SETELAH MENGALAMI KECELAKAAN MOBIL PARAH, AKU LEBIH MEMILIH MENYERET.

Aku baru saja kehilangan anakku ketika mengetahui bahwa suamiku telah menghabiskan ratusan juta rupiah untuk membelikan rumah bagi perempuan lain. Namun, pengkhianatan yang paling menyakitkan justru baru kutemukan setelah aku memutuskan pergi.

Malam itu, aku duduk di tepi tempat tidur kamar tamu, memandangi laporan transaksi yang dikirim Pak Setyo.

Lima juta. Dua belas juta. Delapan belas juta. Dua puluh lima juta.

Jumlahnya terus bertambah selama hampir dua tahun.

Transfer terakhir sebesar lima puluh juta rupiah dilakukan pada pagi ketika aku masih terbaring di rumah sakit, berusaha menerima kenyataan bahwa bayi yang kukandung tidak bisa diselamatkan.

Di luar kamar, terdengar tawa Dewi.

“Kak Arjuna, besok temani aku lihat perabot, ya. Aku takut salah pilih.”

“Besok Kakak ada rapat. Nanti sore saja.”

Aku menutup laptop perlahan.

Jadi, itulah arti keterangan uang rumah dalam transaksi tersebut.

Aku tidak langsung keluar untuk meminta penjelasan. Aku sudah belajar bahwa Arjuna selalu punya alasan, dan setiap alasan pada akhirnya membuatku merasa bersalah karena berani bertanya.

Aku menelepon Pak Setyo.

“Pak, saya ingin tahu rumah itu atas nama siapa.”

“Saya sedang memeriksa dokumen yang tersedia, Bu. Tapi ada hal penting. Sebagian uang berasal dari rekening bersama, termasuk dana hasil penjualan tanah warisan ayah Ibu.”

Dadaku terasa sesak.

Tanah itu dijual tiga tahun lalu. Uangnya sengaja kusimpan untuk biaya pendidikan anak kami kelak.

“Berapa yang terpakai?”

“Berdasarkan transaksi yang sudah kami cocokkan, sekitar tiga ratus dua puluh juta rupiah.”

Aku memejamkan mata.

Tiga ratus dua puluh juta.

Itu bukan sekadar angka. Itu peninggalan ayahku, hasil kerja kerasku sebelum menikah, dan harapan yang kusimpan untuk keluarga kecil yang ternyata hanya ada dalam pikiranku.

“Amankan salinannya, Pak. Saya akan mengurus semuanya melalui jalur hukum.”

Setelah menutup telepon, aku melipat beberapa pakaian dan memasukkannya ke koper.

Pukul sebelas malam, pintu kamar diketuk.

“Sari, buka.”

Suara Arjuna terdengar tidak sabar.

Aku membuka pintu sedikit.

Dia berdiri dengan kaus abu-abu dan celana panjang, wajahnya menunjukkan kekesalan.

“Dewi bilang kamu tidak mau makan. Sampai kapan kamu bersikap seperti ini?”

“Aku tidak lapar.”

Matanya turun ke koper di belakangku.

“Mau pergi ke mana?”

“Surabaya. Aku kembali bekerja.”

Arjuna tertawa pendek.

“Bekerja? Setelah tujuh tahun tidak menyentuh proyek teknik? Jangan membuat keputusan karena emosi.”

“Aku sudah menerima tawarannya.”

Wajahnya mengeras.

“Siapa yang mengizinkan?”

Aku menatapnya.

“Aku tidak membutuhkan izin untuk bekerja, Mas.”

Dia terdiam, seolah baru pertama kali mendengar aku berbicara seperti itu.

“Besok kita bicarakan. Sekarang istirahat.”

“Aku juga sudah menghubungi pengacara.”

Arjuna berhenti melangkah.

“Pengacara?”

“Aku ingin bercerai.”

Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya kehilangan warna.

“Kamu bercanda?”

“Tidak.”

Dia mendekat, tetapi aku mundur.

“Gara-gara Dewi? Dia sudah seperti adikku sendiri!”

“Aku tidak sedang membicarakan hubungan kalian.”

“Lalu apa?”

“Aku sedang membicarakan tujuh tahun ketika aku harus menghadapi semuanya sendirian.”

Arjuna membuka mulut, tetapi aku menutup pintu sebelum dia sempat menjawab.

Keesokan paginya, aku pergi sebelum matahari terbit.

Aku meninggalkan kunci rumah di meja makan dan mengirimkan pesan singkat kepada Arjuna bahwa seluruh urusan perceraian akan ditangani pengacaraku.

Dia menelepon enam kali.

Tidak satu pun kujawab.

Di dalam kereta menuju Surabaya, aku memandang sawah yang berkelebat di balik jendela. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa takut sekaligus lega.

Aku takut tidak mampu kembali bekerja.

Takut pengetahuanku tertinggal.

Takut harus memulai kehidupan dari awal pada usia tiga puluh enam tahun.

Namun, aku lebih takut menghabiskan sisa hidupku bersama seseorang yang selalu menganggap kesedihanku sebagai gangguan.

Pak Budi menjemputku di stasiun.

Rambutnya sudah lebih banyak beruban, tetapi senyumnya masih sama.

“Selamat datang kembali, Sari.”

Aku hampir menangis mendengar kalimat sederhana itu.

Di kantor proyek, aku diperkenalkan kepada tim teknis yang sedang menangani gangguan pada sistem distribusi energi sebuah kawasan industri.

Rancangan awalnya memang pernah kukerjakan.

Aku membutuhkan waktu beberapa jam untuk memahami perubahan sistem, tetapi perlahan ingatanku kembali.

Ketika menemukan ketidaksesuaian antara gambar lama dan instalasi terbaru, seorang teknisi muda bernama Fajar menatapku kagum.

“Bu, kami sudah mencari penyebabnya hampir dua minggu.”

Aku tersenyum kecil.

“Kadang masalahnya bukan pada mesin yang rusak, tetapi pada perubahan yang tidak dicatat dengan benar.”

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku pulang dengan tubuh lelah dan hati yang terasa hidup.

Namun, ketenanganku tidak berlangsung lama.

Tiga hari kemudian, Pak Setyo menelepon.

“Bu Sari, rumah yang dibeli menggunakan dana tersebut sudah saya temukan.”

Aku menghentikan pekerjaanku.

“Di mana?”

“Kompleks perumahan di Bandung Utara. Nilai transaksinya sekitar satu koma dua miliar rupiah.”

“Atas nama Dewi?”

“Bukan.”

Aku terdiam.

“Lalu siapa?”

“Arjuna Prakoso.”

Aku memegang tepi meja.

“Jadi dia membeli rumah untuk dirinya sendiri?”

“Belum tentu. Ada dokumen tambahan yang perlu Ibu lihat. Saya kirim melalui saluran aman.”

Beberapa menit kemudian, sebuah berkas masuk.

Di dalamnya terdapat salinan perjanjian pembelian rumah, bukti pembayaran, dan surat pernyataan penggunaan bangunan.

Nama Dewi tercantum sebagai penghuni yang diberi izin menempati rumah tersebut.

Namun, ada satu lampiran yang membuatku terpaku.

Surat permohonan pembiayaan renovasi kamar anak.

Tanggalnya delapan bulan lalu.

Aku membaca ulang dokumen itu, berharap telah salah memahami.

Mengapa Dewi membutuhkan kamar anak?

Aku menelepon Pak Setyo kembali.

“Pak, apakah Dewi punya anak?”

“Kami belum menemukan informasi yang cukup untuk memastikan, Bu.”

Aku menutup telepon dengan pikiran kacau.

Malam itu Arjuna akhirnya berhasil menghubungiku melalui nomor kantor proyek.

“Sari, kita harus bicara.”

“Aku sedang bekerja.”

“Aku sudah tahu kamu di Surabaya. Aku bisa datang.”

“Jangan datang ke tempat kerjaku.”

Dia terdiam.

Kemudian suaranya melunak.

“Aku tahu kamu marah. Tapi kamu tidak memahami semuanya.”

“Kalau begitu, jelaskan rumah di Bandung Utara.”

Hening.

Cukup lama sampai aku mengira sambungan terputus.

“Dari mana kamu tahu?”

“Jawab saja.”

“Rumah itu untuk Dewi. Dia membutuhkan tempat tinggal yang aman.”

“Dengan uang warisan ayahku?”

“Sari, aku berniat mengembalikannya.”

“Kapan? Setelah aku menemukannya?”

Arjuna menghela napas.

“Dewi sedang menghadapi masalah keluarga.”

“Masalah apa yang membutuhkan kamar anak?”

Kali ini dia benar-benar terdiam.

Aku merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggung.

“Mas, apakah Dewi punya anak?”

“Aku tidak bisa membicarakannya lewat telepon.”

“Kalau begitu, kita bicarakan di hadapan pengacara.”

Aku mengakhiri panggilan.

Dua hari kemudian, aku kembali ke Bandung untuk menghadiri pertemuan resmi bersama Pak Setyo.

Arjuna datang mengenakan pakaian sipil. Wajahnya tampak lebih kurus daripada terakhir kali kulihat.

Dewi tidak ikut.

Pertemuan berlangsung di kantor pengacara, bukan di rumah kami.

Pak Setyo membuka dokumen transaksi.

“Pak Arjuna, kami meminta penjelasan mengenai penggunaan dana bersama tanpa persetujuan Bu Sari.”

Arjuna menunduk.

“Uang itu saya gunakan untuk membantu Dewi.”

“Bantuan tersebut bukan alasan untuk menggunakan dana milik pihak lain tanpa persetujuan,” jawab Pak Setyo.

Arjuna mengangguk pelan.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop.

“Ada sesuatu yang perlu Sari ketahui.”

Aku tidak langsung mengambilnya.

“Kalau itu alasan baru, aku tidak ingin mendengarnya.”

“Bukan alasan.”

Dia meletakkan amplop di meja.

“Ini tentang Dewi.”

Di dalamnya terdapat salinan akta kelahiran seorang anak perempuan berusia empat tahun.

Nama ibunya Dewi.

Nama ayahnya tidak tercantum.

Aku menatap dokumen itu.

“Anak siapa?”

Arjuna mengusap wajahnya.

“Dewi pernah mengalami hubungan yang buruk. Dia takut keluarganya mengetahui anak itu. Aku membantunya menyediakan tempat tinggal.”

“Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?”

“Karena dia meminta agar tidak ada orang lain yang tahu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi kamu bisa menjaga rahasia Dewi selama bertahun-tahun, tetapi tidak bisa menjawab telepon istrimu ketika sedang kehilangan anak?”

Arjuna menunduk.

Aku melanjutkan dengan suara bergetar.

“Mas, aku tidak marah karena kamu membantu seseorang. Aku marah karena kamu mengambil uangku, berbohong kepadaku, dan memilih hadir untuk orang lain ketika aku sedang membutuhkanmu.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku tidak tahu kamu keguguran.”

“Karena kamu tidak pernah bertanya.”

Ruangan menjadi sunyi.

Untuk pertama kalinya, Arjuna tidak membela diri.

Dia hanya menatap meja.

“Aku salah, Sari.”

Aku pernah membayangkan bagaimana rasanya mendengar kalimat itu.

Kupikir aku akan lega.

Ternyata tidak.

Permintaan maaf tidak bisa mengembalikan bayi kami.

Tidak bisa mengembalikan tujuh tahun yang kuhabiskan menunggu.

Dan tidak bisa menghapus kenyataan bahwa aku harus kehilangan hampir segalanya sebelum dia menyadari keberadaanku.

“Aku tetap ingin bercerai,” kataku.

Arjuna mengangkat kepala.

“Sari, beri aku kesempatan.”

“Aku sudah memberimu tujuh tahun.”

Air matanya jatuh.

Namun, kali ini aku tidak merasa perlu menghiburnya.

Proses perceraian kami tidak selesai dalam sehari. Ada dokumen yang harus diperiksa, harta yang harus diperhitungkan, dan kewajiban pengembalian dana yang harus disepakati.

Aku membiarkan Pak Setyo menangani semuanya.

Sementara itu, aku kembali ke Surabaya dan melanjutkan pekerjaanku.

Tiga bulan kemudian, proyek yang kutangani berhasil melewati pengujian akhir.

Pak Budi menawarkan posisi tetap sebagai kepala tim rekayasa.

Aku menerimanya.

Pada hari yang sama, sebuah paket tiba di apartemen kecilku.

Pengirimnya Arjuna.

Di dalamnya terdapat buku catatan lama berwarna biru.

Aku mengenal buku itu.

Buku yang kugunakan ketika masih menjadi insinyur muda.

Di halaman pertama, ada tulisan tanganku sendiri.

Aku ingin membangun sesuatu yang bermanfaat, bahkan ketika tidak ada orang yang percaya aku mampu melakukannya.

Di bawahnya, Arjuna menambahkan satu kalimat.

Aku terlambat menyadari bahwa orang paling kuat di rumah kita selama ini bukan aku.

Aku menutup buku itu.

Lalu meletakkannya di rak.

Bukan sebagai tanda bahwa aku akan kembali.

Melainkan sebagai pengingat bahwa aku pernah kehilangan diriku sendiri, dan akhirnya berhasil menemukannya lagi.

Beberapa minggu kemudian, saat pulang dari lokasi proyek, mobil yang kutumpangi mengalami kecelakaan di jalan sepi akibat sebuah kendaraan dari arah berlawanan kehilangan kendali.

Pengemudi kami tidak sadarkan diri.

Ponselku terlempar dan rusak.

Kakiku terluka, kepalaku berdarah, dan aku kesulitan bernapas.

Aku mencoba membuka pintu.

Tidak bisa.

Dengan sisa tenaga, aku merangkak keluar melalui jendela yang pecah.

Jalanan gelap dan sepi.

Aku tidak tahu seberapa jauh harus berjalan untuk menemukan pertolongan.

Namun, aku terus bergerak.

Sedikit demi sedikit.

Sampai akhirnya aku melihat cahaya sebuah warung di kejauhan.

Aku menyeret tubuhku hampir satu kilometer sebelum seorang pemilik warung menemukanku dan segera memanggil ambulans.

Ketika sadar di rumah sakit, Fajar duduk di samping tempat tidur.

“Bu Sari, kami semua khawatir sekali.”

Aku tersenyum lemah.

“Pengemudinya bagaimana?”

“Selamat, Bu. Sudah ditangani dokter.”

Aku mengembuskan napas lega.

Fajar kemudian berkata bahwa pihak rumah sakit sempat menanyakan siapa keluarga yang harus dihubungi.

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Kami menghubungi Pak Budi. Beliau langsung datang.”

Aku memejamkan mata.

Dulu, dalam keadaan seperti itu, orang pertama yang akan kutelepon adalah Arjuna.

Aku akan menelepon berkali-kali, berharap suatu saat dia mengangkatnya.

Namun, setelah semua yang terjadi, aku akhirnya memahami sesuatu.

Kekuatan bukan berarti harus menghadapi semua kesulitan sendirian.

Kekuatan adalah mengetahui kepada siapa kita bisa meminta pertolongan tanpa takut dianggap mengganggu.

Aku tidak lagi memiliki suami yang berpangkat tinggi.

Tetapi aku memiliki rekan kerja yang peduli, sahabat yang datang membawa makanan, dan orang-orang yang tidak perlu dimohon berkali-kali untuk hadir.

Ketika Fajar bertanya apakah ada orang lain yang ingin kuhubungi, aku tersenyum.

“Ada.”

“Siapa, Bu?”

“Nenekku. Tolong bilang aku baik-baik saja.”

Fajar mengangguk.

Aku memandang cahaya pagi yang masuk melalui jendela rumah sakit.

Tujuh tahun lalu, aku meninggalkan pekerjaan demi menjadi istri yang selalu tersedia.

Sekarang, setelah kehilangan pernikahan itu, aku justru mendapatkan kembali hidupku.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi menunggu seseorang datang menyelamatkanku.

Aku sudah belajar menyelamatkan diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang