Langkahku terasa berat dan tergesa-gesa di antara kerumunan warga yang berlari membawa ember dan wadah seadanya. Jantungku berdegup kencang seolah ingin meloncat keluar dari dada, sementara udara malam terasa begitu pekat oleh kepulan asap hitam yang membumbung tinggi. Benar dugaanku, kobaran api merah menyala dengan ganasnya, melahap habis bagian belakang rumah yang selama ini menjadi tempatku bernaung dan menyimpan seluruh

kenangan tentang ibu. Suara kayu yang terbakar berderak nyaring, seolah menertawakan ketidakberdayaanku yang berdiri terpaku di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang berusaha memadamkan api. Warga saling bahu-membahu menyiramkan air, namun amukan si jago merah begitu perkasa, menghanguskan dinding-dinding bilik bambu dalam hitungan menit saja.
Di tengah kepanikan itu, mataku menangkap sesosok bayangan yang berdiri di balik pohon besar tak jauh dari puing-puing rumahku. Seseorang dengan balutan pakaian gelap tengah memperhatikan kobaran api dengan tatapan dingin yang sulit diartikan. Tanpa pikir panjang, aku melangkah mendekati sosok tersebut, mengabaikan teriakan tetangga yang menyuruhku menjauh dari area berbahaya. Ketika jarak kami semakin dekat dan orang itu menoleh, nafasku seketika tercekat. Itu adalah ayah Kanaya. Pria itu menatapku tajam sesaat sebelum akhirnya berbalik badan dan berlari menghilang ke dalam gelapnya malam, meninggalkan sejuta tanya yang kian menyesakkan dada. Kenapa ia berada di sini tepat saat rumahku terbakar? Apa hubungannya dengan kematian ibu, pinjaman rahasia itu, dan semua kebohongan yang selama ini terkubur rapat di desa ini?
Pagi yang dingin datang menyisakan arang dan abu yang mengepul di atas tanah tempat rumahku dulu berdiri. Tidak ada yang tersisa, semuanya rata dengan tanah, seolah sengaja dibakar untuk menghilangkan setiap jejak kebenaran yang kucari. Pak Gantara tiba tak lama kemudian, wajahnya menyiratkan kemarahan bercampur kekhawatiran yang mendalam saat melihatku duduk termenung di atas sebatang kayu sisa kebakaran. Beliau membawaku pergi menjauh dari kerumunan warga untuk berbicara empat mata di tempat yang lebih aman. Dari mulut Pak Gantara, aku akhirnya mengetahui sebuah kenyataan pahit yang membuat duniaku seolah runtuh untuk kedua kalinya. Ayah Kanaya bukanlah orang sembarangan; ia adalah orang kepercayaan masa lalu yang mengetahui persis rahasia besar di balik hubungan ibu dengan seseorang yang memiliki pengaruh kuat di wilayah ini, seseorang yang selama ini dilindungi oleh kebohongan-kebohongan kecil yang dirajut rapi oleh para tetangga, termasuk Bu Jenab.
Kecurigaanku terhadap Bu Jenab langsung membuncah. Aku teringat kembali malam tadi, ketika wanita itu sengaja menjebakku agar tidur di rumahnya sementara suaminya yang katanya pergi ke laut ternyata berada di dalam kamar. Semua sandiwara itu dilakukan agar aku tidak berada di rumah saat para pelaku membakar habis tempat tinggal daruratku. Pak Gantara mengangguk pelan, membenarkan dugaannya bahwa kebakaran itu disengaja untuk menghancurkan barang-barang peninggalan ibu yang mungkin menyimpan petunjuk penting tentang kehamilannya yang misterius. Kami tidak punya banyak waktu sebelum para penjahat itu menyadari bahwa aku tidak tinggal diam. Dengan bantuan Pak Gantara yang memiliki akses rahasia, kami memutuskan untuk menyusup kembali ke puing-puing rumahku yang hangus sebelum matahari meninggi, mencari kotak besi milik ibu yang kutahu disembunyikan di bawah lantai tanah dapur.
Di bawah reruntuhan kayu yang masih mengepulkan uap panas, tanganku mencakar tanah dengan putus asa hingga ujung jemariku berdarah. Dan benar saja, ujung besi yang keras membentur jariku. Dengan sekuat tenaga, aku menarik kotak tersebut keluar, membukanya di bawah rindangnya pohon bambu bersama Pak Gantara. Di dalam kotak itu, di antara tumpukan surat tua dan foto masa lalu, terdapat sebuah akta kelahiran lama dan sebuah surat pernyataan bermaterai yang mencantumkan nama seorang pria terpandang di desa sebelah—pria yang tak lain adalah ayah kandung Kanaya sendiri. Lembaran kertas itu mengungkap semuanya: ibu bukanlah hamil karena kutukan atau hal gaib, melainkan korban manipulasi dan ancaman dari orang-orang berkuasa yang ingin menutupi skandal besar di masa lalu, sebuah skandal yang sengaja dikubur bersama kematian ibu yang tidak wajar. Air mataku tumpah bukan lagi karena sedih, melainkan karena amarah yang membara, menyadari bahwa perjuanganku baru saja dimulai dan para penjahat itu tidak akan pernah bisa lari lagi dari kebenaran.
