SAAT AKU MEMBUKA PINTU KAMAR TIDUR, DUNIAKU SEKETIKA TERASA HENING. DI.

Pukul dua dini hari, aku masih duduk di depan laptop ketika pengacara keluarga kami, Pak Arman, akhirnya mengangkat telepon.

“Dewi? Ada apa menelepon selarut ini?”

“Pak, saya menemukan dokumen pengalihan aset perusahaan yang dijadwalkan ditandatangani besok pagi. Nama Budi dan Sari tercantum sebagai penerima manfaat.”

Suara Pak Arman langsung berubah serius.

“Dokumen apa?”

Aku mengirimkan salinannya melalui email resmi.

Beberapa menit kemudian, dia menelepon kembali.

“Dewi, jangan tanda tangani apa pun. Dokumen ini mencantumkan persetujuan pemegang saham yang belum pernah saya tangani.”

Jantungku berdebar semakin cepat.

“Apakah mereka bisa mengambil aset perusahaan tanpa persetujuan Papa?”

“Tidak semudah itu. Tapi ada indikasi mereka sedang mencoba menggunakan dokumen yang dibuat seolah-olah sudah mendapat persetujuan. Kita harus menghentikan prosesnya sebelum menimbulkan masalah lebih jauh.”

Aku memejamkan mata.

“Bisa bantu saya, Pak?”

“Tentu. Saya akan menghubungi komisaris dan tim kepatuhan. Kamu istirahat dulu.”

Namun bagaimana mungkin aku beristirahat?

Di kamar sebelah, laki-laki yang selama tujuh tahun kupanggil calon suami baru saja mengkhianatiku bersama sahabat terbaikku.

Dan sekarang aku mengetahui bahwa pengkhianatan itu mungkin telah merugikan perusahaan keluargaku miliaran rupiah.

Pukul enam pagi, aku menerima pesan dari Papa.

Dewi, Papa sudah bicara dengan Pak Arman. Datang ke kantor jam delapan. Kita selesaikan bersama.

Aku membaca pesan itu sambil menangis.

Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, aku tidak lagi merasa sendirian.

Pukul delapan tepat, aku memasuki ruang rapat utama kantor pusat Pratama Group di kawasan Sudirman.

Papa duduk di ujung meja. Di sampingnya ada Pak Arman, direktur keuangan, dan kepala audit internal.

Wajah Papa tampak sangat lelah.

“Duduk, Nak.”

Aku duduk di sebelahnya.

Papa menggenggam tanganku.

“Papa sudah membaca laporan awalnya.”

Aku menunduk.

“Maaf, Pa. Gara-gara Dewi percaya sama Budi, perusahaan jadi begini.”

Papa menggeleng.

“Budi bekerja di sini karena kami menilai dia mampu. Kalau dia menyalahgunakan kepercayaan, itu tanggung jawab dia, bukan salahmu.”

Pak Arman kemudian menjelaskan hasil pemeriksaan awal.

Ternyata dokumen pengalihan aset itu berkaitan dengan sebuah gudang logistik di Cikarang dan dua bidang tanah milik anak perusahaan.

Nilai keseluruhannya diperkirakan mencapai empat puluh delapan miliar rupiah.

“Dokumen tersebut menyebutkan bahwa aset akan dialihkan sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis,” jelas Pak Arman. “Tetapi perusahaan penerimanya baru didirikan enam bulan lalu.”

“Perusahaan milik siapa?” tanyaku.

Kepala audit memutar layar laptop.

“Pemegang sahamnya adalah dua perusahaan lain. Kami sedang menelusuri pemilik manfaat akhirnya. Indikasi awal mengarah kepada Budi dan Sari.”

Aku menggenggam ujung meja.

“Bagaimana dengan tanda tangan Papa?”

Pak Arman memperlihatkan halaman terakhir dokumen.

Di sana terdapat tanda tangan yang sangat mirip dengan tanda tangan Papa.

Namun Papa langsung menggeleng.

“Papa tidak pernah menandatangani ini.”

Ruangan mendadak sunyi.

Pak Arman menutup map.

“Kami sudah mengirimkan pemberitahuan resmi kepada pihak yang akan memproses transaksi bahwa keabsahan dokumen sedang disengketakan. Akses Budi terhadap sistem persetujuan transaksi juga dinonaktifkan sementara sesuai prosedur perusahaan.”

Aku menarik napas lega.

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Papa menatapku lama.

“Kamu masih ingin menghadiri pesta pertunangan malam ini?”

Aku terdiam.

Kemudian aku mengangguk.

“Mau, Pa.”

Papa tampak terkejut.

“Dewi, kamu tidak perlu memaksakan diri.”

“Aku tidak akan datang untuk bertunangan, Pa. Aku datang untuk mengakhiri semuanya.”

Malam harinya, ballroom sebuah hotel mewah di Jakarta Selatan dipenuhi lebih dari dua ratus tamu.

Lampu kristal menyala terang.

Rangkaian bunga mawar putih menghiasi panggung utama.

Di belakang panggung, terpampang tulisan besar yang membuat dadaku terasa sesak.

Pertunangan Dewi Pratama dan Budi Santoso.

Aku berdiri di depan cermin ruang rias mengenakan kebaya biru muda.

Kebaya yang kupilih bersama Mama tiga bulan sebelumnya.

Mama masuk dan memandangku dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu cantik sekali, Nak.”

Aku tersenyum tipis.

“Terima kasih, Ma.”

Mama mendekat dan memelukku.

“Kalau kamu berubah pikiran, kita bisa langsung pulang.”

Aku menggeleng.

“Aku sudah terlalu lama diam, Ma.”

Beberapa menit kemudian, Budi datang mengetuk pintu.

“Dewi, boleh masuk?”

Aku mempersilakannya.

Dia mengenakan beskap abu-abu dengan rambut tertata rapi.

Tidak ada bekas rasa bersalah di wajahnya.

“Sayang, syukurlah kamu sudah tenang.”

Aku menatapnya melalui cermin.

“Kenapa kamu bilang begitu?”

“Karena semalam kamu terlalu emosional. Aku tahu kamu pasti bisa berpikir jernih.”

Aku hampir tertawa.

Budi mendekat dan mencoba memegang bahuku.

Aku menghindar.

Senyumnya sedikit memudar.

“Dewi, setelah acara ini kita bicara baik-baik, ya. Aku janji akan menyelesaikan masalah dengan Sari.”

“Masalah apa?”

Dia terdiam.

“Hubungan kalian selama tujuh tahun?”

Wajahnya langsung menegang.

“Dewi, tolong jangan bahas itu sekarang.”

Aku berbalik menghadapnya.

“Kenapa? Takut tamu mendengar?”

Budi menghela napas.

“Ini acara penting. Papa kamu juga sudah mengundang banyak mitra bisnis.”

Aku menatap matanya.

“Budi, sebenarnya kamu mencintaiku atau mencintai perusahaan Papa?”

Dia tampak tersinggung.

“Apa maksud pertanyaan itu?”

Aku tidak menjawab.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Sekilas aku melihat nama Sari muncul di layar.

Budi langsung membalikkan ponselnya.

“Kamu tunggu di sini. Aku ada urusan sebentar.”

Dia pergi tergesa-gesa.

Aku menatap pintu yang tertutup.

Lalu mengeluarkan ponselku dan mengirim pesan kepada Pak Arman.

Saya siap.

Pukul tujuh malam, acara dimulai.

Pembawa acara mempersilakan keluarga besar naik ke panggung.

Budi berdiri di sampingku dengan senyum lebar.

Para tamu bertepuk tangan.

Aku melihat Sari duduk di meja dekat panggung, mengenakan gaun hijau zamrud.

Dia bahkan tersenyum kepadaku.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Ketika pembawa acara hendak memulai prosesi pertukaran cincin, aku mengangkat tangan.

“Maaf, boleh saya mengatakan sesuatu?”

Seluruh ruangan langsung hening.

Budi menoleh dengan bingung.

“Dewi?”

Aku mengambil mikrofon.

“Terima kasih kepada semua keluarga, sahabat, dan rekan bisnis yang sudah hadir malam ini.”

Aku menarik napas panjang.

“Seharusnya malam ini menjadi awal kehidupan baru saya bersama Budi.”

Aku menoleh kepadanya.

“Tapi tadi malam saya menemukan bahwa laki-laki yang akan menjadi suami saya telah menjalin hubungan dengan perempuan lain selama bertahun-tahun.”

Suara riuh langsung terdengar.

Budi membeku.

“Dewi, hentikan!”

Aku melanjutkan.

“Perempuan itu adalah sahabat terbaik saya sendiri.”

Semua mata bergerak mencari Sari.

Wajahnya langsung pucat.

Budi mencoba merebut mikrofon, tetapi Papa sudah berdiri dan meminta semua orang tetap tenang.

Aku menatap Budi.

“Apakah kamu ingin menyangkalnya?”

Budi membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban keluar.

Aku melanjutkan dengan suara bergetar.

“Pengkhianatan pribadi ini membuat saya membatalkan pertunangan kami.”

Tanganku gemetar.

Namun aku memaksakan diri tetap berdiri tegak.

“Saya juga ingin menjelaskan bahwa perusahaan keluarga kami sedang memeriksa sejumlah transaksi dan dokumen bisnis yang diduga tidak sah. Masalah tersebut akan ditangani melalui jalur resmi, bukan diselesaikan di panggung ini.”

Pak Arman kemudian maju dan mengambil mikrofon.

“Bapak dan Ibu sekalian, kami mohon menghormati privasi keluarga. Seluruh urusan perusahaan akan ditangani sesuai prosedur dan hukum yang berlaku.”

Aku menoleh kepada Budi.

Wajahnya kini merah padam.

“Kamu sengaja mempermalukanku!”

Aku menatapnya.

“Tidak, Budi. Aku hanya berhenti menyembunyikan kenyataan demi menjaga nama baikmu.”

Budi mendekat dengan rahang mengeras.

“Kamu akan menyesal.”

Papa langsung berdiri di antara kami.

“Cukup, Budi.”

Namun sebelum siapa pun bergerak, Sari tiba-tiba berlari menuju panggung.

“Dewi! Kamu tidak berhak menyalahkan Budi sendirian!”

Aku menatapnya.

“Memang benar. Karena kamu juga ikut mengambil keputusan.”

Sari menangis.

“Aku mencintainya lebih dulu!”

Kalimat itu membuat seluruh ruangan semakin gaduh.

Aku mengangguk perlahan.

“Kalau begitu, kenapa selama tujuh tahun kalian tidak pernah jujur?”

Sari tidak menjawab.

Tiba-tiba Budi menarik lengannya.

“Kita pergi!”

Mereka turun dari panggung di tengah tatapan para tamu.

Aku melihat punggung mereka menjauh.

Anehnya, aku tidak merasa kehilangan.

Aku justru merasa seperti baru saja meletakkan beban yang kupikul terlalu lama.

Keesokan paginya, proses audit internal perusahaan diperluas.

Pemeriksaan menemukan sejumlah invoice PT Sinar Artha Konsultan yang tidak didukung bukti pekerjaan memadai.

Beberapa dokumen persetujuan juga menunjukkan ketidaksesuaian yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Perusahaan kemudian melaporkan dugaan pelanggaran tersebut kepada pihak berwenang.

Budi diberhentikan sementara dari jabatannya selama proses pemeriksaan dan diberi kesempatan memberikan klarifikasi.

Sari juga dipanggil untuk menjelaskan transaksi perusahaan miliknya.

Aku mengira semuanya akan selesai setelah itu.

Namun dua minggu kemudian, Pak Arman menelepon dengan suara serius.

“Dewi, ada sesuatu yang perlu kamu ketahui.”

“Apa, Pak?”

“Kami menemukan bukti bahwa seseorang di dalam perusahaan sempat membantu memproses dokumen pengalihan aset.”

Aku membeku.

“Siapa?”

“Pak Rudi.”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Pak Rudi adalah adik kandung Papa.

Orang yang sejak kecil kupanggil Om Rudi.

Selama bertahun-tahun, dia menjabat sebagai direktur salah satu anak perusahaan keluarga.

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Pak Arman melanjutkan.

“Pemeriksaan awal menunjukkan ada komunikasi antara Pak Rudi dan Budi mengenai rencana restrukturisasi. Kami belum bisa menyimpulkan perannya sebelum seluruh bukti diverifikasi.”

Aku langsung pergi menemui Papa.

Ketika aku masuk ke ruang kerjanya, Papa sedang duduk dengan wajah muram.

“Papa sudah tahu?”

Dia mengangguk.

“Rudi memang pernah mengusulkan pengalihan aset itu. Papa menolaknya karena penilaiannya tidak transparan.”

Air mataku langsung jatuh.

“Kenapa Om Rudi tega?”

Papa memandang foto keluarga di atas mejanya.

“Papa belum tahu seluruh alasannya. Tapi kalau benar dia terlibat, dia harus bertanggung jawab.”

Beberapa hari kemudian, Om Rudi datang ke kantor bersama pengacaranya.

Di hadapan tim audit, dia mengakui pernah mendiskusikan pengalihan aset dengan Budi.

Namun dia membantah mengetahui bahwa dokumen persetujuan direksi yang digunakan diduga tidak sah.

Pemeriksaan pun terus berlanjut.

Aku menyadari bahwa pengkhianatan kali ini tidak lagi sesederhana hubungan Budi dan Sari.

Ada uang, jabatan, ambisi, dan rasa iri yang sudah lama tumbuh di dalam keluarga kami sendiri.

Tiga bulan berlalu.

Hasil audit menunjukkan transaksi konsultasi yang tidak memiliki dasar pekerjaan memadai mencapai lebih dari dua miliar rupiah. Perusahaan menempuh langkah hukum untuk menuntut pertanggungjawaban dan pemulihan kerugian.

Rencana pengalihan aset senilai empat puluh delapan miliar rupiah tidak terlaksana.

Sementara itu, proses hukum terhadap pihak-pihak terkait masih berjalan.

Suatu sore, Sari datang menemuiku di sebuah kafe.

Aku hampir tidak mengenalinya.

Wajahnya pucat. Rambutnya diikat asal-asalan.

“Dewi, aku cuma mau minta maaf.”

Aku duduk tanpa menjawab.

Sari menatap cangkir kopinya.

“Budi meninggalkanku.”

Aku mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Setelah dia kehilangan jabatan, kami sering bertengkar. Dia menyalahkanku atas semuanya.”

Aku terdiam.

Sari mulai menangis.

“Aku kira selama ini dia benar-benar mencintaiku.”

Aku menatap perempuan yang pernah menjadi orang paling kupercaya setelah keluargaku.

“Sari, kamu tahu hal paling menyakitkan dari semua ini?”

Dia menggeleng.

“Bukan karena Budi memilihmu.”

Aku menarik napas.

“Tapi karena selama tujuh tahun aku menceritakan semua ketakutanku kepadamu. Setiap kali aku merasa Budi menjauh, kamu yang memelukku dan mengatakan bahwa dia pasti mencintaiku.”

Sari menangis semakin keras.

“Aku tahu. Aku jahat.”

“Aku pernah menganggapmu saudara sendiri.”

Dia menunduk.

“Aku benar-benar menyesal.”

Aku menatapnya lama.

“Aku berharap kamu bertanggung jawab atas semua perbuatanmu. Tapi aku tidak bisa kembali menjadi sahabatmu.”

Sari mengangguk sambil menangis.

Kami berpisah tanpa pelukan.

Tanpa janji untuk bertemu lagi.

Enam bulan setelah malam yang menghancurkan pertunanganku, aku berdiri di balkon rumah Papa.

Angin sore membawa aroma hujan.

Mama datang membawa secangkir teh hangat.

“Masih memikirkan Budi?”

Aku tersenyum kecil.

“Tidak, Ma. Aku sedang memikirkan betapa bodohnya dulu aku.”

Mama duduk di sampingku.

“Kenapa bilang begitu?”

“Selama tujuh tahun, aku berusaha menjadi perempuan yang cukup baik supaya Budi tidak meninggalkanku. Padahal ternyata dia tidak pernah benar-benar memilihku.”

Mama menggenggam tanganku.

“Dewi, mempercayai seseorang bukan kebodohan. Yang penting, setelah tahu kebenaran, kamu berani menentukan langkahmu sendiri.”

Aku menyandarkan kepala di bahunya.

Beberapa saat kemudian, ponselku bergetar.

Pesan dari Pak Arman.

Dewi, audit lanjutan sudah selesai. Tidak ada lagi dokumen pengalihan aset yang belum diperiksa. Tim hukum sedang menindaklanjuti temuan terakhir.

Aku menghela napas lega.

Kemudian Mama bertanya sesuatu yang membuatku tersenyum.

“Kalau suatu hari kamu bertemu laki-laki lain, apa kamu masih mau menikah?”

Aku memandang langit yang mulai berubah jingga.

“Mau, Ma. Tapi kali ini aku ingin seseorang yang tidak membuatku harus menebak-nebak apakah dia mencintaiku.”

Mama tertawa pelan.

“Itu permintaan yang sangat wajar.”

Malamnya, aku membuka laci meja kerja.

Di dalam kotak beludru kecil masih tersimpan kalung dengan ukiran D dan B.

Dulu, benda itu kubuat sebagai simbol cinta yang kupercaya akan bertahan selamanya.

Aku mengeluarkannya.

Menatapnya lama.

Kemudian melepas liontinnya dan menyimpan rantainya untuk suatu hari diolah menjadi perhiasan baru.

Aku tidak ingin lagi mengenakan lambang sebuah hubungan yang dibangun di atas kebohongan.

Namun aku juga tidak ingin terus membenci masa laluku.

Karena dari pengkhianatan itulah aku belajar bahwa cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kewaspadaan terhadap kehidupannya sendiri.

Tujuh tahun bukan waktu yang singkat.

Tetapi tujuh tahun yang telah hilang tidak harus menjadi alasan untuk menyerahkan seluruh masa depan.

Aku menutup kotak perhiasan dan mematikan lampu ruang kerja.

Di luar, hujan mulai turun.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, suara hujan itu tidak lagi mengingatkanku pada malam ketika aku membuka pintu kamar dan menemukan Budi bersama Sari.

Aku hanya mendengar hujan.

Sederhana.

Tenang.

Dan di tengah keheningan itu, aku akhirnya mengerti sesuatu.

Kadang kehidupan tidak menghancurkan impian kita untuk menghukum kita.

Kadang kehidupan menunjukkan kenyataan yang menyakitkan agar kita berhenti mempertahankan impian yang salah.

Malam itu aku kehilangan tunangan, sahabat terbaik, dan masa depan yang sudah kurencanakan selama tujuh tahun.

Namun aku menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih penting.

Harga diriku.

Keluargaku.

Dan kesempatan untuk memulai hidup tanpa kebohongan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang