk.
“Tahun lalu Ayah juga bilang begitu.”
Aku tidak menjawab.
Dia kemudian menyelipkan gambar itu ke dalam tas kerjaku.
“Kalau Ayah nggak bisa datang, gambarnya dibawa saja.”
Entah mengapa, kalimat sederhana itu terus terngiang sepanjang perjalanan ke markas.
Namun, aku tetap tidak datang ke acara sekolahnya.
Hari Jumat, Sabrina mengajakku memilih cincin pertunangan.
Aku menurutinya.
Sore harinya, ketika pulang, kulihat Sabiru tertidur di sofa dengan seragam sekolah masih melekat di tubuhnya.
Naima duduk di sampingnya.
“Dia menunggu Mas sejak siang,” katanya.
Aku meletakkan kunci mobil.
“Aku ada urusan.”
Naima mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
Namun, malam itu dia tidak lagi menyiapkan makan malam untukku.
Dua minggu kemudian, Sabrina mulai mendesak agar pernikahan kami segera dilangsungkan.
“Mas, aku nggak mau terus dianggap perempuan simpanan,” katanya saat kami makan malam.
“Aku sedang mengurus semuanya.”
“Naima sudah setuju?”
Aku terdiam.
Sabrina meletakkan sendok.
“Mas harus tegas. Kalau memang tidak mencintainya, ceraikan saja.”
Aku menatapnya.
“Tidak semudah itu.”
“Kenapa? Mas sendiri bilang pernikahan kalian cuma karena tanggung jawab.”
Aku tidak memiliki jawaban.
Malam itu, aku pulang dengan kepala penuh pikiran.
Namun, rumah terasa berbeda.
Tidak ada suara televisi.
Tidak ada mainan Sabiru di ruang tengah.
Di atas meja makan terdapat sebuah amplop cokelat.
Naima duduk menungguku.
“Aku sudah bicara dengan pengacara,” katanya.
Aku mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
“Aku ingin bercerai.”
Aku membeku.
Selama lima tahun, Naima tidak pernah membantah keputusanku.
Dia selalu menerima ketika aku pulang terlambat, tidak menghadiri ulang tahunnya, bahkan ketika aku menolak tidur sekamar dengannya.
Karena itu, aku tidak pernah membayangkan dia akan meminta pergi.
“Kamu bercanda?”
Naima menggeleng.
“Aku serius, Mas.”
Aku tertawa sinis.
“Karena Sabrina?”
“Bukan.”
“Lalu karena apa?”
“Karena aku tidak ingin Sabiru tumbuh dengan keyakinan bahwa dia harus memohon agar dicintai.”
Kalimat itu membuat dadaku terasa tidak nyaman.
Aku mengambil amplop di meja.
Di dalamnya terdapat surat permohonan perceraian yang sedang dipersiapkan, beberapa dokumen lama, dan hasil pemeriksaan hubungan biologis.
Aku membaca halaman pertama.
Kemudian halaman kedua.
Tanganku mendadak dingin.
“Naima, ini apa?”
Dia menunduk.
“Hasil pemeriksaan DNA.”
Aku menatap angka yang tercantum.
Hasil pemeriksaan tersebut menyatakan bahwa sampel Sabiru dan sampel yang diberi identitas Farhan tidak menunjukkan hubungan ayah dan anak.
Aku mengangkat kepala.
“Ini tidak mungkin!”
Naima mulai menangis.
“Aku tahu Mas akan terkejut.”
“Kalau Sabiru bukan anak Farhan, lalu anak siapa?”
Naima tidak langsung menjawab.
Aku membentak.
“Jawab!”
“Mas, tolong jangan berteriak. Sabiru sedang tidur.”
Aku mencengkeram dokumen itu.
“Selama lima tahun aku menikahimu karena mengira kamu mengandung anak adikku!”
Air mata mengalir di pipi Naima.
“Aku tidak pernah memintamu menikahiku.”
Aku terdiam.
Dia melanjutkan.
“Yang memaksaku menerima pernikahan itu adalah Mama. Katanya keluarga kalian harus menjaga nama baik Farhan.”
Aku teringat hari setelah pemakaman adikku.
Mama memanggilku ke ruang keluarga dan mengatakan bahwa Naima sedang mengandung anak Farhan.
Farhan meninggal dalam kecelakaan dua bulan sebelum rencana pernikahannya dengan Naima.
Saat itu, Mama memintaku menikahi perempuan yang ditinggalkannya.
Aku menolak.
Namun, ketika Mama menangis dan mengatakan bahwa anak Farhan tidak boleh lahir tanpa perlindungan keluarga, akhirnya aku menyerah.
“Apa Mama tahu soal ini?” tanyaku.
Naima mengangguk perlahan.
“Sejak awal.”
Aku merasa lantai seperti berguncang.
“Jadi kalian berdua membohongiku?”
“Tidak seperti itu, Mas.”
“Lalu seperti apa?”
Naima mengambil sebuah buku harian kecil dari tasnya.
“Bacalah ini.”
Buku itu milik Farhan.
Aku mengenali tulisan tangannya.
Pada salah satu halaman, adikku menulis tentang Naima, perempuan yang dicintainya.
Namun, halaman berikutnya membuatku terdiam.
Farhan mengetahui bahwa Naima sedang mengandung ketika mereka mulai merencanakan pernikahan.
Dia juga mengetahui bahwa bayi tersebut bukan anak biologisnya.
Meski demikian, Farhan tetap ingin menikahi Naima.
Aku membaca kalimat terakhirnya berkali-kali.
Aku tidak tahu apakah aku akan menjadi ayah yang baik. Tetapi aku tahu anak ini tidak bersalah, dan aku ingin menyambutnya sebagai anakku sendiri.
Aku menutup buku itu.
“Kenapa Farhan tidak pernah menceritakannya kepadaku?”
Naima mengusap air mata.
“Karena dia menghormati masa laluku.”
Aku menatapnya.
Naima kemudian menceritakan bahwa sebelum bekerja di rumah keluarga kami, dia pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki bernama Damar.
Ketika mengetahui Naima hamil, Damar menghilang.
Farhan yang sudah lama mengenalnya memilih mendampingi Naima.
Hubungan mereka perlahan tumbuh menjadi cinta.
Namun, sebelum pernikahan terlaksana, Farhan meninggal.
“Aku ingin membesarkan Sabiru sendiri,” kata Naima. “Tapi Mama takut keluarga besar mengetahui kenyataannya. Beliau meminta agar semuanya tetap dianggap sebagai anak Farhan.”
Aku memejamkan mata.
“Dan kamu setuju menikah denganku?”
“Aku menolak berkali-kali. Tapi saat itu aku tidak punya pekerjaan, tidak punya tempat tinggal, dan sedang hamil besar. Mama berjanji Mas sudah mengetahui semuanya.”
Aku membeku.
“Apa?”
Naima mengangguk.
“Beliau bilang Mas bersedia menikahiku meskipun tahu Sabiru bukan anak Farhan.”
Untuk beberapa saat, kami hanya saling menatap.
Ternyata kami berdua menjalani pernikahan berdasarkan cerita yang berbeda.
Aku mengira sedang menyelamatkan kehormatan adikku.
Naima mengira aku telah memilih menerima dirinya dengan sadar.
Keesokan harinya, aku mendatangi rumah Mama.
Beliau sedang menyiram tanaman ketika aku datang.
“Ma, aku sudah tahu semuanya.”
Wajah Mama langsung pucat.
Aku meletakkan buku harian Farhan di meja.
“Kenapa Mama berbohong?”
Mama duduk perlahan.
Air matanya langsung jatuh.
“Mama takut, Althaf.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan Naima dan bayi yang sangat ingin dibesarkan Farhan.”
Aku menggeleng.
“Jadi Mama mengorbankan hidup kami?”
“Mama pikir kalian bisa belajar saling mencintai.”
“Cinta tidak tumbuh dari kebohongan, Ma!”
Mama menangis tersedu-sedu.
Aku meninggalkannya tanpa sanggup mengatakan apa-apa lagi.
Namun, sepanjang perjalanan pulang, ada satu kenyataan yang terus menggangguku.
Naima memang tidak mengatakan kebenaran selama lima tahun.
Tetapi aku juga tidak pernah memberinya kesempatan menjelaskan.
Aku selalu menganggapnya sebagai kewajiban yang harus kutanggung.
Bahkan ketika dia berusaha mendekat, aku memilih menjauh.
Malam itu, aku masuk ke kamar Sabiru.
Anak itu sedang tidur sambil memeluk mobil mainan.
Di samping bantalnya terdapat gambar yang pernah dia selipkan ke dalam tasku.
Gambar tiga orang bergandengan tangan.
Aku duduk di tepi tempat tidur.
Untuk pertama kalinya, aku memperhatikan wajah Sabiru cukup lama.
Dia tidak memiliki mata Farhan.
Tidak pula hidung keluarga kami.
Namun, selama lima tahun, dialah yang selalu berlari menyambutku ketika pulang.
Dialah yang menyimpan sepotong kue ulang tahun untukku.
Dialah yang memanggilku Ayah meskipun aku jarang menjawab dengan hangat.
Air mataku jatuh.
Aku menyadari bahwa anak itu tidak pernah meminta dilahirkan dalam keadaan rumit.
Dan dia tidak pernah meminta orang dewasa berbohong atas namanya.
Keesokan paginya, aku menemui Sabrina.
“Aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita,” kataku.
Dia menatapku tidak percaya.
“Karena Naima?”
“Karena aku belum menyelesaikan tanggung jawabku sebagai suami dan ayah.”
Sabrina berdiri dengan wajah merah.
“Mas bilang tidak mencintai mereka!”
“Aku memang pernah mengatakan itu.”
“Lalu sekarang?”
Aku menunduk.
“Sekarang aku sadar bahwa selama ini aku bahkan tidak pernah berusaha mengenal mereka.”
Sabrina menangis.
Aku meminta maaf karena telah memberinya harapan ketika rumah tanggaku sendiri belum selesai.
Kami berpisah hari itu.
Namun, ketika aku pulang dan mengatakan kepada Naima bahwa pernikahan dengan Sabrina dibatalkan, dia tidak tersenyum.
“Aku tetap ingin bercerai, Mas.”
Aku terdiam.
“Naima, aku ingin memperbaiki semuanya.”
Dia menggeleng pelan.
“Mas baru ingin memperbaikinya setelah tahu Sabiru bukan anak Farhan. Tapi aku sudah menunggu lima tahun.”
Aku tidak mampu membantah.
“Aku tidak meminta Mas membenciku,” lanjutnya. “Aku hanya ingin hidup tanpa terus merasa menjadi beban.”
Aku akhirnya mengangguk.
“Kalau itu keputusanmu, aku akan menghormatinya.”
Beberapa bulan kemudian, perceraian kami selesai.
Naima pindah ke rumah kontrakan kecil dan kembali bekerja sebagai penjahit.
Aku membantu biaya Sabiru sesuai kesepakatan kami, tanpa menjadikannya alasan untuk mengatur kehidupan Naima.
Aku juga mulai menemui Sabiru secara teratur.
Awalnya dia sering bertanya mengapa aku tidak tinggal bersama mereka.
Aku menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa orang dewasa terkadang tidak berhasil mempertahankan pernikahan, tetapi hal itu bukan kesalahan anak.
Suatu sore, ketika kami bermain layang-layang di lapangan, Sabiru tiba-tiba bertanya.
“Ayah, kalau aku bukan anak kandung Ayah, Ayah masih sayang aku?”
Tanganku membeku.
Aku berjongkok di depannya.
“Siapa yang bilang begitu?”
“Teman Mama pernah bilang aku bukan anak asli Ayah.”
Aku menahan air mata.
“Sabiru, dengarkan Ayah.”
Dia menatapku.
“Ayah memang tidak ikut membuatmu lahir ke dunia. Tapi Ayah sudah mengenalmu sejak kamu bayi.”
“Berarti Ayah tetap Ayahku?”
Aku mengangguk.
“Kalau kamu masih mau memanggil Ayah begitu.”
Sabiru langsung memeluk leherku.
“Aku mau, Yah.”
Aku menangis sambil memeluknya.
Setahun kemudian, Naima membuka usaha jahit kecil di Bandung.
Aku sesekali mengantar Sabiru ke sekolah dan menghadiri kegiatan orang tua.
Hubunganku dengan Naima perlahan menjadi lebih baik, bukan sebagai pasangan, melainkan sebagai dua orang dewasa yang sama-sama menyayangi seorang anak.
Pada ulang tahun Sabiru yang ketujuh, dia memberiku sebuah amplop.
Di dalamnya terdapat gambar rumah.
Kali ini rumah itu memiliki dua pintu.
Di depan pintu pertama berdiri Naima.
Di depan pintu kedua berdiri aku.
Sabiru menggambar dirinya di tengah, sedang menggenggam tangan kami berdua.
“Ayah, sekarang rumah kita ada dua,” katanya.
Aku tersenyum sambil menahan air mata.
“Iya, Nak.”
“Tapi keluargaku tetap ada, kan?”
Aku memeluknya.
“Tentu saja.”
Malam itu, setelah pulang, aku membuka kembali buku harian Farhan.
Pada halaman terakhir, adikku menulis sebuah kalimat yang dahulu tidak kupahami.
Menjadi ayah bukan tentang siapa yang memberikan darahnya. Menjadi ayah adalah tentang siapa yang memilih tetap tinggal ketika seorang anak membutuhkan tempat pulang.
Aku menutup buku itu dengan mata basah.
Selama lima tahun aku menganggap diriku korban dari sebuah pernikahan yang tidak kuinginkan.
Namun, ternyata ada dua orang yang jauh lebih terluka oleh sikapku.
Seorang perempuan yang tidak pernah kuberi kesempatan untuk dicintai.
Dan seorang anak yang terus memanggilku Ayah meskipun aku berkali-kali menolak membuka hati.
Aku tidak berhasil menyelamatkan pernikahanku.
Naima juga tidak kembali menjadi istriku.
Tetapi akhirnya aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan pangkat, jabatan, ataupun kebanggaan keluarga.
Tanggung jawab tidak selalu berarti memiliki seseorang.
Kadang, tanggung jawab justru berarti menghormati keputusannya untuk pergi, sambil tetap hadir bagi anak yang pernah kita janjikan sebuah keluarga.
Dan Sabiru, anak yang selama bertahun-tahun kusebut bukan darah dagingku, justru menjadi orang pertama yang mengajariku bagaimana mencintai tanpa syarat.
