Aku tidak langsung pulang setelah membaca pesan Rani. Tanganku masih gemetar ketika melihat nama adikku tercantum dalam dokumen pinjaman senilai empat ratus delapan puluh juta rupiah.
Namanya Fajar Prameswara.

Adik yang sejak kecil selalu kubela ketika dimarahi Ayah. Anak laki-laki yang kubiayai kuliahnya setelah usaha keluarga mengalami kesulitan. Bahkan tiga bulan lalu, aku masih membelikannya laptop baru karena dia mengatakan komputer lamanya rusak.
“Tidak mungkin Fajar melakukan ini,” gumamku.
Pak Hendra menatapku dengan tenang.
“Nama seseorang tercantum dalam dokumen belum tentu berarti dia mengetahui atau menyetujuinya. Kita harus memeriksa semuanya.”
Aku mengangguk, tetapi dadaku tetap terasa sesak.
Arga yang masih tersambung melalui telepon menyarankan agar kami menyimpan seluruh percakapan dengan Rani dan segera membuat pengaduan resmi mengenai dugaan penyalahgunaan identitas.
Namun, sebelum melakukannya, aku ingin mengetahui keadaan Fajar.
Aku meneleponnya.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Pada panggilan ketiga, akhirnya terdengar suaranya.
“Kak, ada apa?”
“Kamu di rumah?”
“Iya. Kenapa?”
“Aku mau pulang. Jangan pergi dulu.”
Fajar terdiam beberapa detik.
“Kak Dinda, memangnya terjadi sesuatu?”
Aku memejamkan mata.
“Nanti kita bicara.”
Ketika aku tiba di rumah sekitar satu jam kemudian, Fajar sedang duduk di ruang tamu. Ayah sudah tidur, sementara Ibu masih berada di dapur.
Melihat wajahku, Fajar langsung berdiri.
“Kak, kamu kenapa?”
Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan salinan dokumen pinjaman.
“Fajar, jelaskan kenapa namamu ada di sini.”
Wajahnya seketika pucat.
Dia membaca halaman pertama, kemudian mengangkat kepala dengan mata membelalak.
“Kak, ini dari mana?”
“Jawab dulu. Kamu pernah menandatangani dokumen sebagai penjamin pinjaman?”
Fajar menggeleng cepat.
“Nggak pernah!”
Aku memperbesar bagian tanda tangan.
“Ini mirip tanda tanganmu.”
“Tapi bukan punyaku.”
Aku menatapnya lama.
Fajar tiba-tiba mengambil ponselnya dan membuka sebuah percakapan.
“Tiga minggu lalu, Mbak Rani menghubungiku. Dia bilang sedang mengurus program bantuan modal usaha dan membutuhkan informasi anggota keluarga untuk persyaratan administrasi.”
Aku membaca pesannya.
Rani memang meminta foto KTP dan kartu keluarga dengan alasan membantu mendaftarkan usaha kecil.
“Kenapa kamu memberikannya?”
Fajar menunduk.
“Karena dia bilang Kakak sudah setuju.”
Dadaku terasa semakin berat.
“Fajar, kenapa kamu tidak bertanya langsung kepadaku?”
“Aku pikir Mbak Rani sahabat Kakak. Dia sering datang ke rumah. Aku nggak menyangka dia akan menggunakan dokumen itu untuk hal lain.”
Aku duduk perlahan.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku menyadari bahwa Rani bukan hanya mengambil identitasku.
Dia memanfaatkan kepercayaan seluruh keluargaku.
Ibu yang mendengar percakapan kami segera keluar dari dapur.
“Ada apa ini?”
Aku menunjukkan dokumen tersebut.
Wajah Ibu langsung berubah.
“Ya Allah, Dinda. Apa maksudnya semua ini?”
Aku menggenggam tangannya.
“Belum ada yang pasti, Bu. Tapi sepertinya Rani menggunakan identitas kami untuk mengajukan pinjaman.”
Ibu menutup mulut.
“Rani yang sering makan di rumah kita itu?”
Aku mengangguk.
Malam itu kami hampir tidak tidur.
Fajar menyerahkan seluruh percakapannya dengan Rani. Aku menghubungi Dini, seorang teman lama yang bekerja sebagai pengacara, untuk meminta pendampingan.
Keesokan paginya, kami membuat laporan resmi mengenai dugaan penyalahgunaan identitas dan meminta pemeriksaan status pengajuan pinjaman tersebut.
Dari informasi awal yang dapat dikonfirmasi, permohonan pembiayaan memang pernah diajukan menggunakan namaku.
Namun dana belum dicairkan karena proses verifikasi menemukan ketidaksesuaian dokumen.
Aku hampir menangis karena lega.
Setidaknya, belum ada pinjaman ratusan juta yang benar-benar diterima menggunakan namaku.
Tetapi persoalannya belum selesai.
Siang itu, Arga akhirnya datang menemuiku.
Pria yang sebenarnya berusia tiga puluh dua tahun itu memiliki wajah yang sama dengan foto profil yang pernah digunakan untuk berkomunikasi dengan Rani.
Dia mengenakan kemeja biru muda dan membawa tas laptop.
“Maaf kita harus bertemu dalam keadaan seperti ini,” katanya.
Aku mengangguk.
“Aku justru harus berterima kasih karena kamu menemukan pengajuan tersebut.”
Arga tersenyum kecil.
“Sebenarnya aku mulai curiga sejak akun itu mengirimkan foto KTP tanpa pernah mau melakukan panggilan video.”
“Lalu kenapa kamu tetap mengirim uang dua puluh lima juta?”
Arga terdiam.
“Waktu itu aku percaya cerita tentang ayahmu yang membutuhkan biaya perbaikan rumah. Aku tidak tahu orang yang berbicara denganku bukan kamu.”
Aku menunduk.
“Aku benar-benar minta maaf.”
“Kamu tidak perlu meminta maaf atas tindakan orang lain.”
Kalimat itu membuatku mengangkat wajah.
Arga kemudian menjelaskan bahwa ayahnya, Pak Hendra, sengaja datang ke restoran sebagai bagian dari upaya mengklarifikasi identitas perempuan yang selama ini berbicara dengannya. Mereka ingin memastikan apakah foto yang digunakan memang milik orang yang sama sebelum mengambil langkah lebih jauh.
“Aku tidak pernah menyangka masalahnya sampai sebesar ini,” katanya.
Aku menghela napas.
“Aku juga.”
Tiba-tiba ponselku berdering.
Nomor Rani muncul di layar.
Aku dan Arga saling berpandangan.
Aku mengangkat panggilan tersebut.
“Dinda?”
Suaranya terdengar serak.
“Kamu di mana, Ran?”
“Aku takut.”
“Takut karena apa?”
Rani menangis.
“Ada orang yang mencariku.”
Aku menegakkan tubuh.
“Siapa?”
“Damar.”
Nama itu terdengar asing.
“Damar siapa?”
“Orang yang mengurus pengajuan pinjaman.”
Aku menatap Arga.
Rani melanjutkan dengan suara gemetar.
“Awalnya dia bilang bisa membantuku mendapatkan modal usaha tanpa jaminan. Aku cuma perlu mencari orang dengan riwayat keuangan yang bersih.”
“Lalu kamu memilih aku?”
Rani terdiam.
Aku merasakan amarah kembali memenuhi dadaku.
“Selama ini aku membantumu ketika usahamu gagal. Aku meminjamkan uang saat kamu kesulitan membayar sewa. Dan kamu membalas semuanya dengan menggunakan identitasku?”
“Aku tahu aku salah.”
“Bukan cuma salah, Ran. Kamu hampir membuat seluruh keluargaku menanggung utang yang tidak pernah kami ajukan.”
Rani menangis semakin keras.
“Aku mau memperbaikinya.”
“Kalau begitu, datang dan berikan keterangan yang sebenarnya.”
Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya setuju.
Sore berikutnya, Rani datang bersama seorang pengacara yang mendampinginya.
Wajahnya terlihat lelah. Matanya sembap, jauh berbeda dari perempuan percaya diri yang kutemui di depan restoran.
Dia mengakui telah menggunakan foto dan identitasku untuk membuat akun kencan.
Dia juga mengakui menerima uang dari Arga dan menggunakan sebagian besar uang itu untuk membayar utang pribadi.
Namun kisah tentang pinjaman ratusan juta ternyata lebih rumit.
Menurut Rani, Damar adalah konsultan pembiayaan yang dikenalnya melalui seorang teman bisnis.
Damar menjanjikan pencairan dana cepat menggunakan dokumen usaha yang disebutnya bisa dibantu proses verifikasinya.
Ketika Rani mengaku tidak memenuhi persyaratan, Damar memintanya mencari identitas seseorang dengan riwayat kredit yang lebih baik.
“Dia bilang semuanya hanya untuk simulasi,” kata Rani sambil menangis.
Aku menatapnya.
“Kamu benar-benar percaya itu?”
Rani menunduk.
“Awalnya iya. Tapi setelah dia meminta tanda tangan dan dokumen keluarga, aku mulai curiga.”
“Lalu kenapa kamu tidak berhenti?”
“Karena dia mengancam akan melaporkan penipuanku terhadap Arga.”
Aku memandang perempuan yang pernah menjadi sahabat terdekatku.
Jadi selama ini Rani terus membuat keputusan buruk untuk menutupi keputusan buruk sebelumnya.
Pengacaranya kemudian menyerahkan percakapan dengan Damar serta bukti transfer biaya administrasi yang pernah dibayarkan Rani.
Dokumen tersebut diteruskan kepada pihak yang menangani laporan.
Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan menemukan dugaan keterlibatan Damar dalam sejumlah pengajuan pembiayaan dengan identitas yang tidak sesuai.
Kasusnya masih harus melalui proses hukum, tetapi pengajuanku dinyatakan tidak dapat dilanjutkan setelah verifikasi menemukan bahwa aku tidak pernah memberikan persetujuan.
Aku akhirnya bisa bernapas lebih lega.
Meski begitu, hubunganku dengan Rani tidak mungkin kembali seperti dulu.
Suatu sore, dia datang ke toko bunga tempatku bekerja.
Dia berdiri cukup lama di dekat pintu sebelum berani masuk.
“Dinda, boleh bicara?”
Aku mengangguk.
Kami duduk di bangku kecil dekat jendela.
Rani mengeluarkan sebuah amplop.
“Ini sebagian uang yang harus kukembalikan kepada Arga. Aku sudah menghubunginya untuk membuat kesepakatan pembayaran.”
Aku tidak menyentuh amplop itu.
“Kenapa kamu menunjukkannya kepadaku?”
“Karena aku ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar berusaha bertanggung jawab.”
Aku menatapnya.
“Rani, kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari semua ini?”
Dia menggeleng.
“Bukan karena kamu mengambil fotoku. Bukan juga karena kamu menggunakan namaku.”
Aku menarik napas.
“Yang paling menyakitkan adalah kamu mengetahui semua kesulitan keluargaku, lalu menjadikannya cerita untuk mendapatkan uang dari orang lain.”
Air mata Rani jatuh.
“Aku iri sama kamu, Din.”
Aku terdiam.
“Kamu selalu punya orang yang menyayangimu. Ayah dan ibumu bangga padamu. Fajar dekat denganmu. Bahkan ketika kamu cuma bekerja di toko bunga, kamu kelihatan tenang menjalani hidup.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi kamu mengira hidupku mudah?”
Rani menunduk.
“Aku tahu sekarang aku salah.”
Aku menggeleng pelan.
“Kamu hanya melihat bagian hidupku yang ingin kamu miliki, tanpa mengetahui berapa banyak hal yang harus kuperjuangkan.”
Rani menangis tanpa suara.
Aku tidak memeluknya.
Dulu, aku pasti akan melakukannya.
Namun sekarang aku memahami bahwa memaafkan seseorang tidak selalu berarti memberinya tempat yang sama dalam kehidupan kita.
“Aku berharap kamu bisa memperbaiki hidupmu,” kataku. “Tapi aku tidak bisa lagi mempercayaimu seperti dulu.”
Rani mengangguk.
“Aku mengerti.”
Itulah terakhir kalinya kami berbicara sebagai dua sahabat.
Enam bulan berlalu.
Kasus penyalahgunaan identitas masih dalam proses penyelesaian, tetapi kehidupan keluargaku mulai kembali tenang.
Fajar berhasil menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan pekerjaan pertamanya.
Ayah memperbaiki atap rumah menggunakan tabungan yang memang sudah kami siapkan bersama.
Sementara aku mulai mengikuti pelatihan merangkai bunga untuk acara pernikahan dan dekorasi hotel.
Arga sesekali datang ke toko.
Awalnya hanya membeli bunga untuk ibunya.
Kemudian dia mulai memesan rangkaian bunga untuk acara kantor.
Suatu hari, dia datang membawa sebuah pot anggrek.
Aku menatapnya dengan heran.
“Bukannya biasanya kamu yang membeli bunga dariku?”
Arga tertawa.
“Kali ini aku mau memberikan sesuatu.”
Aku memperhatikan anggrek itu.
“Ini jenis yang pernah dibawa ayahmu ke restoran?”
Dia mengangguk.
“Pak Hendra bilang kamu orang pertama yang langsung memperhatikan kondisi bunganya, bukan harga atau kelangkaannya.”
Aku tersenyum.
“Karena bunga mahal pun bisa mati kalau tidak dirawat dengan benar.”
Arga menatapku cukup lama.
“Kurasa hubungan manusia juga begitu.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu sedang mencoba terdengar bijaksana?”
“Mungkin.”
Kami tertawa bersama.
Hubungan kami berkembang perlahan.
Tidak ada janji berlebihan.
Tidak ada hadiah mahal yang membuatku merasa harus membalas sesuatu.
Arga hanya datang, mengobrol, dan mendengarkan cerita tentang hari-hariku.
Suatu sore, ketika toko hampir tutup, dia bertanya apakah aku bersedia makan malam bersamanya.
Aku menatapnya.
“Sebagai apa?”
Dia tersenyum.
“Sebagai dua orang yang ingin saling mengenal tanpa menggunakan identitas siapa pun selain diri sendiri.”
Aku tertawa.
“Kalau begitu, boleh.”
Setahun setelah pertemuan pertama di restoran itu, aku membuka studio bunga kecil milikku sendiri.
Namanya Akar.
Aku memilih nama tersebut karena ingin mengingatkan diri bahwa sesuatu yang indah hanya bisa tumbuh jika memiliki dasar yang kuat.
Pada hari pembukaan, Ayah, Ibu, Fajar, dan beberapa sahabat datang membawa makanan serta ucapan selamat.
Arga tiba paling akhir.
Dia membawa sebuah bingkai foto.
Di dalamnya terdapat foto toko bunga pertamaku, tempat aku dulu bekerja dengan celemek sederhana.
Di bawah foto itu tertulis sebuah kalimat.
Dinda Prameswari, perempuan yang tidak perlu menjadi siapa pun selain dirinya sendiri untuk dihargai.
Aku menatap tulisan tersebut cukup lama.
“Kenapa kamu membuat ini?”
Arga tersenyum.
“Karena aku ingin kamu ingat dari mana semuanya dimulai.”
Aku memandang sekeliling studio.
Dulu, aku pernah merasa malu ketika mengetahui seseorang menggunakan kehidupanku untuk menciptakan identitas palsu yang dianggap lebih menarik.
Sekarang aku memahami sesuatu.
Rani memakai namaku karena mengira kehidupanku bisa membuat orang lain percaya kepadanya.
Namun kepercayaan tidak pernah benar-benar datang dari nama, wajah, atau cerita yang terlihat indah.
Kepercayaan dibangun melalui kejujuran dan tanggung jawab.
Aku menggantung bingkai tersebut di dinding dekat pintu masuk.
Sore itu, ketika pelanggan terakhir pulang, Arga membantuku merapikan meja.
“Din,” katanya tiba-tiba.
“Apa?”
“Kamu masih ingat pertanyaan pertama yang diajukan ayahku waktu kalian bertemu?”
Aku tersenyum.
“Tentang anggrek?”
Arga menggeleng.
“Bukan. Pertanyaan apakah kamu benar-benar orang yang selama ini berbicara denganku.”
Aku tertawa kecil.
“Dan ternyata jawabannya tidak.”
Arga mengangguk.
“Tapi setelah mengenalmu, aku sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Orang yang sebenarnya jauh lebih menarik daripada cerita palsu yang pernah kubaca.”
Aku menatapnya sambil tersenyum.
Di luar, hujan turun perlahan membasahi jalanan Bandung.
Aku teringat hari ketika Rani memaksaku masuk ke restoran untuk menggantikannya.
Saat itu aku mengira kehidupanku akan hancur karena kebohongan seseorang.
Ternyata, hari tersebut justru menjadi awal ketika aku belajar menjaga batas, memperjuangkan hakku, dan membangun masa depan tanpa terus-menerus mengorbankan diri demi orang lain.
Aku tidak tahu apakah hubunganku dengan Arga akan berakhir dengan pernikahan.
Aku juga tidak ingin terburu-buru memberikan janji.
Namun kali ini, aku tidak perlu berpura-pura menjadi perempuan lain agar seseorang bersedia mengenalku.
Aku hanya perlu menjadi Dinda.
Dan untuk pertama kalinya, itu terasa lebih dari cukup.
