Ibu Mertuaku Bilang Aku Tak Minta Mahar Sepeser Pun dan Rela Masuk Sendiri ke

Angin malam yang dingin berembus melalui celah jendela dapur, membawa aroma jerami terbakar dari ladang di ujung desa, namun keringat dingin justru mengalir deras di tengkukku. Telepon di atas meja kayu itu masih memancarkan cahaya redup, menampilkan wajahku sendiri dengan nama asliku, Su Li, terpampang terang di bawah pesan dari seseorang yang mereka sebut sebagai Bos Zheng. Rumah keluarga Zhou yang tadinya tampak seperti sarang penipuan kecil-kecilan kini berubah wujud menjadi perangkap maut yang jauh lebih besar dan berbahaya dari yang pernah kubayangkan. Mereka tidak tertipu oleh identitas palsuku; mereka sengaja membiarkanku berjalan masuk dengan mata terbuka lebar, menunggu saat yang tepat untuk menjeratku ke dalam jaring laba-laba yang telah mereka tenun rapat-rapat.

Langkah kaki terdengar berderit pelan dari arah lantai atas. Suara sandal karet menyentuh papan kayu yang tua, semakin lama semakin dekat menuju ruang tengah. Panik sempat melanda dadaku, namun naluriku sebagai analis yang terbiasa menghadapi situasi kritis memaksa akalku untuk tetap dingin. Aku meletakkan kembali ponsel Zhou Kai ke tempat semula dengan presisi tinggi tanpa meninggalkan sedikit pun bekas gesekan, lalu melangkah cepat dan tanpa suara menuju kamar tamu tempatku tidur tadi. Pintu kamar tertutup rapat tepat sedetik sebelum bayangan seseorang melintas di depan pintu lorong.

Aku merebahkan diri di atas ranjang dengan mata terbuka lebar dalam gelap, mengatur napas agar terdengar tenang. Tak lama kemudian, gagang pintu perlahan berputar dari luar. Cahaya lampu dari koridor menyelinap masuk, memperlihatkan siluet Zhou Kai yang berdiri diam mengawasi tempat tidurnya. Beberapa saat dia berdiri di sana, memastikan aku tertidur lelap, sebelum akhirnya menutup kembali pintu kamar secara perlahan. Jantungku berdegup kencang menghantam tulang rusuk, menyadari bahwa permainan kucing-kucingan ini telah mencapai babak paling mematikan. Mereka tahu siapa aku, dan mereka tahu tujuanku datang ke tempat terkutuk ini.

Keesokan paginya, suasana sarapan terasa sangat berbeda dari hari sebelumnya. Bu Guifen tidak lagi menyambutku dengan senyum lebar dan pujian palsu tentang empat apartemen fiktif itu. Wajahnya tampak kaku, sementara Zhou Kai duduk di seberang meja sambil mengaduk teh manisnya dengan pandangan tajam penuh arti yang sulit diartikan.

— Tiantian, atau sebaiknya kami panggil kamu Su Li? — suara Bu Guifen memecah keheningan pagi dengan nada yang begitu dingin, jauh berbeda dari ramahnya kemarin.

Aku meletakkan cangkir tehku pelan-pelan ke atas piring kecil, lalu menatap mereka berdua tanpa rasa takut sedikit pun. Aku tidak lagi repot-repot memasang senyum manis atau berpura-pura menjadi perempuan kota yang naif.

— Wah, rupanya kalian sudah membaca pesan dari Bos Zheng tadi malam, — kataku tenang, suaranya mengalir tanpa gemetar sedikit pun.

Zhou Kai mendengus pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum sinis yang mengerikan. — Kamu pikir kamu paling pintar, Su Li? Kamu pikir dengan menyamar menjadi anak orang kaya yang bodoh, kamu bisa menghancurkan jaringan kami? Temanmu, si Lin Xiaohe itu, hampir mati karena terlalu percaya pada laki-laki. Dan sekarang kamu datang mengantarkan diri sendiri ke sarang macan.

— Aku tidak datang untuk menyelamatkan Xiaohe saja, — jawabku sambil menatap lurus ke dalam mata Zhou Kai. — Aku datang untuk memastikan kalian berdua, beserta Bos Zheng yang bersembunyi di balik layar, membusuk di dalam penjara. Semua bukti transaksi, rekaman suara, hingga dokumen aliran dana sudah berada di tangan pihak berwajib sejak semalam secara otomatis jika aku tidak memberikan sinyal aman kepada pengacaraku pagi ini.

Mendengar kata-kata itu, wajah Bu Guifen mendadak pucat pasi. Ia berdiri begitu cepat hingga kursinya terjatuh ke lantai dengan suara dentuman keras. — Bodoh! Kamu sudah mengirim buktinya?! Kalau begitu kami akan menghabisimu sekarang sebelum polisi sempat menginjakkan kaki di desa ini!

Zhou Kai langsung bangkit, tangannya merogoh saku jaket dan mengeluarkan sebilah pisau lipat kecil yang bilahnya berkilat memantulkan cahaya matahari pagi. Langkah kakinya mendekatiku dengan ancaman nyata. Namun, alih-alih mundur atau berteriak ketakutan, aku justru tersenyum tipis—sebuah senyuman yang membuat langkah Zhou Kai terhenti sesaat karena merasa janggal.

— Kalian pikir pengacaraku bekerja sendirian? — kataku sambil menunjuk ke arah jendela depan yang menghadap langsung ke jalan desa.

Dari luar, suara sirine mobil polisi tiba-tiba memecah kesunyian pagi, menderu kencang memasuki halaman rumah keluarga Zhou. Tidak hanya satu mobil, melainkan tiga kendaraan aparat penegak hukum yang langsung mengepung seluruh area rumah dari berbagai sisi. Langkah sepatu bot berseragam bergemuruh di halaman, disusul oleh suara pengeras suara yang memerintahkan seluruh penghuni rumah untuk keluar dengan tangan kosong.

Zhou Kai dan ibunya menoleh ke arah jendela dengan mata terbelalak ngeri. Impian mereka untuk menguras harta dan menghilangkanku seketika hancur lebur dalam hitungan detik. Pintu depan digedor keras, lalu didobrak oleh petugas kepolisian yang langsung menghambur masuk ke dalam ruang tamu.

Sebelum Zhou Kai sempat mengayoh pisaunya, dua orang petugas bergerak sangat cepat melumpuhkannya ke lantai, memborgol kedua tangannya erat-erat. Bu Guifen menjerit histeris sambil memukul-mukul lantai, meratapi nasib malang dari kebusukan yang mereka bangun sendiri.

Aku berdiri dari kursi, merapikan pakaianku yang sedikit kusut, lalu berjalan melangkah melewati Zhou Kai yang kini tak berdaya di lantai dengan wajah menatap ubin penuh keputusasaan. Ketika aku melangkah keluar menuju halaman, udara desa yang segar menyambut wajahku. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan kelegaan yang luar biasa menjalar di seluruh tubuhku. Keadilan untuk Lin Xiaohe dan para korban lainnya akhirnya menemukan jalan terang, membuktikan bahwa seorang perempuan yang datang ke sarang serigala bukan untuk dimangsa, melainkan untuk membawa pemburu sejati yang akan memenjarakan mereka selamanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang