Suamiku Pulang dari Perjalanan Dinas Malah Menyalahkanku karena Tidak Menelepon?

Keheningan yang memekakkan telinga seketika mencengkeram ruang tamu rumah di Banyumanik itu. Pak Hendra berdiri membeku dengan wajah memerah, sementara Bu Ratna menatap anaknya dengan tatapan penuh kebingungan dan kepanikan yang tak lagi bisa disembunyikan. Wajah Dimas sendiri sudah pucat pasi bagaikan mayat. Rahasia besar yang selama bertahun-tahun disembunyikan rapat-rapat oleh keluarga Aditya kini terancam hancur berantakan hanya dalam hitungan menit di tangan seorang wanita yang baru dua hari mereka anggap sebagai menantu penurut.

Aku memegang pipiku yang masih terasa panas dan berdenyut nyeri akibat tujuh tamparan Bu Ratna. Namun, rasa sakit fisik itu tak ada artinya dibandingkan dengan gelombang amarah dan kepahitan yang membakar dadaku. Aku melangkah mundur dua tindak, menjauh dari jangkauan mereka, lalu menatap Dimas lurus-lurus.

“Jadi ini alasannya?” suaraku terdengar begitu tenang, namun memiliki daya tekan yang mampu membekukan udara di dalam ruangan. “Ini alasan kenapa kamu begitu terburu-buru mengajakku menikah setelah hanya enam bulan berpacaran? Bukan karena kamu mencintaiku, Mas… tapi karena PT Sumber Rasa Sejahtera milik keluargamu sedang berada di ambang kebangkrutan, dan kalian membutuhkan PT Arunika Pangan milikku sebagai jaminan untuk menutupi hutang puluhan miliar rupiah?”

Dimas mencoba melangkah mendekat, tangannya terangkat seolah ingin menggapai lenganku, namun matanya memancarkan ketakutan yang teramat sangat. “Laras, tolong… dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Kami memang sedang menghadapi masalah likuiditas jangka pendek, tapi jika fasilitas pembiayaan itu cair, semuanya akan membaik! Kita ini sudah menjadi suami istri, Laras. Asetku adalah asetmu, dan masalah keluargaku adalah masalahmu juga!”

“Suami istri?” aku tertawa kecil, sebuah tawa pahit yang bergema dingin di ruang tamu yang megah itu. “Suami istri jenis apa yang membiarkan istrinya ditampar tujuh kali oleh ibunya sendiri di pagi kedua pernikahan? Suami jenis apa yang secara diam-diam memalsukan berkas administrasi dan mengajukan nama istrinya sebagai penjamin pribadi tanpa persetujuan?”

“Laras! Jaga mulutmu!” potong Bu Ratna dengan suara melengking, mencoba mengembalikan dominasinya meski tangannya yang merapikan daster kini gemetar hebat. “Kamu itu cuma orang luar yang beruntung bisa masuk ke dalam keluarga berada seperti kami! Jangan berakting seolah-olah usaha katering dan distribusi bahan panganmu itu lebih hebat dari bisnis keluarga kami yang sudah berdiri puluhan tahun!”

Aku tidak menjawab cemoohan Bu Ratna. Sebagai gantinya, aku mengangkat ponselku, lalu menekan tombol pemutar pada aplikasi perekam suara yang baru saja kugunakan.

Dari pengeras suara ponsel, terdengar sangat jernih bentakan Bu Ratna, bunyi plak tamparan yang mendarat berturut-turut di wajahku, rintihan kesakitanku, serta suara Dimas dan Pak Hendra yang dengan dingin membiarkan penganiayaan itu terjadi demi menjaga gengsi dan kerahasiaan keluarga. Suara dalam rekaman itu begitu gamblang, tanpa cela, dan memperlihatkan dengan telanjang kebiadaban yang terjadi di balik dinding rumah mewah tersebut.

Muka Bu Ratna seketika berubah dari merah padam menjadi pucat pasi. Pak Hendra terduduk kembali di kursinya, memegangi dadanya yang mendadak terasa sesak.

“Rekaman ini,” kataku sambil menatap mereka bertiga satu per satu, “bukan hanya bukti tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga yang bisa menyeret Bu Ratna ke dalam penjara. Rekaman ini juga berisi bukti percakapan kalian yang secara tidak langsung mengakui adanya manipulasi dokumen jaminan bank. Jika rekaman ini sampai ke tangan Nadia, kepolisian, dan jajaran direksi bank penyedia fasilitas kredit PT Sumber Rasa Sejahtera, aku pastikan bukan hanya izin usahamu yang dicabut, tapi kalian bertiga akan menghabiskan masa tua di balik jeruji besi.”

“Laras! Jangan!” Dimas tiba-tiba menyergap maju dan berlutut di depanku. Pria yang beberapa jam lalu berlagak sebagai kepala rumah tangga yang berkuasa kini berderai air mata, memegangi kedua kakiku dengan tubuh gemetar hebat. “Aku mohon, Laras! Jangan buka rahasia ini! Jangan hancurkan keluargaku! Aku mengaku bersalah! Aku yang menyuruh staf keuangan memalsukan draf pengajuan itu karena kami sudah terdesak tenggat waktu pembayaran utang! Ibu juga bersalah karena emosi! Tolong, Laras… kasihanilah kami. Aku akan melakukan apa saja asal kamu tidak memproses rekaman ini dan mencabut laporan ke Nadia!”

Bu Ratna yang menyaksikan anak kesayangannya berlutut dan meratap di kaki wanita yang baru saja ditamparnya hanya bisa berdiri terpaku, air mata kebingungan dan kekalahan perlahan menetes di pipinya yang keriput. Kesombongan dan keangkuhan yang ia pamerkan beberapa menit lalu sirna tanpa bekas, berganti dengan rasa malu dan ketakutan yang mendalam.

Aku menunduk, menatap Dimas yang bersimpuh di lantai dengan pandangan hampa. Ada rasa kasihan yang terbersit sekilas, namun ingatan akan pengkhianatan, kebohongan, dan rasa panas di pipiku akibat tujuh tamparan itu dengan cepat memadamkan sisa kemanusiaanku untuk mereka.

“Kamu bilang kamu akan melakukan apa saja, Mas?” tanyaku dingin.

Dimas mengangguk cepat bagaikan kesetanan. “Ya! Apapun, Laras! Apapun yang kamu minta!”

“Pertama,” ucapku tegas, menancapkan setiap kata ke dalam benaknya, “batalkan seluruh pengajuan pinjaman yang mengatasnamakan diriku atau PT Arunika Pangan sebelum jam sepuluh pagi ini. Kedua, kembalikan seluruh berkas pribadi dan aset milikku yang sempat kamu ambil dari tas kerja. Dan yang ketiga…” Aku jeda sejenak, menatap Bu Ratna dan Pak Hendra yang menahan napas. “…kita urus perceraian kita hari ini juga. Aku tidak akan sudi menghabiskan satu hari lagi menjadi bagian dari keluarga pembohong dan penjahat.”

“Laras… apakah tidak ada kesempatan kedua untuk pernikahan kita?” bisik Dimas dengan suara serak menahan tangis.

Aku melepaskan pegangan tangannya dari kakiku secara perlahan namun mantap. “Pernikahan dibangun di atas fondasi kepercayaan dan rasa hormat, Dimas. Kamu dan keluargamu menghancurkan keduanya sebelum pernikahan ini bahkan sempat dimulai. Anggap saja rekaman ini tidak akan kusebarkan ke publik jika kamu menyelesaikan proses perceraian dan pembatalan jaminan itu tanpa perlawanan sedikit pun. Tapi jika kamu mencoba bermain kotor sekali lagi…” aku menggantung kalimatku, membiarkan ancaman itu menggantung dengan jelas di udara.

Tanpa menunggu jawaban lagi dari mereka, aku meraih tas tanganku, memutar badan, dan melangkah mantap menuju pintu depan. Ketika pintu kayu jati yang kokoh itu kubuka, angin pagi Banyumanik yang sejuk menyapa wajahku, membelai pipiku yang masih terasa memar.

Di luar pagar, mobil Nadia sudah terparkir dan sahabatku itu melambaikan tangan dengan wajah cemas. Aku berjalan keluar dari pekarangan rumah mewah yang terasa seperti penjara itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Pernikahan dua hari ini memang meninggalkan luka dan memar di wajahku, namun saat melangkah masuk ke dalam mobil Nadia, aku tahu bahwa aku telah menyelamatkan seluruh masa depanku dari kehancuran yang jauh lebih besar.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang