Aku tidak pernah menyangka bahwa surat pengunduran diri yang kutulis dalam lima menit justru akan membuka sebuah rahasia yang disembunyikan keluarga Budi selama enam tahun.
Malam itu, setelah membaca pesan dari ibunya, Budi langsung berdiri dan mengambil jasnya.
“Sari, ikut saya sebentar.”
Aku menoleh kepada Indah yang masih duduk di sampingnya.
Perempuan itu tampak tidak senang.
“Budi, kita baru saja datang. Kamu mau ke mana?”
“Ada urusan kantor.”
“Urusan kantor lagi? Bahkan malam ini?”
Budi tidak menjawab. Dia hanya menatapku, menunggu aku berdiri seperti biasa.
Namun kali ini aku tetap duduk.
“Maaf, Pak. Jam kerja saya sudah selesai. Kalau ada pekerjaan mendesak, besok pagi akan saya tangani.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat Budi kehilangan kata-kata.
Joko yang duduk di sebelah Eko langsung tertawa kecil.
“Wah, akhirnya Sari berani menolak bosnya!”
Namun Budi sama sekali tidak tersenyum.
Dia berjalan mendekat, lalu berkata dengan suara rendah.
“Ini bukan urusan kantor. Ini tentang kamu.”
Jantungku berdebar.
“Tentang saya?”
“Ibu meminta kamu datang ke rumah besok.”
Aku menatapnya bingung.
“Untuk apa?”
Budi menggeleng.
“Saya juga belum tahu.”
Indah tiba-tiba berdiri.
“Kalau begitu, aku ikut. Aku juga ingin tahu kenapa calon ibu mertuaku memanggil sekretarismu.”
Tidak ada yang menjawab.
Malam itu aku pulang lebih awal dengan kepala dipenuhi pertanyaan.
Keesokan paginya, sebuah mobil hitam berhenti di depan apartemenku. Sopir keluarga Budi sudah menunggu.
Aku sebenarnya ingin menolak, tetapi rasa penasaran akhirnya membuatku masuk.
Rumah keluarga Budi berada di kawasan Pondok Indah. Selama enam tahun bekerja dengannya, aku hanya pernah datang ke sana dua kali untuk mengantarkan dokumen.
Ketika memasuki ruang tamu, aku mendapati Bu Ratna, ibu Budi, sedang duduk bersama seorang laki-laki tua yang tidak kukenal.
Budi sudah berada di sana.
Indah juga hadir bersama ayahnya, Pak Surya, seorang pengusaha properti ternama.
“Sari, duduk di sebelah Ibu,” kata Bu Ratna.
Aku menurut dengan canggung.
Bu Ratna menggenggam tanganku.
“Kamu masih ingat nama ayahmu?”
Pertanyaan itu membuatku terkejut.
“Tentu, Bu. Nama ayah saya Hendra Prasetyo.”
Laki-laki tua di sebelah Bu Ratna langsung mengangkat wajah.
Bu Ratna menatapnya.
“Benar, kan, Pak?”
Laki-laki itu mengangguk perlahan.
Aku semakin bingung.
“Ada apa sebenarnya, Bu?”
Bu Ratna menarik napas panjang.
“Enam belas tahun lalu, ayahmu pernah menyelamatkan suami Ibu dari kecelakaan mobil di jalan menuju Puncak.”
Aku terdiam.
Aku memang pernah mendengar cerita bahwa ayahku membantu korban kecelakaan saat bekerja sebagai sopir antarkota.
Namun ayah tidak pernah menceritakan siapa orang yang ditolongnya.
“Waktu itu hujan deras,” lanjut Bu Ratna. “Mobil suami Ibu tergelincir dan hampir masuk jurang. Ayahmu bersama beberapa warga menolongnya sebelum petugas datang.”
Mataku mulai berkaca-kaca.
“Ayah saya tidak pernah menceritakan semuanya.”
“Karena beliau tidak pernah meminta imbalan.”
Bu Ratna menggenggam tanganku semakin erat.
“Ketika ayahmu meninggal enam tahun lalu, Ibu baru mengetahui bahwa kamu sedang mencari pekerjaan. Ibu meminta Budi mempertimbangkan lamaranmu, tetapi tetap melalui seleksi seperti pelamar lain.”
Aku menoleh kepada Budi.
Dia menatap lantai.
“Jadi selama ini Bapak tahu siapa ayah saya?”
Budi mengangguk.
“Saya tahu.”
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Karena Ibu melarang saya memperlakukan kamu secara berbeda.”
Aku mengusap air mata.
Namun pertanyaan terbesar belum terjawab.
“Apa hubungannya dengan pertunangan Pak Budi dan Bu Indah?”
Wajah Bu Ratna mendadak berubah serius.
Dia melepaskan tanganku dan menatap Pak Surya.
“Karena semalam saya baru mengetahui alasan sebenarnya keluarga Surya ingin mempercepat pertunangan itu.”
Indah langsung menegakkan punggung.
“Tante, maksudnya apa?”
Bu Ratna menggeser sebuah map ke tengah meja.
“Pak Surya, apakah Bapak mau menjelaskannya sendiri?”
Pak Surya tampak gelisah.
“Saya rasa urusan bisnis tidak perlu dibicarakan di depan orang luar.”
Aku segera berdiri.
“Kalau begitu, saya sebaiknya pergi.”
“Duduk, Sari,” kata Bu Ratna. “Kamu justru orang yang paling perlu mendengar ini.”
Pak Surya menghela napas kesal.
Akhirnya Bu Ratna membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat dokumen kerja sama investasi antara perusahaan keluarga Budi dan perusahaan milik Pak Surya.
Nilainya mencapai tiga ratus miliar rupiah.
Aku mengenali dokumen itu.
Dua bulan sebelumnya, akulah yang mengatur jadwal rapat awal dan menyiapkan rangkuman persyaratan administrasinya.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Dalam salinan yang diperlihatkan Bu Ratna, terdapat lampiran tambahan mengenai pemberian jaminan pribadi dan pengalihan sebagian saham jika proyek gagal mencapai target tertentu.
“Dokumen ini tidak ada dalam berkas yang saya terima sebelumnya,” kataku.
Bu Ratna mengangguk.
“Karena memang baru ditambahkan.”
Pak Surya langsung menyela.
“Itu klausul bisnis biasa!”
Budi mengambil dokumen tersebut dan membacanya dengan wajah mengeras.
“Pak Surya, kenapa ada jaminan pribadi atas nama saya?”
Indah tampak terkejut.
“Papa, bukankah Papa bilang kerja sama ini sudah disetujui semua pihak?”
Pak Surya terdiam.
Bu Ratna melanjutkan.
“Semalam tim hukum kami menemukan bahwa keluarga Surya berharap pertunangan itu diumumkan sebelum dokumen lengkap diberikan kepada Budi. Dengan begitu, penolakan Budi akan menjadi masalah besar bagi kedua keluarga.”
Aku memandang Indah.
Wajahnya semakin pucat.
“Papa tidak pernah cerita soal itu,” bisiknya.
Budi menutup map dengan keras.
“Jadi pertunangan ini digunakan untuk menekan saya?”
Pak Surya berdiri.
“Jangan bicara seolah kamu korban! Perusahaanmu membutuhkan investasi kami!”
Budi ikut berdiri.
“Tapi bukan berarti Bapak boleh menyembunyikan kewajiban sebesar itu!”
Perdebatan semakin panas.
Aku duduk mematung, merasa tidak seharusnya berada di tengah persoalan keluarga mereka.
Namun tiba-tiba Bu Ratna menoleh kepadaku.
“Sari, sebenarnya ada satu alasan lagi Ibu memanggilmu.”
Aku menatapnya.
“Alasan apa, Bu?”
“Dalam laporan pemeriksaan internal, namamu tercantum sebagai orang yang pertama kali mempertanyakan perubahan dokumen kerja sama.”
Aku teringat sesuatu.
Tiga minggu sebelumnya, aku memang pernah mengirim email kepada bagian hukum karena menemukan perbedaan nomor versi kontrak.
Saat itu Budi sedang berada di Singapura.
Aku hanya melakukan pekerjaanku.
“Saya cuma meminta klarifikasi, Bu.”
“Justru karena itu tim hukum mulai memeriksa dokumennya kembali.”
Budi menoleh kepadaku.
“Sari, kenapa kamu tidak bilang kepada saya?”
“Saya sudah mengirim email, Pak.”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan.
“Bapak membalas supaya saya tidak terlalu mencampuri urusan negosiasi.”
Wajah Budi berubah.
Dia tampaknya mengingat email tersebut.
Untuk beberapa saat, suasana ruang tamu benar-benar sunyi.
Indah akhirnya berdiri dan menatap ayahnya.
“Pa, aku mau bertunangan karena aku menyukai Budi. Bukan karena ingin menjebaknya dengan kontrak bisnis.”
Pak Surya menghela napas panjang.
“Indah, Papa hanya ingin memastikan masa depanmu.”
“Tapi Papa tidak bisa menentukan masa depanku dengan cara seperti ini!”
Air mata mengalir di pipi Indah.
Aku memandang perempuan itu dengan perasaan campur aduk.
Selama ini aku menganggap Indah sebagai saingan yang telah memenangkan hati Budi.
Namun sekarang aku menyadari bahwa dia pun sedang dipaksa mengikuti rencana yang tidak sepenuhnya dipahaminya.
Akhirnya Indah mengambil tasnya.
“Pertunangan ini ditunda. Aku perlu memikirkan semuanya.”
Dia berjalan keluar tanpa menunggu jawaban siapa pun.
Pak Surya menyusul beberapa saat kemudian.
Ketika ruangan kembali tenang, aku berdiri dan membungkuk sopan.
“Bu Ratna, terima kasih sudah menjelaskan semuanya. Tapi saya tetap ingin mengundurkan diri.”
Bu Ratna menatapku penuh perhatian.
“Kenapa, Nak?”
“Karena keputusan saya bukan hanya tentang pekerjaan.”
Budi langsung mengangkat wajah.
Aku merasakan dadaku sesak.
Namun kali ini aku tidak ingin berbohong lagi.
“Selama enam tahun, saya mencintai seseorang yang tidak pernah tahu perasaan saya.”
Bu Ratna terdiam.
Budi menatapku tanpa berkedip.
Aku melanjutkan dengan suara bergetar.
“Saya pikir kalau terus bekerja keras, terus memperhatikan kebutuhannya, suatu hari dia akan melihat saya sebagai perempuan, bukan sekadar sekretaris.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Tapi saya salah. Cinta tidak bisa diperoleh hanya dengan menjadi orang yang selalu tersedia.”
Aku mengusap pipi.
“Dan soal pacar yang melamar saya, itu tidak benar. Saya mengarangnya karena malu mengakui alasan saya ingin pergi.”
Budi berdiri perlahan.
“Sari…”
Aku menggeleng.
“Tidak perlu mengatakan apa-apa, Pak. Saya tidak meminta jawaban.”
Aku meninggalkan rumah itu sebelum keberanianku habis.
Tiga minggu kemudian, masa kerjaku resmi berakhir.
Aku menyelesaikan seluruh serah terima pekerjaan dan menyerahkan kartu akses kantor.
Hari terakhirku terasa aneh.
Meja yang selama enam tahun dipenuhi dokumen kini kosong.
Tanaman sirih gading kuberikan kepada Dewi, asisten yang menggantikanku.
“Rawat baik-baik, ya,” kataku.
Dewi tersenyum.
“Pasti, Mbak. Tapi saya enggak mungkin bisa sehebat Mbak Sari.”
Aku menggeleng.
“Kamu tidak harus menjadi seperti saya. Kamu harus punya kehidupan sendiri juga.”

Ketika hendak meninggalkan kantor, pintu lift terbuka.
Budi berdiri di dalamnya.
Dia terlihat lebih kurus.
“Sari, boleh bicara sebentar?”
Aku mengangguk.
Kami masuk ke ruang rapat kecil.
Budi meletakkan sebuah amplop di atas meja.
“Ini surat rekomendasi kerjamu. Saya sudah menulisnya sendiri.”
Aku mengambil amplop tersebut.
“Terima kasih, Pak.”
Dia tersenyum pahit.
“Kamu masih memanggil saya Pak?”
Aku terdiam.
Budi menatapku lama.
“Setelah kamu pergi dari rumah Ibu hari itu, saya membaca ulang email-email yang pernah kamu kirim.”
Aku tidak menjawab.
“Saya baru sadar berapa banyak hal yang selama ini kamu tangani tanpa pernah mengeluh.”
Aku tersenyum kecil.
“Itu memang pekerjaan saya.”
“Tidak semuanya.”
Budi menarik napas panjang.
“Waktu ayah saya dirawat, kamu yang menyiapkan semua dokumen rumah sakit. Saat Ibu ulang tahun, kamu yang memilih hadiah. Bahkan ketika saya sakit dan menolak makan, kamu tetap mengirim bubur ke apartemen.”
Aku menunduk.
“Karena saya peduli.”
“Saya tahu sekarang.”
Budi mendekat satu langkah.
“Sari, bagaimana kalau kita mulai dari awal?”
Aku menatapnya.
Jantungku berdebar seperti dulu.
Namun perasaan itu kini berbeda.
“Mulai apa, Budi?”
Dia terdiam mendengar aku menyebut namanya tanpa gelar.
“Saya ingin mengenal kamu di luar pekerjaan.”
Aku tersenyum sedih.
“Kenapa baru sekarang?”
Budi tidak langsung menjawab.
“Karena selama ini saya mengira kamu akan selalu ada.”
Kalimat itu membuat mataku panas.
Aku menarik napas panjang.
“Aku pernah menunggu selama enam tahun. Tapi aku tidak mau menjadi seseorang yang baru dianggap penting ketika sudah pergi.”
Budi mengangguk perlahan.
“Saya mengerti.”
Aku menggenggam amplop surat rekomendasi itu.
“Kalau kamu benar-benar ingin mengenalku, lakukan tanpa janji apa pun. Aku juga perlu waktu untuk mengenal diriku sendiri.”
Budi tersenyum kecil.
“Baik.”
Aku berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, dia memanggilku.
“Sari.”
Aku menoleh.
“Terima kasih karena dulu kamu berani mempertanyakan kontrak itu. Kalau tidak, mungkin perusahaan kami sudah menghadapi masalah besar.”
Aku mengangguk.
“Itu keputusan terbaik yang bisa kubuat sebagai sekretarismu.”
Kemudian aku tersenyum.
“Dan mengundurkan diri adalah keputusan terbaik yang bisa kubuat untuk diriku sendiri.”
Dua bulan kemudian, aku menerima tawaran bekerja sebagai manajer operasional di perusahaan milik Eko.
Gajinya memang hampir dua kali lipat.
Namun yang paling membuatku bahagia bukan jumlah uangnya.
Melainkan jam kerja yang lebih manusiawi dan kesempatan mengambil keputusan sendiri.
Aku mulai mengikuti kelas melukis setiap Sabtu.
Aku kembali mengunjungi ibuku di Bandung lebih sering.
Aku bahkan pergi berlibur sendirian ke Yogyakarta, sesuatu yang selama enam tahun selalu kutunda karena takut Budi membutuhkan bantuanku.
Suatu sore, ketika sedang duduk di sebuah kafe di Jalan Braga, ponselku berdering.
Nama Budi muncul di layar.
Aku tersenyum tanpa sadar.
“Halo?”
“Sari, kamu sedang sibuk?”
“Sedang minum kopi.”
“Sendirian?”
“Iya.”
Dia terdiam sebentar.
“Boleh saya bergabung?”
Aku tertawa.
“Kamu tahu aku sedang di mana?”
“Bandung.”
Aku mengerutkan kening.
“Dari mana kamu tahu?”
“Kamu mengunggah foto kafe itu tadi.”
Aku tersenyum kecil.
“Jadi kamu memperhatikan unggahanku sekarang?”
Budi tertawa pelan.
“Sepertinya iya.”
Aku menatap secangkir kopi di depanku.
“Budi, kamu tidak perlu datang jauh-jauh hanya karena merasa kehilangan sekretarismu.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
Dia menjawab setelah beberapa detik.
“Karena aku ingin bertemu Sari. Bukan sekretarisku. Bukan orang yang mengatur hidupku. Hanya Sari.”
Aku terdiam.
Kemudian menjawab perlahan.
“Kalau begitu, datanglah. Tapi kali ini kamu harus memesan kopimu sendiri.”
Budi tertawa.
“Baik.”
Satu jam kemudian, dia benar-benar datang.
Tanpa jas mahal.
Tanpa tumpukan dokumen.
Tanpa memintaku menyiapkan apa pun.
Dia duduk di hadapanku dengan sedikit canggung.
Untuk pertama kalinya, aku melihat Budi sebagai laki-laki biasa, bukan atasan yang selama ini kuletakkan terlalu tinggi dalam hatiku.
Kami berbicara tentang banyak hal.
Tentang masa kecil.
Tentang makanan kesukaan.
Tentang impian yang belum sempat diwujudkan.
Dia bercerita bahwa hubungannya dengan Indah memang sudah berakhir setelah keduanya sepakat tidak memiliki perasaan yang cukup kuat untuk membangun pernikahan.
Aku mendengarkan tanpa merasa perlu bersaing dengan siapa pun.
Ketika matahari mulai tenggelam, Budi bertanya pelan.
“Sari, boleh aku mengajakmu makan malam minggu depan?”
Aku menatapnya cukup lama.
Dulu, pertanyaan itu mungkin sudah membuatku menangis bahagia.
Sekarang aku hanya tersenyum.
“Boleh. Tapi jangan berharap aku langsung menerima semua ajakanmu.”
Dia mengangguk.
“Aku tidak akan memaksamu.”
Aku memandang langit Bandung yang mulai berubah jingga.
Enam tahun lalu, aku mengira cinta berarti selalu ada ketika seseorang membutuhkan kita.
Sekarang aku memahami bahwa cinta juga harus memberi ruang bagi seseorang untuk menjadi dirinya sendiri.
Aku tidak tahu apakah hubunganku dengan Budi akan berakhir di pelaminan.
Mungkin iya.
Mungkin tidak.
Namun untuk pertama kalinya, kemungkinan itu tidak membuatku takut.
Karena kebahagiaanku tidak lagi bergantung pada jawabannya.
Saat kami meninggalkan kafe, Budi berjalan di sampingku.
Dia tidak memintaku membawakan tasnya.
Tidak menyuruhku menghubungi sopir.
Tidak menanyakan jadwal rapat esok pagi.
Dia hanya bertanya sederhana.
“Sari, kamu suka jalan kaki?”
Aku tertawa.
“Suka. Kenapa?”
“Kalau begitu, boleh kita jalan sebentar?”
Aku mengangguk.
Dan di tengah keramaian Jalan Braga, aku akhirnya merasakan sesuatu yang selama enam tahun tidak pernah benar-benar kumiliki.
Bukan kepastian tentang cinta Budi.
Melainkan kebebasan untuk memilih siapa yang boleh berjalan di sampingku.
Sore ketika aku menulis surat pengunduran diri dalam lima menit, aku mengira sedang kehilangan laki-laki yang kucintai.
Ternyata aku justru sedang menemukan perempuan yang selama ini kulupakan.
Diriku sendiri.
