HARI INI AYAH MEMAKSAKU BERMAIN GOLF DENGAN CALON TUNANGAN

Aku baru saja hendak menaiki sepeda ketika Lu Jingchen tiba-tiba berdiri di hadapanku dan membungkukkan tubuhnya.

“Zhiwei, aku minta maaf. Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan.”

Aku menatapnya tanpa ekspresi.

Lima menit sebelumnya, pria itu bahkan tidak mau mendengarkan penjelasanku. Sekarang, setelah mengetahui siapa kakekku, sikapnya berubah seolah kami sudah saling mengenal bertahun-tahun.

“Direktur Lu, minggir. Aku mau pulang.”

“Zhiwei, jangan seperti ini. Ayah kita sudah merencanakan pertemuan ini sejak lama.”

Aku tertawa kecil.

“Justru karena itulah aku datang. Sekarang aku sudah mengenalmu, jadi tidak ada alasan untuk melanjutkan perjodohan ini.”

Wang Rui yang berdiri di belakangnya mendadak maju.

“Nona Jiang, tadi saya memang salah paham. Tapi Anda juga tidak perlu sampai membatalkan pertunangan hanya karena persoalan kecil.”

Aku menatapnya.

“Persoalan kecil?”

Dia menunduk.

“Kartu itu bisa diganti, kan?”

Aku mengambil dua potongan kartu hitam dari tangan Pak Surya, pengelola senior klub.

“Kartu ini diberikan kakekku ketika aku berusia delapan belas tahun. Beliau sendiri yang memasukkannya ke dalam dompetku dan berpesan agar aku selalu mengingat tempat keluarga kami memulai usaha.”

Wang Rui terdiam.

“Yang kamu hancurkan bukan sekadar kartu, melainkan hadiah dari seseorang yang sangat kusayangi.”

Aku memasukkan potongan kartu itu ke dalam tas.

“Dan yang membuatku kecewa bukan kerusakannya. Melainkan caramu memperlakukan orang yang kamu anggap tidak punya uang.”

Wajah Wang Rui memerah.

Lu Jingchen segera menyela.

“Aku akan mengganti semua kerugianmu. Kalau perlu, aku belikan kartu baru.”

Aku menggeleng.

“Ternyata kamu benar-benar tidak mengerti.”

Saat itulah sebuah mobil Mercedes-Benz hitam berhenti di depan gerbang.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh lima tahun turun dengan tergesa-gesa.

Aku mengenalinya.

Lu Zhenghao, ayah Lu Jingchen.

Begitu melihatku, wajahnya langsung berubah.

“Zhiwei! Astaga, kenapa kamu masih di luar?”

Dia menghampiriku dengan penuh keakraban.

“Dulu waktu kecil kamu sering ikut kakekmu bermain di sini. Sekarang sudah sebesar ini!”

Aku tersenyum sopan.

“Selamat siang, Om Lu.”

Lu Zhenghao kemudian melihat sepeda di sampingku.

“Wah, kamu masih suka bersepeda? Kakekmu pernah cerita soal hobimu itu.”

“Masih, Om. Kebetulan rumah saya dekat.”

Senyumnya mendadak menghilang ketika melihat sikutku yang memerah.

“Tanganmu kenapa?”

Aku belum sempat menjawab ketika Pak Surya mendekat.

“Pak Lu, ada insiden di gerbang. Asisten putra Bapak menghina Nona Jiang, merusak kartu pendiri, dan sempat mendorong beliau.”

Lu Zhenghao membeku.

Perlahan dia menoleh kepada putranya.

“Jingchen, apa benar?”

Lu Jingchen menunduk.

“Ayah, ini salah paham.”

“Salah paham bagaimana sampai tangan orang terluka?”

Wang Rui buru-buru berbicara.

“Pak Lu, semuanya kesalahan saya. Saya tidak tahu Nona Jiang adalah cucu pendiri klub.”

Lu Zhenghao menatapnya tajam.

“Kalau dia bukan cucu pendiri klub, berarti kamu boleh menghinanya?”

Wang Rui tidak bisa menjawab.

“Sejak kapan pegawai perusahaan kita diberi wewenang memperlakukan orang berdasarkan kendaraan yang mereka pakai?”

Suasana di gerbang mendadak hening.

Lu Zhenghao memandangku dengan penyesalan.

“Zhiwei, Om minta maaf. Ini benar-benar memalukan.”

Aku mengangguk kecil.

“Saya menghargai permintaan maaf Om. Tapi saya tidak ingin melanjutkan perjodohan dengan Jingchen.”

Wajah Lu Zhenghao terlihat terpukul.

“Om mengerti.”

Jawaban itu justru membuat Lu Jingchen panik.

“Ayah! Kita tidak bisa membatalkannya begitu saja!”

Lu Zhenghao menoleh.

“Kenapa tidak?”

“Kerja sama dengan keluarga Jiang sedang dalam tahap akhir!”

Aku terdiam.

Jadi itulah yang sebenarnya dia khawatirkan.

Bukan perasaanku.

Bukan hubungan kedua keluarga.

Melainkan kontrak bisnis.

Lu Zhenghao menarik napas berat.

“Kamu pikir sebuah pernikahan adalah jaminan mendapatkan proyek?”

Lu Jingchen tidak menjawab.

Ayahnya melanjutkan dengan suara dingin.

“Kalau kerja sama kita hanya bisa berjalan setelah kamu menikahi putri keluarga Jiang, berarti sejak awal perusahaan kita tidak cukup layak untuk mendapatkannya.”

Aku memandang pria tua itu dengan sedikit rasa hormat.

Setidaknya, dia masih memahami perbedaan antara hubungan keluarga dan kepentingan bisnis.

Namun kejutan berikutnya datang ketika Pak Surya menerima telepon dari kantor pusat klub.

Setelah mendengarkan sebentar, dia segera menghampiriku.

“Nona Jiang, ketua meminta Anda datang ke ruang rapat utama.”

Aku mengerutkan kening.

“Kakek sudah tahu?”

Pak Surya mengangguk.

“Beliau sedang dalam perjalanan. Katanya ada persoalan penting yang perlu diselesaikan hari ini.”

Lu Jingchen semakin pucat.

Aku sempat mempertimbangkan untuk pulang, tetapi akhirnya menitipkan sepedaku kepada petugas klub dan masuk bersama Pak Surya.

Di ruang rapat lantai tiga, beberapa orang sudah menunggu.

Aku mengenali dua anggota dewan pengelola Yunding dan seorang penasihat hukum keluarga.

Di atas meja terdapat map berwarna biru tua.

Pak Surya mempersilakanku duduk.

“Nona, sebenarnya hari ini bukan sekadar pertemuan perjodohan.”

Aku menatapnya.

“Maksud Bapak?”

Dia membuka map tersebut.

“Yunding sedang meninjau rencana kerja sama pengembangan fasilitas olahraga dan vila baru. Salah satu calon mitranya adalah perusahaan keluarga Lu.”

Aku mengangguk.

“Aku sudah mendengar sedikit.”

“Namun, ada satu persoalan.”

Pak Surya menunjukkan laporan keuangan.

“Perusahaan yang diajukan Pak Jingchen sebagai mitra memiliki kewajiban pembayaran yang belum dijelaskan secara memadai. Tim pemeriksa juga menemukan adanya penggunaan nama Yunding dalam materi pemasaran sebelum perjanjian resmi ditandatangani.”

Aku mulai memahami mengapa Jingchen begitu takut kehilangan kesempatan bisnis ini.

“Apakah Kakek sudah mengetahuinya?”

“Beliau sudah menerima laporan awal. Hari ini seharusnya menjadi kesempatan keluarga Lu memberikan klarifikasi.”

Aku menatap dokumen itu.

Di halaman terakhir terdapat nama Wang Rui sebagai penanggung jawab komunikasi proyek.

Aku menghela napas.

Ternyata perempuan yang tadi menganggapku tidak pantas memasuki klub juga bertanggung jawab atas komunikasi kerja sama yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.

Belum sempat aku berbicara, pintu ruang rapat terbuka.

Kakek masuk menggunakan kemeja putih dan celana panjang abu-abu.

Usianya tujuh puluh delapan tahun, tetapi langkahnya masih tegap.

Begitu melihatku, dia tersenyum.

“Zhiwei, kenapa wajahmu kusut begitu?”

Aku langsung berdiri.

“Kakek.”

Beliau menghampiriku, kemudian memperhatikan lenganku.

“Siapa yang membuatmu terluka?”

Aku menggeleng.

“Cuma terbentur setang sepeda. Tidak serius.”

Namun kakek tidak langsung percaya.

Pak Surya menyerahkan dua potongan kartu hitam kepadanya.

Begitu melihatnya, senyum kakek menghilang.

Beliau memandangi kartu itu cukup lama.

“Kakek memberimu kartu ini sepuluh tahun lalu.”

Aku mengangguk.

“Kakek masih ingat?”

“Tentu. Waktu itu kamu bilang tidak ingin mobil mewah sebagai hadiah ulang tahun. Kamu justru minta sepeda balap.”

Aku tersenyum.

“Karena aku lebih suka bersepeda.”

Kakek tertawa pelan.

Kemudian beliau menggenggam tanganku.

“Zhiwei, kartu bisa dibuat lagi. Yang tidak boleh rusak adalah keberanianmu menjadi diri sendiri.”

Dadaku terasa hangat.

Sejak kecil, kakek selalu mengajarkanku untuk tidak menilai orang dari pakaian, kendaraan, atau isi rekening mereka.

Beliau memulai usaha dari bengkel kecil di Tangerang sebelum membangun jaringan properti dan fasilitas olahraga.

Mungkin karena itulah beliau tidak pernah mempermasalahkan kebiasaanku mengenakan pakaian sederhana.

Beberapa menit kemudian, keluarga Lu dipersilakan masuk.

Lu Zhenghao berjalan paling depan.

Di belakangnya, Jingchen dan Wang Rui mengikuti dengan wajah tegang.

Kakek mempersilakan mereka duduk.

“Zhenghao, aku sudah mendengar kejadian di gerbang.”

Lu Zhenghao membungkuk.

“Pak Jiang, saya benar-benar meminta maaf.”

Kakek mengangguk.

“Urusan pribadi anak-anak biarkan mereka putuskan sendiri. Aku tidak akan memaksa Zhiwei menikahi siapa pun.”

Lu Jingchen segera berdiri.

“Kakek Jiang, saya bersedia meminta maaf secara resmi kepada Zhiwei.”

Kakek menatapnya.

“Permintaan maaf itu baik. Tapi kamu harus memahami mengapa kamu meminta maaf.”

Jingchen menunduk.

“Karena saya salah menilai penampilan Zhiwei.”

“Dan?”

“Karena saya membiarkan asisten saya menghinanya.”

Kakek mengangguk.

“Bagus kalau kamu menyadarinya.”

Namun sebelum Jingchen sempat bernapas lega, kakek membuka laporan yang disiapkan tim pemeriksa.

“Sekarang mari kita bahas perusahaanmu.”

Wajah Jingchen langsung menegang.

Selama hampir satu jam, tim pemeriksa mengajukan pertanyaan mengenai sumber pendanaan, kewajiban perusahaan, dan penggunaan nama Yunding dalam materi penawaran.

Pada awalnya Jingchen menjawab dengan percaya diri.

Namun ketika pembahasan sampai pada satu pembayaran sebesar dua belas miliar rupiah kepada perusahaan konsultan yang tidak tercantum dalam proposal awal, dia mulai gugup.

“Itu biaya pengembangan pasar,” katanya.

Penasihat hukum mengangkat sebuah dokumen.

“Perusahaan konsultan tersebut baru berdiri delapan bulan lalu. Berdasarkan data kepemilikan yang kami peroleh, salah satu pemegang sahamnya adalah Wang Rui.”

Semua orang langsung menoleh.

Wang Rui membeku.

Lu Zhenghao menatap putranya.

“Jingchen, kamu tahu soal ini?”

Jingchen tidak menjawab.

Wang Rui tiba-tiba berdiri.

“Pak Lu, saya bisa menjelaskan!”

“Silakan,” jawab kakek tenang.

Perempuan itu menelan ludah.

“Perusahaan tersebut memang milik saya, tetapi seluruh jasanya benar-benar dilakukan.”

“Kalau begitu, tentu ada laporan pekerjaan, kontrak yang sah, dan bukti penyerahan hasilnya,” kata penasihat hukum.

Wang Rui terdiam.

Jingchen akhirnya berbicara.

“Saya yang menyetujui pembayarannya.”

Lu Zhenghao memejamkan mata.

“Kamu menggunakan perusahaan asistenmu sendiri tanpa mengungkapkan hubungan kepentingannya?”

Jingchen menunduk.

“Saya berniat menjelaskannya setelah proyek berjalan.”

Ayahnya menggeleng perlahan.

“Jadi selama ini kamu menyembunyikan informasi penting dari calon mitra?”

Tidak ada jawaban.

Aku memandangi Jingchen dengan perasaan campur aduk.

Pria yang tadi menganggapku tidak bermartabat karena datang naik sepeda ternyata belum mampu mempertanggungjawabkan keputusan bisnisnya sendiri.

Kakek menutup map.

“Tim kami tidak akan melanjutkan pembahasan kerja sama sampai seluruh persoalan ini diklarifikasi secara memadai.”

Wang Rui langsung menangis.

“Pak Jiang, tolong beri kami kesempatan!”

Kakek menggeleng.

“Ini bukan soal kesalahan di gerbang. Ini soal transparansi dan tanggung jawab profesional.”

Lu Zhenghao mengangguk berat.

“Saya memahami keputusan Bapak.”

Rapat selesai menjelang sore.

Ketika aku berjalan menuju tempat penyimpanan sepeda, Jingchen menyusulku.

“Zhiwei.”

Aku berhenti.

Dia terlihat sangat berbeda dari pria sombong yang kutemui pagi tadi.

“Aku ingin meminta maaf sekali lagi.”

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

“Untuk caraku memperlakukanmu. Aku terlalu terbiasa berada di lingkungan yang menilai orang berdasarkan status.”

Aku mengangguk.

“Semoga kamu benar-benar belajar sesuatu.”

Dia terdiam sebentar.

“Kalau suatu hari aku berubah, apa kita masih punya kesempatan?”

Aku tersenyum kecil.

“Jingchen, kamu tidak perlu berubah demi mendapatkan kesempatan menikahiku.”

Dia menatapku.

“Berubahlah supaya kamu bisa menghormati orang lain, bahkan ketika tidak ada keuntungan yang bisa kamu peroleh dari mereka.”

Setelah mengatakan itu, aku mengambil sepedaku dan pergi.

Beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar bahwa Lu Zhenghao melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap perusahaan putranya.

Jingchen melepaskan jabatan direktur sementara waktu dan mengikuti program pengembangan manajemen yang diatur keluarganya.

Wang Rui tidak lagi bekerja sebagai asistennya.

Persoalan transaksi dengan perusahaan konsultannya diselesaikan melalui pemeriksaan dan langkah perusahaan yang sesuai.

Aku tidak mengikuti perkembangan mereka secara khusus.

Hidupku sudah cukup sibuk dengan pekerjaanku sendiri.

Aku mengelola sebuah studio desain produk ramah lingkungan di Jakarta Selatan. Selama ini aku sengaja tidak menggunakan nama keluarga untuk mendapatkan klien karena ingin membuktikan kemampuanku melalui hasil pekerjaan.

Suatu pagi, kakek mengajakku sarapan.

Beliau meletakkan sebuah kotak kecil di hadapanku.

“Apa ini, Kek?”

“Buka saja.”

Di dalamnya terdapat kartu hitam baru.

Bentuknya sama seperti kartu yang dihancurkan Wang Rui.

Namun pada bagian belakang terdapat ukiran kecil.

Jiang Zhiwei, tetaplah menjadi dirimu sendiri.

Aku menatap kakek dengan mata berkaca-kaca.

“Kakek sengaja membuat tulisan ini?”

Beliau mengangguk.

“Kakek takut setelah kejadian itu kamu mulai merasa harus menunjukkan kekayaan supaya dihormati.”

Aku menggeleng cepat.

“Tidak, Kek.”

“Bagus.”

Kakek tersenyum.

“Lalu bagaimana dengan perjodohan berikutnya?”

Aku hampir tersedak teh.

“Kakek!”

Beliau tertawa keras.

“Cuma bercanda. Ayahmu sudah Kakek nasihati. Tidak ada lagi pertemuan yang dipaksakan.”

Aku mengembuskan napas lega.

Namun sebelum selesai sarapan, kakek mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.

“Zhiwei, kamu tahu kenapa Kakek memilihmu sebagai penerima kartu pendiri?”

“Karena aku cucu kesayangan Kakek?”

Beliau tertawa.

“Itu salah satunya. Tapi alasan sebenarnya karena Kakek pernah melihatmu memberikan sepatumu kepada anak panti yang tidak punya alas kaki, lalu pulang bertelanjang kaki.”

Aku terdiam.

Peristiwa itu terjadi ketika aku berusia tujuh belas tahun.

Aku bahkan hampir melupakannya.

“Kakek masih ingat?”

“Tentu. Waktu itu kamu tidak tahu Kakek melihatnya.”

Beliau menggenggam tanganku.

“Kartu ini bukan hadiah karena kamu lahir dalam keluarga kaya. Kakek ingin mengingatkanmu bahwa fasilitas dan kekuasaan harus digunakan untuk membantu orang lain, bukan merendahkan mereka.”

Air mataku jatuh.

Aku mengangguk.

“Aku mengerti, Kek.”

Setahun setelah kejadian di Yunding, studionya mendapat penghargaan dalam sebuah kompetisi desain kemasan berkelanjutan.

Hari itu aku menghadiri acara penghargaan menggunakan pakaian sederhana dan sepatu yang sudah kupakai selama dua tahun.

Beberapa wartawan bertanya apakah benar aku merupakan cucu pendiri Yunding Golf Club.

Aku hanya tersenyum.

“Benar. Tapi hari ini saya datang sebagai desainer, bukan sebagai cucu siapa pun.”

Setelah acara selesai, aku menemukan pesan dari ayah.

Ayah bangga padamu. Maaf karena pernah memaksamu bertemu orang yang tidak kamu pilih sendiri.

Aku membaca pesan itu sambil tersenyum.

Kemudian membalasnya.

Aku juga sayang Ayah. Lain kali kalau mau ngajak ketemu calon suami, pastikan dia tahu bedanya harga barang dan harga diri manusia.

Ayah membalas dengan emoji tertawa.

Aku tertawa sendiri di dalam mobil.

Sore itu, ketika melewati Yunding Golf Club, aku meminta sopir berhenti sebentar.

Aku mengeluarkan sepedaku dari bagasi mobil yang memang kubawa untuk latihan akhir pekan.

Kemudian aku mengendarainya melewati gerbang klub.

Petugas keamanan baru menyambutku dengan sopan.

“Selamat sore, Nona. Silakan masuk.”

Aku berhenti dan tersenyum.

“Terima kasih.”

Petugas itu melirik sepedaku.

“Sepedanya bagus sekali, Nona.”

Aku tertawa kecil.

“Terima kasih. Sudah lama menemani saya.”

Dia membukakan gerbang.

Tidak ada yang menanyakan harga sepedaku.

Tidak ada yang memeriksa apakah aku datang menggunakan mobil mewah.

Dan tidak ada yang menilaiku berdasarkan pakaianku.

Aku mengayuh sepeda melewati jalanan yang dipenuhi pepohonan hijau.

Angin sore menyentuh wajahku.

Tiba-tiba aku teringat kejadian setahun sebelumnya.

Wang Rui yang menghinaku.

Jingchen yang merendahkanku.

Kartu hitam yang patah di bawah sepatu hak tinggi.

Dahulu, semua itu membuatku sangat marah.

Namun sekarang aku justru merasa bersyukur.

Karena hari itu aku belajar bahwa kekayaan bisa membuat seseorang membuka pintu untukmu, tetapi tidak selalu membuatnya menghormatimu.

Penghormatan yang sejati muncul ketika seseorang memahami bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama, terlepas dari apa yang dimilikinya.

Aku terus mengayuh sepeda sambil tersenyum.

Kartu hitam baru tersimpan aman di dalam dompetku.

Namun aku tidak lagi merasa perlu mengeluarkannya untuk membuktikan siapa diriku.

Sebab pada akhirnya, orang yang benar-benar memahami nilai dirinya tidak perlu menggunakan kekayaan keluarga untuk menuntut penghormatan.

Dan orang yang hanya menghormatimu setelah mengetahui siapa keluargamu sebenarnya tidak pernah menghormatimu sejak awal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang