SEHARI SEBELUM BERCERAI, SUAMIKU

Tiga hari sebelum pernikahan Budi dan Dewi, pengacaraku menelepon dengan kabar yang membuatku hampir menjatuhkan ponsel.

“Sari, kami menemukan bukti bahwa salah satu perusahaan pemasok yang menerima uang ayahmu ternyata dikendalikan oleh orang dekat Budi.”

Aku sedang duduk di kamar kos, melipat pakaian bayi yang baru kubeli dari toko daring.

“Siapa, Pak Setyo?”

“Namanya Hendra Wijaya. Dia paman Dewi.”

Aku terdiam.

Nama itu pernah kudengar.

Dulu, Budi sering memujinya sebagai pengusaha sukses yang memiliki banyak koneksi di bidang konstruksi.

Bahkan ketika ayahku sedang mencari pemasok baru, Budi sendiri yang memperkenalkan Hendra.

“Berarti Budi terlibat?”

“Belum tentu. Tapi ada surat elektronik yang menunjukkan Budi mengetahui perubahan rekening pembayaran sebelum uang dikirim. Kita perlu memeriksa apakah dia mengetahui bahwa barang yang dijanjikan tidak pernah dikirim seluruhnya.”

Aku mengusap perutku perlahan.

“Berapa jumlah kerugiannya?”

“Sejauh dokumen yang berhasil diperiksa, sekitar dua koma delapan miliar rupiah.”

Napas terasa tertahan di tenggorokanku.

Dua koma delapan miliar.

Angka itu hampir sama dengan dana yang ayahku pinjam untuk mempertahankan proyek terakhir perusahaannya.

Aku teringat malam ketika Ayah duduk sendirian di ruang kerja, memandangi laporan keuangan dengan mata merah.

Beliau pernah berkata, “Ayah enggak mengerti, Sar. Barang belum semuanya datang, tapi uang perusahaan terus berkurang.”

Saat itu aku mengira Ayah hanya sedang menghadapi kesulitan bisnis biasa.

Sekarang aku mulai memahami mengapa beliau begitu putus asa.

“Pak Setyo, apakah ada cara memulihkan uang itu?”

“Kita akan berusaha melalui langkah hukum. Tapi kamu harus bersiap karena prosesnya mungkin panjang.”

Aku mengangguk, meskipun beliau tidak bisa melihatnya.

“Yang penting saya ingin tahu siapa yang bertanggung jawab.”

Setelah menutup telepon, aku mengambil foto ayah dari meja.

Senyumnya dalam foto itu masih sama seperti ketika mengantarku menikah lima tahun lalu.

“Ayah, Sari akan mencari kebenarannya.”

Air mataku jatuh di atas bingkai.

Namun kali ini aku tidak membiarkannya menguasai seluruh hariku.

Aku harus menjaga diriku.

Dan bayi yang sedang tumbuh di dalam kandunganku.

Pagi hari pernikahan Budi tiba dengan langit Jakarta yang cerah.

Aku mengenakan gaun panjang berwarna biru muda, sederhana tetapi nyaman.

Kehamilanku sudah memasuki bulan kelima.

Perutku mulai terlihat jelas.

Setelah memastikan hasil pemeriksaan kehamilan dan surat dari pengacara tersimpan di dalam tas, aku berangkat bersama sahabatku, Maya.

“Yakin mau datang?” tanyanya ketika mobil kami mendekati hotel.

Aku mengangguk.

“Aku enggak datang untuk membuat keributan.”

“Kalau Budi menghina kamu lagi?”

Aku tersenyum kecil.

“Kali ini aku tahu kapan harus pergi.”

Ballroom hotel dipenuhi dekorasi bunga putih dan emas.

Foto Budi dan Dewi terpajang besar di dekat pintu masuk.

Di bawah foto itu terdapat tulisan mengenai awal perjalanan cinta mereka.

Aku membacanya sebentar.

Tanggal yang tercantum membuatku tersenyum getir.

Hubungan mereka rupanya dimulai jauh sebelum perceraian kami.

Ketika aku sedang merawat Ayah di rumah sakit, Budi ternyata sudah sibuk membangun kisah cinta dengan perempuan lain.

“Sudah, Sar. Jangan dilihat terus,” bisik Maya.

Aku mengangguk dan melangkah masuk.

Beberapa tamu langsung memperhatikanku.

Aku mengenali Joko dan Agus yang dahulu mengejekku ketika menjual tas bermerek.

Joko menjadi orang pertama yang menghampiri.

“Wah, Sari! Akhirnya datang juga.”

Matanya turun ke perutku.

Senyumnya langsung menghilang.

“Sar… kamu hamil?”

Aku menatapnya tenang.

“Iya.”

Agus yang berdiri di sebelahnya ikut terkejut.

“Sejak kapan?”

“Lima bulan.”

Keduanya saling berpandangan.

Aku tahu apa yang sedang mereka hitung.

Lima bulan.

Sedangkan perceraianku dengan Budi baru berlangsung sekitar empat bulan sebelumnya.

Belum sempat mereka bertanya lagi, sebuah suara terdengar dari belakang.

“Sari?”

Aku menoleh.

Budi berdiri mengenakan jas pengantin berwarna krem.

Wajahnya yang semula tersenyum langsung berubah pucat.

Tatapannya terpaku pada perutku.

“Kamu… hamil?”

Aku mengangguk.

“Selamat atas pernikahanmu, Budi.”

Dia tidak membalas ucapan itu.

Matanya terus menatap perutku.

“Anak siapa?”

Pertanyaan tersebut membuat dadaku terasa nyeri.

Aku menatapnya lama.

“Menurutmu?”

Budi mundur selangkah.

“Tidak mungkin.”

Aku mengambil amplop dari tas.

“Ini hasil pemeriksaan dokter. Usia kehamilannya sesuai dengan waktu ketika kita masih menikah.”

Tangannya gemetar ketika menerima amplop itu.

Dia membaca isinya.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian wajahnya berubah semakin pucat.

“Sari, kenapa kamu tidak memberitahuku?”

Aku tertawa getir.

“Aku sudah mencoba menghubungimu.”

Budi terdiam.

“Kamu bilang aku harus berhenti mencari alasan untuk bertemu.”

Dia menunduk.

“Aku enggak tahu…”

“Kamu memang tidak mau tahu.”

Saat itulah Dewi muncul.

Gaun pengantinnya berkilauan di bawah lampu ballroom.

“Mas, kenapa lama sekali?”

Dia berhenti ketika melihatku.

Lalu pandangannya turun ke perutku.

Wajahnya langsung menegang.

“Sari, kamu datang dengan perut sebesar itu untuk mempermalukan aku?”

Aku menggeleng.

“Aku datang untuk menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan anak ini kepada ayahnya. Setelah itu aku akan pergi.”

Dewi menoleh kepada Budi.

“Mas, jangan bilang kamu percaya begitu saja!”

Budi masih memegang hasil pemeriksaan.

“Dewi, usia kehamilannya…”

“Jadi sekarang kamu mau mengakui anak itu?”

Suara Dewi meninggi.

Beberapa tamu mulai memperhatikan kami.

Aku menghela napas.

“Aku tidak meminta Budi meninggalkanmu. Aku juga tidak ingin membicarakan persoalan ini di depan tamu.”

Aku menatap Budi.

“Kalau kamu ingin memastikan hubungan biologis setelah bayi lahir, kita bisa melakukannya melalui pemeriksaan resmi.”

Dewi terlihat semakin marah.

Namun sebelum dia sempat membalas, seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun menghampiri kami.

Aku langsung mengenalinya dari foto dalam dokumen perusahaan Ayah.

Hendra Wijaya.

Paman Dewi.

“Kenapa ribut-ribut di sini?” tanyanya.

Dewi segera menggandeng lengannya.

“Om, mantan istri Mas Budi datang mengacau!”

Hendra menatapku.

Kemudian wajahnya berubah.

“Sari Prameswari?”

Aku mengangguk.

“Selamat siang, Pak Hendra.”

Dia terlihat gelisah.

“Kamu datang untuk apa?”

Aku memperhatikannya.

“Saya sebenarnya tidak berniat membicarakan urusan perusahaan di sini.”

Hendra menelan ludah.

“Perusahaan apa?”

Aku tersenyum tipis.

“Perusahaan almarhum ayah saya.”

Budi langsung menoleh.

“Sari, maksudmu apa?”

Aku mengambil amplop kedua.

“Pak Setyo sudah memeriksa beberapa transaksi proyek terakhir Ayah. Ada pembayaran kepada perusahaan yang berkaitan dengan Pak Hendra.”

Wajah Hendra memucat.

“Itu urusan bisnis lama!”

“Benar. Karena itu saya tidak akan menuduh siapa pun di sini.”

Aku menatapnya lurus-lurus.

“Tapi pengacara kami sudah meminta klarifikasi dan menyiapkan langkah hukum atas transaksi yang belum dapat dipertanggungjawabkan.”

Hendra mengusap wajah.

Dewi tampak kebingungan.

“Om, sebenarnya ada apa?”

“Tidak ada apa-apa!” jawab Hendra cepat.

Namun Budi justru terlihat semakin gugup.

Aku memperhatikan perubahan wajahnya.

“Bud, apakah kamu mengetahui bahwa sebagian pembayaran proyek Ayah dialihkan ke rekening pemasok yang direkomendasikan olehmu?”

Budi tidak menjawab.

Keheningan itu berlangsung cukup lama.

Kemudian dia berkata lirih.

“Aku cuma membantu mengenalkan pemasok.”

“Aku tahu. Tapi dokumen menunjukkan kamu juga menerima salinan instruksi perubahan rekening.”

Budi mengangkat wajah.

“Karena Hendra bilang rekening lama sedang diaudit!”

Hendra langsung membentak.

“Budi, diam!”

Semua orang terkejut.

Aku memandang mereka bergantian.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang sama di wajah keduanya.

Bukan ketakutan karena sebuah pernikahan terganggu.

Melainkan karena persoalan bisnis yang selama ini mereka sembunyikan mulai terungkap.

Dewi mencengkeram lengan pamannya.

“Om, jelaskan! Sebenarnya apa yang terjadi?”

Hendra tidak menjawab.

Aku memasukkan kembali dokumen ke dalam tas.

“Semuanya akan diperiksa melalui jalur hukum. Saya tidak ingin menjadikan pesta ini tempat mengadili siapa pun.”

Aku berbalik kepada Maya.

“Ayo, kita pulang.”

Namun Budi tiba-tiba menghadangku.

“Sari, tunggu.”

Aku berhenti.

Dia menatap perutku.

“Aku ingin bertanggung jawab atas anak kita.”

Aku memandangnya lama.

“Kalau kamu sungguh ingin bertanggung jawab, lakukan dengan tindakan yang benar. Anak ini tidak membutuhkan janji yang hanya diucapkan ketika kamu sedang panik.”

Air mata mulai menggenang di matanya.

“Bisakah kita bicara setelah acara?”

Aku mengangguk.

“Melalui pengacara, kita bisa mengatur semuanya dengan baik.”

Setelah itu, aku pergi.

Aku tidak menoleh ketika mendengar Dewi mulai menangis di belakang.

Aku juga tidak tahu apakah acara pernikahan mereka akhirnya berlangsung dengan tenang.

Yang kutahu, untuk pertama kalinya setelah perceraian, aku tidak lagi merasa kecil di hadapan Budi.

Tiga minggu kemudian, Pak Setyo menghubungiku.

Hendra akhirnya memberikan sebagian dokumen yang diminta dalam pemeriksaan transaksi.

Dari berkas tersebut, ditemukan bahwa perusahaan pemasoknya menerima pembayaran melebihi nilai barang yang benar-benar dikirim.

Budi juga dimintai keterangan mengenai rekomendasi pemasok dan perubahan rekening pembayaran.

Dia mengakui pernah menerima imbalan sebagai perantara, tetapi membantah mengetahui bahwa sebagian barang tidak dikirim.

Pemeriksaan terus berjalan.

Tidak semua uang dapat dipulihkan dengan cepat.

Namun beberapa pihak akhirnya bersedia menempuh penyelesaian kewajiban yang diawasi secara hukum.

Sebagian dana yang berhasil dikembalikan digunakan untuk membayar kewajiban perusahaan Ayah kepada para kreditur.

Aku tidak mendadak menjadi kaya.

Rumah keluarga kami juga tidak langsung kembali.

Namun untuk pertama kalinya sejak Ayah meninggal, aku merasa ada jalan keluar.

Sementara itu, Budi mulai rutin menghubungiku mengenai kondisi kehamilan.

Awalnya aku merasa canggung.

Namun setelah berkonsultasi dengan pengacara, kami menyepakati cara berkomunikasi yang jelas mengenai pemeriksaan kesehatan dan kebutuhan calon bayi.

Aku tidak pernah menjanjikan kesempatan kedua.

Aku hanya ingin anakku kelak tumbuh tanpa harus menanggung kebencian orang tuanya.

Pada bulan kedelapan kehamilanku, Budi datang membawa sebuah amplop.

Kami bertemu di sebuah kafe bersama Maya.

Di dalam amplop itu terdapat bukti transfer untuk kebutuhan persalinan.

Aku memandangnya.

“Terima kasih.”

Budi menunduk.

“Sari, aku ingin meminta maaf.”

Aku tidak menjawab.

Dia melanjutkan.

“Aku dulu mengira uang empat puluh lima juta itu sudah cukup untuk menyelesaikan semuanya.”

Aku tersenyum pahit.

“Padahal uang itu bahkan tidak cukup untuk menghapus rasa sakit yang kamu tinggalkan.”

Dia mengangguk.

“Aku tahu.”

Aku menatap laki-laki yang pernah kucintai itu.

“Bud, aku tidak menyesal menerima uang tersebut.”

Dia mengangkat kepala.

“Kenapa?”

“Karena waktu itu aku benar-benar membutuhkannya untuk membayar tagihan terakhir Ayah.”

Air mataku jatuh.

“Aku memungut uang itu bukan karena tidak punya harga diri. Aku melakukannya karena sedang berusaha bertahan hidup.”

Budi menutup wajah.

“Maafkan aku, Sar.”

Aku menghela napas panjang.

“Aku sedang belajar memaafkan. Tapi bukan berarti kita harus kembali bersama.”

Dia mengangguk tanpa membantah.

Dua bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Aku menamainya Aira Prameswari.

Ketika pertama kali menggendongnya, seluruh kesedihan yang selama ini kusimpan seolah mendapatkan tempat untuk beristirahat.

Tangannya kecil.

Wajahnya merah muda.

Matanya masih terpejam.

Namun kehadirannya membuatku merasa bahwa kehidupan ternyata masih menyimpan begitu banyak hal indah.

Budi datang ke rumah sakit setelah mendapat kabar persalinanku.

Dia berdiri di samping ranjang dengan mata berkaca-kaca.

“Boleh aku menggendongnya?”

Aku mengangguk.

Dia menerima Aira dengan sangat hati-hati.

Untuk beberapa saat, dia hanya memandangi wajah bayi itu sambil menangis.

“Dia cantik sekali.”

Aku tersenyum kecil.

“Iya.”

Setelah pemeriksaan hubungan biologis yang dilakukan atas persetujuan kami selesai, hasilnya memastikan Budi adalah ayah Aira.

Sejak itu, kami mulai mengatur tanggung jawab pengasuhan dan kebutuhan anak secara lebih jelas.

Budi tetap bersama Dewi.

Aku tidak ikut campur dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Aku hanya memastikan hak Aira sebagai anak tetap diperhatikan.

Setahun kemudian, keadaan keuanganku mulai membaik.

Dengan pengalaman yang pernah kumiliki, aku membuka usaha kecil menjual perlengkapan bayi secara daring.

Awalnya aku hanya menggunakan sudut kamar sebagai tempat menyimpan barang.

Namun pesanan perlahan meningkat.

Aku menyewa sebuah ruko kecil dan mempekerjakan dua perempuan yang juga sedang berusaha membangun kembali kehidupan mereka.

Suatu sore, ketika sedang menata stok barang, Maya datang membawa sebuah kotak kayu kecil.

“Ada sesuatu yang ditemukan saat pengarsipan dokumen terakhir Ayahmu.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah surat.

Tulisan tangan Ayah.

Untuk Sari, anak Ayah.

Aku langsung menangis.

Surat itu ternyata ditulis beberapa minggu sebelum beliau meninggal.

Ayah mengatakan bahwa dirinya menyesal karena masalah perusahaan telah membuatku ikut menanggung begitu banyak kesulitan.

Namun pada bagian terakhir terdapat kalimat yang tidak pernah kulupakan.

Sari, kalau suatu hari kamu harus memilih antara mempertahankan penampilan hidup yang sempurna dan mempertahankan harga dirimu, pilihlah harga dirimu. Uang bisa dicari kembali. Kehormatan dan ketenangan hati jauh lebih sulit dipulihkan.

Aku memeluk surat itu.

Selama ini aku selalu merasa gagal karena tidak mampu menyelamatkan perusahaan Ayah.

Aku merasa malu karena harus menjual tas dan perhiasan.

Aku bahkan pernah membenci diriku sendiri ketika membungkuk memungut uang yang dilempar Budi.

Namun sekarang aku memahami bahwa Ayah tidak pernah mengukur keberhasilanku dari jumlah uang yang kumiliki.

Yang paling diinginkannya hanyalah melihatku tetap menjadi manusia yang baik dan berani.

Malam itu, setelah Aira tertidur, aku duduk di dekat jendela sambil memandangi lampu-lampu kota.

Aku teringat hari ketika Budi melemparkan empat puluh lima juta rupiah ke wajahku.

Saat itu aku mengira hidupku sudah benar-benar hancur.

Namun ternyata, hari tersebut justru menjadi awal perjalanan yang membawaku menemukan kekuatan sendiri.

Aku kehilangan suami.

Kehilangan rumah keluarga.

Kehilangan perusahaan peninggalan Ayah.

Tetapi aku tidak kehilangan kemauan untuk berdiri kembali.

Dan ketika Aira terbangun lalu menangis memanggilku dengan suara kecilnya, aku segera menghampiri tempat tidurnya.

Aku menggendongnya dan mencium keningnya.

“Nak, suatu hari Mama akan menceritakan semuanya.”

Aku tersenyum sambil mengusap pipinya.

“Tapi bukan supaya kamu membenci siapa pun. Mama ingin kamu tahu bahwa hidup kadang bisa sangat kejam, tetapi kita selalu punya pilihan untuk tidak menyerah.”

Aira kembali tertidur dalam pelukanku.

Aku memandang wajahnya cukup lama.

Dahulu, aku pernah mengira empat puluh lima juta rupiah merupakan harga terakhir yang diberikan Budi untuk menyingkirkanku dari hidupnya.

Sekarang aku tahu, nilai seorang perempuan tidak pernah bisa ditentukan melalui uang yang dilemparkan orang lain kepadanya.

Karena perempuan yang pernah dipermalukan di depan mantan suaminya itu kini telah membangun kembali kehidupan dengan tangannya sendiri.

Dan kemenangan terbesarku bukanlah ketika Budi menyesal.

Bukan pula ketika kebenaran tentang perusahaan Ayah akhirnya mulai terungkap.

Kemenangan terbesarku adalah ketika aku bisa memandang putriku, tersenyum, dan berkata tanpa rasa takut bahwa kami akan baik-baik saja.

Aku mematikan lampu kamar.

Di atas meja, surat Ayah tersimpan rapi di dalam bingkai.

Besok pagi, toko kecilku akan kembali buka.

Pelanggan akan datang.

Pesanan harus dikirim.

Dan kehidupan akan terus berjalan.

Kali ini, bukan sebagai perempuan yang menunggu seseorang datang menyelamatkannya.

Melainkan sebagai seorang ibu yang telah belajar menyelamatkan dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang