
“Mulai detik ini, kamu bukan lagi calon suamiku.”
Kalimat itu keluar dari mulutku dengan begitu tenang hingga Bima sempat mengira aku sedang menggertak.
Dia tertawa pendek, tetapi tangannya masih mencengkeram pergelangan tanganku.
“Kirana, jangan kekanak-kanakan. Kamu pikir pertunangan bisa dibatalkan hanya karena masalah udang?”
Aku menatapnya lurus.
“Bukan karena udang, Bima. Tapi karena selama tiga tahun aku ternyata mencintai laki-laki yang bahkan tidak berani membela calon istrinya ketika dihina keluarganya sendiri.”
Wajahnya langsung mengeras.
“Kamu sudah mempermalukan Mamaku!”
“Dan ibumu sudah mempermalukan orang tuaku. Bedanya, kamu hanya peduli pada salah satunya.”
Aku menarik tanganku sekali lagi. Ketika Bima tetap tidak melepaskan cengkeramannya, Papa maju dan memegang bahunya.
“Lepaskan anak saya, Bima.”
Suara Papa tidak keras, tetapi cukup membuat Bima tersentak.
Akhirnya dia melepaskan tanganku.
Bekas jari kemerahan terlihat jelas di kulitku.
Mama langsung menggenggam pergelangan tanganku dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu sakit, Nak?”
Aku menggeleng.
Namun sebelum kami sempat meninggalkan ruangan, Bu Ratna kembali berteriak.
“Berhenti kalian semua!”
Perempuan itu kini sudah membersihkan sebagian wajahnya, meskipun rambutnya masih dipenuhi minyak dan potongan bawang putih.
Dia menunjuk Papa dengan gemetar.
“Pak Haryanto, jangan kira keluarga kalian bisa pergi begitu saja setelah mempermalukan saya! Semua biaya acara lamaran ini harus kalian ganti!”
Papa menatapnya.
“Berapa jumlahnya?”
Bu Ratna terdiam sesaat. Tampaknya dia tidak menyangka Papa akan menjawab setenang itu.
“Dua ratus lima puluh juta rupiah! Belum termasuk kerugian moral!”
Salsa langsung menyahut.
“Ma, jangan cuma segitu! Gaun Mama juga mahal! Belum lagi biaya salon!”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Papa mengeluarkan ponsel dari saku.
“Kalau memang ada biaya yang menjadi tanggung jawab kami, kita hitung berdasarkan tagihan. Tapi jangan mengarang angka.”
Bu Ratna mendengus.
“Bapak pikir bisa seenaknya bicara soal uang dengan keluarga Wijaya?”
Papa tidak menjawab.
Dia hanya menoleh kepadaku.
“Kirana, kamu yakin dengan keputusanmu?”
Aku menatap wajah Papa yang sudah mulai dipenuhi kerutan. Laki-laki itu membesarkanku dengan bekerja keras sebagai pemilik usaha percetakan sederhana di Bekasi.
Sejak kecil, Papa selalu mengajariku untuk menghormati orang lain, tetapi tidak pernah memintaku merendahkan harga diri sendiri.
“Aku yakin, Pa.”
Papa mengangguk.
“Kalau begitu, Papa mendukungmu.”
Kami berjalan menuju pintu.
Namun langkahku terhenti ketika Bima tiba-tiba berteriak.
“Kirana! Kalau kamu keluar sekarang, jangan pernah berharap bisa kembali!”
Aku berbalik.
“Terima kasih sudah mengingatkan. Aku memang tidak berniat kembali.”
Malam itu, acara lamaran yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan berakhir tanpa pertukaran cincin.
Di dalam mobil, Mama menangis pelan.
Aku menggenggam tangannya.
“Maaf, Ma. Gara-gara aku, Mama dan Papa dipermalukan.”
Mama langsung menggeleng.
“Jangan bilang begitu, Nak. Mama justru menyesal karena tadi terlalu lama diam.”
Papa yang sedang menyetir menatapku melalui kaca spion.
“Kirana, Papa cuma mau kamu ingat satu hal. Pernikahan itu bukan perlombaan siapa yang paling mampu mengalah. Kalau sebelum menikah saja kamu sudah dipaksa kehilangan harga diri, bayangkan bagaimana nanti setelah punya anak.”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya malam itu, air mataku benar-benar jatuh.
Bukan karena kehilangan Bima.
Melainkan karena aku baru menyadari betapa dekatnya aku dengan kehidupan yang mungkin akan membuatku menangis setiap hari.
Keesokan paginya, ponselku dipenuhi pesan.
Sebagian berasal dari kerabat Bima yang menuduhku tidak tahu sopan santun. Sebagian lagi dari teman-teman yang mendengar kabar pembatalan lamaran.
Namun ada satu pesan yang membuatku terdiam.
Pesan dari Salsa.
Kak Kirana, kamu keterlaluan! Mama sampai tidak bisa tidur semalaman. Kalau kamu masih punya hati, datang dan minta maaf. Kalau tidak, kami akan membuatmu menyesal.
Aku tidak membalas.
Sebaliknya, aku menghubungi restoran untuk meminta rincian pembayaran dan menanyakan rekaman kamera pengawas. Pihak restoran menjelaskan bahwa rekaman hanya dapat diberikan melalui prosedur yang sesuai.
Aku juga mengirim pesan kepada Bima.
Aku akan bertanggung jawab atas kerugian yang benar-benar kutimbulkan. Tapi keputusan membatalkan pernikahan tidak berubah. Tolong jangan menghubungiku untuk memaksaku kembali.
Pesan itu langsung dibaca.
Beberapa detik kemudian, Bima menelepon.
Aku mengangkatnya.
“Kirana, kamu benar-benar serius?”
“Iya.”
“Kamu menghancurkan hubungan kita cuma karena Mama minta kamu mengupas udang!”
“Kalau menurutmu itu satu-satunya masalah, berarti selama ini kamu tidak pernah mendengarkanku.”
Bima menghela napas keras.
“Baik. Kalau begitu, jangan menyesal. Mama sudah bilang semua vendor pernikahan akan menagih biaya pembatalan kepada keluargamu.”
Aku terdiam.
Pernikahan kami direncanakan berlangsung dua bulan lagi di sebuah hotel bintang lima di Jakarta.
Aku tahu sebagian vendor sudah menerima uang muka.
Namun ada sesuatu yang membuatku curiga.
“Bima, bukankah kita sepakat membayar biaya pernikahan masing-masing setengah?”
“Iya. Terus?”
“Lalu kenapa seluruh tagihan mau dibebankan kepadaku?”
“Itu karena kamu yang membatalkan!”
Aku menarik napas panjang.
“Kalau begitu, kita selesaikan berdasarkan kontrak dan bukti pembayaran.”
Aku memutus sambungan.
Sore harinya, aku menemui sahabatku, Nadya, seorang pengacara yang bekerja di firma hukum kawasan Sudirman.
Setelah mendengar ceritaku, Nadya memeriksa dokumen pemesanan venue dan vendor yang kukirimkan.
Awalnya dia tampak biasa saja.
Namun beberapa menit kemudian, dahinya berkerut.
“Kirana, kamu pernah melihat kontrak lengkap dari wedding organizer ini?”
“Belum. Bima bilang semua sudah diurus Mamanya.”
Nadya menunjuk salah satu halaman.
“Di sini tertulis nilai paket hampir satu miliar dua ratus juta rupiah. Tapi rincian yang kamu terima sebelumnya cuma tujuh ratus lima puluh juta.”
Aku langsung menegakkan punggung.
“Maksudnya?”
“Ada selisih yang cukup besar. Kita perlu meminta klarifikasi sebelum menyimpulkan apa pun.”
Aku merasa tenggorokanku mengering.
Selama persiapan pernikahan, aku sudah mentransfer hampir empat ratus juta rupiah ke rekening yang diberikan Bu Ratna.
Katanya uang itu digunakan untuk membayar uang muka dekorasi, katering, dan gedung.
Namun ketika Nadya memeriksa bukti transferku, dia menemukan sesuatu yang aneh.
Rekening penerima bukan atas nama wedding organizer.
Melainkan PT Ratna Cipta Sejahtera.
Aku mengerutkan kening.
“Itu perusahaan siapa?”
Nadya memutar laptop ke arahku.
Berdasarkan dokumen perusahaan yang tersedia, nama Ratna Wijaya tercatat sebagai salah satu pengurusnya.
Aku membeku.
“Jadi uangku masuk ke perusahaan calon ibu mertuaku sendiri?”
“Setidaknya rekening penerimanya menggunakan nama perusahaan itu. Kita harus memeriksa apakah uangnya diteruskan kepada vendor.”
Keesokan harinya, aku dan Nadya mendatangi kantor wedding organizer.
Manajernya, seorang perempuan bernama Bu Lilis, menyambut kami dengan ramah.
Namun ketika aku menanyakan jumlah pembayaran yang sudah diterima, wajahnya berubah bingung.
“Maaf, Mbak Kirana. Sampai hari ini kami baru menerima uang muka seratus lima puluh juta rupiah.”
Jantungku berdegup keras.
“Seratus lima puluh juta?”
“Iya, Mbak. Dan pembayaran itu berasal dari rekening perusahaan milik Bu Ratna.”
Aku menatap Nadya.
Berarti ada dua ratus lima puluh juta rupiah dari uang yang kutransfer yang belum jelas penggunaannya.
Bu Lilis kemudian menunjukkan dokumen tambahan.
“Selain itu, ada beberapa perubahan paket yang diajukan Bu Ratna tanpa persetujuan tertulis dari Mbak Kirana.”
Perubahan tersebut mencakup tambahan kamar hotel untuk keluarga besar Bima, paket perhiasan seserahan, dan fasilitas eksklusif untuk beberapa kerabat.
Aku membaca semuanya dengan tangan gemetar.
Selama ini Bu Ratna selalu mengatakan keluargaku terlalu sederhana untuk mengadakan pesta pernikahan mewah.
Dia bahkan pernah menyindir Mama karena memilih kebaya dari penjahit langganan, bukan desainer terkenal.
Namun sekarang aku mengetahui bahwa sebagian fasilitas mewah yang dinikmati keluarganya justru direncanakan menggunakan uangku.
Malam itu aku meminta Bima datang ke sebuah kafe di Jakarta Selatan.
Dia datang dengan wajah kesal.
“Kamu mau apa lagi?”
Aku meletakkan salinan dokumen di atas meja.
“Jelaskan ini.”
Bima membaca beberapa halaman.
Ekspresinya perlahan berubah.
“Apa maksudnya?”
“Uang yang kutransfer untuk pernikahan masuk ke perusahaan Mamamu. Tapi pembayaran kepada wedding organizer jauh lebih kecil.”
Bima mengerutkan kening.
“Mungkin Mama belum sempat membayar sisanya.”
“Kalau begitu, uangnya masih ada dan bisa dikembalikan, kan?”
Dia diam.
Aku menatapnya.
“Bima, kamu tahu soal ini?”
“Enggak.”
“Yakin?”
Dia mengangkat wajah dengan kesal.
“Kirana, jangan mulai menuduh keluargaku macam-macam!”
Aku menghela napas.
“Aku tidak menuduh. Aku meminta penjelasan.”
Bima berdiri.
“Sudahlah. Kalau kamu mau uangmu kembali, aku akan bicara sama Mama.”
“Baik. Aku tunggu jawaban tertulisnya.”
Dia menatapku seolah aku orang asing.
“Kamu berubah.”
Aku tersenyum kecil.
“Tidak, Bima. Aku cuma berhenti membiarkan orang lain mengambil keputusan atas hidupku.”
Tiga hari kemudian, Bu Ratna datang ke rumah orang tuaku.
Kali ini dia tidak membawa kemarahan.
Dia membawa sebuah kotak perhiasan.
Aku sedang membantu Mama menyiapkan makan siang ketika mobil mewahnya berhenti di depan rumah.
Begitu masuk, Bu Ratna langsung tersenyum.
“Kirana, Tante datang mau bicara baik-baik.”
Aku mempersilakannya duduk.
Dia meletakkan kotak tersebut di atas meja.
Di dalamnya ada gelang emas dengan berlian kecil.
“Ini hadiah dari Tante. Anggap saja tanda sayang.”
Aku tidak menyentuhnya.
“Terima kasih, Tante. Tapi saya tidak bisa menerima.”
Senyumnya sedikit memudar.
“Kamu masih marah soal kemarin?”
“Saya datang untuk meminta penjelasan soal uang pernikahan, bukan hadiah.”
Bu Ratna menarik napas panjang.
“Kirana, uang itu tidak hilang. Tante hanya memakainya sementara untuk kebutuhan perusahaan.”
Ruangan langsung sunyi.
Mama menatapnya tidak percaya.
“Bu Ratna, itu uang anak saya untuk pernikahan.”
“Iya, saya tahu. Nanti juga saya kembalikan.”
Aku menatapnya.
“Berapa yang Tante gunakan?”
Bu Ratna mengalihkan pandangan.
“Sekitar dua ratus juta lebih.”
“Dua ratus lima puluh juta?”
Dia terdiam.
Aku mengangguk perlahan.
“Baik. Tolong kembalikan sesuai jumlahnya dan berikan rincian tertulis.”
Wajah Bu Ratna langsung berubah.
“Kirana, kamu ini kenapa jadi perhitungan sekali? Sebentar lagi juga jadi keluarga sendiri!”
“Tidak, Tante. Pernikahan itu sudah dibatalkan.”
Dia membanting kotak perhiasan ke meja.
“Jadi kamu benar-benar mau mempermalukan keluarga Wijaya?”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Saya hanya meminta uang saya kembali.”
Bu Ratna berdiri dengan wajah merah.
“Kamu akan menyesal sudah memperlakukan saya seperti ini!”
Setelah dia pergi, Mama duduk di sampingku.
“Kamu tidak takut, Nak?”
Aku menggeleng pelan.
“Aku lebih takut kalau kemarin tetap menikah, Ma.”
Seminggu kemudian, Nadya mengirimkan surat permintaan pengembalian dana secara resmi.
Awalnya Bu Ratna tidak merespons.
Namun setelah menerima pemberitahuan bahwa sengketa tersebut dapat ditempuh melalui jalur hukum, pihak keluarganya akhirnya menghubungi Nadya.
Mereka menawarkan pengembalian uang secara bertahap.
Aku menyetujuinya setelah jadwal dan kewajibannya dituangkan dalam kesepakatan tertulis.
Aku juga membayar bagian biaya pembatalan vendor yang memang menjadi tanggung jawabku berdasarkan kontrak.
Tidak ada kemenangan besar seperti dalam film.
Tidak ada keluarga kaya yang tiba-tiba bangkrut.
Namun ada satu hal yang lebih penting.
Aku berhasil mempertahankan keputusan yang sebelumnya hampir dipatahkan oleh rasa takut dan rasa bersalah.
Sebulan setelah acara lamaran yang gagal itu, Bima datang menemuiku untuk terakhir kalinya.
Kami bertemu di taman sebuah kafe di Kemang.
Dia terlihat lebih kurus.
“Aku sudah bicara sama Mama,” katanya.
Aku mengangguk.
“Bagus.”
“Mama mengaku salah soal uang pernikahan.”
Aku terdiam.
Bima menatapku lama.
“Dan aku juga salah karena membiarkan dia memperlakukan kamu seperti itu.”
Untuk pertama kalinya, dia mengucapkan permintaan maaf tanpa menyalahkanku.
“Aku minta maaf, Kirana.”
Aku merasakan sesuatu bergerak di dadaku.
Tiga tahun bersama bukan waktu yang sebentar.
Aku pernah membayangkan memiliki rumah kecil bersamanya, memasak sarapan setiap pagi, dan membesarkan anak-anak yang mewarisi senyumnya.
Namun semua bayangan itu kini terasa seperti foto lama yang warnanya perlahan memudar.
“Aku terima permintaan maafmu, Bima.”
Matanya langsung berbinar.
“Jadi kita bisa mulai lagi?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Wajahnya berubah.
“Kirana, aku sudah mengakui kesalahanku.”
“Iya. Tapi mengakui kesalahan bukan berarti orang yang kamu sakiti wajib memberikan kesempatan kedua.”
Dia menunduk.
Aku melanjutkan.
“Kalau suatu hari kamu menikah dengan perempuan lain, belajarlah melindunginya. Jangan meminta dia berlutut hanya supaya keluargamu merasa menang.”
Bima tidak menjawab.
Kami berpisah tanpa pertengkaran.
Tanpa teriakan.
Tanpa air mata yang dipaksakan.
Tiga bulan kemudian, aku mendapat kabar dari seorang teman bahwa Salsa bertunangan dengan seorang pengusaha muda.
Namun acara lamarannya berlangsung sederhana.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada tuntutan berlebihan kepada calon menantu.
Katanya, setelah peristiwa di restoran dan sengketa uang pernikahan, keluarga Wijaya mulai menyadari bahwa tidak semua orang bersedia menerima aturan mereka.
Aku tidak tahu apakah kabar itu benar seluruhnya.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu mencari tahu.
Aku sedang sibuk membangun kehidupanku sendiri.
Aku membuka studio desain interior kecil bersama dua sahabatku. Kami menyewa ruko di kawasan Bintaro dan menerima proyek renovasi rumah serta kafe.
Suatu sore, ketika sedang memilih sampel material untuk proyek baru, Mama menelepon.
“Kirana, kamu pulang makan malam, kan?”
“Iya, Ma. Kenapa?”
“Papa masak udang saus mentega.”
Aku terdiam sesaat.
Lalu tertawa.
“Mama sengaja, ya?”
Mama ikut tertawa.
“Papa bilang kali ini udangnya sudah dikupas. Jadi enggak ada yang perlu bertengkar.”
Malam itu aku pulang.
Di meja makan sederhana rumah kami, Papa benar-benar menyiapkan sepiring udang saus mentega.
Aku duduk bersama kedua orang tuaku, mengambil satu ekor udang, lalu menyuapkannya kepada Mama.
Mama tersenyum.
“Lho, kok Mama yang disuapi?”
Aku menggenggam tangannya.
“Karena aku mau, Ma. Bukan karena ada yang memaksa.”
Papa tertawa keras.
Kami makan sambil bercanda hingga malam semakin larut.
Saat melihat wajah Mama dan Papa yang bahagia, aku akhirnya memahami sesuatu.
Mengupas udang untuk seseorang bukanlah tindakan yang merendahkan.
Bahkan bisa menjadi ungkapan kasih sayang yang sangat sederhana.
Yang membuatnya menyakitkan adalah ketika kebaikan berubah menjadi tuntutan, dan pelayanan dianggap sebagai bukti bahwa seseorang lebih rendah daripada orang lain.
Aku memang menyesali tindakanku menumpahkan makanan panas ke kepala Bu Ratna. Aku bisa saja pergi tanpa melakukan hal yang membahayakan atau mempermalukan siapa pun.
Namun aku tidak pernah menyesali keputusan membatalkan pernikahan itu.
Karena dari seluruh kejadian yang memalukan tersebut, aku mendapat pelajaran yang tidak ternilai.
Pernikahan bukan tentang siapa yang paling banyak mengalah.
Bukan tentang keluarga mana yang paling kaya.
Dan bukan tentang seberapa lama seseorang mampu menahan penghinaan demi mempertahankan sebuah hubungan.
Pernikahan seharusnya menjadi tempat dua orang saling menghormati.
Bukan tempat seseorang dipaksa kehilangan martabatnya demi menyenangkan orang lain.
Aku memandang sepiring udang yang kini tinggal beberapa ekor.
Kemudian tersenyum.
Dulu, sepiring udang hampir membuatku terjebak dalam pernikahan yang salah.
Sekarang, sepiring udang justru mengingatkanku bahwa aku masih memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada cincin berlian atau nama besar keluarga Wijaya.
Aku memiliki kebebasan untuk memilih hidupku sendiri.
Dan kali ini, aku tidak akan menyerahkannya kepada siapa pun.
