SETELAH AKU MENIKAH, IBU DATANG MEMBAWA SATU KILOGRAM BERAS. NAMUN, IBU

“Jawab aku, Budi. Siapa sebenarnya Dewi?”

Budi berdiri mematung di depan pintu kamar mandi. Air masih menetes dari rambutnya, tetapi wajahnya mendadak pucat seperti seseorang yang baru saja tertangkap melakukan kesalahan besar.

“Dewi itu sepupu jauhku,” jawabnya setelah beberapa detik.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Sepupu jauh yang harus kamu belikan rumah menggunakan uang tabungan kita?”

Budi mengusap wajahnya.

“Siti, kamu salah paham. Mama cuma membantu Dewi karena dia sedang kesulitan.”

“Kalau begitu, kenapa harus dirahasiakan dariku?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengambil ponselku dan membuka riwayat transfer.

Enam bulan sebelum menikah, Budi memintaku memindahkan tabungan sebesar delapan puluh juta rupiah ke rekening khusus yang katanya akan digunakan untuk uang muka rumah kami.

Aku masih mengingat bagaimana dia menggenggam tanganku saat itu.

“Percaya sama aku, Sit. Setelah menikah, kita enggak perlu lama-lama tinggal sama Mama.”

Aku percaya.

Ternyata, baru tiga hari menjadi istrinya, aku sudah mengetahui bahwa uang tersebut mungkin digunakan untuk perempuan lain.

“Aku mau lihat mutasi rekening itu,” kataku.

Budi mengerutkan kening.

“Kamu enggak percaya sama suami sendiri?”

“Kepercayaan bukan alasan untuk menyembunyikan uang orang lain.”

Wajahnya memerah.

“Jangan mulai bertengkar hanya karena urusan keluarga!”

Aku mengangguk perlahan.

“Baik. Besok aku akan mencari tahu sendiri.”

Malam itu Budi tidur membelakangiku. Aku tidak memejamkan mata hingga azan Subuh terdengar.

Pagi harinya, aku meminta izin terlambat masuk kerja dan mendatangi bank tempat rekening tabunganku berada. Petugas membantu mencetak riwayat transfer dari rekening pribadiku.

Uang delapan puluh juta itu memang sudah masuk ke rekening Budi.

Namun setelahnya, aku tidak memiliki akses untuk mengetahui ke mana uang tersebut dipindahkan.

Aku lalu menelepon sahabatku, Rina, yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan properti.

“Rin, kamu pernah dengar nama Dewi Anggraini?”

Rina terdiam.

“Dewi yang kerja di butik daerah Kelapa Gading?”

Jantungku berdebar.

“Kamu kenal?”

“Dulu dia pernah datang ke kantorku untuk menanyakan apartemen. Katanya mau dibelikan rumah oleh calon suaminya.”

Aku menggenggam ponsel semakin erat.

“Calon suaminya siapa?”

Rina ragu menjawab.

“Sit, kamu yakin mau tahu?”

“Rina, tolong.”

“Dia pernah datang bersama Budi.”

Dunia seolah berhenti berputar.

Aku bersandar pada dinding bank agar tidak jatuh.

“Sejak kapan?”

“Sekitar empat bulan lalu. Aku enggak tahu mereka punya hubungan apa. Kupikir Budi sedang membantu saudaranya.”

Aku menutup mata.

Empat bulan lalu, aku masih sibuk mempersiapkan pernikahan.

Aku bahkan mengambil pekerjaan tambahan untuk membayar biaya resepsi agar Budi tidak terlalu terbebani.

Sementara itu, calon suamiku justru mengantar perempuan lain melihat apartemen.

Siang harinya, Rina mengirimkan alamat butik tempat Dewi bekerja.

Aku datang setelah pulang kantor.

Butik itu tidak terlalu besar, tetapi interiornya tampak mewah. Di balik meja kasir, seorang perempuan berambut panjang sedang melayani pelanggan.

Aku langsung mengenalinya dari foto yang pernah kulihat di media sosial.

“Permisi, Mbak Dewi?”

Dia menoleh sambil tersenyum.

“Iya, ada yang bisa saya bantu?”

“Nama saya Siti. Istri Budi.”

Senyumnya langsung menghilang.

Tangannya yang sedang memegang gantungan pakaian berhenti bergerak.

“Budi yang mana?”

Aku hampir tertawa mendengar pertanyaan itu.

“Budi Pratama. Laki-laki yang menemanimu melihat apartemen empat bulan lalu.”

Wajah Dewi memucat.

Dia mempersilakanku masuk ke ruang kecil di belakang butik.

Begitu pintu tertutup, Dewi langsung bertanya dengan suara gemetar.

“Kamu benar-benar sudah menikah dengan Budi?”

Aku memperlihatkan foto pernikahan kami.

Dewi menutup mulutnya.

“Ya Allah…”

Aku memperhatikannya.

Reaksinya tidak seperti perempuan yang sengaja merebut suami orang.

Dia justru terlihat seperti seseorang yang baru mengetahui dirinya telah dibohongi.

“Budi bilang apa tentang aku?” tanyaku.

Air mata mulai menggenang di matanya.

“Dia bilang kalian sudah putus hampir setahun lalu.”

Dadaku terasa sesak.

“Lalu hubungan kalian?”

Dewi menunduk.

“Kami sudah bersama selama delapan bulan. Dia bilang akan melamarku setelah urusan rumah selesai.”

Aku menggenggam ujung kursi.

“Rumah itu dibeli memakai uang siapa?”

Dewi menggeleng cepat.

“Aku enggak tahu. Budi bilang dia menggunakan tabungan pribadi dan bantuan Mamanya.”

Kemudian dia mengeluarkan ponsel.

“Aku punya percakapan kami. Kalau kamu mau lihat…”

Aku membaca pesan-pesan itu dengan tangan gemetar.

Budi berkali-kali menjanjikan pernikahan kepada Dewi.

Bahkan dua hari sebelum menikah denganku, dia masih mengirim pesan.

Tunggu sebentar lagi, Sayang. Setelah urusan keluarga selesai, kita bisa tinggal bersama.

Aku menatap tanggal pesan itu.

Dua hari sebelum akad nikah kami.

Malam ketika aku dan Ibu sibuk menyiapkan perlengkapan pernikahan, Budi sedang menjanjikan masa depan kepada perempuan lain.

Dewi menangis.

“Siti, aku benar-benar enggak tahu. Dia bahkan memperkenalkan ibunya kepadaku.”

Aku mengangkat wajah.

“Ibunya tahu hubungan kalian?”

Dewi mengangguk.

“Bu Sari pernah bilang aku lebih cocok jadi menantunya. Dia juga membantu memilih apartemen.”

Aku terdiam lama.

Sekarang semuanya mulai masuk akal.

Mengapa Bu Sari begitu mudah menghina keluargaku.

Mengapa dia selalu memperlakukanku seperti orang asing.

Dan mengapa uang tabunganku diam-diam dipindahkan untuk membiayai rumah perempuan lain.

Ternyata, sejak sebelum pernikahan berlangsung, aku sudah menjadi orang yang tidak diinginkan dalam keluarga itu.

Namun, masih ada satu pertanyaan.

“Kalau Bu Sari lebih menyukaimu, kenapa dia membiarkan Budi menikah denganku?”

Dewi menatapku dengan bingung.

“Aku juga enggak tahu.”

Aku pulang dengan membawa salinan percakapan yang diberikan Dewi secara sukarela.

Malam itu, aku tidak langsung menghadapi Budi.

Aku justru menghubungi seorang pengacara bernama Bu Maya, teman lama kakak sepupuku.

Setelah mendengar ceritaku, dia menyarankan agar aku mengumpulkan bukti keuangan dan menyimpan dokumen pribadi di tempat aman.

“Jangan membuat keputusan ketika sedang marah, Siti,” katanya. “Kamu punya hak untuk meminta pertanggungjawaban atas uangmu. Tapi semuanya harus dibuktikan.”

Aku mengangguk.

Keesokan paginya, ketika Budi berangkat kerja, aku mengambil beberapa pakaian dan dokumen pribadiku.

Kemudian aku pulang ke rumah Ibu di kampung.

Begitu melihatku turun dari mobil, Ibu langsung tersenyum.

“Lho, Siti? Kok enggak bilang mau pulang?”

Aku mencoba membalas senyumnya.

Namun ketika beliau melihat mataku yang sembap, senyumnya perlahan menghilang.

“Ada apa, Nduk?”

Aku tidak mampu menjawab.

Aku hanya memeluk tubuhnya erat-erat.

“Ibu… maafkan aku.”

Ibu mengusap punggungku.

“Kenapa minta maaf?”

“Aku enggak bisa mempertahankan rumah tanggaku.”

Ibu terdiam.

Kemudian beliau berkata pelan.

“Nduk, rumah tangga itu dijaga berdua. Kalau hanya kamu yang berusaha, sampai kapan pun kamu akan kelelahan.”

Tangisku semakin keras.

Aku menceritakan semuanya.

Tentang beras yang dibuang.

Tentang penghinaan Bu Sari.

Tentang tabungan delapan puluh juta rupiah.

Dan tentang Dewi.

Ibu mendengarkan tanpa menyela.

Ketika ceritaku selesai, beliau hanya menghela napas panjang.

“Jadi beras yang Ibu bawa kemarin dibuang?”

Aku mengangguk.

“Iya, Bu.”

Ibu menunduk.

Untuk beberapa saat, beliau hanya memandangi tangannya yang kasar.

Kemudian tersenyum kecil.

“Sayang sekali. Padahal itu beras terbaik dari panen terakhir.”

Aku langsung menangis lagi.

“Ibu enggak marah?”

“Marah untuk apa? Beras itu bisa ditanam lagi.”

Beliau menggenggam tanganku.

“Tapi hati anak Ibu yang disakiti, itu yang lebih sulit diperbaiki.”

Sore harinya, Budi datang bersama Bu Sari.

Mereka tampak marah.

Begitu memasuki halaman rumah, Bu Sari langsung berbicara dengan suara keras.

“Siti! Kamu ini istri macam apa? Baru menikah beberapa hari sudah kabur ke rumah orang tua!”

Ibu berdiri di ambang pintu.

“Silakan masuk dulu, Bu. Kita bicara baik-baik.”

Namun Bu Sari justru memandang rumah sederhana kami dengan wajah meremehkan.

“Pantas saja Siti tidak tahu aturan. Rupanya dari rumah memang tidak diajari menghormati keluarga suami.”

Aku langsung berdiri.

“Bu, jangan hina Ibu saya.”

Budi menarik lenganku.

“Siti, jangan mulai lagi.”

Aku melepaskan tangannya.

“Budi, aku sudah tahu tentang Dewi.”

Wajah Budi berubah pucat.

Bu Sari mendadak terdiam.

Aku mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan percakapan yang diberikan Dewi.

“Delapan bulan kamu menjalin hubungan dengannya. Dua hari sebelum menikahiku, kamu masih menjanjikan pernikahan kepadanya.”

Budi menelan ludah.

“Itu…”

“Jangan bohong lagi.”

Bu Sari tiba-tiba menyela.

“Laki-laki memang kadang salah langkah. Yang penting sekarang Budi sudah menikahimu!”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi Ibu sudah tahu?”

Bu Sari mengalihkan pandangan.

Ibu yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

“Bu Sari, saya memang orang sederhana. Tapi saya tidak pernah mengajarkan anak saya mengambil sesuatu yang bukan haknya.”

Bu Sari mendengus.

“Memangnya keluarga kami mengambil apa?”

Aku mengangkat bukti transfer.

“Delapan puluh juta rupiah tabunganku. Uang yang Budi bilang akan digunakan untuk membeli rumah kami.”

Budi menunduk.

Ibu menatapnya.

“Budi, benar uang Siti dipakai untuk membantu membeli rumah perempuan lain?”

Budi tidak menjawab.

Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Aku menarik napas panjang.

“Budi, aku ingin kita berpisah.”

Dia langsung mengangkat kepala.

“Siti, jangan berlebihan!”

“Aku sudah memikirkannya.”

Bu Sari tertawa sinis.

“Cerai? Baru menikah beberapa hari sudah minta cerai? Memangnya siapa yang mau menerima perempuan seperti kamu?”

Aku menatapnya tenang.

“Saya tidak sedang mencari laki-laki lain, Bu. Saya hanya ingin hidup tanpa terus dihina dan dibohongi.”

Wajah Bu Sari memerah.

Budi mencoba mendekat.

“Siti, aku bisa menjelaskan semuanya.”

Aku menggeleng.

“Penjelasanmu terlambat.”

Mereka akhirnya pergi dengan kemarahan yang belum reda.

Beberapa hari kemudian, Bu Maya membantu mengajukan langkah hukum yang diperlukan dan menuntut pertanggungjawaban atas uang tabunganku.

Budi awalnya menolak.

Dia mengatakan uang tersebut adalah pemberian sukarela.

Namun bukti percakapan kami menunjukkan bahwa uang itu diserahkan untuk tujuan khusus, yaitu pembayaran rumah yang akan kami tempati bersama.

Setelah melalui mediasi dan nasihat hukum, Budi akhirnya menyetujui pengembalian uang secara bertahap melalui kesepakatan tertulis.

Sementara itu, Dewi memutuskan hubungan dengannya setelah mengetahui seluruh kebohongannya.

Dia bahkan mengirimkan pesan kepadaku.

Siti, aku minta maaf karena tanpa sadar menjadi bagian dari penderitaanmu. Aku juga sudah memutuskan untuk pergi. Semoga kita sama-sama menemukan kehidupan yang lebih baik.

Aku membalasnya singkat.

Kita sama-sama dibohongi. Semoga kamu baik-baik saja.

Beberapa bulan kemudian, perceraian kami resmi selesai.

Aku kembali bekerja dan mulai menabung dari awal.

Suatu hari, Ibu mengajakku ke sawah.

Musim panen baru saja dimulai.

Hamparan padi menguning tertiup angin sore.

Ibu berjalan perlahan di pematang sambil membawa caping tua.

“Nduk, lihat itu.”

Aku menoleh.

“Padi kita bagus tahun ini.”

Ibu tersenyum.

“Dulu, waktu ayahmu masih hidup, dia selalu bilang bahwa padi yang berisi akan semakin merunduk.”

Aku mengangguk.

“Masih ingat, Bu.”

Ibu memandangku.

“Orang yang benar-benar punya harga diri tidak perlu merendahkan orang lain supaya terlihat lebih tinggi.”

Aku terdiam.

Kalimat itu membuatku teringat Bu Sari.

Rumahnya besar.

Perhiasannya mahal.

Namun dia tidak mampu menghargai pemberian sederhana dari orang lain.

Sebaliknya, Ibuku yang hidup sederhana justru selalu berusaha memberi meskipun dirinya sendiri tidak memiliki banyak.

Beberapa minggu kemudian, Ibu mengirimkan satu karung kecil beras ke tempat tinggalku yang baru.

Kali ini jumlahnya lima kilogram.

Di atas karung tersebut terdapat secarik kertas.

Tulisan tangan Ibu terlihat tidak terlalu rapi.

Siti, ini beras dari sawah kita. Ibu tahu kamu sekarang bisa membeli beras sendiri. Tapi selama Ibu masih kuat bekerja, Ibu ingin tetap mengirim hasil panen untuk anak Ibu.

Aku membaca pesan itu sambil menangis.

Beras tersebut kusimpan dengan hati-hati.

Malamnya aku memasak nasi hangat dan lauk sederhana.

Ketika suapan pertama masuk ke mulutku, aku merasakan sesuatu yang sudah lama hilang.

Ketenangan.

Tidak ada suara Bu Sari yang merendahkan keluargaku.

Tidak ada Budi yang memintaku mengalah.

Tidak ada lagi rahasia tentang uang yang disembunyikan di belakangku.

Hanya ada aku, sepiring nasi hangat, dan rasa syukur karena akhirnya mampu menentukan hidupku sendiri.

Setahun kemudian, aku berhasil membuka usaha katering kecil bersama dua teman.

Kami menerima pesanan makan siang untuk karyawan kantor dan beberapa acara keluarga.

Aku menggunakan beras dari petani lokal, termasuk hasil panen kelompok tani tempat Ibu bekerja.

Suatu hari, seorang pelanggan bertanya mengapa aku begitu teliti memilih beras.

Aku tersenyum.

“Karena saya tahu, di balik setiap butirnya ada kerja keras seseorang.”

Pelanggan itu mengangguk tanpa mengetahui betapa dalam makna kalimat tersebut bagiku.

Beberapa waktu kemudian, aku mendengar kabar bahwa Budi dan ibunya pindah ke rumah yang lebih kecil setelah menghadapi kesulitan keuangan.

Aku tidak mencari tahu lebih jauh.

Aku juga tidak merasa senang mendengar kesulitan mereka.

Masing-masing orang harus menjalani akibat dari keputusan yang dibuatnya.

Dan aku tidak ingin menghabiskan hidup dengan terus memikirkan orang-orang yang pernah menyakitiku.

Pada ulang tahun Ibu yang keenam puluh, aku mengajaknya makan di sebuah restoran sederhana.

Aku memesan nasi hangat, ayam bakar, sayur asem, dan sambal kesukaannya.

Ibu tertawa ketika melihat makanan memenuhi meja.

“Wah, banyak sekali, Nduk. Kita berdua mana habis?”

Aku tersenyum.

“Kalau enggak habis, kita bungkus, Bu.”

Ibu mengangguk puas.

“Bagus. Makanan jangan dibuang.”

Aku terdiam sesaat.

Kemudian menggenggam tangannya.

“Bu, aku masih ingat beras satu kilo yang dulu Ibu bawa.”

Ibu tersenyum.

“Kenapa masih diingat?”

“Karena dari situ aku belajar sesuatu.”

“Apa?”

Aku menatap wajahnya yang mulai dipenuhi kerutan.

“Bahwa nilai sebuah pemberian tidak ditentukan oleh harganya. Dan nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh kekayaannya.”

Ibu mengusap kepalaku seperti ketika aku masih kecil.

“Nduk, Ibu cuma ingin kamu hidup bahagia.”

Aku mengangguk sambil menahan air mata.

“Sekarang aku bahagia, Bu.”

Di luar restoran, hujan mulai turun perlahan.

Aku memandang jalanan yang basah sambil mengingat hari ketika menemukan beras pemberian Ibu di tempat sampah.

Saat itu aku mengira hidupku telah hancur hanya karena satu kilogram beras.

Ternyata, beras itu justru membuka mataku terhadap sesuatu yang selama ini tidak ingin kulihat.

Aku hampir menghabiskan hidup bersama orang-orang yang menganggap kasih sayang sebagai sesuatu yang bisa diukur dengan uang.

Untungnya, aku pergi sebelum kehilangan harga diriku sendiri.

Kini aku memahami bahwa tidak semua rumah besar menawarkan kehangatan.

Tidak semua meja makan mewah dipenuhi rasa hormat.

Dan tidak semua orang yang hidup sederhana memiliki hati yang miskin.

Kadang, cinta paling tulus justru datang dalam bentuk yang paling sederhana.

Seperti satu kilogram beras dari tangan seorang ibu yang kasar karena bekerja.

Beras itu mungkin hanya cukup untuk beberapa kali makan.

Namun kasih sayang yang menyertainya akan mengenyangkan hatiku seumur hidup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang