Hari Kedua Arjuna

Malam semakin larut, namun bayang-bayang tiga belas hari lalu terus berputar di benakku seperti guliran film lama yang tidak bisa dihentikan. Surat cerai yang kutandatangani di atas meja kamar

tidur vila itu kini telah sampai di tangan Arjuna. Aku sangat yakin. Di sebuah kafe kecil berukuran sedang di pinggiran Jakarta, tempat lampu-lampu gantung temaram memantulkan bayangan hangat di atas meja kayu, aku menyuapkan bubur halus ke mulut putri kecilku. Dia mengunyah perlahan, matanya yang bulat mengerjap lucu, sama sekali tidak tahu bahwa ibunya baru saja memutus tali rantai hidup yang selama ini menjerat. Ponsel di dalam tas kecilku bergetar sekali, lalu dua kali, kemudian berderit tanpa henti menandakan puluhan panggilan masuk dari nomor yang sangat kuhafal. Arjuna menelepon. Suara dering itu bercampur dengan alunan musik akustik yang lembut di kafe, tetapi hatiku justru terasa jauh lebih sunyi dan tenang daripada saat aku masih terkurung di dalam dinding-dinding mewah vila tersebut. Aku membiarkan layar itu menyala hingga mati dengan sendirinya, menolak untuk mengangkat dan mendengarkan suara panik, amarah, atau kebingungan yang dibuat-buat dari lelaki yang selama ini kupanggil suami.

Hari itu, tepat di hari kedua kepulangannya dari Paris, kepanikan yang kuramalkan benar-benar terjadi. Bu Indah sempat menceritakan semuanya lewat pesan suara singkat yang masuk sesaat sebelum aku mengganti kartu ponselku. Menurut Bu Indah, Arjuna pulang dengan langkah lebar, membawa buket mawar sampanye persis seperti dugaannya, dan langsung mendapati rumah dalam keadaan kosong melompong. Lemari pakaian yang separuh kosong, kamar bayi yang bersih tanpa sisa, serta secarik surat cerai di atas meja kecil di samping ranjang berhasil merobohkan topeng ketenangannya. Arjuna tidak menyangka bahwa pengkhianatan kecil yang disembunyikannya di balik perjalanan bisnis Eropa itu akan dibalas dengan sebuah keheningan mutlak yang jauh lebih mematikan daripada teriakan amarah. Dia tidak mendapati istrinya menangis di sudut ruangan atau menelepon mertuanya untuk mengadu. Sari yang dikenalnya penurut, lembut, dan selalu mengalah kini telah lenyap tanpa jejak, menyisakan seorang ibu yang memegang kendali penuh atas masa depan anaknya sendiri.

Namun, kejutan terbesar bukanlah pada keputusanku untuk pergi, melainkan pada kebenaran busuk di balik rekening investasi keluarga yang selama ini kututupi rapat-rapat demi menjaga keutuhan rumah tangga. Dua hari setelah aku menempati rumah baruku, seorang kenalan lama dari kantor notaris suamiku menghubungiku secara diam-diam. Namanya Pak Hermawan, orang tua yang dulu pernah membantu mengurus surat-surat peralihan ruko warisan mendiang ayahku. Melalui sambungan telepon dengan suara bergetar, Pak Hermawan meminta maaf dan memberitahuku sebuah kenyataan yang membuat duniaku mendadak runtuh sebelum akhirnya bangkit kembali dengan kesadaran penuh. Ternyata, penarikan dana sebesar sembilan ratus juta rupiah dari rekening investasi itu bukan sekadar kebijakan bisnis biasa. Arjuna tidak pernah menginvestasikannya ke dalam perusahaan properti seperti yang dia janjikan di atas meja makan malam tahun lalu. Seluruh uang hasil keringat orang tuaku dialihkan ke rekening pribadi atas nama Dewi, digunakan bukan hanya untuk uang muka apartemen mewah di kawasan Menteng, melainkan juga untuk melunasi utang-utang judi online rahasia yang digeluti Arjuna selama dua tahun terakhir tanpa sepengetahuanku.

Lelaki yang tampak begitu sempurna di luar, mengenakan jas bermerek terkenal, berjalan dengan dagu terangkat di antara rekan-rekan bisnis elit Jakarta, ternyata sedang berdiri di tepi jurang kebangkrutan finansial. Perusahaan yang dibanggakannya itu sebenarnya sudah berada di ambang sita bank, dan pernikahan kami hanyalah kedok estetika sosial untuk menutupi kebusukan hidupnya dari para investor luar. Dewi bukan sekadar selingkuhan yang menemaninya ke Paris; perempuan itu adalah bagian dari lingkaran hitam yang sama, seseorang yang memegang kendali atas sebagian dokumen keuangan palsu yang dibuat Arjuna untuk meminjam uang dari rentenir berkedok koperasi simpan pinjam. Ketika aku menyadari hal itu, rasa sakit hatiku berubah menjadi kelegaan yang luar biasa. Aku bersyukur putriku masih terlalu kecil untuk mengerti arti dari semua kepalsuan ini, dan aku bersyukur aku memutuskan untuk pergi sebelum lembaran hitam Arjuna menyeret kami berdua ke dalam penjara hutang yang tidak berujung.

Satu minggu berlalu sejak surat cerai itu kutinggalkan. Pintu kafe tiba-tiba berderit pelan, mengalihkan perhatianku dari cangkir teh chamomile yang mulai dingin. Seorang lelaki berjas kusut dengan rambut sedikit berantakan dan napas memburu berdiri di ambang pintu. Matanya, yang biasanya memancarkan kesombongan dingin, kini terlihat merah, kosong, dan dipenuhi keputusasaan yang nyata. Arjuna menemukanku. Dia berdiri di sana, di tengah keremangan lampu kafe, memegang buket mawar sampanye yang kini sudah layu dan kelopak bunganya mulai rontok di lantai keramik. Dia melangkah mendekatiku dengan langkah gontai, seolah-olah beban seluruh dunia sedang menghimpit pundaknya. Tanpa memedulikan tatapan dari pengunjung lain, Arjuna berlutut di sebelah kursi bayiku, napasnya memburu saat dia mencoba meraih ujung bajuku dengan tangan yang bergetar hebat.

– Sari… kumohon, pulanglah. Perusahaan sedang kacau, apartemen itu… aku bisa jelaskan semuanya, itu semua salah paham… Dewi hanya rekan bisnis yang…

Aku menunduk menatapnya, tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi rasa benci yang membakar dada, yang tersisa hanyalah keheningan yang dingin dan senyuman tipis di sudut bibirku. Aku merapikan selimut putriku, mengangkat wajahku menatap tepat ke dalam matanya yang ketakutan, lalu berbisik pelan dengan nada suara yang sangat tenang.

– Arjuna, kamu salah besar. Aku bukan sedang kabur karena cemburu pada Dewi, dan aku tidak butuh penjelasan tentang uang ruko warisanku yang kamu pakai untuk membayar utang judimu. Surat panggilan dari pengadilan agama akan sampai besok pagi, dan kuharap kamu tidak lupa menandatangani surat cerai yang sudah kusiapkan, karena aku tidak punya waktu lagi untuk mengurus sampah dari masa laluku.

Arjuna tertegun di lantai, membeku tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun sementara aku bangkit menggendong putriku, melangkah melewati bayangannya menuju pintu keluar, menyambut senja Jakarta yang membentang luas di luar sana dengan kebebasan yang sejati.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang