Suamiku Menyiapkan Perceraian Diam-Diam, Lalu.

Tetesan hujan gerimis malam itu memantul kusam di atas kap mobilku yang terparkir di sudut gelap halaman rumah di Banyumanik. Pesan singkat dari nomor tak dikenal beserta foto dokumen bersurat tangan yang dipalsukan masih menyala redup di layar ponsel. Di dalam foto itu, tanda tanganku tertera rapi di atas meterai—sebuah kebohongan yang dirancang begitu teliti oleh Dimas dan Laras untuk menggeser posisiku dari PT Arunika Medika Nusantara.

Dinginnya malam menembus hingga ke tulang, namun di dalam dadaku, kepedihan yang tadi membakar perlahan berubah menjadi kemarahan yang dingin dan terukur. Sebelas tahun pengorbanan, rumah warisan ibu yang kujual, hingga darah dan air mata yang kutumpahkan untuk membangun perusahaan itu dari nol, kini dibalas dengan pengkhianatan paling busuk.

Aku mematikan layar ponsel, menarik napas panjang, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Dimas sudah tertidur lelap di kamar utama, napasnya teratur tanpa beban seolah tak ada dosa yang baru saja ia perbuat. Aku menatap wajah lelaki yang dulu sangat kucintai itu untuk terakhir kalinya dengan tatapan dingin, sebelum akhirnya memutuskan tidur di kamar tamu.

Keesokan harinya, matahari belum sepenuhnya terbit ketika aku sudah berada di kantor hukum Ratih Kusuma. Di atas meja kaca yang dingin, Ratih meneliti foto berkas pemalsuan tanda tangan itu dengan kaca pembesar dan analisis digital.

“Ini pemalsuan yang sangat fatal, Maya,” ujar Ratih dengan nada suara yang berat dan tegas. “Tapi jika kita langsung melaporkan ini ke kepolisian sekarang, Dimas bisa menyergap balik dengan memindahkan aset likuid perusahaan ke PT Sagara Investama Mandiri sebelum rekeningnya dibekukan. Kita harus memancing mereka ke dalam jebakan mereka sendiri.”

Ratih kemudian menyerahkan sebuah dokumen tebal berstempel khusus yang disiapkan secara rahasia.

“Ada satu hal yang Dimas dan pengacaranya lupa,” lanjut Ratih sambil tersenyum tipis. “Dua tahun lalu, saat kamu menyetujui pengalihan 28 persen saham untuk Dimas agar ia terlihat bonafid sebagai Direktur Utama, kita memasukkan Klausul Khusus Hak Veto dan Buyback Utama yang mencatat bahwa seluruh aset intelektual, Lisensi Distribusi Utama dari Jerman, serta saham pengendali mutlak akan otomatis kembali 100 persen ke tanganmu jika terjadi pelanggaran etik berat atau upaya pemindahan aset ilegal oleh direksi.”

Aku menatap dokumen itu. Sebuah senjata ampuh yang selama ini tersimpan rapi tanpa disadari oleh Dimas yang terlalu percaya diri.

Pukul sepuluh pagi, aku melangkah masuk ke lantai utama kantor PT Arunika Medika Nusantara. Suasana kantor terasa berbeda. Beberapa karyawan menatapku dengan pandangan canggung dan berbisik-bisik di belakang punggungku. Begitu aku mencapai pintu ruang rapat utama, dua orang petugas keamanan baru bertubuh tegap berdiri menghadang langkahku.

“Maaf, Bu Maya. Atas perintah Pak Dimas dan Mbak Laras, area ruang rapat terbatas untuk umum hari ini,” kata salah satu petugas dengan wajah kaku.

“Terbatas untuk umum?” jawabku tenang, menatap mereka lurus-lurus. “Saya pemegang saham mayoritas perusahaan ini.”

Sebelum petugas itu merespons, pintu ruang rapat terbuka. Dimas keluar bersama Laras yang tampak anggun mengenakan pakaian formal mahal, disusul oleh Ibu mertuaku, Bu Rukmini, serta Pak Harun sang pengacara. Di dalam ruangan, tampak pula dua perwakilan investor lama yang terlihat bingung.

Dimas menatapku dengan pandangan dingin dan arogan. Tidak ada lagi raut suami yang penyayang atau berpura-pura lembut.

“Maya, kenapa kamu datang ke sini membuat keributan?” tanya Dimas dengan suara keras, sengaja agar didengar oleh para karyawan di luar. “Aku sudah menyuruhmu istirahat di rumah. Kamu sudah tidak relevan lagi dengan arah perkembangan baru Arunika Medika.”

Laras melangkah maju satu titik di samping Dimas, memegang stopmap cokelat dengan senyum sinis yang tertahan. “Bu Maya, sebaiknya Ibu pulang saja. Hari ini kami sedang mengadakan RUPS Luar Biasa untuk penandatanganan akuisisi dan pembaruan struktur direksi. Kehadiran Ibu hanya akan mengganggu jalannya rapat.”

“RUPS Luar Biasa?” aku terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang membuat raut wajah Dimas mendadak berubah. “Bagaimana mungkin RUPS sah tanpa kehadiran dan persetujuan dari pemegang 57 persen saham utama?”

Bu Rukmini mengibaskan tangannya dengan wajah jijik. “Maya! Jangan berakting seolah kamu mengerti hukum bisnis! Dimas sudah mengurus semuanya. Sahammu sudah dialihkan secara sah karena kamu dianggap tidak aktif dan mengabaikan kewajiban administrasi perusahaan!”

“Sahamku dialihkan?” aku mengambil ponselku, lalu menghubungkannya ke proyektor nirkabel layar besar di ruang rapat yang kebetulan masih menyala. Dalam hitungan detik, gambar dokumen pemalsuan tanda tangan beserta hasil analisis forensik digital dari tim Ratih terpampang jelas di layar raksasa tersebut.

Seluruh ruangan mendadak hening. Wajah Pak Harun langsung pucat pasi, sementara dua investor lama mendelik terkejut.

“Ini adalah dokumen pengalihan saham yang kalian kirimkan ke Kemenkumham kemarin malam,” suaraku bergema tenang namun penuh penekanan di seluruh ruangan. “Tanda tangan di atas meterai itu dipalsukan oleh Laras Anggraini atas perintah Dimas Wicaksono. Bukti rekaman suara rapat rahasia kalian dua hari lalu di ruangan ini juga sudah tersimpan rapi di server tim hukum saya.”

Dimas tersentak hebat. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan leher kemejanya. “Maya! Ini… ini tuduhan palsu! Kamu mencoba merusak reputasi perusahaan!”

“Bukan hanya itu,” Ratih Kusuma muncul dari balik lorong, melangkah masuk ke ruang rapat bersama dua orang penyidik kepolisian berpakaian preman dan perwakilan resmi dari Lembaga Penjamin Keuangan.

Ratih meletakkan berkas audit independen di atas meja rapat. “Pak Dimas, Anda dan Saudari Laras telah secara ilegal menyalurkan dana kas PT Arunika Medika sebesar Rp4,2 miliar ke rekening PT Sagara Investama Mandiri—perusahaan cangkang yang terdaftar atas nama Laras Anggraini dan Ibu Rukmini.”

Bu Rukmini menjerit kecil, tubuhnya gemetar hebat hingga harus berpegangan pada kursi. “Dimas… apa-apaan ini?! Kamu bilang semuanya aman!”

“Bungkam, Ibu!” bentak Dimas yang kini panik luar biasa. Ia menatapku dengan mata merah penuh amarah dan ketakutan. “Maya! Kita bisa bicara baik-baik di rumah! Kamu istriku! Kenapa kamu tega menghancurkan karierku di depan semua orang?!”

Aku melangkah mendekati Dimas, menatap matanya yang kini dipenuhi kebingungan dan keputusasaan.

“Aku yang membangun tempat ini dengan air mata dan uang warisan ibuku, Dimas,” ucapku berbisik, namun terdengar begitu tajam. “Kamu hanya seorang pengelola yang lupa diri karena ketakutan dan keserakahanmu sendiri.”

Ratih mengambil alih pembicaraan. “Berdasarkan klausul Veto dan Etika dalam Akta Pendirian Bab 4 Ayat 2, tindakan kejahatan keuangan dan pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh Direktur Utama secara otomatis mencabut seluruh hak kepemilikan 28 persen saham milik Dimas Wicaksono, dan mengeksekusi Buyback tanpa ganti rugi. Mulai detik ini, kepemilikan saham Bu Maya Prameswari kembali menjadi 100 persen mutlak.”

Laras terduduk lemas di lantai, dokumen di tangannya berserakan. Pak Harun perlahan mundur mencoba menjauh, namun petugas kepolisian segera menghadangnya.

Dimas menatapku dengan wajah memohon, matanya berkaca-kaca saat dua petugas kepolisian melangkah mendekatinya dan memasangkan borgol di kedua pergelangan tangannya. “Maya… tolong aku! Aku khilaf! Aku mencintaimu, Maya! Tolong beri aku kesempatan kedua!”

Aku menatapnya tanpa penyesalan sedikit pun, lalu berbalik membelakanginya. “Surat gugatan cerai dan tuntutan pidana sudah didaftarkan pagi ini. Sampai jumpa di pengadilan, Pak Dimas.”

Saat Dimas dan Laras digiring keluar dari gedung di hadapan seluruh karyawan yang menatap dengan gempar, aku berdiri di dekat jendela besar ruang kerja utama. Cahaya matahari pagi menerobos masuk, menghangatkan ruangan yang tadinya terasa begitu dingin. Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, aku bernapas lega—menyadari bahwa ketika sebuah pengkhianatan merenggut masa lalu kita, ia sebenarnya sedang membukakan pintu menuju kebebasan dan keadilan yang sejati.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang