
Tiga hari setelah pesta pertunangan kami, aku menerima telepon dari seorang perempuan yang tidak kukenal.
“Apakah benar saya sedang berbicara dengan Laras, tunangan Arga Pratama?”
“Benar. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya Nita, staf administrasi perusahaan tempat Pak Arga bekerja. Maaf mengganggu, Bu. Saya ingin memastikan satu hal. Apakah Ibu mengetahui bahwa nama Ibu tercantum sebagai penjamin pinjaman pribadi Pak Arga?”
Aku hampir menjatuhkan cangkir kopi.
“Pinjaman apa?”
Perempuan itu terdiam beberapa detik.
“Sebesar empat ratus delapan puluh juta rupiah, Bu. Dalam berkas pengajuan, tercantum bahwa sebagian dana akan digunakan untuk biaya pendidikan seorang perempuan bernama Maya.”
Aku memejamkan mata.
Jumlah itu hampir dua kali lipat dari tabungan yang kuserahkan kepada Arga untuk uang muka rumah kami.
“Saya tidak pernah menandatangani dokumen pinjaman apa pun,” jawabku.
Suara Nita berubah tegang.
“Kalau begitu, sebaiknya Ibu datang ke kantor kami. Ada sesuatu yang perlu Ibu lihat.”
Sore harinya, aku menemui Nita di sebuah kedai kopi dekat kawasan perkantoran Sudirman, Jakarta. Dia datang membawa map cokelat dan wajah penuh kecemasan.
“Saya tidak seharusnya membawa salinan ini keluar kantor,” katanya. “Tapi saya juga tidak bisa diam.”
Di dalam map terdapat formulir pengajuan pinjaman, fotokopi KTP milikku, dan sebuah tanda tangan yang menyerupai tanda tanganku.
Aku mengenal bentuk hurufnya, tetapi ada satu kesalahan kecil.
Sejak kuliah, aku selalu menambahkan garis pendek di bawah huruf terakhir namaku. Tanda tangan pada dokumen itu tidak memilikinya.
“Ini palsu.”
Nita mengangguk.
“Bagian keuangan juga menemukan kejanggalan. Pengajuan itu belum disetujui. Kami sedang melakukan pemeriksaan internal.”
“Kenapa Anda menghubungi saya?”
Nita menunduk.
“Karena lima tahun lalu, kakak saya pernah kehilangan rumah akibat menjadi penjamin pinjaman suaminya tanpa mengetahui dokumen yang dia tanda tangani sebenarnya sudah diubah.”
Aku terdiam.
“Dan ada satu hal lagi,” lanjutnya. “Pak Arga meminta pencairan dipercepat sebelum akhir bulan. Alasannya, dia harus segera melunasi kewajiban kepada seseorang.”
“Siapa?”
Nita menggeser selembar kertas.
Di sana tertulis sebuah nama.
Maya Anggraini.
Malam itu, aku pulang lebih awal. Arga belum datang. Aku membuka kembali dokumen transfer tabunganku dan mencari percakapan lama mengenai pembelian rumah.
Semua bukti masih tersimpan.
Aku kemudian menghubungi Rani, sepupuku yang bekerja sebagai pengacara.
“Ran, aku butuh bantuan. Tapi jangan bilang siapa-siapa dulu.”
Setelah mendengar ceritaku, Rani tidak langsung berbicara.
“Laras, ini bukan lagi soal hubungan kalian. Ada dugaan pemalsuan dokumen. Besok kita harus menemui pihak perusahaan dan meminta semua bukti diamankan.”
“Aku tahu.”
“Kamu juga harus berhenti memberikan uang kepadanya.”
Aku memandang cincin pertunanganku.
“Aku sudah berhenti.”
Ketika Arga pulang pukul sebelas malam, aku sedang membaca buku di ruang tamu.
Dia tampak terkejut melihatku masih terjaga.
“Belum tidur?”
“Belum. Kamu dari mana?”
“Rapat proyek.”
Aku menutup buku.
“Dengan Maya?”
Wajahnya langsung berubah.
“Kenapa tiba-tiba membawa nama Maya?”
“Aku cuma bertanya.”
Arga menghela napas panjang.
“Laras, aku capek. Jangan mulai bertengkar.”
Aku tidak menjawab.
Dia masuk kamar sambil menggerutu, meninggalkanku dengan satu kepastian. Laki-laki yang hendak kunikahi ternyata lebih takut pertanyaanku daripada kehilangan kepercayaanku.
Dua minggu kemudian, kabar dari Melbourne datang.
Aku diterima dalam program pertukaran dosen selama satu tahun, dengan dukungan biaya penelitian dan tunjangan hidup.
Aku membaca surel itu berkali-kali.
Seharusnya aku berteriak bahagia. Namun yang kulakukan justru menangis diam-diam di ruang kerja.
Selama empat tahun, aku selalu membayangkan kebahagiaan sebagai sesuatu yang harus kuraih bersama Arga.
Sekarang, untuk pertama kalinya, aku melihat masa depan yang tetap indah meskipun dia tidak berada di dalamnya.
Aku menerima tawaran tersebut.
Hari berikutnya, Rani menghubungiku.
“Laras, kita sudah mendapatkan perkembangan. Perusahaan Arga mengonfirmasi bahwa pengajuan pinjaman menggunakan dokumen yang tidak pernah kamu berikan secara langsung. Mereka sedang menyelidiki siapa yang memasukkannya.”
“Bagaimana dengan uang tabunganku?”
“Rekening penerimanya atas nama Arga. Kita punya bukti transfer dan percakapan tentang tujuan uang itu. Aku akan bantu mengupayakan pengembaliannya.”
Aku mengangguk meskipun Rani tidak bisa melihatku.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat dadaku kembali sesak.
“Ada informasi lain. Maya ternyata tidak sedang mengikuti pendidikan profesi seperti yang diumumkan Arga.”
“Maksudmu?”
“Dia memang pernah diterima, tetapi mengundurkan diri sebelum perkuliahan dimulai.”
Aku terdiam lama.
“Lalu uangnya untuk apa?”
“Itu yang harus kita cari tahu.”
Jawabannya datang lebih cepat daripada yang kubayangkan.
Dua hari kemudian, Maya meneleponku dan meminta bertemu.
Kami duduk berhadapan di sebuah restoran kecil di kawasan Tebet. Wajahnya pucat. Kedua tangannya terus meremas tali tas.
“Aku tahu kamu pasti membenciku,” katanya.
“Aku belum memutuskan apa yang kurasakan terhadapmu.”
Maya menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak pernah meminta Arga menggunakan uangmu.”
“Tapi kamu tahu uang itu berasal dariku.”
Dia mengangguk.
“Kenapa tidak memberitahuku?”
“Karena aku takut.”
“Takut apa?”
Maya membuka tas dan mengeluarkan amplop putih.
Di dalamnya terdapat salinan akta kelahiran seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Nama ayahnya tertulis jelas.
Arga Pratama.
Dunia seolah berhenti bergerak.
Aku membaca dokumen itu dua kali, berharap mataku salah menangkap huruf.
“Anak siapa ini?”
Maya menangis.
“Anakku. Namanya Damar.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Kamu dan Arga punya anak?”
Dia mengangguk perlahan.
“Damar lahir sebelum Arga mengenalmu. Waktu itu kami sempat berpacaran, tapi hubungan kami berakhir ketika aku hamil. Arga bilang dia belum siap menikah.”
Aku menggenggam tepi meja.
“Kenapa dia tidak pernah memberitahuku?”
“Karena dia takut kehilanganmu.”
Aku tertawa pendek, pahit.
“Jadi selama ini kalian berdua sepakat membohongiku?”
Maya menggeleng cepat.
“Aku tidak tahu dia belum memberitahumu sampai beberapa bulan lalu. Dia bilang kamu sudah mengetahui semuanya dan tidak keberatan dia membantu Damar.”
Aku mengingat seluruh malam ketika Arga mengaku sedang bekerja lembur. Semua panggilan telepon yang dijawabnya di balkon. Semua alasan mendadak yang selama ini kuterima.
“Lalu soal biaya pendidikanmu?”
Maya mengusap air mata.
“Itu ide Arga. Dia tidak mau keluarganya tahu tentang Damar. Katanya, lebih mudah menjelaskan bantuan untuk kuliahku daripada mengakui bahwa dia punya anak.”
Aku menatap dokumen di tanganku.
“Empat ratus delapan puluh juta itu untuk apa?”
Maya menggeleng.
“Aku tidak tahu soal pinjaman sebesar itu. Aku hanya meminta dia ikut bertanggung jawab atas biaya pengobatan Damar dan kebutuhan hidupnya.”
“Damar sakit?”
“Dia punya kelainan jantung bawaan. Bulan depan ada pemeriksaan lanjutan untuk menentukan tindakan yang diperlukan.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat Maya bukan sebagai perempuan yang merebut perhatian tunanganku, melainkan sebagai seorang ibu yang kelelahan menghadapi ketidakpastian.
Namun rasa iba tidak menghapus kebohongan yang telah terjadi.
“Kamu seharusnya datang kepadaku lebih awal,” kataku.
“Aku tahu.”
“Aku tidak menyalahkan Damar. Tapi aku juga tidak akan membiarkan Arga menggunakan namaku dan uangku untuk menyembunyikan tanggung jawabnya.”
Maya menangis semakin keras.
“Aku mengerti.”
Malam itu, aku mengirimkan pesan kepada Arga agar datang ke rumah orang tuanya keesokan sore.
Aku juga meminta kedua keluarga hadir.
Arga menelepon berkali-kali, tetapi aku tidak mengangkatnya.
Ketika semua orang berkumpul, aku meletakkan tiga dokumen di meja ruang tamu.
Bukti transfer tabunganku.
Salinan pengajuan pinjaman.
Dan akta kelahiran Damar.
Ayah Arga mengambil dokumen terakhir.
Wajahnya berubah pucat.
“Arga, siapa anak ini?”
Arga menatap Maya yang duduk di sampingku. Dia tidak tahu aku telah mengundangnya.
“Yah, aku bisa menjelaskan.”
“Jelaskan sekarang.”
Arga menunduk.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat dia benar-benar kehilangan kata-kata.
Akhirnya dia mengakui semuanya.
Damar adalah anaknya. Dia menyembunyikan keberadaan Damar karena takut orang tuanya kecewa dan aku membatalkan pernikahan.
“Aku cuma ingin menyelesaikan semuanya sebelum menikah,” katanya.
Aku menatapnya.
“Anak bukan masalah yang bisa kamu selesaikan lalu lupakan, Arga.”
“Aku tahu aku salah.”
“Tidak. Kamu masih belum mengerti. Kesalahanmu bukan karena punya anak. Kesalahanmu adalah berbohong, menggunakan uang yang kupercayakan kepadamu, dan mencantumkan namaku dalam pengajuan pinjaman tanpa persetujuanku.”
Ibunya menangis.
Ayahnya berdiri dan berjalan mendekati Maya.
“Selama tiga tahun, kamu membesarkan cucu saya sendirian?”
Maya menunduk.
“Saya dibantu orang tua saya, Pak.”
Laki-laki tua itu menutup wajahnya.
“Maafkan keluarga kami. Kami bahkan tidak tahu Damar ada.”
Arga mencoba menggenggam tanganku.
“Laras, kita masih bisa memperbaiki ini. Aku mencintaimu.”
Aku menarik tanganku.
“Aku percaya kamu pernah mencintaiku. Tapi cinta tanpa kejujuran tidak cukup untuk membangun pernikahan.”
Aku melepaskan cincin pertunangan dan meletakkannya di meja.
“Pernikahan kita batal.”
Ruangan menjadi sunyi.
Arga menangis dan memohon agar aku mempertimbangkan kembali keputusan itu.
Namun kali ini aku tidak berubah pikiran.
Dengan bantuan Rani, aku melanjutkan penyelesaian persoalan keuangan melalui jalur hukum. Perusahaan Arga menghentikan proses pinjaman dan memeriksa dokumen yang diajukan. Setelah beberapa kali pertemuan bersama pengacara, Arga menandatangani kesepakatan tertulis untuk mengembalikan tabunganku secara bertahap.
Sebulan kemudian, aku berangkat ke Melbourne.
Di bandara Soekarno-Hatta, ayah memelukku erat.
“Kamu yakin tidak menyesal?”
Aku tersenyum.
“Aku menyesal pernah mengabaikan banyak tanda, Yah. Tapi aku tidak menyesal memilih pergi.”
Ibu merapikan kerah bajuku.
“Kalau nanti merasa kesepian, pulanglah. Rumah selalu terbuka.”
Aku mengangguk sambil menahan air mata.
Enam bulan berlalu.
Penelitianku berjalan baik. Aku mendapatkan teman-teman baru, mengunjungi tempat-tempat yang sebelumnya hanya kulihat melalui foto, dan perlahan belajar menikmati kehidupan tanpa terus-menerus menunggu kabar seseorang.
Suatu sore, sebuah pesan masuk dari nomor Maya.
Dia mengirimkan foto Damar yang sedang tersenyum di halaman rumah sakit.
Pemeriksaan dan tindakan medisnya berjalan baik. Kondisinya terus dipantau dokter.
Di bawah foto itu, Maya menulis bahwa keluarga Arga kini ikut mendampingi Damar. Arga juga mulai menjalankan tanggung jawabnya sebagai ayah secara terbuka.
Aku membalas singkat, mendoakan Damar selalu sehat.
Beberapa menit kemudian, pesan kedua datang.
“Laras, ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Sebelum semua ini terbongkar, Arga pernah mengatakan bahwa kamu pasti akan mengorbankan kesempatan ke Australia demi menikah dengannya. Katanya, kamu tidak akan berani meninggalkan kehidupan yang sudah kalian rencanakan.”
Aku membaca pesan itu dalam diam.
Kemudian aku menoleh ke jendela apartemen. Langit Melbourne berwarna jingga, dan trem melintas perlahan di jalanan yang basah setelah hujan.
Dulu aku mengira keberanian berarti bertahan, memaafkan, dan memahami seseorang tanpa batas.
Sekarang aku tahu, terkadang keberanian justru berarti mengakui bahwa seseorang yang kita cintai bukanlah orang yang tepat untuk menemani masa depan kita.
Aku membuka laptop dan menemukan surel baru dari universitas.
Proposal penelitianku mendapat persetujuan untuk dikembangkan menjadi proyek kerja sama akademik selama dua tahun berikutnya.
Aku tersenyum.
Pada malam pertunanganku, Arga mengumumkan bahwa dia akan membiayai masa depan Maya tanpa pernah meminta pendapatku.
Malam itu pula, diam-diam aku mengirimkan sebuah berkas yang akhirnya mengubah seluruh hidupku.
Bedanya, kali ini aku tidak membutuhkan persetujuan siapa pun untuk menentukan masa depanku sendiri.
Dan ketika aku menutup laptop, aku menyadari sesuatu yang dulu tidak pernah kupikirkan.
Aku tidak kehilangan pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaanku.
Aku justru berhasil menyelamatkan kehidupan yang hampir kuserahkan kepada orang yang salah.
