Bianca tidak menyadari bahwa pesan singkat yang baru saja dikirimnya akan menjadi awal kehancuran keluarganya sendiri.

Di ujung lorong Skyloft, perempuan bergaun merah itu berdiri sambil memperhatikan Reno yang sedang menunggu di depan toilet.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan laki-laki menghampiri Reno.
“Permisi, Pak. Bang Joyce meminta Bapak sebentar ke ruang pengelola. Katanya ada urusan mendesak mengenai tamu VIP.”
Reno mengerutkan kening.
“Joyce? Kenapa enggak telepon langsung?”
“Maaf, Pak. Saya hanya diminta menyampaikan.”
Reno mengeluarkan ponselnya dan menelepon Joyce. Panggilan pertama tidak terjawab.
Dia kemudian mengirim pesan kepada Kirana, menjelaskan bahwa dirinya harus memastikan sesuatu dan meminta gadis itu menunggu di dalam sampai dia kembali.
Setelah itu, Reno berjalan menuju ruang pengelola.
Bianca tersenyum puas.
Kesempatan yang ditunggunya akhirnya datang.
Beberapa menit kemudian, Kirana keluar dari toilet. Ia berhenti ketika tidak melihat Reno di tempat semula.
Ponselnya bergetar.
Pesan Reno muncul di layar.
Kirana membacanya, lalu memutuskan duduk di bangku kecil dekat pintu toilet.
Namun, sebelum sempat melangkah, Bianca menghadangnya.
“Wah, ternyata sendirian.”
Kirana mendongak.
Ia mengenali perempuan yang tadi menghinanya di ruang VIP.
Kirana tersenyum sopan dan sedikit menundukkan kepala.
Bianca justru mendengus.
“Enggak usah pura-pura manis. Di sini cuma ada kita berdua.”
Kirana mengangkat tangan, hendak menjelaskan bahwa dirinya sedang menunggu Reno.
Namun Bianca langsung menepis gerakannya.
“Sudahlah! Gue enggak ngerti bahasa tangan begitu.”
Kirana terdiam.
Bianca melangkah mendekat.
“Sebetulnya lu ini siapa? Anak orang kaya yang pura-pura sederhana? Atau memang sengaja mencari laki-laki berduit?”
Kirana mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu.
Aku tidak pernah meminta uang dari Bang Bara. Aku hanya datang karena dia mengajakku.
Bianca membaca tulisan itu, kemudian tertawa sinis.
“Alasan klasik.”
Tiba-tiba seorang perempuan mengenakan seragam pelayan muncul dari arah belakang.
“Maaf, Kak Bianca. Semuanya sudah siap.”
Kirana menoleh dengan bingung.
Bianca tersenyum dingin.
“Bagus. Kita lihat apakah Bang Bara masih mau memeluk lu setelah semua orang melihat siapa sebenarnya lu.”
Sebelum Kirana memahami maksudnya, Bianca meraih tas kain yang tergantung di bahunya.
Kirana berusaha mempertahankannya.
Namun pegangan Bianca terlalu kuat.
Isi tas itu tumpah ke lantai.
Sebuah dompet sederhana, buku catatan kecil, ponsel lama, dan kalung perak jatuh berserakan.
Bianca memungut kalung tersebut.
Di ujungnya tergantung liontin berbentuk burung kecil.
“Barang murahan begini masih lu simpan?”
Kirana mendadak panik.
Ia mengulurkan kedua tangan, meminta kalungnya dikembalikan.
Namun Bianca justru mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Kenapa? Ini barang curian?”
Kirana menggeleng keras.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Kalung itu merupakan satu-satunya peninggalan perempuan yang dahulu menitipkannya di panti asuhan.
Selama dua puluh empat tahun, Kirana tidak pernah mengetahui siapa orang tua kandungnya.
Yang dimilikinya hanyalah kalung tersebut dan secarik surat tanpa nama.
Bianca tidak mengetahui semua itu.
Baginya, semakin Kirana terlihat ketakutan, semakin besar kepuasannya.
“Kalau mau kalung ini kembali, berlutut dan minta maaf karena sudah sok cantik di depan gue.”
Kirana membeku.
Air matanya jatuh.
Namun dia tidak berlutut.
Ia justru mengambil ponsel dan mengetik dengan tangan gemetar.
Tolong kembalikan. Itu peninggalan ibu saya.
Bianca membaca kalimat itu.
Sesaat wajahnya berubah.
Tetapi ketika melihat pelayan yang sejak tadi merekam menggunakan ponsel, dia kembali tersenyum mengejek.
“Kalau memang penting, seharusnya lu enggak membawanya ke tempat mahal begini.”
Tiba-tiba sebuah suara berat terdengar dari belakang.
“Taruh kalung itu.”
Bianca menoleh.
Bara berdiri beberapa langkah darinya.
Wajah laki-laki itu begitu dingin hingga Bianca spontan mundur.
Di belakang Bara terdapat Joyce dan Reno.
Reno langsung menghampiri Kirana, membantu mengumpulkan barang-barangnya.
Bara berjalan mendekati Bianca.
“Gue bilang, kembalikan kalungnya.”
“Bang, aku cuma bercanda.”
“Bercanda sampai menyuruh orang berlutut?”
Bianca kehilangan kata-kata.
Bara mengambil kalung tersebut dari tangannya, kemudian menyerahkannya kepada Kirana.
Begitu kalung itu kembali, Kirana langsung menggenggamnya erat.
Bara memperhatikan wajah gadis itu.
Ada air mata yang belum sempat dihapus.
Dadanya terasa sesak.
“Maaf, Sayang. Abang seharusnya enggak membiarkan kamu sendirian.”
Kirana menggeleng cepat.
Dengan bahasa isyarat, ia mengatakan bahwa semua itu bukan kesalahan Bara.
Namun Bara tahu, Kirana hanya berusaha menenangkannya.
Joyce segera memanggil kepala keamanan untuk memeriksa rekaman CCTV.
Pelayan yang membantu Bianca juga diminta memberikan keterangan.
Ketika mengetahui rencananya terbongkar, Bianca mulai panik.
“Bang Joyce, masa masalah kecil begini harus dibesar-besarkan?”
Joyce menatapnya tajam.
“Lu menjebak tamu gue, Bianca. Itu bukan masalah kecil.”
Mereka kembali ke ruang VIP untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Aditya langsung berdiri ketika melihat adiknya masuk dengan wajah pucat.
“Ada apa lagi?”
Bara tidak menjawab.
Dia membawa Kirana duduk di sofa, lalu mengambil tisu untuk menghapus air mata gadis itu.
Setelah memastikan Kirana merasa lebih tenang, Bara menoleh kepada Joyce.
“Putar rekamannya.”
Layar televisi besar di ruang VIP menyala.
Seluruh tamu menyaksikan bagaimana Bianca merampas tas Kirana, mempermalukannya, dan memaksanya berlutut.
Ruangan langsung dipenuhi bisikan.
Aditya menghantam meja.
“Bianca! Lu sudah gila?”
Bianca menangis.
“Kak, aku cuma mau kasih pelajaran!”
“Pelajaran apa?” suara Bara terdengar tajam. “Dia bahkan enggak pernah mengganggu hidup lu.”
Bianca menunjuk Kirana.
“Karena semua orang memperlakukannya seperti putri! Padahal dia cuma anak panti yang enggak jelas asal-usulnya!”
Kirana menunduk.
Bara langsung berdiri.
Namun sebelum mengatakan sesuatu, Reno tiba-tiba mendekat sambil membawa kalung yang tadi sempat terjatuh.
“Bang, boleh gue lihat liontin ini sebentar?”
Bara mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Reno memperhatikan bagian belakang liontin.
Di sana terdapat ukiran kecil yang hampir tidak terlihat.
Dua huruf dan sebuah angka.
AP 1999.
Wajah Reno berubah.
“Bang, ini mirip lambang yang pernah gue lihat di dokumen keluarga Permana.”
Aditya langsung mengangkat kepala.
“Apa maksud lu?”
Reno menunjukkan foto liontin itu kepada Joyce.
Joyce memperbesarnya melalui ponsel.
“Benar. Bentuk burung ini sama seperti lambang lama yayasan keluarga Permana.”
Bianca mendadak terdiam.
Bara menatap Aditya.
“Lu tahu sesuatu?”
Aditya menggeleng cepat.
“Enggak. Banyak orang punya kalung seperti itu.”
Namun wajahnya menunjukkan hal berbeda.
Kirana mengulurkan tangan, meminta liontinnya kembali.
Bara segera menyerahkannya.
Kemudian dia bertanya melalui bahasa isyarat.
“Kamu tahu dari mana kalung itu berasal?”
Kirana mengambil buku catatan kecil dari tasnya.
Di halaman pertama terdapat sebuah surat tua yang dilapisi plastik agar tidak rusak.
Tulisan tangannya sudah mulai memudar.
Bara membacanya perlahan.
Untuk anakku, Kirana. Maafkan Ibu karena belum mampu menjagamu. Jangan pernah percaya bahwa kamu tidak diinginkan. Suatu hari, kebenaran akan menemukan jalan pulang.
Di bagian bawah surat terdapat tanda tangan.
Anindya.
Aditya tiba-tiba menjatuhkan gelasnya.
Suara pecahan kaca membuat semua orang menoleh.
“Anindya?” gumamnya.
Bara menatapnya tajam.
“Lu kenal?”
Aditya terlihat seperti baru melihat hantu.
“Itu nama tante gue.”
Bianca langsung mencengkeram lengan kakaknya.
“Kak, jangan ngomong macam-macam!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Joyce segera menghubungi seseorang yang mengenal sejarah keluarga Permana.
Sementara itu, Bara membawa Kirana meninggalkan ruang VIP.
Dia tidak ingin gadis itu menjadi tontonan lebih lama.
Di dalam mobil, Kirana duduk diam.
Bara menggenggam tangannya.
“Kalau kamu enggak mau membicarakannya sekarang, enggak apa-apa.”
Kirana menoleh.
Tangannya bergerak perlahan.
Apakah aku membuat Abang malu?
Bara merasa dadanya diremas.
Dia segera menggeleng.
“Enggak pernah.”
Kirana menunduk.
Aku cuma anak panti.
Bara mengangkat dagunya dengan lembut.
“Dengar, Sayang. Harga diri seseorang enggak ditentukan dari siapa orang tuanya. Abang menyayangimu karena kamu adalah Kirana.”
Air mata kembali mengalir di pipi gadis itu.
Bara memeluknya erat.
Malam itu mereka pulang tanpa mengetahui bahwa di rumah keluarga Permana, sebuah rahasia lama baru saja mengguncang seseorang.
Perempuan itu bernama Ratna Permana.
Ibunda Aditya dan Bianca.
Ketika Aditya menunjukkan foto liontin serta surat Kirana, Ratna langsung terduduk.
“Di mana kalian menemukan ini?”
“Di tangan perempuan yang dibawa Bara Kiandra.”
Ratna menutup mulutnya.
Air matanya jatuh.
“Ya Tuhan… ternyata dia masih hidup.”
Aditya menatap ibunya dengan tidak percaya.
“Mama kenal perempuan itu?”
Ratna mengangguk.
“Dia putri Tante Anindya.”
Bianca langsung berdiri.
“Tante Anindya yang katanya meninggal di luar negeri?”
Ratna menggeleng sambil menangis.
“Anindya tidak meninggal di luar negeri. Dia meninggal di Jakarta dua puluh empat tahun lalu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Ratna kemudian menceritakan rahasia yang selama ini disembunyikan keluarga mereka.
Anindya merupakan adik perempuan almarhum ayah Aditya.
Dia jatuh cinta kepada seorang pemuda sederhana bernama Mahendra, yang bekerja sebagai insinyur di perusahaan keluarga.
Hubungan mereka ditentang keras karena perbedaan status sosial.
Ketika Anindya hamil, keluarga Permana menganggapnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Dia diusir.
Mahendra kemudian meninggal akibat kecelakaan proyek sebelum anak mereka lahir.
Anindya melahirkan seorang bayi perempuan dalam kondisi kesehatan yang memburuk.
Beberapa minggu kemudian, dia meninggal.
Bayi tersebut sempat diasuh seorang kerabat jauh sebelum akhirnya dititipkan di panti asuhan.
“Papa kalian menyuruh semua orang berhenti membicarakannya,” ujar Ratna.
Aditya menelan ludah.
“Jadi Kirana adalah sepupu kami?”
“Kalau benar dia anak Anindya, iya.”
Bianca menggeleng keras.
“Enggak mungkin! Masa anak panti itu keluarga kita?”
Ratna menatap putrinya dengan mata merah.
“Justru itulah yang paling memalukan, Bianca. Kamu menghina seseorang hanya karena dia tidak tahu siapa keluarganya.”
Keesokan harinya, Ratna meminta bertemu Bara.
Dia membawa foto lama Anindya saat berusia dua puluh tahun.
Ketika Bara melihat foto itu, dia terdiam.
Perempuan dalam foto memiliki bentuk mata dan senyum yang sangat mirip dengan Kirana.
Namun Bara tidak ingin mengambil kesimpulan hanya berdasarkan kemiripan.
Dia meminta semua pihak menghormati Kirana dan membiarkannya menentukan apakah ingin mencari tahu lebih jauh.
Setelah berbicara panjang, Kirana akhirnya setuju menjalani tes DNA dengan kerabat biologis yang bersedia, melalui fasilitas resmi.
Selama menunggu hasilnya, Bara tidak pernah memaksanya menemui keluarga Permana.
Dia hanya menemaninya menjalani hari seperti biasa.
Mereka pergi ke taman, makan bakso di Bogor, dan sesekali mengunjungi panti tempat Kirana dibesarkan.
Tiga minggu kemudian, hasil pemeriksaan selesai.
Bukti genetik mendukung hubungan kekerabatan biologis yang sesuai dengan dugaan bahwa Kirana adalah putri Anindya.
Ratna menangis ketika membaca hasil tersebut.
Aditya menundukkan kepala.
Sementara Bianca tidak berani berbicara.
Namun kabar itu ternyata membuka persoalan yang jauh lebih besar.
Bara bersama pengacara Kirana menemukan bahwa Anindya pernah memiliki saham dalam perusahaan keluarga Permana.
Saham tersebut belum pernah dialihkan melalui proses pewarisan yang jelas.
Selama bertahun-tahun, hak yang berkaitan dengan peninggalan Anindya tidak pernah dibicarakan secara terbuka.
Keluarga Permana harus melakukan pemeriksaan dokumen untuk memastikan kedudukan hukum ahli warisnya.
Aditya mulai panik.
Jika Kirana terbukti memiliki hak atas sebagian peninggalan Anindya, pembagian kepemilikan keluarga dapat berubah.
Dia mendatangi Bara.
“Bang, gue mau menyelesaikan ini baik-baik.”
Bara menatapnya dingin.
“Bagus. Bicara sama pengacara Kirana.”
“Gue bisa kasih kompensasi yang layak.”
“Lu bahkan belum tahu apa yang Kirana inginkan.”
Aditya terdiam.
Bara melanjutkan.
“Jangan perlakukan dia seperti masalah bisnis yang bisa lu selesaikan pakai uang.”
Beberapa bulan kemudian, dokumen keluarga berhasil diperiksa lebih lengkap.
Kirana memang memiliki hak waris atas aset pribadi peninggalan ibunya, termasuk kepentingan saham yang secara hukum masih dapat ditelusuri.
Namun penyelesaiannya harus melalui proses administrasi dan hukum yang tidak sederhana.
Kirana tidak meminta perusahaan itu diserahkan kepadanya.
Dia justru mengajukan satu permintaan yang mengejutkan.
Sebagian hasil yang kelak sah menjadi miliknya ingin digunakan untuk mendukung pendidikan anak-anak panti asuhan.
“Aku tahu rasanya tumbuh tanpa keluarga,” tulisnya kepada Bara. “Aku ingin anak-anak lain punya kesempatan yang lebih baik.”
Bara membaca kalimat itu sambil tersenyum.
“Abang bangga sama kamu.”
Kirana menggeleng.
Ia lalu menulis satu kalimat lagi.
Aku bukan orang hebat. Aku cuma tidak ingin orang lain merasakan kesepian yang pernah kurasakan.
Setahun setelah kejadian di Skyloft, Kirana kembali menghadiri sebuah acara besar.
Namun kali ini bukan pesta bar.
Dia datang sebagai tamu kehormatan dalam peresmian program beasiswa bagi anak-anak panti asuhan di Bogor.
Bara berdiri di sampingnya.
Ratna dan Aditya hadir sebagai undangan.
Bianca juga datang.
Perempuan yang dahulu menghina Kirana itu kini terlihat jauh lebih pendiam.
Setelah acara selesai, Bianca menghampirinya.
“Kirana, aku tahu permintaan maafku mungkin enggak berarti banyak.”
Kirana menatapnya.
“Aku benar-benar malu dengan perbuatanku malam itu,” lanjut Bianca. “Aku menghina orang yang bahkan tidak pernah berbuat salah kepadaku.”
Kirana mengeluarkan ponselnya dan mengetik.
Aku menerima permintaan maafmu. Tapi aku berharap kamu tidak mengulangi hal itu kepada siapa pun.
Bianca mengangguk sambil menangis.
“Enggak akan.”
Di kejauhan, Bara memperhatikan mereka tanpa ikut campur.
Ketika Bianca pergi, dia menghampiri Kirana.
“Sudah selesai?”
Kirana tersenyum dan mengangguk.
Bara mengulurkan tangan.
“Pulang, Sayang?”
Kirana menggenggam tangannya.
Namun sebelum mereka melangkah, gadis itu berhenti.
Dia memandang bangunan panti asuhan yang baru saja menerima bantuan pendidikan.
Kemudian tangannya bergerak perlahan.
Dulu aku pikir hidupku tidak berharga karena aku dibuang.
Bara menatapnya.
Kirana melanjutkan gerakannya.
Sekarang aku tahu, orang yang meninggalkanku belum tentu tidak mencintaiku. Dan orang yang merendahkanku tidak berhak menentukan siapa diriku.
Bara tersenyum.
“Benar.”
Kirana kemudian menuliskan satu kalimat terakhir di telapak tangannya.
Terima kasih sudah menemukanku ketika aku bahkan belum menemukan diriku sendiri.
Bara menariknya ke dalam pelukan.
“Abang enggak pernah menyelamatkan kamu, Kirana. Kamu sendiri yang berhasil melewati semuanya. Abang cuma beruntung bisa berjalan di sampingmu.”
Di tengah halaman panti yang dipenuhi tawa anak-anak, Kirana akhirnya menangis.
Namun kali ini bukan karena hinaan.
Bukan karena masa lalu yang menyakitkan.
Melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidup, dia tidak lagi merasa harus membuktikan bahwa dirinya pantas dicintai.
Malam ketika Bianca mempermalukannya di Skyloft memang telah mengubah hidupnya selamanya.
Tetapi bukan karena dia akhirnya diketahui memiliki hubungan darah dengan keluarga kaya.
Melainkan karena malam itu dia menemukan keberanian untuk menghadapi masa lalunya, menentukan masa depannya sendiri, dan memahami bahwa harga dirinya tidak pernah bergantung pada nama keluarga mana pun.
Sebab seseorang yang lahir tanpa mengetahui asal-usulnya tetap berhak memiliki masa depan yang indah.
Dan cinta yang tulus tidak pernah bertanya dari keluarga mana seseorang berasal sebelum memutuskan untuk tetap menggenggam tangannya.
