Anak Tetanggaku Ditekan Teman Sekolah Sampai Melompat dari Gedung, Tubuhnya

Senyum di wajah gadis itu memudar seketika, meninggalkan raut pucat pasi yang pasi saat ia menyadari bahwa aku telah membaca notifikasi pesan di layar ponselnya. Keempat teman laki-lakinya yang tadinya bersikap arogan dan terus terkekeh, kini tampak saling pandang dengan kegelisahan yang menyengat. Tanpa mengucap sepatah kata pun, mereka berlima bergegas melangkah keluar dari rumah duka, memburu lorong apartemen seperti kawanan pencuri yang ketakutan.

Aku tidak mengejar mereka. Aku hanya berdiri di ambang pintu, menatap punggung mereka hingga menghilang di belokan koridor. Di dalam ruangan, suasana berubah menjadi sangat hening dan mencekam. Ning masih menggenggam tangannya yang bergetar, sementara Xie Xiuxiu berdiri terpaku, matanya menatap kosong ke arah pintu yang terbuka.

“Apa… apa maksud pesan itu?” suara Xiuxiu terdengar amat pelan, bergetar hebat hingga hampir tak terdengar. Ia menatapku dengan mata yang memerah dan penuh keputusasaan. “Kertas apa? Video apa yang mereka maksud?”

Aku membalikkan badan dan berjalan mendekati tempat Xiuxiu berdiri. Kutarik napas panjang, meresapi dingin yang memenuhi dadaku. “Kita harus memeriksa semua barang Wang Ze sekali lagi, Kak. Terutama perangkat elektroniknya. Apa dia punya komputer atau ponsel lain?”

Xiuxiu menggeleng cepat dengan bingung. “Ponsel utamanya disita polisi untuk penyelidikan awal, tapi mereka bilang tidak ada yang mencurigakan di sana. Semua obrolan biasa saja. Dia tidak punya laptop, hanya ada tablet tua yang biasa dipakainya belajar.”

“Bawa tablet itu ke sini,” kataku tegas.

Ning dengan sigap berlari ke unit seberang dan kembali beberapa saat kemudian dengan membawa sebuah tablet abu-abu dengan pelindung yang sudah mengelupas di sudut-sudutnya. Perangkat itu mati total karena kehabisan daya. Kami segera mengisi dayanya dan menyalakannya di atas meja makan, di antara tumpukan buku pelajaran dan foto Wang Ze yang tersenyum lugu.

Saat layar menyala, tablet itu dilindungi oleh kata sandi angka. Xiuxiu mencoba memasukkan tanggal lahir Wang Ze, tanggal lahir suaminya, hingga nomor rumah mereka, namun semuanya gagal. Layar memperingatkan bahwa kesempatan tersisa dua kali lagi sebelum sistem terkunci secara permanen.

“Tunggu, Kak,” bisik Ning, tangannya menahan jemari Xiuxiu yang gemetar. “Pikirkan baik-baik. Apa ada angka yang sangat berarti bagi Wang Ze beberapa bulan terakhir ini?”

Xiuxiu memegang kepalanya, menahan tangis yang hendak pecah kembali. “Aku… aku tidak tahu. Aku benar-benar ibu yang buruk, aku tidak tahu apa-apa tentangnya…”

Aku memandangi foto keluarga kecil mereka di meja. Foto itu diambil saat ayah Wang Ze masih hidup, mengenakan seragam relawan penyelamat dengan papan nama bertuliskan angka pengenal tugas. Aku mengambil foto itu, membaliknya, dan melihat ada deretan angka tanggal kepergian sang ayah yang ditulis tangan oleh Wang Ze sendiri dengan tinta biru: 1208.

Aku meraih tablet itu dan mengetik empat digit angka tersebut: 1 – 2 – 0 – 8.

Klik. Layar mengedip dan langsung terbuka.

Jantung kami seolah berhenti berdetak bersamaan. Di dalam aplikasi penyimpanan awan yang terhubung secara rahasia, terdapat sebuah folder tersembunyi yang diberi nama Catatan Hari Esok. Begitu folder itu dibuka, ratusan file video, tangkapan layar percakapan, dan rekaman suara berderet rapi, diurutkan secara rinci berdasarkan tanggal selama enam bulan terakhir.

Aku menekan salah satu file video berdurasi dua menit yang direkam tiga minggu sebelum kejadian.

Layar menampilkan ruang kelas yang sepi. Wang Ze duduk terpojok di lantai dekat loker. Gadis berpita rambut yang tadi membuang permen karet di rumah duka—namanya Steffy—berdiri di depannya sambil memegang ember berisi air kotor bekas pel. Tanpa ragu sedikit pun, Steffy menyiramkan air kotor itu ke kepala Wang Ze, sementara empat anak laki-laki lainnya tertawa terbahak-bahak sambil merekam menggunakan ponsel mereka.

“Pai milik anak relawan cuma begini rasanya?” suara Steffy terdengar melengking di video. “Bapakmu mati konyol di banjir, dan kamu di sini sok suci tidak mau mengerjakan tugas kami? Kalau kamu melapor ke ibumu atau guru, foto-foto bajumu yang basah ini bakal kami sebarkan ke seluruh sekolah!”

Wang Ze di dalam video itu hanya bisa menggigil, memeluk lututnya tanpa berani melawan sedikit pun. Air matanya mengalir bercampur air pel kotor, tetapi bibirnya terkatup rapat.

Video demi video kami putar dengan dada yang semakin sesak dan panas. Ada video di mana uang saku Wang Ze dirampas, buku-bukunya dicoret-coret dengan tulisan penuh hinaan, hingga rekaman suara di mana Steffy mengancam akan merusak usaha jualan makanan milik Xiuxiu jika Wang Ze berani membuka suara. Teror itu berlangsung setiap hari, tanpa henti, mengikis jiwa gadis muda itu secara perlahan sampai tidak ada lagi yang tersisa selain rasa takut yang menggerogoti.

File terakhir adalah sebuah dokumen teks tertulis yang dibuat Wang Ze pada sore hari sebelum ia melompat dari atap gedung.

“Ibu, maafkan aku. Aku sangat mencintai Ibu. Aku ingin menjadi anak yang kuat seperti Ayah, tapi aku sudah tidak sanggup lagi. Setiap hari di sekolah terasa seperti neraka. Mereka bilang aku beban, mereka bilang keberadaanku hanya membuat orang lain menderita. Aku tidak ingin Ibu dikeluarkan dari pekerjaan atau diganggu oleh mereka karena membelaku. Jika aku sudah tidak ada, mereka akan berhenti mengganggu Ibu. Makanan di meja sudah aku siapkan. Tolong makan yang banyak, Ibu. Jangan salahkan diri Ibu. Aku hanya ingin istirahat.”

Xiuxiu meraung histeris. Suara tangisnya yang hancur memecah malam, menggelegar menembus dinding-dinding apartemen. Ia memeluk tablet itu erat-erat di dadanya, memukuli dadanya sendiri seolah ingin mencabut rasa sakit yang luar biasa hebat. Ning menggenggam bahu Xiuxiu sambil memeluknya rapat, menumpahkan air mata yang tak lagi bisa ditahan.

Aku berdiri membeku, kepalan tanganku mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jariku memutih. Rasa amarah yang murni dan dingin menjalar ke seluruh aliran darahku. Tatapan Wang Ze di kaca mobilku yang retak sore itu kembali terbayang jelas. Itu bukanlah tatapan seorang anak yang ingin menyerah, melainkan tatapan seorang korban yang dikepung tanpa ada satu pun jalan keluar.

“Kak Xiuxiu,” suaraku bergema memecah raungan tangis di ruangan itu. Aku menatap Xiuxiu lurus-lurus. “Kejahatan mereka tidak boleh dikubur bersama Wang Ze. Mereka pikir mereka telah menang karena Wang Ze sudah tidak ada. Tapi kita masih di sini.”

Xiuxiu mendongak, matanya yang basah memancarkan campuran antara duka mendalam dan nyala dendam yang mulai membakar. “Apa… apa yang harus kita lakukan?”

“Kumpulkan semua bukti ini,” jawabku tenang. “Besok pagi adalah hari pemakaman resmi dan acara peringatan di sekolah. Pihak sekolah dan kepala dinas pendidikan akan hadir di sana untuk memberikan pidato formalitas. Kita akan datang, dan kita akan memastikan seluruh kota tahu siapa sebenarnya kelima anak itu.”

Hari berikutnya, aula sekolah dipenuhi oleh ratusan siswa, guru, dan tamu undangan. Di depan panggung, terpasang foto besar Wang Ze yang dihiasi bunga-bunga putih. Kepala sekolah sedang berdiri di depan mikrofoni, menyampaikan pidato penuh kata-kata manis tentang betapa sekolah sangat kehilangan seorang murid yang berbakat dan tenang.

Di barisan depan, Steffy dan empat temannya duduk dengan santai, saling berbisik sambil terkikik pelan, menganggap acara itu tak lebih dari sekadar formalitas membosankan.

Tiba-tiba, layar proyektor raksasa di belakang panggung yang tadinya menampilkan slide foto-foto kenangan sekolah mendadak mati. Lampu aula meredup. Sebelum operator panggung sempat bereaksi, suara rekaman air pel yang disiramkan dan tawa kejam Steffy menggema menggelegar dari sistem pengeras suara seluruh aula.

Layar proyektor menyala kembali, menampilkan video penyiksaan Wang Ze dengan kualitas sangat jernih, lengkap dengan tangkapan layar obrolan grup WZ KAPAN MENYERAH? yang memuat rencana teror mereka.

Kepanikan luar biasa seketika melanda seluruh aula. Suara bisik-bisik berubah menjadi teriakan terkejut dari para siswa dan orang tua murid. Kepala sekolah membeku di depan mikrofon dengan wajah pucat pasi.

Pintu utama aula terbuka lebar. Xie Xiuxiu melangkah masuk dengan anggun dan tegap, mengenakan pakaian hitam sederhana. Di sampingnya, aku dan Ning berjalan mendampingi, ditemani oleh empat petugas kepolisian dan tim hukum yang membawa surat perintah resmi.

Xiuxiu berjalan lurus menuju barisan depan, berhenti tepat di hadapan Steffy yang kini bergetar ketakutan, wajah cantiknya sirna berganti wajah anak nakal yang tertangkap basah.

“Kamu bilang keluargaku sudah habis?” suara Xiuxiu bergema melintasi mikrofon panggung yang menangkap suaranya. Ia menatap Steffy dengan keagungan seorang ibu yang tak lagi memiliki ketakutan. “Anakku memang sudah pergi, tapi keadilan untuknya baru saja dimulai hari ini.”

Petugas kepolisian melangkah maju dan memegang bahu kelima remaja tersebut di hadapan seluruh sekolah yang menyaksikan dengan geger. Tidak ada tawa, tidak ada permen karet yang ditiup, dan tidak ada lagi nada merendahkan. Yang tersisa hanyalah tangisan penyesalan terlambat dari para pelaku saat mereka digiring keluar dari aula.

Di luar gedung, matahari pagi menembus awan mendung, membiaskan cahaya hangat di atas foto Wang Ze. Xie Xiuxiu memandang ke arah langit biru, mengusap air matanya yang menetes pelan, menyadari bahwa meski putri kecilnya tidak akan pernah kembali, kebenaran akhirnya telah menang dan namanya telah dibersihkan secara utuh.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang