
Nama yang tercantum pada halaman terakhir surat kuasa itu membuat tanganku gemetar. Bukan karena aku tidak mengenal orang tersebut, melainkan karena selama bertahun-tahun aku mempercayainya hampir seperti ayahku sendiri.
Bambang Hartono.
Komisaris PT Arunika Rantai Sejahtera sekaligus sahabat almarhum ayahku selama lebih dari dua puluh tahun.
Laki-laki yang menggandeng tanganku menuju pelaminan ketika ayah sudah tidak ada. Laki-laki yang selalu memanggilku anak sendiri dan berjanji menjaga perusahaan peninggalan ayah.
Namanya tercantum sebagai pihak yang akan menerima kuasa untuk mengurus pengalihan sahamku.
Aku menatap Raka.
“Pak Bambang tahu tentang ini?”
Raka tidak menjawab. Keringat membasahi pelipisnya, padahal pendingin ruangan bekerja cukup dingin.
“Jawab aku, Raka!”
“Nadira, dengarkan dulu. Semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku mengangkat dokumen itu.
“Namaku tercantum sebagai pemberi kuasa. Tanda tangannya bahkan sudah disiapkan. Sementara aku tidak pernah menyetujui apa pun.”
Ibu mertuaku masih berlutut di lantai. Livia menangis sambil memegangi perutnya.
Raka mendekat.
“Pak Bambang hanya membantu menyelesaikan masalah perusahaan.”
“Masalah apa?”
Dia menunduk.
Aku merasakan firasat buruk menjalar ke seluruh tubuhku.
“Raka, berapa banyak utang yang sudah kamu buat atas nama perusahaan ayahku?”
Keheningan yang menyusul terasa lebih menakutkan daripada jawaban apa pun.
Akhirnya Raka berbisik, “Dua puluh tiga miliar.”
Aku merasa seluruh udara di kamar mendadak menghilang.
“Dua puluh tiga miliar rupiah?”
Dia mengangguk.
Ternyata uang sebesar enam koma empat miliar yang mengalir ke perusahaan milik Sulastri dan Livia hanyalah sebagian dari masalah.
Raka telah menggunakan beberapa kontrak proyek sebagai dasar memperoleh pembiayaan tambahan. Sebagian uang dipakai menutup kerugian dari proyek distribusi yang gagal, sebagian lagi berpindah ke perusahaan pemasok yang dikendalikan keluarganya.
Dan sekarang, ketika kewajiban pembayaran mulai jatuh tempo, mereka membutuhkan saham milikku untuk membuka jalan bagi pengalihan kendali perusahaan.
“Kamu tahu rumah ini, perusahaan itu, semuanya adalah peninggalan ayahku,” kataku dengan suara bergetar.
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa kamu melakukannya?”
Raka menutup wajahnya.
“Awalnya aku cuma mau membuktikan bahwa aku bisa membesarkan perusahaan tanpa terus berada di bawah bayang-bayang keluargamu.”
Aku tertawa getir.
“Jadi karena harga dirimu, delapan ratus karyawan harus ikut menanggung risikonya?”
Raka menggeleng cepat.
“Aku tidak bermaksud sampai sejauh ini.”
Namun sebelum aku menjawab, rasa nyeri tajam menjalar dari perut hingga punggung bawah.
Aku spontan mencengkeram tepi ranjang.
“Nadira?” Raka langsung mendekat.
“Jangan sentuh aku.”
Gelombang nyeri berikutnya membuatku sulit bernapas.
Monitor di samping ranjang mulai berbunyi. Seorang perawat yang mendengar keributan segera masuk dan memanggil dokter.
Tekanan darahku meningkat.
Dokter kandunganku, dr. Ratih, datang beberapa menit kemudian. Setelah memeriksa kondisiku, wajahnya berubah serius.
“Bu Nadira, kita harus mengevaluasi kondisi Ibu dan bayi sekarang. Ada tanda-tanda yang membuat kami perlu mempertimbangkan persalinan lebih awal.”
Aku menggenggam tangannya.
“Dok, bayi saya baik-baik saja?”
“Kami sedang memantau kondisinya. Ibu fokus pada pemeriksaan dulu, ya.”
Raka mencoba mengikuti ketika tempat tidurku didorong keluar.
Namun aku meminta perawat menghentikannya.
“Saya tidak ingin mereka masuk.”
Dokter mengangguk dan meminta keluarga menunggu di luar.
Sebelum pintu tertutup, aku memanggil seorang perempuan yang baru tiba di ujung lorong.
Namanya Laras, adik kandungku.
Dia langsung berlari menghampiriku.
“Mbak, aku datang secepat mungkin.”
Aku menyerahkan map biru kepadanya.
“Hubungi Pak Adrian. Semua dokumen ada di sini.”
Laras menggenggam tanganku erat.
“Tenang, Mbak. Aku akan urus.”
Aku menatapnya.
“Dan jemput Alya dari sekolah. Jangan biarkan Raka atau ibunya membawanya pergi tanpa persetujuanku.”
Laras mengangguk sambil menahan tangis.
Itulah hal terakhir yang kuingat sebelum pintu ruang tindakan tertutup.
Ketika membuka mata kembali, cahaya putih memenuhi pandanganku.
Aku mendengar suara mesin monitor dan langkah seseorang mendekat.
“Bu Nadira?”
Aku menoleh perlahan.
Dokter Ratih berdiri di sebelah tempat tidur.
“Operasinya sudah selesai. Bayi Ibu lahir dengan selamat. Untuk sementara dia masih menjalani pemantauan di ruang perawatan bayi.”
Air mataku langsung mengalir.
“Laki-laki atau perempuan, Dok?”
Dokter tersenyum.
“Perempuan. Beratnya dua kilogram tujuh ratus gram.”
Aku menangis semakin keras.
Bukan karena kecewa.
Melainkan karena selama berbulan-bulan aku harus mendengar bahwa anak perempuan tidak pantas menjadi penerus keluarga.
Padahal ketika nyawaku dan nyawa bayiku berada dalam bahaya, satu-satunya hal yang kupedulikan adalah melihatnya tumbuh sehat.
Aku menamainya Kirana.
Nama yang sudah kupilih diam-diam bersama Alya.
Artinya cahaya yang indah.
Dua hari kemudian, Laras datang membawa kabar dari Pak Adrian, pengacara keluarga kami.
Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa dokumen kuasa tersebut belum sah digunakan untuk memindahkan saham. Namun salinan dokumen itu telah dikirim kepada beberapa pihak pemberi pembiayaan sebagai bagian dari upaya restrukturisasi utang.
Lebih mengejutkan lagi, Pak Bambang ternyata sudah mengetahui rencana tersebut.
“Dia menghubungi Pak Adrian kemarin,” kata Laras.
Aku langsung menegakkan tubuh.
“Pak Bambang bilang apa?”
“Dia ingin bertemu Mbak secara pribadi.”
Aku menggeleng.
“Tidak. Kalau ada yang ingin dia jelaskan, biarkan pengacaranya berbicara dengan Pak Adrian.”
Laras terdiam sebentar.
“Lalu ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Pak Adrian menemukan salinan surat elektronik dari Raka kepada Pak Bambang. Isinya membahas kemungkinan Mbak menandatangani dokumen ketika masih dalam masa pemulihan setelah operasi.”
Aku memejamkan mata.
Jadi firasatku benar.
Mereka memang berencana mendekatiku ketika aku sedang lemah.
Namun aku belum mengetahui siapa yang pertama kali menyusun rencana tersebut.
Seminggu kemudian, setelah dokter mengizinkanku pulang, aku tidak kembali ke rumah Bintaro.
Aku membawa Alya dan Kirana ke rumah orang tuaku di Pondok Indah, yang selama ini dijaga seorang pengurus rumah tangga.
Raka menelepon berkali-kali.
Pesannya berganti-ganti antara permintaan maaf, kemarahan, dan ancaman bahwa perusahaan akan hancur jika aku tidak bekerja sama.
Aku tidak membalasnya.
Sebagai pemegang saham mayoritas, aku meminta diselenggarakan rapat umum pemegang saham sesuai prosedur yang berlaku. Pak Adrian juga menyiapkan langkah untuk mengamankan dokumen perusahaan, memeriksa transaksi bermasalah, dan menuntut pertanggungjawaban pihak-pihak terkait.
Pemeriksaan independen berlangsung hampir dua bulan.
Selama masa itu, aku lebih banyak berada di rumah, menyusui Kirana dan menemani Alya mengerjakan tugas sekolah.
Suatu malam, Alya masuk ke kamarku sambil membawa sebuah gambar.
Dalam gambar itu ada tiga perempuan berdiri di depan rumah berwarna kuning.
Aku, Alya, dan Kirana.
Aku memperhatikannya lama.
“Ayah tidak ada, Sayang?”
Alya menggeleng.
“Ayah sekarang tinggal sama Tante Livia, kan?”
Pertanyaannya menusuk hatiku.
Aku menariknya ke dalam pelukan.
“Ayah tetap ayahnya Alya. Tapi sekarang Ayah dan Bunda sedang menyelesaikan masalah orang dewasa.”
Alya menatapku dengan mata bening.
“Nenek bilang Bunda cuma bisa melahirkan anak perempuan. Katanya keluarga Wibisana butuh anak laki-laki.”
Dadaku terasa sesak.
Aku mengusap rambutnya.
“Dengar baik-baik, Sayang. Alya dan Kirana tidak kurang berharga hanya karena kalian perempuan.”
“Tapi kata Nenek…”
“Bunda juga perempuan. Nenek buyutmu perempuan. Dan perusahaan yang sedang Bunda jaga dulu dibangun bersama Kakek, bukan karena seseorang laki-laki atau perempuan, melainkan karena mereka bekerja keras.”
Alya berpikir sebentar.
“Berarti aku bisa jadi direktur juga?”
Aku tersenyum.
“Bisa. Kalau itu memang yang Alya inginkan dan Alya mau belajar.”
Dia langsung memelukku.
Malam itu aku sadar, harta paling berharga yang hampir direbut dari keluargaku bukan sekadar saham atau rumah.
Melainkan keyakinan anak-anakku bahwa mereka berhak memiliki masa depan.
Dua minggu kemudian, rapat pemegang saham diselenggarakan di kantor pusat perusahaan di Jakarta Selatan.
Raka datang mengenakan jas hitam.
Wajahnya terlihat lelah.
Sulastri tidak hadir.
Livia pun tidak.
Pak Bambang duduk di ujung meja bersama penasihat hukumnya.
Ketika aku memasuki ruangan, beberapa kepala divisi berdiri menyambutku.
Aku mempersilakan mereka duduk.
Auditor kemudian menjelaskan hasil pemeriksaan.
Sejumlah pembayaran kepada PT Citra Prima Niaga tidak didukung bukti penerimaan barang yang sesuai. Ditemukan pula transaksi yang membutuhkan klarifikasi lebih lanjut dan penggunaan dokumen persetujuan pemegang saham yang keasliannya dipersoalkan.
Seluruh temuan diserahkan kepada penasihat hukum untuk ditindaklanjuti.
Raka terus menunduk.
Namun ketika pembahasan sampai pada surat kuasa, Pak Bambang tiba-tiba meminta kesempatan berbicara.
“Nadira, saya mengakui bahwa saya mengetahui adanya rencana restrukturisasi itu.”
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
“Tetapi saya tidak pernah menyetujui penggunaan tanda tangan palsu.”
Pak Adrian segera menunjukkan beberapa salinan korespondensi.
“Pak Bambang, dalam surat elektronik ini Bapak meminta Pak Raka memastikan persetujuan Bu Nadira diperoleh sebelum proses pengalihan dilanjutkan. Namun Bapak kemudian menerima salinan dokumen yang keabsahannya sekarang dipersoalkan.”
Pak Bambang menarik napas panjang.
“Saya seharusnya memeriksanya lebih teliti.”
Aku akhirnya berbicara.
“Om Bambang, Ayah mempercayai Om.”
Dia menunduk.
“Saya tahu.”
“Saya pun begitu.”
Air mataku hampir jatuh, tetapi kutahan.
“Kalau Om benar-benar ingin memperbaiki keadaan, bantu jelaskan semuanya melalui proses pemeriksaan. Jangan meminta saya melupakan sesuatu yang bisa merugikan begitu banyak orang.”
Pak Bambang mengangguk.
Rapat berlangsung hingga sore.
Melalui keputusan yang diambil sesuai ketentuan perusahaan, Raka diberhentikan dari jabatan direktur utama. Manajemen sementara ditunjuk untuk memastikan kegiatan operasional tetap berjalan dan karyawan menerima hak mereka.
Aku tidak merasa menang ketika keputusan itu diumumkan.
Aku hanya merasa sangat lelah.
Di luar ruang rapat, Raka menungguku.
“Nadira.”
Aku berhenti.
“Aku tahu kamu membenciku.”
Aku menggeleng.
“Aku tidak punya tenaga untuk membencimu, Raka.”
Dia menatap lantai.
“Bagaimana Alya dan bayi kita?”
“Mereka sehat.”
“Aku ingin bertemu.”
“Kita bisa mengatur pertemuan yang baik untuk anak-anak, selama kamu menghormati batasan dan keselamatan mereka.”
Raka mengusap wajahnya.
“Livia sudah pergi.”
Aku terdiam.
“Dia meninggalkanku setelah tahu aku tidak lagi menjabat sebagai direktur. Ibuku juga menyalahkanku karena perusahaan pemasok itu sedang diperiksa.”
Aku menatap laki-laki yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Dahulu, mendengar dia ditinggalkan mungkin akan membuatku berlari memeluknya.
Namun sekarang perasaanku berbeda.
“Aku turut menyesal mendengarnya,” kataku.
Raka mengangkat kepala.
“Apa masih ada kesempatan untuk kita?”
Aku menarik napas panjang.
“Raka, kamu tidak hanya berselingkuh. Kamu membiarkan ibu dan perempuan lain menghina anak-anakmu. Kamu juga berusaha mengambil keputusan atas hartaku tanpa persetujuanku.”
Dia menangis.
“Aku salah.”
“Ya. Dan mengakui kesalahan adalah awal dari tanggung jawab, bukan alasan untuk menghapus akibatnya.”
Aku melanjutkan langkahku.
Tiga bulan kemudian, gugatan perceraian kami memasuki tahap akhir.
Sementara itu, pemeriksaan atas transaksi perusahaan masih berjalan. Aku tidak pernah menganggap semuanya selesai hanya karena Raka kehilangan jabatannya.
Suatu sore, sebuah paket kecil datang ke rumah.
Pengirimnya adalah Sulastri.
Di dalamnya terdapat cincin berlian yang dahulu dipamerkan Livia di kamar rumah sakit.
Bersama cincin itu ada sepucuk surat.
Nadira, saya sudah menjual sebagian perhiasan untuk mengembalikan uang yang menjadi tanggung jawab saya. Cincin ini saya titipkan untuk diserahkan kepada pihak yang berhak sebagai bagian dari penyelesaian. Saya tidak meminta kamu melupakan kesalahan saya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya telah menyakiti cucu-cucu saya dengan kata-kata yang seharusnya tidak pernah diucapkan seorang nenek.
Aku membaca surat itu dua kali.
Kemudian menghubungi Pak Adrian agar cincin tersebut dicatat dan ditangani sebagaimana mestinya dalam proses penyelesaian perkara.
Aku tidak membalas surat Sulastri.
Belum.
Ada luka yang tidak langsung sembuh hanya karena seseorang akhirnya mengucapkan penyesalan.
Setahun setelah Kirana lahir, aku mengadakan perayaan ulang tahun kecil di halaman rumah.
Alya membantu memasang balon.
Kirana tertawa setiap kali kakaknya meniup gelembung sabun.
Laras datang membawa kue.
Di tengah acara, Alya tiba-tiba menarik tanganku.
“Bunda, boleh aku kasih hadiah?”
Aku tersenyum.
“Boleh, Sayang.”
Dia menyerahkan sebuah map berwarna biru muda.
Aku tertegun melihatnya.
“Kenapa map, Alya?”
“Soalnya waktu Kirana lahir, Bunda punya map biru yang katanya penting banget. Aku juga mau punya map penting.”
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat tiga lembar kertas bergambar rumah, pabrik, dan seorang perempuan mengenakan mahkota.
Pada halaman terakhir, Alya menulis dengan huruf besar yang masih sedikit miring.
BUNDA ADALAH PEREMPUAN PALING KUAT YANG AKU KENAL.
Aku langsung memeluknya.
“Terima kasih, Sayang.”
Alya tersenyum bangga.
“Nanti kalau aku besar, aku mau bantu Bunda kerja. Tapi Bunda harus janji satu hal.”
“Apa?”
“Jangan kerja terus sampai lupa bahagia.”
Aku tertawa sambil menangis.
Di seberang halaman, Kirana sedang belajar berjalan sambil berpegangan pada tangan Laras.
Matahari sore menyinari rambut halusnya.
Aku memandangi kedua putriku dan menyadari bahwa selama ini aku terlalu sibuk mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah lama hilang.
Pernikahanku.
Kepercayaan kepada suamiku.
Harapan bahwa ibu mertuaku suatu hari akan menganggapku sebagai anak sendiri.
Namun ternyata kehilangan semua itu tidak membuat hidupku berakhir.
Justru setelah melepaskannya, aku menemukan sesuatu yang selama sembilan tahun perlahan kulupakan.
Diriku sendiri.
Dahulu Raka mengira dia bisa mengambil semua milikku ketika aku berada di meja operasi.
Sulastri mengira anak perempuan tidak layak menerima warisan.
Livia mengira cincin berlian bisa membuktikan bahwa dirinya lebih berharga daripada seorang istri.
Mereka semua keliru.
Karena pada akhirnya, cincin berlian itu tidak mampu membeli kesetiaan. Jabatan direktur tidak mampu menggantikan kejujuran. Dan nama keluarga sebesar apa pun tidak pernah menentukan nilai seorang anak.
Aku menutup map biru pemberian Alya, lalu meletakkannya di samping foto almarhum ayahku.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak memikirkan siapa yang telah mengkhianatiku.
Aku hanya memikirkan masa depan yang sedang menungguku.
Masa depan bersama dua anak perempuan yang suatu hari akan kubesarkan dengan satu keyakinan.
Bahwa mereka tidak harus menjadi anak laki-laki untuk dihargai, tidak harus memiliki suami untuk dihormati, dan tidak harus menunggu seseorang menyelamatkan mereka ketika hidup menjadi sulit.
Sebab seorang perempuan boleh kehilangan banyak hal dalam hidupnya.
Tetapi selama dia tidak kehilangan keberanian untuk berdiri kembali, kisahnya belum selesai.
