SEBELAH MAKAM 2

Tiga hari setelah malam penuh teror di dekat pemakaman itu, hidup kami berjalan seperti biasa meski rasa takut terus membayangi setiap sudut rumah. Mas Galih semakin sibuk dengan pekerjaannya sebagai petugas keamanan di proyek pembangunan pabrik plastik, sementara aku harus bertahan menjaga Hani sendirian di rumah yang dikelilingi pohon bambu dan makam tua. Suatu sore, saat

matahari mulai terbenam dan warna langit berubah menjadi jingga kelam, sebuah ketukan pintu kembali terdengar dari arah belakang. Dengan jantung yang berdegup kencang, aku melangkah pelan dan membuka pintu perlahan. Di luar, berdiri perempuan berambut panjang dengan gaun putih yang sama, membawa rantang yang sama, namun kali ini ia menatapku dengan mata kosong tanpa senyuman di wajahnya. Sebelum aku sempat berbicara, ia berbisik dengan suara parau yang seolah datang dari dalam tanah, mengatakan bahwa rumah ini tidak pernah dijual kepada siapapun. Rasa ngeri langsung merayap naik saat aku teringat ucapan tetangga sebelah bahwa rumah ini sudah lama kosong setelah pemilik terakhirnya meninggal secara tragis. Tiba-tiba, lampu di dalam rumah padam seketika, menyisakan kegelapan pekat yang mencekam, sementara suara langkah kaki tanpa henti mulai berputar mengelilingi atap rumah, memanggil namaku dan nama Mas Galih berulang-ulang dalam keheningan malam.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang